HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Cerita Rakyat Ki Kerta Bangsa di Dusun Prampogan Desa Payungan Kabupaten Semarang Jawa Tengah (Suatu Tinjauan Folklor)

ABSTRAK

Masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah (1) Bagaimanakah profil pemilik Cerita Rakyat Ki Kerta Bangsa di Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ? (2)Bagaimanakah bentuk dan isi Cerita Rakyat Ki Kerta Bangsa di Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ? (3) Bagaimanakah fungsi serta tanggapan dan penghayatan masyarakat terhadap keberadaaan Cerita Rakyat Ki Kerta Bangsa di Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah ? (4) Bagaimanakah kekuatan kultural Cerita Rakyat Ki Kerta Bangsa di Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah bagi masyarakat?

Penelitian ini bertujuan (1) Mendiskripsikan profil pemilik Cerita Rakyat Ki Kerta Bangsa di Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.(2) Menemukan bentuk dan isi Cerita Rakyat Ki Kerta Bangsa di Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.(3) Mendapatkan fungsi serta tanggapan dan penghayatan masyarakat terhadap keberadaaan Cerita Rakyat Ki Kerta Bangsa di Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah.(4) Mendiskripsikan kekuatan kultural Cerita Rakyat Ki Kerta Bangsa di Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah bagi masyarakat. Penelitian terhadap cerita rakyat Ki Kerta Bangsa, merupakan penelitian deskripsi kualitatif dengan metode sebagai berikut : sumber data dan data, teknik pengumpulan data (observasi langsung, wawancara, dan content analisis, validitas data), populasi dan sample, dan teknik analisis data.

Berdasarkan hasil analisis data dapat disimpulkan bahwa (1) Profil masyarakat Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah, sebagai pendukung cerita Rakyat Ki Kerta Bangsa ditinjau dari segi deskripsi wilayahnya yaitu sebagian besar tanahnya adalah tanah basah yang dapat dijadikan sebagai mata pencaharian penduduknya yang sebagian besar bermata pencaharian sebagi petani. Agama yang dipeluk sebagian besar penduduk Prampogan adalah Islam. Tradisi-tradisi yang ada samapi saat ini masih dijag kelestariannya dengan baik mulai dari tradisi-tradisi kelahiran maupun sampai kematian. .(2) Bentuk dan isi cerita berisi tentang cerita Ki Kerta Bangsa merupakan legenda yaitu prosa rakyat yang dianggap olah sang empunya cerita sebagai suatu kejadian yang sungguh-sungguh pernah terjadi(3) Fungsi cerita antara lain: (a). Sebagai alat pemaksa dan pengawas agar norma-norma Masyarakat selalu dipatuhi anggota kolektifnya.(b). Sebagai  sarana pendidikan yang dapat dijadikan cerita pengantar tidur bagi anak dan juga contoh dalam memberikan pendidikan kepada anak(c) Sebagai Sarana Hiburan karena dalam acara sadranan terdapat musik campursari dan arak-arakan sesajen sehingga membuat masyarakat merasa terhibur.(d) Fungsi ekonomi yang dapat memberikan rejeki tambahan bagi masyarakat setempat yaitu dengan menjual jasanya sepoerti ojek, menjual makanan dan minuman, serta tempat parkir(4) Tanggapan dan penghayaan Cerita rakyat Ki Kerta Bangsa samapi saat ini masih cukup terjaga dengan baik oleh masyarakat setempat maupun para pendatangnya. Mereka menganggap tempat tersebut tempat yang kerramat yang dapat mengabulkan sebuah permintaan yang wajib kita jaga dan dilestarikan(5) kekuatan kultural cerita rakyat Ki Kerta Bangsa merupakan sebuah ritual yang tidak dapat dilepaskan dari Cerita rakyat Ki Kerta Bangsa. Ritual sadranan tersebut dilakukan setiap tahunnya tiap bulan Bakda Mulud dengan arak-arakan sesejen oleh masyarakat Prampogan.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Salah satu daerah yang memiliki banyak budaya berupa folklor adalah Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Di antara folklor lisan yang masih dilestarikan keberadaannya adalah sebuah cerita rakyat Ki Kerta Bangsa yang terdapat di Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu. Folklor adalah sebagian dari kebudayaan suatu kolektif macam apa saja secara tradisional dalam versi yang berbeda, baik dalam bentuk lisan maupun disertai contoh dengan gerak isyarat atau alat Bantu. Folklor yang berupa karya sastra lahir dan berkembang dalam masyarakat tradisional dan disebarkan di antara kolektif tertentu dalam waktu yang cukup lama disebut juga cerita lisan.

