HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Contoh Tesis Tema Meningkatkan Keterampilan Proses Sains

1. Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) Praktikum Kimia Berbasis Inkuiri Terbimbing (Guided Inquiry) untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains pada Materi Laju Reaksi

 

Abstrak

Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menjelaskan :

  • hasil tiap tahapan siklus R&D Borg and Gall untuk pengembangan LKS berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa pada materi pokok Laju Reaksi
  • kualitas produk pengembangan yang berupa LKS pada materi pokok Laju reaksi
  • efektivitas LKS Kimia berbasis inkuiri untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa.

 

Penelitian dan pengembangan LKS menggunakan model prosedur Borg &Gall yang telah direduksi menjadi sembilan tahapan:

  • penelitian dan pengumpulandata,
  • perencanaan,
  • pengembangan draft awal,
  • uji coba lapangan awal,
  • revisihasil uji,
  • uji coba lapangan,
  • penyempurnaan produk hasil uji lapangan,
  • Ujipelaksanaan lapangan,
  • Penyempurnaan dan produk akhir.

 

Uji coba lapangan awaldilakukan di SMAMuhammadiyah 1 Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Uji coba lapangandilakukan di SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta dan SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta. Uji coba lapanganoperasional dilakukan di 3 sekolah yaitu

  • SMA Muhammadiyah 1 Yogyakarta,
  • SMA Muhammadiyah 2 Yogyakarta,
  • SMA Muhammadiyah 3 Yogyakarta.

 

Teknik pengumpulan data melalui angket,observasi, dan tes. Jenis data yang diperoleh adalah kualitatif dan kuantitatif. Datakualitatif diperoleh dari hasil wawancara, angket dan saran saat uji lapangan. Datakuantitatif diperoleh dari penilaian validasi LKS oleh ahli, penilaian angket pada ujilapangan awal, uji lapangan utama, dan uji lapangan operasional dan tes hasil belajarpada uji lapangan utama. Efektivitas LKS diperoleh dari perbedaan rata-rata hasilpengetahuan, ketrampilan, dan sikap pada uji lapangan utama di kelas yangpembelajarannya menggunakan LKS kimia berbasis inkuiri terbimbing dan yang tidak

 

Hasil penelitian dan pengembangan menunjukkan :

  • hasil setiap langkah pengembangan LKS kimia berbasis inkuiri terbimbing berdasarankan saran dari para ahli dan telah diujicobakan kepada calon pengguna,
  • kelayakan LKS berbasis inkuiri terbimbing pada materi Laju Reaksi menurut para ahli berkualifikasi baik, praktisipendidikan diperoleh CV ? 0,87 yang menunjukkan LKS layak digunakan; rata-rataangket respon siswa dan guru diperoleh penilaian dengan kategori “sangat baik”
  • LKS kimia berbasis inkuiri terbimbing efektif meningkatkan keterampilan proses sains, sikap dan hasil belajar pengetahuan siswa.

Kata kunci: LKS kimia, Tahapan Pengengembangan, Inkuiri Terbimbing, Keterampilan Proses Sains Siswa.

 

2. Pengembangan Modul Berbasis Inkuiri Terbimbing pada Materi Sistem Pencernaan Makanan untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains pada Siswa Kelas XI Mipa di SMA Negeri Sumpiuh Kabupaten Banyumas

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk :

  • mengetahui karakteristik modul berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan KPS. Selain memiliki karakteristik seperti modul pada umumnya, modul siswa yang dikembangkan memiliki karakteristik yang berbeda dengan modul yang ada, modul ini bisa digunakan untuk pembelajaran kelompok yang dilengkapi dengan sintak- sintak inkuiri terbimbing.Modul guru dilengkapi dengan rubrik penilaian kognitif, psikomotor dan afektif yang disertai pedoman penskoran
  • mengetahui kelayakan modul berbasis inkuiri termbibing untuk meningkatkan KPS ,kelayakan modul siswa dan guru diukur dengan hasil validasi ahli materi, media, bahasa dan perangkat pembelajaran
  • mengetahui efektivitas modul berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan KPS. Efektivitas modul siswa dapat dilihat dari kenaikan nilai KPS setelah pembelajaran dengan mengguakan modul.

 

Prosedur pengembangan yang dilakukan merujuk pada model pengembangan 4- D yang dikembangkan oleh Thiagarajan yang meliputi 4 tahap, yaitu defin, design, develop, dan dessiminate. Instrumen yang digunakan meliputi: lembar observasi, lembar penilaian, angket dan tes pilihan ganda. Analisis data yang digunakan selama penelitian dan pengembangan adalah analisis deskriptif, uji independen sample t-tes

 

Hasil penelitian ini adalah :

