HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Determinan dari Kredit Rentenir Untuk Pedagang Mikro

Determinan dari Kredit Rentenir Untuk Pedagang Mikro  ( Studi Kasus Pada Pedagang Mikro di Pasar Tradisional Gunungkidul, Yogyakarta )

ABSTRAK

Penelitian ini ditujukan untuk menganalisis Determinan Dari Kredit Rentenir Untuk Pedagang Mikro di Pasar Tradisional Gunungkidul yang terdiri dari empat pasar, Pasar Argosari Desa Wonosari Kecamatan Wonosari yang mewakili sub daerah perkotaan, Pasar Tengeran Desa Gedangrejo Kecamatan Karangmojo yang mewakili daerah sub urban, Pasar Karangijo Padukuhan Karangijo Wetan Desa Ponjong Kecamatan Ponjong yang mewakili sub daerah pedesaan, dan Pasar Legundi Desa Girimulyo Kecamatan Panggang yang mewakili sub daerah pedesaan, pegunungan dan pantai selatan.

Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini, bahwa secara individu maupun secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan antara pinjaman pedagang mikro terhadap tingkat keuntungan pedagang (dalam persentase) per bulan dan tingkat bunga pinjaman (dalam persentase) per bulan. Pengambilan sampel dalam penelitian ini dilakukan melalui wawancara secara langsung kepada 143 pedagang yang melakukan pinjaman kepada rentenir dari empat pasar tersebut. Semua data mentah yang telah diperoleh peneliti dihitung dalam program Excel untuk memperoleh tingkat keuntungan dan tingkat bunga dalam persentase per bulan dan kemudian data tersebut diolah dengan bantuan program Shazam versi 8.0, hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa secara individu maupun secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan antara pinjaman pedagang yang merupakan variabel dependen dengan tingkat keuntungan (dalam persentase) per bulan dan tingkat bunga pinjaman (dalam persentase) per bulan.

Kata Kunci : Determinan Dari Kredit Rentenir Untuk Pedagang Mikro di Pasar Tradisional Gunungkidul, Yogyakarta.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi ekonomi lengkap / tesis ekonomi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Mulai tahun 1997 sampai sekarang merupakan tahun badai dalam sistem moneter dan perbankan Indonesia misalnya, ketidakstabilan nilai tukar rupiah, tingginya inflasi, kelangkaan bahan baku dan komponen, maupun tingginya suku bunga kredit perbankan. Kondisi saat ini mengingatkan kita pada tulisan Helmut Schmidt (Mantan Kanselir Republik Federal Jerman), bahwa “Ekonomi dunia tengah memasuki suatu fase yang sangat tidak stabil dan masa mendatang sama sekali tidak menentu”. Sehingga upaya penyembuhannya selalu diupayakan. Walaupun proses kesembuhan dari penyakit-penyakit itu kini sedang berlangsung, berbagai ketidakpastian (uncertainly) masih saja membayang-bayangi (Muhamad, 2001 : 121).

Dalam menyusun kerangka pembangunan ekonomi Indonesia baru yang akan dipergunakan sebagai pedoman dalam membangun ekonomi Indonesia dari keterpurukan, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) merekomendasikan tujuan pembangunan Indonesia di masa mendatang antara lain adalah peningkatan kesejahteraan masyarakat Indonesia melalui pemupukan permodalan yang didukung prinsip kehidupan seperti pengentasan kemiskinan dengan cara mencari standar minimum kebutuhan pokok, bebas dari keterbelakangan dengan cara memperluas kesempatan memperoleh pendidikan, meningkatkan dan mengembangkan kapasitas sumber daya manusia, dan sebagainya. Selanjutnya untuk merealisasikan tujuan tersebut, DEN dalam menyusun kebijakan strategi ekonomi jangka menengah, antara lain menetapkan kebijakan pengentasan kemiskinan dengan cara memelihara kestabilan ekonomi dan membuka lapangan kerja melalui pengembangan sektor informal (mikro). Dengan demikian bahwa pembangunan ekonomi Indonesia ke depan lebih diarahkan pada peningkatan pemberdayaan ekonomi kerakyatan (Suhardjono, 2003 : 4).

Di belahan Indonesia manapun, termasuk Yogyakarta, usaha mikro memiliki nasib yang sama. Minimnya modal dan pengetahuan menjadi masalah klasik yang mendera pengusaha mikro. Dengan dicanangkannya tahun 2005 sebagai Tahun Keuangan Mikro (Micro Finance Years), ada harapan bahwa UMKM akan lebih berkembang peranannya dalam perekonomian. Krisis ekonomi yang melanda Indonesia pada pertengahan 1997, telah menunjukkan eksistensi kekuatan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah dalam menopang perekonomian Indonesia. Dan perlu dicatat, dari 39,71 juta entitas usaha ekonomi rakyat atau sering disebut Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM), bila kita menengok lebih dalam lagi, usaha mikro merupakan mayoritas, sebab berjumlah 98% dari total unit usaha atau 39 juta usaha (Tambunan, 2002).
Photobucket Determinan dari Kredit Rentenir Untuk Pedagang Mikro
Dari 39 juta usaha mikro, bila itu berarti merupakan 35 juta keluarga (bila 5 juta usaha mikro, overlapping terdapat dalam satu keluarga), artinya terdapat 175 juta orang yang menggantungkan diri pada usaha mikro (asumsinya satu keluarga terdiri dari lima orang). Jumlah ini tentunya sangat besar, bila melihat jumlah penduduk 210 juta orang, berarti 83% penduduk Indonesia menggantungkan diri pada usaha mikro. Keberadaan usaha mikro, merupakan fakta semangat jiwa kewirausahaan sejati di kalangan rakyat kebanyakan yang bisa menjadi perintis pembaharuan. Sayang, acapkali kita terlalu terpesona pada investasi asing yang diyakini menjadi faktor signifikan pertumbuhan ekonomi, sehingga sektor ekonomi rakyat (usaha mikro) terabaikan. Menyadari realitas ini, memfokuskan pengembangan ekonomi rakyat terutama pada usaha mikro merupakan hal yang sangat strategis untuk mewujudkan broad based development atau development through equity (Bambang Ismawan, 2004).

Banyak kalangan tidak memperhitungkan keberadaan sektor Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) yang ternyata mampu menyerap banyak tenaga kerja, mengurangi pengangguran, bahkan menyumbang output nasional pada tahun 2003. Survei menunjukkan bahwa sektor UMKM dalam perekonomian Indonesia mampu menyerap 79 juta tenaga kerja atau 99,4 persen dari total angkatan kerja, menyumbang 56,7 persen Produk Domestik Bruto (PDB), menyumbang 19,9 persen dari nilai ekspor dan memiliki unit usaha yang besar sekitar 42,3 juta unit usaha (sumber : Bank Indonesia, 2003). Maka UMKM pun mampu menjadi katup pengaman dampak krisis terhadap perekonomian nasional. Namun di balik kesuksesan yang didapat oleh UMKM, tidak dapat dipungkiri UMKM pun memiliki beberapa permasalahan. Masalah yang klasik dan mendasar, yaitu keterbatasan modal, sumber daya manusia, pengembangan produk dan akses pasar. Keterbatasan modal merupakan masalah krusial yang dialami oleh UMKM. Tanpa modal yang cukup mustahil UMKM dapat berdiri.

Incoming search terms:

Leave a Reply