Folkor hanya merupakan sebagian kebudayaan yang penyebarannya pada umumnya melalui tutur kata atau lisan, itulah sebabnya ada yang menyebut sebagai tradisi lisan (oral tradition) (James Dananjaya, 1984 ; 2). Sastra lisan merupakan bagian dari suatu kebudayaan yang tumbuh dan berkembang di tengah-tengah masyarakat dan diwariskan secara turun-temurun secara lisan sebagai milik bersama. Sastra lisan merupakan pencerminan situasi, kondisi, dan tata krama masyarakat pendukungnya. Pertumbuhan dan perkembangan sastra lisan suatu masyarakat merupakan pertumbuhan dari gerak dinamis pewarisnya dalam melestarikan nilai budaya leluhur. Dalam hal ini, sastra lisan berperan sebagai modal apresiasi sastra yang telah membimbing anggota masyarakat ke arah pemahaman gagasan-gagasan berdasarkan praktik. Apresiasi sastra itu telah menjadi tradisi selama berabad-abad sebagai dasar komunukasi ciptaan yang berdasarkan sastra lisan. Dengan demikian, sastra lisan itu akan lebih mudah digauli sebab ada unsurnya yang mudah dikenal oleh masyarakat (Depdikbud, 1998;1)

Cerita rakyat sebagai bagian dari folklor merupakan cerita lisan yang telah lama hidup dalam tradisi suatu masyarakat. Cerita rakyat dapat dikategorikan dalam ragam sastra lisan. Sastra lisan merupakan manifestasi kreatifitas manusia yang hidup dalam kolektifitas masyarakat yang memilikinya dan diwariskan turun temurun secara lisan dari generasi ke generasi. Cerita lisan lahir dari masyarakat tradisional yang selalu memegang teguh tradisi lisannya. Cerita lisan bersifat anonim, sehingga sulit untuk diketahui sumber aslinya serta tidak memiliki bentuk yang tetap. Cerita lisan sebagian dimiliki oleh masyarakat tertentu yang digunakan sebagai alat untuk menggalang rasa kesetiakawanan dan alat bantu untuk membuat ajaran sosial budaya yang berlaku di masyarakat tersebut. Sebagai produk sosial sastra lisan mempunyai kesatuan dinamis yang bermakna sebagai nilai dan peristiwa jamannya (Goldman, dalam Sapardi Djoko Damono, 1984 ; 42).

Salah satu folklor adalah cerita rakyat. Namun, jika folklor itu belum diakui atau dipercaya oleh masyarakat, maka bukan termasuk cerita rakyat. Cerita rakyat penyampaiannya secara turun temurun dan berturut-turut dari seseorang kepada orang lain tanpa penekanan pada sumber aslinya, cenderung mengarah pola yang bersifat rata-rata serta tidak memiliki bentuk yang tetap. Dengan adanya sifat-sifat itu, memungkinkan perubahan yang dialami oleh penuturnya untuk tidak mampu mengingat seluruh isi cerita secara urut dan lengkap (Wahyanto Andri Wibowo, 2003 : 4).

Penelitian terhadap karya sastra lisan perlu dilakukan karena cerita rakyat mengungkapkan kepada kita bagaimana kelompok masyarakat pemilik atau pendukung cerita rakyat itu berfikir. Cerita rakyat juga mengabadikan, melestarikan apa yang dirasa penting oleh masyarakat pendukungnya. Sampai sekarang masih banyak folkor yang belum diteliti, dicatat atau dibukukan sehingga tidak hanya dikenal oleh masyarakat luas. Hal ini disebabkan usahausaha penelitian, pencatatan, maupun penerbitan-penerbitan buku-buku mengenai folklor atau cerita rakyat masih minim sekali. Cerita rakyat yang dituturkan secara lisan dari generasi ke generasi berikutnya banyak dijumpai di berbagai daerah. Misalnya cerita rakyat yang berkembang di daerah Kabupaten Semarang adalah cerita rakyat Ki Kerta Bangsa yang terletak di Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Cerita rakyat Ki Kerta Bangsa memiliki cerita yang dipercaya keberadaannya oleh masyarakat setempat maupun sekitarnya. Bermula dari cerita tersebut merupakan sosok prajurit Kraton Mataram yang sakti, berwibawa, berbudi pekerti luhur, dan baik, maka banyak yang datang sekedar mengadakan doa mencari berkah atau sering disebut “ngalap berkah”. Kebanyakan yang datang ke makam Ki Kerta Bangsa untuk ngalap berkah adalah para pedagang, Pegawai Negeri sipil, dan yang lainnya agar dalam melaksanakan pekerjaan dapat berjalan dengan lancar dan tidak ada suatu halangan.