  • karakteristik modul berbasis inkuiri terbimbing ini adalah modul ini tidak hanya digunakan untuk pembelajaran mandiri tetapi dapat juga untuk pembelajaran kelompok, modul ini dapat melatihkan kemampuan KPS peserta didik.
  • berdasarkan hasil validasi ahli terhadap modul berbasis inkuiri terbimbing ini adalah sangat layak digunakan dalam pembelajaran biologi khususnya pada materi sistem pencernaan makanan.
  • kemampuan KPS siswa mengalami kenaikan sebelum dan sesudah pembelajaran dengan modul inkuiri terbimbing. Nilai rerata kemampuan KPS sebelum pembelajaran menggunakan modul sebesar 70,69 sedangkan nilai rerata kemampuan KPS sesudah pembelajaran dengan modul sebesar 84,66. Keterlasanaan sintak oleh guru terjadi peningkatan pada setiap pertemuan, pada pertemuan pertama dengan rerata 71,88, pertemuan kedua 75, dan pertemuan ke tiga 81,25

 

Kunci Kata: modul, inkuiri terbimbing, keterampilan proses sains

 

3. Pengembangan Modul Biologi Berbasis Guided Discovery pada Materi Sistem Ekskresi Untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas VIII SMPN 1 Kedawung

 

Abstrak

Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah :

  • mengembangkan produk modul berbasis guided discovery pada materi sistem ekskresi untuk meningkatkan keterampilan proses sains Siswa kelas VIII SMPN 1 Kedawung,
  • menguji kelayakan modul berbasis guided discovery pada materi sistem ekskresi untuk meningkatkan keterampilan proses sains Siswa kelas VIII SMPN 1 Kedawung,
  • mengukur keefektivitas modul berbasis guided discovery pada materi sistem ekskresi untuk meningkatkan keterampilan proses sains Siswa kelas VIII SMPN 1 Kedawung.

 

Penelitian dan pengembangan modul ajar menggunakan prosedur 4-D yang terdiri dari 4 tahapan yaitu :

  • define,
  • design,
  • develop,
  • disseminate.

 

Uji lapangan awal dilakukan di SMPN 1 Kedawung. Uji lapangan operasional dilakukan di SMPN 1 Kedawung. Teknik pengumpulan data melalui angket, observasi dan tes. Jenis data yang diperoleh adalah data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil wawancara & saran saat uji lapangan. Data kuantitatif diperoleh dari penilaian validasi modul oleh ahli, uji lapangan operasional dan tes keterampilan proses sains siswa. Keefektivitas modul diperoleh dari perbedaan hasil parameter estimasi keterampilan proses sains siswa pada uji lapangan operasional dalam setting kuasi eksperimen dengan menggunakan modul IPA berbasis Guided Discovery dan yang menggunakan buku ajar sekolah.

 

Hasil penelitian dan pengembangan keefektivitas menunjukkan :

  • Produk modul guided discovery dikembangkan berdasarkan tahapan guided discovery yaitu ; stimulation, problem statement, data collection, data processing, verification, generalization,
  • kelayakan modul berbasis guided discovery menurut validator yaitu; validasi ahli materi “sangat baik” sebesar 90,27%, validasi ahli media “sangat baik” sebesar 83,92%, validasi ahli perangkat pembelajaran “sangat baik” yaitu sebesar 100%, validasi ahli bahasa “sangat baik” yaitu sebesar 91,67%. Menurut Praktisi pendidikan berkualifikasi “sangat baik” sebesar 95.77%, sedangkan menurut Siswa berkualifikasi “sangat baik” sebesar 84.99%,
  • 3) modul berbasis guided discovery efektif meningkatkan keterampilan proses sains siswa pada materi system ekskresi kelas VIII SMPN 1 Kedawung. Hasil analisis uji independen sample t tes diperoleh signifikan 0,000 perolehan taraf signifikan tersebut menunjukan bahwa Ho ditolak (0,000 < 0,05), sehingga dapat disimpulkan terdapat perbedaan signifikan hasil keterampilan proses sains antara kelas menggunakan modul berbasis guided discovery dengan kelas kontrol.

 

Kata kunci: Modul, Guided Discovery, keterampilan proses sains, system ekskresi manusia.

 

4. Pengembangan Modul Fisika Berbasis Inkutri Terbimbing pada Materi Pemanasan Global untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMA/MA Kelas XI

 

Abstrak

Saat ini bahan ajar yang digunakan oleh guru masih sama dengan yang biasa guru gunakan, sehingga belum ada variasi sumber belajar, oleh karena itu perlu pengembangan bahan ajar yang sesuai dengan kebutuhan.

 

Penelitian ini bertujuan untuk :

  • mengembangkan dan menghasilkan modul pembelajaran fisika yang memiliki karakteristik proses, sikap, dan produk ilmiah sehingga dapat meningkatkan keterampilan proses sains siswa,
  • memperoleh informasi mengenai spesifikasi modul yang dibutuhkan dalam pembelajaran oleh guru dan siswa,
  • mengetahui kelayakan modul pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing sehingga dapat mendorong peningkatan keterampilan proses sains siswa. Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan modul fisika materi pemanasan global kelas XI IPA.

