Uji reliabilitas adalah pengujian untuk melihat apakah instrumen penelitian memberikan hasil yang konsisten. Jika pengukuran diulang dalam kondisi yang sama, instrumen yang reliabel akan memberi hasil yang mirip.
Dua situasi ini sering membuat mahasiswa ragu. Ada yang mendapat Cronbach’s alpha 0,65 dan khawatir datanya tidak bisa dipakai. Ada juga yang mendapat 0,98 dan merasa instrumennya sempurna. Keduanya perlu dibaca dengan hati-hati, dan artikel ini menjelaskan caranya.
Artikel ini bagian dari seri Materi Statistik IDTesis. Uji reliabilaitas biasanya dilakukan setelah uji validitas.
Apa Itu Reliabilitas?
Reliabilitas adalah konsistensi alat ukur. Timbangan yang menunjukkan 60 kg, lalu 63 kg, lalu 58 kg untuk orang yang sama dalam lima menit adalah timbangan yang tidak reliabel.

Gambar di atas menunjukkan hubungan reliabilitas dan validitas. Instrumen bisa konsisten tetapi meleset dari sasaran: reliabel, tetapi tidak valid. Sebaliknya, instrumen yang tidak konsisten tidak mungkin valid. Karena itu, reliabilitas adalah syarat perlu, tetapi belum cukup.
Metode Uji Reliabilitas

