HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Status Keradangan Gingiva Pada Perempuan Paskamenopause (Pemeriksaan Klinis di Wilayah Bekasi)

ABSTRAK

Menopause adalah salah satu bagian dari siklus alami kehidupan reproduktif perempuan, yang merupakan berhentinya menstruasi selama 12 bulan berturut-turut. Saat menopause, produksi hormon esterogen dan progesteron menurun. Penurunan kedua hormon ini hingga hampir nol berlanjut sampai ke tahap paskamenopause, yaitu fase lanjutan dari menopause. Penurunan hormon esterogen dan progesteron menyebabkan munculnya beberapa perubahan klinis pada rongga mulut, terutama pada gingiva yang dapat mengarah ke keradangan gingiva dan kesehatan rongga mulut.

Tujuan: Untuk menganalisis status keradangan gingiva pada perempuan askamenopause. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitik dengan pendekatan potong lintang (cross-section). Dilakukan wawancara mengenai lama menopause dan pemeriksaan klinis keradangan gingiva menggunakan Papillary Bleeding Index (Saxer dan Muhlemann) pada 93 orang perempuan paskamenopause di wilayah Bekasi.

Hasil: Rata-rata usia perempuan paskamenopause yang diteliti 61 tahun (SD ±7,2). 79 orang perempuan paskamenopause yang diteliti memiliki skor PBI baik, dan 14 orang perempuan paskamenopause memiliki skor PBI sedang. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara keradangan gingiva dengan lama menopause (p>0,05). Terdapat perbedaan yang bermakna (p<0,05) antara keradangan gingiva (mean 1,15, SD ±0,36), dengan tingkat akumulasi plak gigi (mean 1,91, SD ±0,6), kalkulus gigi (mean 2,12, SD ±0,67), dan tingkat kebersihan mulut (mean 2,25, SD ±0,62), dan antara lama menopause dengan tingkat kebersihan mulut.

Kesimpulan: Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa status keradangan gingiva sangat berkaitan dengan akumulasi plak gigi, kalkulus gigi, serta tingkat kebersihan mulut perempuan paskamenopause, sehingga prosedur pemeliharaan kesehatan gigi dan mulut perlu dilakukan secara berkala.

Kata kunci: Menopause, keradangan gingiva, PBI, kebersihan gigi dan mulut.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Menopause adalah salah satu bagian dari siklus alami kehidupan reproduktif perempuan.1 Setiap perempuan pasti akan mengalami menopause dalam hidupnya. Menopause merupakan berhentinya menstruasi, biasanya ditandai ketika seorang perempuan tidak lagi mengalami menstruasi selama 12 bulan berturut-turut.1,2 Menopause bukan merupakan sebuah penyakit, tetapi merupakan kejadian alami, berakhirnya masa kesuburan akibat penurunan produksi dua hormon sex dari ovarium, yaitu esterogen dan progesteron. 1 Menopause biasanya pada usia antara 45-55 tahun, dengan rata-rata usia 51 tahun. 2 Menurut Talbert (1977) menopause biasanya muncul pada usia antara 48-51 tahun. 3 Masa menopause itu sendiri dibagi menjadi 4 tahap, yaitu premenopause, perimenopause, menopause, dan paskamenopause.2 Masa paskamenopause biasanya terjadi pada usia 50-55 tahun.4,5 Seorang perempuan yang berada pada masa menopause akan mengalami beberapa perubahan fisik dan fisiologis pada tubuhnya, seperti rasa tidak nyaman pada rongga mulut, reaksi vasomotor serta gangguan emosional.1 Perubahan yang terjadi pada perempuan menopause juga melibatkan perubahan pada keadaan intra oralnya, seperti desquamative gingivitis, perubahan pengecapan, atropi mukosa serta perubahan pada gingiva.6-8 Perubahan pada gingiva seiring dengan penuaan antara lain hilangnya keratinisasi, peningkatan lebar attached gingiva, berkurangnya selularitas jaringan ikat, peningkatan substansi intraselular dan pengurangan konsumsi oksigen.8 Pada pasien menopause, perubahan pada gingiva dapat bervariasi mulai dari atropi epitel dan tampak pucat, hilangnya elastisitas, berkurangnya keratinisasi sampai dengan timbulnya menopausal gingivostomatitis.1,6 Kondisi menopausal gingivostomatitis ditandai dengan perubahan gingiva menjadi kering, mudah berdarah dan warnanya bervariasi dari pucat sampai menjadi sangat eritema.1,6 Penelitian Vittek menyatakan bahwa gingiva manusia memiliki reseptor protein untuk esterogen.6 Esterogen itu sendiri dapat mempengaruhi proliferasi selular dan proses keratinisasi pada epitel yang sensitif.6 Progesteron dan esterogen dapat meningkatkan permeabilitas dari pembuluh gingiva dan aliran cairan gingiva (gingival fluid).6 Jumlah cairan gingiva meningkat seiring dengan peningkatan terjadinya inflamasi, dan terkadang peningkatan jumlah cairan tersebut proporsional terhadap keparahan inflamasinya.6 Gingivitis adalah inflamasi gingiva yang mengelilingi gigi, tanpa adanya kehilangan tulang dari bukti radiograf. Esterogen dan progesterone mempengaruhi seluruh tubuh, termasuk jaringan intra oral.

Jaringan gingiva merespon kenaikan level esterogen dan progesterone melalui vasodilatasi dan peningkatan permeabilitas kapiler, dimana perubahan vaskular tersebut merupakan respon awal terjadinya inflamasi gingiva (gingivitis tahap I).6 Berdasarkan hal-hal tersebut, peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana keadaan intraoral, terutama gingiva pada perempuan paskamenopause dikaitkan dengan keradangan gingiva. Sampai saat ini, penelitian mengenai perempuan paskamenopause yang sudah ada di FKG UI adalah mengenai keluhan rongga mulut (oral discomfort) dan kadar estradiol, serta tingkat osteoporosis tulang mandibula. Peneliti masih belum menemukan adanya penelitian di FKG UI mengenai keradangan gingiva pada perempuan paskamenopause.

Incoming search terms:

Leave a Reply