 

Penelitian ini mengacu pada modifikasi model 4-D (four-D Models) yang dikemukakan oleh Thiagarajan. Subyek dari evaluasi ini adalah guru, siswa, ahli bidang materi/isi, ahli tampilan modul, serta ahli aspek pembelajaran. Subyek untuk analisis kebutuhan adalah guru dan siswa. Sasaran dari uji coba terbatas yaitu siswa MAN 1 Batanghari kelas XI IPA 3 Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Sedangkan uji lapangan/penelitian dilakukan di MAN 1 Metro pada kelas XI IPA 5 Semester Genap Tahun Pelajaran 2014/2015. Teknis analisis data menggunakan uji kelayakan, uji ahli, analisis keefektifan, dan uji N-gain. Hasil dari penelitian ini adalah modul berbasis inquiri terbimbing yang telah dikembangkan layak dan dapat digunakan dalam pembelajaran berdasarkan analisis hasil uji validasi didapatkan nilai sebesar 3,21 dalam skala lima, dan nilai ini termasuk dalam kategori “baik”, pada uji validasi ahli tampilan modul didapatkan nilai sebesar 3,93, dan nilai terhadap keterampilan proses sains diperoleh hasil tes sebesar 58,8 meningkat menjadi berdasarkan hasil postes yang memberikan hasil nilai sebesar 82,8, gain yang didapatkan sebesar 0,58 yang memberikan gambaran bahwa peningkatan skor pre-test ke pos-test tergolong dalam kategori “sedang”.

Kata Kunci: Modul Fisika, Inkuiri terbimbing, Keterampilan Proses Sains.

 

5. Pengembangan Modul IPA Berbasis Guided Discovery Learning (GDL) dengan Tema Fotosintesis untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains SMP/MTS Kelas VIII SMP Al Ma’rufiyyah Tempuran

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk :

  • menyusun modul berbasis Guided Discovery Learning (GDL) untuk meningkatkan keterampilan proses sains (KPS);
  • menguji kelayakan modul berbasis GDL untuk meningkatkan KPS;
  • menguji keefektifan penggunaan modul berbasis GDL untuk meningkatkan keterampilan proses sains.

 

Metode penelitian ini adalah model 4D (four-D model) oleh Thiagarajan (1974:5) meliputi tahap pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Draft modul diawali dengan analisis kebutuhan, pembuatan draf modul, validasi oleh ahli, guru, dan teman sejawat. Hasil revisi berupa draf modul I diujicobakan secara terbatas pada 10 siswa, dan direvisi menghasilkan draft II. Draf modul II diujicoba luas pada 31 siswa dalam tiga kali tatap muka kemudian diukur hasil keterampilan proses sains selama pembelajaran. Modul kemudian disebarkan ke guru IPA untuk mendapat umpan balik. Instrumen yang digunakan adalah angket, observasi, wawancara, dan tes. Analisis data tahap define menggunakan analisis deskriptif, tahap design menggunakan teknik analisa kualitatif dan pengujian soal dengan teknik analisis korelasi point biseral, tahap develop menggunakan analisis uji keefektifan model GDL menggunakan one group pretest-posttes design sedangkan hasil belajar keterampilan proses dihitung dengan gain ternormalisasi dan diuji menggunakan uji t dua sampel berpasangan dan tahap disseminate menggunakan teknik analisis data kualitatif.

 

Kesimpulan penelitian ini adalah :

  • karakteristik modul berbasis GDL, adalah diajarkan dan disusun dengan model pembelajaran berbasis GDL serta dapat meningkatkan 6 indikator KPS diantaranya kemampuan klasifikasi, merancang hipotesis, merumuskan variabel, intepretasi data, inferensi, membuat kesimpulan. Peningkatan KPS paling menonjol adalah keterampilan klasifikasi sedangkan KPS paling rendah adalah keterampilan inferensi;
  • kelayakan modul berbasis GDL pada aspek kelayakan isi dengan jumlah 42,00, kategori baik, aspek kelayakan penyajian berjumlah 33,50, kategori baik, aspek kelayakan bahasa dan gambar berjumlah 25,67, kategori sangat baik dan kelayakan kegrafikan berjumlah 114,00, kategori sangat baik;
  • pencapaian KPS siswa mengalami peningkatan yang signifikan dengan kategori “sedang”, perhitungan n-gain diperoleh hasil 0,383 yang artinya KPS termasuk kategori “sedang”. Adapun modul berbasis GDL efektif untuk meningkatkan keterampilan proses.

 

Kata kunci: Modul, IPA, Guided Discovery Learning (GDL), Fotosintesis, Keterampilan Proses Sains

 

6. Pengembangan Modul IPA Terpadu Berbasis Inkuiri Terbimbing dengan Tema Alat Pendengaran Manusia untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa Kelas VIII SMP Negeri 2 Sambungmacan

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk :

  • mengetahui karateristik modul IPA terpadu berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa dengan tema alat pendengaran manusia dapat digunakan sebagai sumber belajar siswa di SMP;
  • mengetahui kelayakan modul IPA terpadu untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa;
  • mengetahui keefektifan modul IPA terpadu berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa.

