HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Chlorhexidine terhadap Resiko Karies ditinjau dari pH Plak dan Saliva

ABSTRAK

Latar belakang: Perawatan ortodonti dengan menggunakan alat ortodonti cekat bertujuan untuk memperbaiki fungsi gigi geligi dan estetis seseorang, dapat berpotensi meningkatkan resiko karies selama atau setelah perawatan ortodonti cekat karena adanya kendala dalam membersihkan plak dan sisa-sisa makanan akibat adanya perangkat ortodonti misalnnya bracket atau ligature. Salah satu cara untuk mengurangi resiko karies adalah berkumur Chlorhexidine.

Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui efek penggunaan obat kumur Chlorhexidine 0,2% pada pasien yang menggunakan alat ortodonti cekat dalam mengurangi resiko karies ditinjau dari perubahan pH plak dan pH saliva.

Metode: Subyek penelitian yang terdiri dari 30 pasien yang menggunakan alat ortodonti cekat diinstruksikan untuk berkumur Chlorhexidine 0,2% selama 0,5-1 menit beberapa menit setelah menyikat gigi, dua kali sehari pagi dan malam hari selama dua minggu. Pemeriksaan pH plak dan pH saliva sebelum dan sesudah perlakuan kemudian di periksa menggunakan pH plak indicator kit dan dental saliva pH indicator kit. Perubahan rerata pH plak dan pH saliva sebelum dan sesudah perlakuan kemudian di analisis menggunakan uji Wilcoxon dua arah.

Hasil: Berdasarkan analisis statistik terdapat peningkatan bermakna pada rerata pH plak sesudah berkumur obar kumur Chlorhexidine selama dua minggu (p 0,05).

Simpulan: Penggunaan obat kumur chlorhexidine dapat menurunkan resiko karies pada pasien yang menggunakan alat ortodonti cekat jika ditinjau dari pH plak, namun tidak pada pH saliva.

Kata kunci : chlorhexidine, pH plak, pH saliva, pasien orthodonti cekat.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Semakin meningkatnya taraf hidup dan tingkat pendidikan terutama pada masyarakat di kota-kota besar, maka semakin dirasakan bahwa fungsi gigi-geligi dan penampilan wajah merupakan hal yang penting bagi seseorang. Hal ini tidak terlepas dari tersedianya pelayanan Ortodonti dan peran mediamasa yang memberikan informasi tentang perawatan ortodonti. Dengan salah satu pertimbangan fungsi dan psikososial, maka masyarakat berusaha mencari perawatan untuk mengatasi masalah-masalahnya.1-3 Prevalensi disharmoni dento-fasial di Indonesia mencapai 80% dan menduduki urutan ketiga setelah karies dan penyakit periodontal.2 Banyaknya jumlah tersebut menjadi penyebab bertambahnya permintaan kebutuhan perawatan ortodonti sebagaimana di kemukakan oleh drg. Burraqaison bahwa 41.3% respondennya menyatakan membutuhkan perawatan ortodonti.2 Penelitian tentang prevalensi maloklusi pada remaja usia 12-14 tahun di sekolah menengah pertama di Jakarta menyatakan 83.3% responden mengalami maloklusi.4

Disharmoni dento-fasial seperti protrusi, gigi berjejal dan hubungan rahang yang tidak baik sudah menjadi masalah sejak beberapa abad yang lalu sampai sekarang. Di Indonesia disharmoni dento-fasial merupakan masalah kesehatan gigi yang cukup besar dan menduduki urutan ketiga setelah karies dan penyakit periodontal.1, 2 Dalam penelitian-penelitian mengenai kebutuhanakan perawatan ortodonti telah dilakukan di banyak negara. Penelitian sejenis dimulai pada tahun 1950 oleh Massler dan Frankel.4 Bahkan World Health Organization (WHO) telah mengukur prevalensi kebutuhan akan perawatan ortodonti berkisar antara 21% – 64%.5 Di Indonesia, penelitian sejenis pertama dilakukan di Surabaya oleh Agusni, Sindhusake, dan Barnard pada tahun 1996.6-8 Dan pada tahun 2002, Aditya Pribadi menilai prevalensi kebutuhan dan keparahan maloklusi pada pelajar SLTP negeri di Jakarta Pusat.9