- Test-retest: instrumen yang sama diberikan dua kali kepada responden yang sama dengan jeda waktu. Skor kedua pengukuran lalu dikorelasikan. Cocok untuk sifat yang stabil.
- Bentuk paralel: dua versi instrumen yang setara diberikan kepada responden yang sama, lalu skornya dikorelasikan.
- Belah dua (split-half): butir dibagi dua, misalnya ganjil dan genap, lalu skor kedua belahan dikorelasikan. Karena korelasi ini hanya mewakili setengah tes, hasilnya dikoreksi dengan rumus Spearman-Brown: r_SB = 2r ÷ (1 + r). Makin tinggi nilainya, makin reliabel.
- Konsistensi internal: keselarasan antarbutir dalam satu kali pengukuran. Ukurannya Cronbach’s alpha untuk skala bertingkat seperti Likert, dan KR-20 untuk butir benar/salah. Metode ini paling banyak dipakai di skripsi dan tesis.
- Antar-penilai: kesepakatan dua penilai atau lebih, misalnya pada lembar observasi. Ukurannya Cohen’s Kappa atau ICC.
Cronbach’s Alpha: Patokan dan Cara Membacanya
Cronbach’s alpha (Cronbach, 1951) berkisar 0–1. Patokan yang lazim dipakai:
| Nilai Cronbach’s alpha | Tafsiran |
|---|---|
|
Di bawah 0,60 |
Reliabilitas rendah; perlu diperbaiki |
|
0,60–0,70 |
Masih dapat diterima untuk penelitian eksploratori |
|
0,70–0,90 |
Reliabel; batas yang umum dipakai adalah 0,70 (Nunnally & Bernstein, 1994) |
|
Di atas 0,90–0,95 |
Perlu dicek: butir mungkin terlalu mirip atau mengulang kalimat (Tavakol & Dennick, 2011) |
Perlu diingat, alpha ikut naik jika jumlah butir bertambah. Instrumen dengan 30 butir mudah mencapai alpha tinggi, meski antarbutirnya tidak terlalu selaras.
Langkah di SPSS
- Buka Analyze ? Scale ? Reliability Analysis.
- Masukkan butir-butir yang valid dari satu variabel. Pastikan model yang dipilih adalah Alpha.
- Klik Statistics, lalu centang Scale if item deleted.
- Baca nilai Cronbach’s Alpha di tabel Reliability Statistics.
- Lihat kolom Cronbach’s Alpha if Item Deleted. Butir yang membuat alpha naik jika dihapus patut diperiksa.
Uji reliabilitas dilakukan per variabel, bukan untuk seluruh kuesioner sekaligus. Jika satu variabel punya beberapa dimensi, hitung juga alpha tiap dimensi.
Contoh hasil (angka ilustrasi):
| Variabel | Jumlah butir valid | Cronbach’s alpha | Keterangan |
|---|---|---|---|
| Motivasi kerja |
8 |
0,842 |
Reliabel |
| Disiplin kerja |
6 |
0,781 |
Reliabel |
| Kinerja |
10 |
0,887 |
Reliabel |
Alpha Rendah, Lalu Bagaimana?
- Periksa butir negatif (unfavorable). Ini penyebab paling umum. Butir seperti “Saya sering menunda pekerjaan” harus dibalik skornya (1 menjadi 5, 2 menjadi 4, dan seterusnya) sebelum alpha dihitung.
- Periksa butir dengan korelasi item-total rendah. Lihat apakah redaksinya membingungkan atau mengukur hal lain.
- Periksa dimensi konstruk. Konstruk dengan beberapa dimensi yang berbeda bisa menghasilkan alpha rendah jika dihitung sekaligus.
- Hitung ulang setelah perbaikan, lalu laporkan prosesnya di Bab 3.
Perbaikan dilakukan pada butir dan pengolahannya, bukan pada jawaban responden. Mengubah jawaban supaya alpha naik adalah manipulasi data.
Alpha yang rendah memang sering membuat cemas menjelang seminar hasil. Kalau Anda butuh teman untuk menelusuri penyebabnya, tim IDTesis bisa membantu memeriksa data dan butirnya.
Reliabilitas pada SEM PLS
Pada SEM PLS, reliabilitas tidak hanya dilihat dari Cronbach’s alpha. Ukuran yang dilaporkan meliputi composite reliability (rho_a dan rho_c), dengan patokan 0,70–0,95. Cara membacanya ada di artikel cara membaca output SmartPLS.
Contoh Penulisan Hasil Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dilakukan dengan Cronbach’s alpha terhadap butir-butir yang telah dinyatakan valid. Variabel motivasi kerja memperoleh alpha 0,842, disiplin kerja 0,781, dan kinerja 0,887. Ketiga nilai berada di atas batas 0,70, sehingga seluruh instrumen dinyatakan reliabel.
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Menghitung alpha dari semua butir, termasuk butir yang sudah dinyatakan tidak valid.
- Lupa membalik skor butir negatif, sehingga alpha turun drastis.
- Menghitung satu alpha untuk seluruh kuesioner yang berisi beberapa variabel.
- Menganggap alpha 0,98 pasti bagus. Nilai setinggi ini bisa menandakan butir yang saling mengulang.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Berapa batas minimal Cronbach’s alpha?
Batas yang paling umum adalah 0,70. Untuk penelitian eksploratori atau instrumen baru, 0,60 masih dapat diterima, asalkan alasannya ditulis.
Apakah butir harus valid dulu sebelum uji reliabilitas?
Ya. Urutan yang lazim adalah uji validitas dulu, lalu uji reliabilitas hanya untuk butir yang valid.
Apa beda Cronbach’s alpha dan KR-20?
Keduanya mengukur konsistensi internal. KR-20 dipakai untuk butir bernilai 0 dan 1 (benar/salah), sedangkan Cronbach’s alpha dipakai untuk skala bertingkat seperti skala Likert. Pada butir 0/1, hasil keduanya sama.
Apa beda Cronbach’s alpha dan composite reliability?
Cronbach’s alpha menganggap semua butir sama penting. Composite reliability memperhitungkan bobot (loading) tiap butir, sehingga lebih sesuai untuk SEM.
Butuh Teman Diskusi untuk Uji Instrumen?
Nilai reliabilitas Anda belum memenuhi, atau hasilnya terasa janggal? Tim IDTesis bisa menemani Anda menelusuri penyebabnya, menjalankan ulang uji validitas dan reliabilitas, dan menjelaskan hasilnya dengan bahasa sederhana. Ceritakan dulu kondisinya lewat WhatsApp, atau lihat layanan olah data statistik.
Baca juga: Uji Validitas · Metode Analisis Data · SEM PLS
Bila Anda memerlukan pendampingan menentukan instrumen atau menyusun kerangka konsep, layanan bimbingan penulisan IDTESIS siap membantu.
Referensi
- Cronbach, L. J. (1951). Coefficient alpha and the internal structure of tests. Psychometrika, 16(3), 297–334. https://doi.org/10.1007/BF02310555
- Hair, J. F., Hult, G. T. M., Ringle, C. M., & Sarstedt, M. (2022). A primer on partial least squares structural equation modeling (PLS-SEM) (3rd ed.). SAGE.
- Nunnally, J. C., & Bernstein, I. H. (1994). Psychometric theory (3rd ed.). McGraw-Hill.
- Tavakol, M., & Dennick, R. (2011). Making sense of Cronbach’s alpha. International Journal of Medical Education, 2, 53–55. https://doi.org/10.5116/ijme.4dfb.8dfd
Incoming search terms:
- uji reliabilitas
- uji reliabilitas adalah





saya mau bertanya….bagaimana jika skala yang sudah pernah dilakukan dalam penelitian, kemudian digunakan kembali, apakah perlu di uji reliabilitas kembali?
@ Tetty Septina,
Jika skala pernah digunakan, pada umumnya tetap dilakukan uji validitas dan uji reliabilitas ulang.
mau nanya klo saat uji reliabel ada tulisan the value is negative due to a negative average covariance among items. this violates reliability model assumptions. you may want to check the item codings –> tulisan ini ada di bawah tabel item total statistics-nya. artinya apa yang salah ya sama data saya?