 

Penelitian pengembangan modul IPA terpadu ini menggunakan prosedur model Borg & Gall dimodifikasi terdiri 7 tahapan :

  • penelitian pendahuluan dan pengumpulan informasi,
  • perencanaan,
  • pengembangan bentuk produk awal,
  • uji coba kelompok kecil,
  • revisi terhadap produk utama,
  • uji coba pemakaian produk,
  • revisi terhadap produk akhir.

 

Kelayakan modul divalidasi oleh ahli pengembangan modul, ahli materi, ahli desain dan keterbacaan, guru IPA (praktisi), dan siswa. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan angket, lembar observasi, wawancara, dan tes. Analisis data yang digunakan selama pengembangan adalah analisis deskriptif, analisis kelayakan modul berdasarkan skor kriteria. Keterampilan proses sains dianalisis dengan mengunakan uji-t (t-test) dengan desain posstest only control group design.

 

Hasil penelitian dapat disimpulkan sebagai berikut :

  • pengembangan modul IPA terpadu berbasis inkuiri terbimbing dengan tema alat pendengaran manusia yang
  • telah dikembangkan memiliki karakteristik:
    1. modul yang utuh, berdiri sendiri;
    2. materi IPA terpadu bersifat holistik, bermakna, dan aktif dengan aktivitas modul berupa sintak pembelajaran inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains. Cara penyusunannya menggunakan prosedur pengembangan yang diadaptasi dari pengembangan Borg & Gall.
  • modul IPA terpadu yang dikembangkan layak untuk diterapkan pada tema alat pendengaran manusia. Kelayakan modul IPA terpadu berdasarkan penilaian dari ahli, praktisi, dan respon siswa yang secara keseluruhan memberikan kategori sangat baik pada produk pengembangan,
  • modul IPA terpadu berbasis inkuiri terbimbing dengan tema alat pendengaran manusia efektif meningkatkan keterampilan proses sains (sig. 0,000) dan hasil belajar kognitif (sig. 0,000). Besarnya peningkatan dilihat dari gain score keterampilan proses sains siswa 0,38 (sedang) dan gain score hasil belajar kognitif 0,42 (sedang).

Kata kunci: Modul IPA Terpadu, inkuiri terbimbing, keterampilan proses sains, dan alat pendengaran manusia.

7. Pengembangan Modul IPA Terpadu Berbasis Inkuiri Terbimbing dengan Tema Keju untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Hasil Belajar Siswa SMP Kelas VII

 

Abstrak

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

  • karakteristik modul IPA terpaduberbasis inkuiri terbimbing tema keju,
  • kelayakan modul IPA terpadu berbasis inkuiri terbimbing tema keju,
  • efektivitas modul IPA terpadu berbasis inkuiri terbimbing tema keju, terhadap keterampilan proses sains dan hasil belajar siswa.

 

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang mengacu pada prosedur penelitian pengembangan Borg dan Gall yang terdiri dari 10 tahapan, yaitu :

  • penelitian dan pengumpulan informasi awal,
  • perencanaan,
  • pengembangan produk awal,
  • uji coba awal,
  • revisi hasil uji coba awal,
  • uji lapangan utama,
  • revisi hasil uji lapangan utama,
  • uji lapangan operasional,
  • revisi produk akhir, dan
  • penyebaran produk.

 

Prosedur penelitian pengembangan Borg dan Gall dengan 10 tahapan tersebut dimodifikasi pada jumlah subjek ujicoba. Validasi produk dilakukan oleh 2 ahli materi, 2 ahli penyajian, 1 ahli bahasa, 1 ahli media, 2 ahli pendidikan, 1 praktisi guru IPA, dan 2 teman sejawat. Penelitian dilaksanakan di SMPN 1 Prambanan dengan subyek ujicoba awal terdiri dari 6 siswa kelas VII dan 1 guru IPA, subjek uji lapangan utama 18 siswa kelas VII dan 2 guru IPA, serta subjek uji lapangan operasional yaitu 32 siswa kelas VII F dan 1 guru IPA. Uji efektivitas kelas eksperimen dan kelas kontrol menggunakan desain non-equivalent control group, yang di analisis menggunakan software SPSS dengan jenis uji Mann Whitney Test untuk keterampilan proses sains dan hasil belajar sikap, sedangkan hasil belajar kognitif menggunakan Independent T-Test.

 

Hasil penelitian diperoleh bahwa :