Perawatan ortodontik bertujuan memberikan perbaikan estetik dan fungsional pada pasien, namun perangkat ortodontik seperti band, bracket dan ligature dapat menyebabkan akumulasi plak. Pembersihan plak dapat menjadi masalah bagi pengguna alat ortodontik cekat. Kurangnya kebersihan rongga mulut umum terjadi pada pasien ortodonti. Banyak pasien ortodonti mengalami kesulitan dalam memberikan plak secara mekanis karena adanya band, bracket dan ligature tersebut, sehingga demineralisasi atau lesi karies dapat terjadi.10

Demineralisasi enamel yang berhubungan dengan perawatan ortodontik cekat merupakan proses yang sangat cepat karena adanya resiko kariogenik yang tinggi dan terus menerus oleh plak yang terbentuk di sekitar bracket dan di bawah ill-fitting band. White spot lesions setelah perawatan ortodontik cekat dapat menjadi masalah estetik, bahkan setelah lebih dari lima tahun perawatan.10 Karies gigi atau gigi berlubang masih menjadi permasalahan utama dalam dunia kedokteran gigi, baik di Indonesia maupun di seluruh dunia. Karies telah terjadi sejak zaman prasejarah dan masih menjadi salah satu penyakit gigi yang cukup tinggi sampai dengan saat ini. Karies merupakan penyakit jaringan keras yang multifaktorial, salah satu penyebabnya adalah substrat makanan yang mengandung gula atau karbohidrat.(11)

Konsumsi sukrosa dipertimbangkan menjadi salah satu faktor diet utama yang menyebabkan karies gigi. Disamping itu, Streptococcus Mutans merupakan salah satu anggota virulen pada mikroflora plak gigi, dan karakteristik kariogeniknnya tergantung dari keberadaan sukrosa.10 Untuk mengetahui resiko karies seseorang dapat dilakukan pemeriksaan faktor resiko karies, seperti penilaian pH plak dan pH saliva. Saliva sebagai salah satu faktor primer resiko karies memiliki peranan penting dalam kesehatan rongga mulut, dan modifikasi fungsi saliva akan menyebabkan efek pada jaringan keras dan jaringan lunak mulut. Level pH saliva yang tidak terstimulasi merupakan indikator umum level asam di dalam lingkungan rongga mulut. Normalnya pH kritis hidroksiapatit adalah 5.5, sehingga semakin dekat pH saliva yang tidak terstimulasi dengan level kritis ini maka semakin besar juga kemungkinan terjadinya demineralisasi yang berarti resiko terjadinya karies juga semakin meningkat.12 Selain itu, pH plak juga dapat mengindikasikan aktivitas karies pada rongga mulut. Pada individu dengan karies aktif, tingkat pH plaknya lebih rendah dibandingkan individu bebas karies.13

Berbagai mekanisme dapat digunakan dalam mencegah karies, yaitu dengan mengubah kebiasaan pasien dalam mengkonsumsi makanan baik yang berkarbohidrat tinggi maupun makanan yang asam, meningkatkan kebersihan rongga mulut, meningkatkan daya proteksi saliva, dan menambahkan Chlorhexidine.10 Adapun telah dipublikasikan program pencegahan bagi penggunaan alat ortodonti cekat, dengan kontrol plak secara kimia menggunakan Chlorhexidine.14

Chlorhexidine merupakan derivat bis-biguanides dan yang umumnya digunakan dalam bentuk glukonatnya. Mempunyai antibakteri dengan spektrum luas, efektif terhadap gram positif dan gram negatif meskipun untuk jenis yang terakhir efektivitasnya sedikit lebih rendah.15 Chlorhexidine sangat efektif mengurangi radang gingiva dan akumulasi plak.16

Chlorhexidine sangat efisien seperti bakteriostatik karena ia bekerja tidak hanya untuk melawan bakteri negatif tapi juga untuk melawan jamur dan bakteri gram positif seperti Streptococcus Mutans dan Streptococcus Sobrinus. Walaupun tidak begitu memuaskan pada hasil dari efek Chlorhexidine, pada suatu periode insidens karies menurun jelas lebih tinggi dibandingkan dengan flouride. Efek menghentikan dari Chlorhexidine pada Streptococcus Mutans dan Streptococcus Sobrinus juga terbukti pada pasien dengan aplikasi ortodonti cekat.17

Berdasarkan latar belakang tersebut, peneliti ingin mengetahui apakah penggunaan Chlorhexidine dalam mengurangi resiko karies pada pasien dengan alat ortodonti cekat cukup efektif ditinjau dari perubahan pH plak dan pH saliva sebelum dan sesudah berkumur Chlorhexidine.

2 Comments
  1. ini ada data lengkapnya gak? trims…

Leave a Reply