Menurut cerita yang disampaikan oleh Juru Kunci makam yaitu Mbah Reso, mengatakan bahwa Ki Kerta Bangsa adalah seorang prajurit Kraton Mataram yang kala itu Panembahan Senapati sebagai rajanya. Sebagai seorang prajurit kraton Ki Kerta Bangsa merupakan salah satu prajurit yang mumpuni karena memiliki sifat dan ilmu yang dimiliknya. Ki Kerta Bangsa juga memiliki 2 buah senjata yaitu keris Kyai Blencok dan tombak Kyai Ceblok yang didapatkannya dari salah seorang gurunya. Ki Kerta Bangsa tumbuh di lingkungan keraton membuat menjadi sosok prajurit yang disegani di antara prajurit lainnya. Banyak pelajaran didapatnya dari lingkungan keraton berupa ilmu kejawen, strategi perang, maupun kepemimpinan yang membuatnya sangat mumpuni menjadi seorang prajurit keraton. Keraton sendiri merupakan sebuah pusat pemerintahan di mana semua hal yang menyangkut kehidupan orang banyak diatur di dalamnya. Banyak orang yang mengabdi kepada keraton dan raja yang memimpinnya, sebab semua perkataan raja merupakan kebenaran dan tidak boleh dilawan atau ditolak. Tetapi dengan perkembangan zaman sekarang ini banyak keraton-keraton di Indonesia memilki peran hanya sebagai pusat pemeliharaan kebudayaan bukan sebagai pusat dari pemerintahan seperti zaman dahulu. Keberadaan cerita rakyat Ki Kerta Bangsa yang terletak Dusun Prampogan, Desa Payungan, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah merupakan salah satu bentuk cerita rakyat yang memiliki ajaran-ajaran yang berguna dalam kehidupan sehari-hari.

Manusia sebagai makhluk sosial hendaknya dapat menjadi seseorang yang dapat dipercaya oleh orang lain. Sebab untuk menjadi seseorang yang dapat dipercaya tidaklah mudah, karena kepercayaan merupakan salah satu modal menjadi seorang pemimpin. Menjadi seorang pemimpin merupakan sebuah kehormatan kerena mendapat sebuah kepercayaan dari orang yang memilihnya. Sosok Ki Kerta Bangsa dikenal sebagai seorang pemimpin pasukan kraton yang menjadi kepercayaan oleh Panembahan Senapati dalam memimpin pasukan Mataram ke Semarang untuk merebut wilayah Semarang dari tangan Batavia. Hal tersebut diterima olah Ki Kerta Bangsa dan dilaksanakan dengan sebaik mungkin. Ini wujud dari seorang pemimpin yang rela berkorban untuk negaranya agar tetap menjadi satu. Dengan menerima tugas dari Panembahan Senapati untuk memimpin pasukan ke Semarang merupakan sebuah wujud kerelaan Ki Kerta Bangsa. Banyak hal yang ditinggalkan oleh Ki Kerta Bangsa di Mataram termasuk keluarganya, tetapi demi semua tugas itu beliau rela untuk meninggalkannya.

Kerja keras merupakan kunci untuk mendapatkan apa yang diinginkan maupun untuki menjadi sukses. Semua orang pasti memiliki cita-cita yang ingin diwujudkan, dan itu seharusnya dapat dikejar dengan sepenuh hati dan berjuang tanpa mengenal lelah Hal itu pula yang dikerjakan oleh Ki Kerta Bangsa dalam mendapatkan 2 buah senjatanya yaitu Kyai Blencok dan tombak Kyai Ceblok dengan tidak mudah dan harus melalui beberapa ujian dari gurunya. Semua itu terlihat saat Ki Kerta Bangsa sedang belajar berbagai ilmu dari para gurunya. Banyak rintangan yang harus ditempuhnya, diantaranya adalah bersemedi atau tapa kungkum selama 40 hari. Semedi atau tapa adalah salah satu contoh hidup prihatin dalam rangka lebih mendekatkan diri terhadap Tuhan YME. Orang dahulu suka bersemedi atau bertapa untuk lebih mendekatkan diri terhadap sang Penciptanya.

Incoming search terms:

Leave a Reply