  • karakteristik modul yang dikembangkan adalah konten IPA dipadukan dengan tipe connected, adanya tahapan inkuiri terbimbing pada modul yang menyajikan fenomena IPA dalam kehidupan sehari-hari, serta disusun sesuai Kurikulum 2013;
  • modul layak digunakan dengan perolehan skor modul siswa 3,76 (sangat baik) dan skor modul guru adalah 3,75 (sangat baik); ditinjau dari aspek isi modul layak sesuai dengan Kurikulum 2013, tujuan pembelajaran sesuai dengan KD, keterkaitan materi jelas, tidak miskonsepsi, dan kontekstual; ditinjau
  • dari aspek penyajian modul dinyatakan konsisten, logis, dan runtut; ditinjau dari aspek kebahasaan modul dinyatakan sesuai kaidah bahasa Indonesia yang benar, singkat, jelas, mudah dimengerti, dan konsisten; ditinjau dari aspek kegrafikan modul dinyatakan ukuran modul sesuai standar buku pemerintah, tipografi modul sesuai, gambar jelas, warna sesuai, serta proporsi gambar dengan teks sesuai;
  • modul efektif meningkatkan keterampilan proses sains (sig. 0,000), hasil belajar sikap (sig. 0,000), dan hasil belajar kognitif (sig. 0,000). Besarnya peningkatan dilihat dari gain keterampilan proses sains 0,65 (sedang), gain sikap 0,65 (sedang), dan gain kognitif 0,35 (sedang). Jumlah siswa yang mencapai nilai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada kelas eksperimen 18 siswa (56,25%), sedangkan pada kelas kontrol tidak ada yang mencapai nilai KKM.

 

Kata kunci: modul, inkuiri terbimbing, keju, keterampilan proses sains, hasil belajar.

 

8. Pengembangan Modul IPA Terpadu Berbasis Model Inkuiri Terbimbing dengan Tema Tekanan Zat Alir dan Penerapannya dalam Kehidupan Sehari-hari untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP/ MTs

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

  • karakteristik hasil pengembangan modul IPA terpadu berbasis model inkuiri terbimbing dengan tema tekanan zat alir dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari untuk siswa SMP/ MTs;
  • kelayakan dari modul IPA terpadu berbasis model inkuiri terbimbing dengan tema tekanan zat alir dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang dihasilkan ditinjau dari aspek kelayakan isi, penyajian materi, bahasa dan gambar, serta kegrafisan berdasarkan penilaian dan peninjauan dari validator; dan
  • keterampilan proses sains siswa setelah pembelajaran menggunakan modul  IPA  terpadu  berbasis  model  inkuiri  terbimbing  dengan  tema tekanan zat alir dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

 

Penelitian dan pengembangan modul IPA terpadu ini menggunakan model 4-D yang terdiri dari 4 tahap yaitu tahap pendefinisian, perancangan, pengembangan, dan penyebaran. Keseluruhan tahapan tersebut telah dilakukan sehingga data yang diperoleh dianalisis lebih lanjut. Desain penelitian yang digunakan adalah one-group pretest- posttest design. Keefektifan modul terhadap keterampilan proses sains dianalisis menggunakan   N-gain   score.   Perbedaan   hasil   keterampilan   proses   sains   diuji menggunakan paired sample t-test. Penyebaran dilakukan kepada 15 guru IPA untuk mendapatkan umpan balik.

 

Hasil penelitian ini adalah :

  • karakteristik modul IPA terpadu berbasis model inkuiri terbimbing dengan tema tekanan zat alir dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yaitu:
    1. dirancang secara  sistematis;
    2. tema tekanan  zat  alir  dan penerapannya  dalam  kehidupan  sehari-hari  yang  ada  di  dalam  modul  menggunakan model keterpaduan integrated;
    3. tahapan inkuiri terbimbing yang ada di dalam modul adalah perumusan masalah, membuat hipotesis, melakukan percobaan, interpretasi data, dan membuat kesimpulan; dan d) modul ini bertujuan untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa SMP/ MTs;
  • modul IPA terpadu berbasis model inkuiri terbimbing dengan tema tekanan zat alir dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari sangat layak untuk digunakan meningkatkan keterampilan proses sains siswa SMP/ MTs ditinjau dari komponen kelayakan  isi,  kebahasaan  dan  gambar,  penyajian,  dan  kegrafisan  karena masuk pada kategori sangat baik; dan
  • modul IPA terpadu berbasis model inkuiri terbimbing dengan tema tekanan zat alir dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari efektif meningkatkan keterampilan proses sains siswa dengan hasil gain score sebesar
  • 0,43 menunjukkan kategori sedang.

 

Kata Kunci: modul IPA terpadu, inkuiri terbimbing, KPS, tekanan zat alir

 

 

9. Pengembangan Modul IPA Terpadu Berbasisinkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP dengan Tema Air Limbah Rumah Tangga

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

  • karakteristik modul IPA. Terpadu berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa dengan tema air limbah rumah tangga dapat digunakan sebagai sumber belajar siswa di SMP;
  • kelayakan modul IPA Terpadu berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa dengan tema air limbah rumah tangga;
  • efektivitas modul IPA Terpadu berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa.

 

Penelitian pengembangan modul IPA Terpadu ini menggunakan prosedur Borg and Gall yang dimodifikasi yang terdiri 7 tahap yaitu :

  • Penelitian pendahuluan dan pengumpulan informasi (research and information collecting),
  • Perencanaan (planning),
  • Pengembangan bentuk produk awal (develop preliminary from of product),
  • Uji coba kelompok kecil (preliminary field testing),
  • Revisi terhadap produk utama (main product revision),
  • Uji coba pemakaian produk (main field testing),
  • Revisi terhadap produk akhir (final product revision).

