HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Efek Penambahan Glukosa pada Sabouraud Dextrose Broth terhadap Pertumbuhan Candida albicans (Uji In vitro)

Efek Penambahan Glukosa pada Sabouraud Dextrose Broth terhadap Pertumbuhan Candida albicans (Uji In vitro)

Pola makan modern kaya karbohidrat merupakan salah satu faktor predisposisi terjadinya kandidiasis oral. Namun belum jelas diketahui apakah pertumbuhan C. albicans akan meningkat bila terjadi penambahan glukosa dalam medium pertumbuhan. Tujuan: Menganalisis efek penambahan glukosa 1%, 5%, 10% terhadap pertumbuhan C. albicans in vitro. Metode: Isolat C. albicans klinik dari usapan mukosa mulut pasien kandidiasis oral dideteksi pada CHROM agar dan serum. Sebagai pembanding, C. albicans strain ATCC 10231 juga dideteksi dengan cara yang sama. C. albicans yang tumbuh dibiak dalam SDA selama 2 hari, kemudian dikumpulkan dan dibiakkan kembali dalam SDB yang telah ditambah glukosa 1%, 5%, dan 10% selama 3 atau 7 hari pada suhu ruang.

Sebagai kontrol adalah C. albicans yang ditumbuhkan dalam SDB tanpa penambahan glukosa. Pertumbuhan C. albicans diukur dengan menghitung CFU/ml C. albicans dalam cawan petri. Uji statistik menggunaka ANOVA dengan a 0.05. Hasil: Setelah 3 hari, pertumbuhan C. albicans isolat klinik 1%, 5%, dan 10% berturut-turut adalah 181.5, 582, dan 811 CFU/ml; sedangkan C. albicans ATCC 10231 adalah 21.5, 177.5, 375.5 CFU/ml. Pertumbuhan tersebut lebih rendah dibandingkan kelompok kontrol yaitu 970 (isolat klinik) dan 957 (ATCC) CFU/ml. Setelah 7 hari diperoleh pertumbuhan C. albicans isolat klinik adalah 2350, 9650, dan 9650 CFU/ml; sedangkan C. albicans ATCC 10231 adalah 5000, 5450, 3550 CFU/ml. Pertumbuhan kelompok kontrol 7 hari adalah 5000 (klinik) dan 5150 (ATCC) CFU/ml. Analisis ANOVA menunjukkan bahwa setelah 3 hari penambahan glukosa 1% menurunkan pertumbuhan C. albicans secara bermakna baik pada isolat klinik maupun strain ATCC 10231 (p < 0,05). Pada kelompok 7 hari penambahan glukosa 5% dan 10% meningkatkan pertumbuhan C. albicans isolat klinik secara bermakna (p < 0,05).

Simpulan: Glukosa 5% dan 10% dapat meningkatkan pertumbuhan C. albicans in vitro. Penambahan glukosa 1% dapat menghambat pertumbuhan C. albicans pada durasi 3 hari.
Kata kunci:
C. albicans, glukosa, pertumbuhan koloni.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi kesehatan lengkap / tesis kesehatan lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

BAB 1
PENDAHULUAN

Latar Belakang Masalah

Candida adalah jamur komensal yang hidup di rongga mulut, saluran pencernaan, dan vagina. Candida yang bersifat komensal dapat berubah menjadi patogen dan dapat menyebabkan kandidiasis penyebab infeksi mulut dan genital pada manusia bila ada faktor predisposisi.1 Kandidiasis umumnya terbatas pada kulit dan membran mukosa. Beberapa tipe kandidiasis mukokutan meliputi: regio orofaring (di rongga mulut dan faring), vulvovaginal (di vagina dan mukosa vulva), paronychial (di kuku), interdigital (di kulit antara jari-jari), dan intertrigenimus (di kulit area submamae atau paha atau skrotum).2 Kandidiasis oral biasanya merupakan infeksi sekunder yang menyertai kondisi medis lainnya. Campuran spesies Candida dapat ditemukan pada kandidiasis oral, tetapi penyebab utama adalah C. albicans.3

Kandidiasis adalah penyakit infeksi jamur tersering pada manusia.1 Kandidiasis ditemukan di seluruh dunia dan menyerang segala usia, baik laki-laki maupun wanita, tetapi data menunjukkan bahwa 70% penderitanya adalah wanita.4 Data tahun 1990 menunjukkan, 15% penduduk New Zealand terkena kandidiasis. Di Amerika Serikat 80 juta penduduk menderita gangguan kesehatan yang disebabkan Candida.5 Di Indonesia, dilaporkan bahwa 84% dari penderita AIDS yang dirawat di RSCM sampai tahun 2000, juga menderita kandidiasis oral yang disebabkan oleh jamur oportunistik C. albicans.6 Meningkatnya prevalensi kandidiasis dapat disebabkan oleh berbagai faktor predisposisi.

