HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Jenis-Jenis Obat untuk Pengobatan Anti Tuberkulosis (OAT)

Obat Anti Tuberkulosis (OAT ) Jenis-Jenis Obat untuk Pengobatan Anti Tuberkulosis (OAT)

Obat Anti Tuberkulosis (OAT )

Obat Anti Tuberkulosis (OAT ) ~ Sekelompok obat yang digunakan untuk pengobatan tuberkulosis .

1.  Obat Anti Tuberkulosis primer

a.  Isoniazid
Mekanisme kerja isoniazid belum diketahui, tetapi ada beberapa hipotesis yang diajukan belum diketahui, tetapi ada beberapa hipotesis yang diajukan, diantara efek pada lemak, biosintesis asam nukleat, dan glikolisis. Ada pendapat bahwa efek utamanya ialah penghambat biosintesis asam nikolat (mycolic acid) yang merupakan unsure penting dinding sel mikobakterium. Isoniazid kadar rendah mencegah perpanjangan rantai asam lemak yang sangat panjang yang merupakan bentuk awal molekul asam mikolat. Isoniazid menghilangkan sifat tahan asam dan menurunkan jumal lemak yang terekstraksi oleh methanol oleh obat kedalam selnya, dan ambilan ini merupakan proses aktif.
b.  Rifampisin
Rifampisin terutama aktif terhadap sel yang sedang bertumbuh. Kerjanya menghambat DNA – dependent RNA polymerase dari mikrobakteria mikroorganisme lain dengan menekan mula terbentuknya (bukan pemanjangan) rantai dalam sintesis RNA initi RNA polymerase dari berbagai sel eukariotik tidak mengikat  rifampisin dan sintesis RNAnya tidak dipengaruhi. Rifampisin dapat menghambat sintesis RNA ini mitokondria mamalia tetapi diperlukan kadar yang lebih tinggi dari kadar untuk menghambat pada bakteri.
c.  Etambutol
 Etambutol memiliki mekanisme kerja dengan cara menghambat sintesis metabolit sel sehingga metabolisme sel terhambat dan sel mati. Karena itu obat ini hanya aktif terhadap sel yang bertumbuh dengan khasiat tuberkulostatik.
2.  Obat Anti Tuberkulosis Sekunder
a.  Asam Para-amino Salisilat (PAS)
            Ditemukan tahun 1940, dahulu merupakan OAT garis pertama yang disunakan bersama dengan isoniazid dan streptomycin; kemudian kedudukannya digantikan oleh ethambutol. PAS memperlihatkan efek bakteriostatik terhadap Mtuberculosis dengan menghambat secara kompetitif pembentukan asam folat dari asam para-amino benzoat1. Penggunaan PAS sering disertai efek samping yang mencakup keluhan saluran cerna, reaksi hipersensitifitas (10% penderita), hipotiroid, trombositopenia, dan malabsorpsi.
b.  Ethionamide
Setelah penemuan isoniazid beberapa turunan pyridine lainnya telah diuji dan ditemukan ethionamide dan prthionamide memperlihatkan aktifitas antimikobakteri2. Mekanisme kerjanya sama seperti isoniazid, yaitu menghambat sintesis asam mikolat. In-viro kedua turunan pyridine ini bersifat bakterisid, tetapi resistensi mudah terjadi. Dosis harian adalah 500-1000 mg, terbagi dua dosis. Efek samping utama adalah gangguan saluran cerna, hepatotoksisitas (4.3% penderita); ethionamide memperlihatkan kekerapan efek samping yang sedikit lebih rendah dari efek samping prothioamide. Efek samping yang lain adalah neuritis, kejang, pusing, dan ginekomastia. Untungnya, basil yang sudah resisten terhadap isoniazid masih rentan dengan ethioamide, walaupun keduanya berasal dari senyawaan induk yang sama yaitu asam nikotinat. Antara ethionamide dan prothionamide terjadi resistensi silang. 
c.  Aminoglikosida dan Capreomycin

Kelompok obat suntik ini mempunyai mekanisme kerja mengikat ribosom di subunit 30S, yang selanjutnya berakibat pengambatan sistesiprotein6. Obat ini harus dapat melintasi dinding sel supaya tempat kerjanya di ribosom. Pada pH rendah yaitu di dalam kavitas dan abses, penetrasi obat meliwati dinding sel mikobakteri terhalang, dan ini dapat menerangkan kekurangmanjuran aminoglikosida sebagai antitiberkulosis. Lebih lanjut aminoglikosida tak dapat melintasi dinding sel, sebab itu tak berkhasiat terhadap mikobakteri intrasel.

Aminoglikosida berkhasiat bakterisid hanya terhadap mikobakteri yang sedang membelah dan sedikit sekali efeknya terhadap basil yang tak sedang membelah. Oleh karena itu aminoglikodsida hanya bermanfaat pada pengobatan fase induksi, ketika mikobakteri dalam jumlah besar sedang membelah diri, sedangkan pada pengobatan fase lanjut yang diperlukan adalah OAT yang aktif terhadap mikobakteri intrasel yang sedang membelah diri secara lambat.

Resistensi terhadap streptomycin biasanya sering dijumpai pada wilayah dimana obat itu luas digunakan. Tempat kerja masing-masing aminoglikosida di ribosom 30S adalah tak sama. Amikacin umumnya aktif terhadap mikobakteri yang sudah resistant terhadap streptomycin, tetapi antara amikacin dengan kanamycin selalu ada resistensi silang. Di lain fihak mikobakteri yang sudah resisten dengan amikasin selalu resisten pula dengan streptomycin. Capreomycin adalah obat mahal, tetapi aktif terhadap strain mikobakteri yang sudah resisten terhadap streptomycin. Strain yang sudah resisten dengan capreomycin masih dapat diatasi dengan amikacin, tetapi sebaliknya tidak.
d.  Beta-laktam

            Co-amoxiclav dan ampicillin/sulbactam in-vitro mempunyai aktifitas terhadap M tuberculosis. Penghambat beta-laktamase adalah esensial untuk menghambat hidrolisis oleh beta-laktamase yang dihasilkan oleh mikobakteri, sehingga memungkinkan penetrasi aminopenicillin meliwati dinding sel. Aktifitas bakterisidal dini coamoxiclav yang dilaporkan sebanding dengan oxofloxacin menyokong penggunaan obat ini di klinik.

Akan tetapi aktifitas bakterisid hanya terhadap mikobakteri pada fase eksponensial dan tidak pada fase stasioner, sehingga diperkirakan obat ini hanye bermanfaat untuk mencegah timbulnya resistensi terhadap obat-obat lainnya yang diberikan bersama..Kemanjuran coamoxiclav dalam regimen pengobatan pada kasus tuberkulosis yang resisten sudah dilaporkan, tetapi belum ada uji klinik yang menilai efeknya secara definitif.

e.  Rifabutin

Rifabutin dan rifampicin adalah turunan rifamycin,resitensi silang dapat terjadi antara keduanya, akan tetapi masih ada sekitar 15% strain Mtuberculosis yang sudah resisten dengan rifampicin ditemui masih sensitif dengan rifabutin. Rifabutin lebih disukai dari rifampicin pada pengobatan penderita tuberkulosis dengan HIV yang sedang diobati dengan proteaseinhibitor, karena rifabutin merupakan metabolic inducer yang lebih lemah daripada rifampicin.

Incoming search terms:

Leave a Reply