 

Keseluruhan tahapan tersebut telah dilakukan sehingga data yang diperoleh dianalisis lebih lanjut. Analisis data yang digunakan selama pengembangan adalah analisis deskriptif, analisis kelayakan modul berdasarkan skor kriteria, dan analisis tes keterampilan proses sains melalui t-test.

 

Hasil penelitian disimpulkan bahwa :

  • modul IPA Terpadu berbasis inkuiri terbimbing dengan tema air limbah rumah tangga yang telah dikembangkan memiliki karakteristik:
    1. modul yang utuh, berdiri sendiri;
    2. materi IPA Terpadu bersifat holistik, bermakna, dan aktif dengan sintaks pembelajaran berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains.
  • modul IPA Terpadu yang dikembangkan termasuk dalam kategori sangat baik ditinjau dari kelayakan kualitas isi/materi, relevansi dan kredibilitas buku sumber, kesesuaian inkuiri terbimbing dalam memberdayaan keterampilan proses sains siswa, kesesuaian basis inkuiri terbimbing, kualitas metode penyajian, penggunaan ilustrasi, kelengkapan bahan penunjang, penyajian pembelajaran, kegrafikan, dan tampilan umum,
  • modul IPA Terpadu berbasis inkuiri terbimbing dengan tema air limbah rumah tangga efektif meningkatkan keterampilan proses sains berdasarkan hasil N-gain score sebesar 0,40 yang menunjukkan kategori sedang.

Kata kunci: modul IPA Terpadu, inkuiri terbimbing, keterampilan proses sains, air limbah rumah tangga

 

10. Pengembangan Modul IPA Terpadu Kelas VII dengan Model Discovery Learning Tema Air Limbah Industri Batik untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahu :

  • pengembangan modul IPA Terpadu SMP/MTs Kelas VII dengan model Discovery Learning tema Air Limbah Industri Batik;
  • kelayakan modul IPA Terpadu SMP/MTs Kelas VII dengan model Discovery Learning tema Air Limbah Industri Batik;
  • efektivitas modul IPA Terpadu SMP/MTs Kelas VII dengan model Discovery Learning tema Air Limbah Industri Batik dalam meningkatkan keterampilan proses sains.

 

Penelitian pengembangan modul IPA Terpadu ini dilakukan mengikuti model R & D dari Thiagarajan (1974) yang terdiri dari 4 tahapan, yaitu pendefinisian (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate). Semua tahapan tersebut telah dilakukan sehingga data yang diperoleh dianalisis lebih lanjut. Desain penelitian yang digunakan adalah Quasi Experimental Design dengan model Nonequivalent Control Group Design. Pada desain penelitian ini terdapat pretest sebelum diberi perlakuan dan posttest setelah diberi perlakuan. Analisis data yang digunakan selama pengembangan adalah analisis deskriptif, analisis kelayakan modul berdasarkan skor kriteria, dan analisis tes keterampilan proses sains, sikap dan psikomotor melalui n-gain score dari hasil pretest dan posttest tiap kelompok dan t-test.

 

Hasil penelitian disimpulkan bahwa :

  • modul IPA terpadu SMP/MTs berbasis penemuan (discovery learning) tema air limbah industri batik yang dikembangkan dengan model Four D (4D). Perancangan dan pengembangan modul mengacu pada sintak discovery learning. Kegiatan pembelajaran dalam modul sesuai dengan sintak discovery learning untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa;
  • modul IPA terpadu SMP/MTs berbasis penemuan (discovery learning) tema air limbah industri batik yang dikembangkan termasuk dalam kategori sangat baik ditinjau dari kelayakan fisik, isi/materi, bahasa, media, dan penyajian, kesesuaian model penemuan dalam memberdayaan keterampilan proses sains siswa, kesesuaian basis discovery learning, kualitas metode penyajian, penggunaan ilustrasi, kelengkapan bahan penunjang, penyajian pembelajaran, kegrafikan, dan tampilan umum berdasarkan validator ahli dan praktisi pendidikan serta menurut siswa;
  • modul IPA terpadu SMP/MTs berbasis penemuan (discovery learning) tema air limbah industri batik yang dikembangkan efektif meningkatkan keterampilan proses sains berdasarkan hasil N-gain score sebesar 0,32 termasuk kriteria sedang. Kata kunci: modul IPA Terpadu, discovery learning, keterampilan proses sains, air limbah industri batik

 

11. Pengembangan Modul IPA Terpadu SMP/MTs Kelas VII Berbasis Inkuiri Terbimbing pada Tema Pemanasan Global untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui :

  • karakteristik modul IPA Terpadu berbasis inkuiri terbimbing pada tema pemanasan global;
  • kelayakan modul IPA Terpadu berbasis inkuri terbimbing pada tema pemanasan global;
  • efektivitas modul IPA Terpadu berbasis inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains bagi siswa pada tema pemanasan global.

 

Penelitian pengembangan modul IPA Terpadu berbasis inkuiri termbing ini menggunakan prosedur pengembangan model Four-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan yang memuat 4 langkah yaitu :

  • pendefinisian (define),
  • perancangan (design),
  • pengembangan (develop),
  • penyebaran (dissemination).