Faktor predisposisi utama adalah rendahnya daya tahan tubuh hospes, seperti pada penderita AIDS, pasien yang menjalani kemoterapi, dan sebagainya.7 Faktor predisposisi lain yang dapat menyebabkan tingginya prevalensi kandidiasis antara lain, pasien yang menjalani pengobatan dengan antibiotik spektrum luas dalam jangka panjang; iritasi kronik akibat pemakaian protesa yang tidak sesuai; dan pola makan yang cenderung tinggi gula.7,8 Pola makan modern yang cenderung kaya karbohidrat dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya kandidiasis oral.9 Ini disebabkan karena asupan glukosa merupakan salah satu faktor predisposisi yang berperan dalam perkembangan infeksi C. albicans. Kandidiasis lebih sering terjadi ketika ada ketersediaan glukosa yang cukup tinggi, seperti pada penderita diabetes dan pasien yang menerima nutrisi dengan cara infus total.10 Abu-Elteen melaporkan bahwa orang dengan penyakit diabetes melitus (DM) mempunyai resiko terkena oral kandidiasis 20% lebih tinggi dibandingkan orang yang tidak menderita penyakit ini dan bahwa diabetes meningkatkan kolonisasi dan proliferasi C. albicans dalam rongga mulut.10

Penelitiannya lebih lanjut menunjukkan bahwa perlekatan C. albicans pada sel epitel bukal rongga mulut pada manusia meningkat secara signifikan setelah mengkonsumsi karbohidrat seperti galaktosa, glukosa, sukrosa, fruktosa, maltosa, dan sorbitol.11 Glukosa berperan sebagai sumber karbon dan energi bagi C. albicans. C. albicans mempunyai sensor glukosa di membran selnya yang disebut Hgt4.  Molekul ini diperlukan untuk mendeteksi keberadaan glukosa di lingkungannya.12 Glukosa merupakan substrat yang dimanfaatkan oleh C. albicans baik pada media kultur dan di dalam saliva manusia. Penelitian Basson menunjukkan bahwa kompetisi untuk mendapatkan glukosa diantara jamur dan bakteri rongga mulut berperan dalam mencegah pertumbuhan jamur yang berlebihan.13 Ia juga menyatakan bahwa C. albicans tidak dapat membentuk koloni dan berkompetisi pada kemostat yang didalamnya terdapat sejumlah bakteri oral yang diberi glukosa terbatas.13

Pentingnya glukosa bagi pertumbuhan C. albicans dinyatakan dengan fakta bahwa sel ragi hanya dapat tumbuh di dalam saliva yang ditambah glukosa dan tidak dapat tumbuh di dalam saliva saja.14 Glukosa merupakan salah satu faktor penting dalam pembentukan germ tube yang merupakan faktor virulensi C. albicans,15 selain percepatan pertumbuhannya. Dengan demikian pengendalian konsumsi gula dapat mencegah pertumbuhan Candida. Gula kariogenik yang sering dipakai sehari-hari dapat diganti, misalnya sukrosa diganti dengan xylitol yang merupakan gula alami non kariogenik dan masuk dalam kategori gula alkohol.9,16 Diet kaya karbohidrat dapat meningkatkan pertumbuhan Candida sp. dalam rongga mulut,13 sehingga berkolerasi positif dengan peningkatan faktor virulensi C. albicans in vivo. Namun masih belum jelas diketahui apakah pertumbuhan C. albicans akan meningkat bila terjadi penambahan glukosa dalam medium pertumbuhan. Penelitian ini bertujuan untuk menetapkan efek penambahan glukosa terhadap pertumbuhan C. albicans in vitro.

Leave a Reply