 

Masing-masing tahapan tersebut telah dilakukan penelitian sehingga data yang diperoleh untuk dianalisis lebih lanjut. Analisis data yang digunakan dalam pengembangan modul IPA Terpadu adalah analisis deskriptif, analisis kelayakan modul berdasarkan skor kriteria, analisis keterampilan proses sains melalui hasil observasi, dan analisis hasil belajar siswa melalui test.

 

Hasil penelitian disimpulkan bahwa :

  • modul IPA terpadu berbasis inkuiri terbimbing dengan tema pemanasan global untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa yang telah dikembangkan dengan model 4D (Four-D) yaitu define (pendefinisian), design (perancangan), develop (pengembangan), dan dissemination (penyebaran) memiliki karakteristik:
    1. modul yang utuh berbasis inkuiri terbimbing;
    2. materi IPA yang termuat dalam modul terpadu bersifat holistik, bermakna, otentik, dan aktif yang memuat sintaks inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa.
  • kelayakan modul IPA Terpadu berbasis inkuri terbimbing pada tema pemanasan global yang dikembangkan dengan kategori sangat baik ditinjau dari kelayakan isi, kelayakan penyajian, kelayakan bahasa, komponen kegrafikan, kelayakan keterpaduan, kesesuaian inkuiri terbimbing untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa berdasarkan validator ahli, validator praktisi pendidikan, dan respon siswa
  • modul IPA terpadu berbasis inkuiri terbimbing pada tema pemanasan global efektif untuk meningkatkan keterampilan proses sains siswa diperoleh hasil rata-rata N-gain score 0,30 dengan kategori sedang dan untuk nilai kognitif siswa diperoleh dengan hasil nilai rata-rata 83 dengan kategori sangat baik di atas standart KKM (Kriteria Ketuntasan Minimal).

 

Kata kunci: modul IPA Terpadu, inkuiri terbimbing, keterampilan proses sains, pemanasan global

 

 

12. Pengembangan Modul Pembelajaran Biologi Berbasis Brain Based Learning disertai Vee Diagram untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains dan Kemampuan Pengaturan Diri (Studi Pembelajaran di SMA Negeri 1 Banyudono Boyolali)

 

Abstrak

Tujuan penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mengetahui :

  • prosedur pengembangan modul pembelajaran biologi berbasis brain based learning disertai vee diagram untuk memberdayakan keterampilan proses sains dan kemampuan pengaturan diri;
  • kelayakan modul pembelajaran biologi berbasis brain based learning disertai vee diagram untuk memberdayakan keterampilan proses sains dan kemampuan pengaturan diri; dan
  • efektivitas modul pembelajaran biologi berbasis brain based learning disertai vee diagram untuk memberdayakan keterampilan proses sains dan kemampuan pengaturan diri.

 

Penelitian ini menggunakan metode Research And Development (R&D) yang mengacu pada modifikasi pengembangan model Borg & Gall. Sampel pengembangan meliputi sampel uji coba lapangan awal sejumlah 6 validator, sampel uji coba lapangan utama sejumlah 10 siswa kelas x semester genap di sma negeri 1 ngemplak tahun pelajaran 2013/2014 dan sampel uji coba lapangan operasional sejumlah 27 siswa kelas X semester genap di SMA Negeri 1 Banyudono Tahun Pelajaran 2013/2014. Instrumen yang digunakan adalah angket, observasi, wawancara, dan tes. Uji coba lapangan operasional menggunakan one group pretest-posttes design. Data keterampilan proses sains dan kemampuan pengaturan diri diuji dengan uji wilcoxon dan dihitung dengan gain ternormalisasi.

 

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa:

1) pengembangan modul pembelajaran biologi berbasis Brain Based Learning disertai Vee Diagram menggunakan modifikasi model pegembangan Borg & Gall melalui tahapan research and information collecting, planning, develop preliminary form of product, preliminary field testing, main product revision, main field testing, operational product revision, operational field, final product revision dan dissemination and implementasion;

2) kelayakan modul berbasis Brain Based Learning disertai Vee Diagram yang dikembangkan pada uji coba ahli menunjukkan kategori baik dengan nilai 3,45, oleh praktisi menunjukkan kategori sangat baik dengan nilai 3,79 dan oleh siswa menunjukkan kategori sangat baik dengan nilai 3,63; dan 3) pengembangan modul pembelajaran biologi berbasis Brain Based Learning disertai Vee Diagram terbukti efektif dalam memberdayakan kps dengan perolehan ngain sebesar 0,72 serta hasil signifikansi sebesar 0,000 dan kemampuan pengaturan diri dengan perolehan ngain sebesar 0,71 serta hasil signifikansi sebesar 0,000

 

 

13. Pengembangan Subject Specific Pedagogy (SSP) IPA Berbasis Inkuiri Terbimbing Tema Mata Sebagai Alat Optik untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP/MTs Kelas VIII.

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan proses pengembangan, kelayakan dan efektivitas Subject Specific Pedagogy (SSP) IPA Berbasis Inkuiri Terbimbing Tema Mata Sebagai Alat Optik untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Siswa SMP/MTs  Kelas VIII Penelitian pengembangan Subject Specific Pedagogy (SSP) ini menggunakan prosedur Borg and Gall meliputi: penelitian dan pengumpulan data, perencanaan, pengembangan bentuk produk awal, uji coba skala terbatas, revisi produk awal,  uji coba skala menengah,  revisi produk utama, uji coba skala luas dan revisi produk akhir. Penelitian dilakukan di SMP N 1 Tasikmadu, SMP N 3 Karanganyar, dan MTs N Karangmojo. Analisis data adalah analisis deskriptif. Analisis kelayakan SSP berdasarkan skor kriteria. Analisis efektifitas SSP menggunakan uji-t pihak kanan.

 

Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa pengembangan produk Subject Specific Pedagogy (SSP) dilakukan dengan beberapa tahapan model Borg & Gall, meliputi Analisis Pendahuluan yang dilakukandengan Angket dan wawancara pada MGMP Guru IPA SMP Karananyar POKJA 5, perencanaan sehingga dihasilkan draft produk awal, selanjutnya draft produk di validasi oleh 9 ahli dan dilakukan revisi sesuai saran dari para ahli. Setelah diperoleh produk I dilakukan uji coba kecil dengan 3 Guru dan 15 siswa dari 3 sekolah yang selanjutnya direvisi sesuai hasil dan saran. Produk II yang diperoleh kemudian dilakuka uji coba skala menengah dengan 3 guru dan 3 kelas siswa yang telah memperoleh materi lenda dan alat optik, hasil dari uji ini digunakan untuk revisi sehingga diperoleh produk III untuk dilakukan uji skala luas di 3 kelas eksperimen. Hasil Uji coba dianalisis dan dilakukan revisi sehingga dihasilkan produk akhir. Hasil uji coba menunjukkan bahwa SSP mendapat penilaian dengan kategori “Sangat Baik” sehingga layak digunakan pada proses pembelajaran. Produk SSP lebih efektif untuk meningkatkan keterampilan proses sains saat diterapkan di kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol pada SMP N 1 Tasikmadu dan SMP N 3 Karanganyar kategori tinggi dan sedang namun produk SSP tidak efektif saat diterapkan di kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol pada MTs N Karangmojo kategori rendah.

Kata Kunci : Subject Specific Pedagogy, IPA Terpadu, keterampilan proses sains, Mata sebagai alat optik

14. Pengembangan Subject Specific Pedagogy (SSP) IPA Berbasis Inkuiri Terbimbing untuk Meningkatkan Keterampilan Proses Sains Tema Pemanasan Globaldi SMP Kelas VII

 

Abstrak

Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menjelaskan tahapan pengembangan, mengetahui kualitas dan efektivitas Subject Specific Pedagogy (SSP) IPA Terpadu berbasis Inkuiri Terbimbing tema Pemanasan Global untuk meningkatkan Keterampilan Proses Sains di SMP Karanganyar Kelas VII. Penelitian ini menggunakan prosedur Borg& Gall.Penelitian dilakukan di SMP Negeri 1 Tasikmadu, SMP Negeri 3 Karanganyar dan MTs Negeri Karangmojo Tahun Pelajaran 2015/2016. Analisis data menggunakan analisis deskriptif, analisis kualitas produk SSP berdasarkan skor kriteria, analisis kualitas produk SSP menggunakan uji t-pihak kanan.

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa tahapan pengembangan SSP dilakukan pengumpulan data dengan analisis kebutuhan guru melalui wawancara dan analisis angket, dilakukan perencanaan pembuatan SSP, pembuatan produk SSP yaitu Silabus, RPP, Media pembelajaran (Modul) dan perangkat penilaian, dilakukan uji coba skala terbatas kepada 5 orang siswa, dilakukan revisi produk awal, dilakukan uji coba skala menengah untuk 1 kelas, dilakukan revisi produk utama, dilakukan uji coba skala luas untuk 1 kelas, revisi produk akhir, direncanakan dilakukan diseminasi produk akhir. Kualitas SSP dilihat dari hasil uji coba dan mendapatkan penilaian dengan kategori “baik” sehingga layak digunakan pada proses pembelajaran. SSP dinyatakan efektif digunakan, karena dapat meningkatkan Keterampilan Proses Sains siswa. Hal itu ditunjukkan oleh analisis uji-t dan hasil N-Gain Score. Diperoleh hasil bahwa produk SSP efektif digunakan di SMP Negeri 1 Tasikmadu dan SMP Negeri 3 Karanganyar dengan kategori sekolah tinggi dan sedang, sedangkan di MTS Negeri Karangmojo produk SSP tidak efektif saat diterapkan di kelas eksperimen dibandingkan dengan kelas kontrol dengan kategori rendah.

 

Kata kunci: IPA, Ketrampilan Proses Sains, Subject Spesific Paedagogy, Pemanasan Global

Incoming search terms:

Leave a Reply