Health Promotion Model (HPM) atau model promosi kesehatan adalah teori keperawatan yang dikembangkan Nola J. Pender untuk menjelaskan mengapa seseorang mau menjalankan perilaku yang meningkatkan kesehatan, seperti berolahraga, makan sehat, atau mengelola stres. Berbeda dengan teori yang berangkat dari rasa takut terhadap penyakit, HPM berangkat dari keinginan untuk hidup lebih sehat. Model ini banyak dipakai dalam tesis keperawatan komunitas, keperawatan medikal bedah, dan kesehatan masyarakat, baik sebagai kerangka teori penelitian korelasional maupun sebagai dasar intervensi edukasi. Artikel ini membahas pengertian HPM, komponennya, bagan teori, alat ukur, temuan penelitian, perbandingan dengan teori lain, dan cara menyusun model penelitian.
Pengertian Health Promotion Model
Menurut Pender dkk. (2015), promosi kesehatan adalah perilaku yang didorong oleh keinginan untuk meningkatkan kesejahteraan dan mewujudkan potensi kesehatan seseorang. Ini berbeda dengan perilaku pencegahan, yang didorong oleh keinginan menghindari penyakit tertentu. HPM memandang manusia sebagai pribadi utuh yang aktif membentuk perilakunya sendiri dan berinteraksi dengan lingkungannya.
Beberapa asumsi penting HPM:
- Orang berusaha menciptakan kondisi hidup yang memungkinkan mereka mengekspresikan potensi kesehatannya.
- Orang mampu menilai kemampuan dirinya sendiri.
- Lingkungan, termasuk tenaga kesehatan, memengaruhi perilaku seseorang sepanjang hidupnya.
- Perubahan perilaku dipengaruhi oleh cara seseorang berpikir dan merasa tentang perilaku tertentu.
Komponen dan Bagan Teori Pender

HPM terdiri atas tiga kelompok komponen (Pender dkk., 2015):
| Kelompok | Komponen | Penjelasan singkat |
|---|---|---|
| Karakteristik dan pengalaman individu | Perilaku sebelumnya | Perilaku serupa di masa lalu yang memengaruhi perilaku sekarang |
| Faktor personal | Faktor biologis (usia, IMT), psikologis (harga diri), dan sosiokultural (pendidikan, budaya) | |
| Kognisi dan afek spesifik perilaku | Manfaat yang dirasakan | Hasil positif yang diharapkan dari perilaku |
| Hambatan yang dirasakan | Kesulitan, biaya, waktu, atau ketidaknyamanan | |
| Efikasi diri yang dirasakan | Keyakinan mampu menjalankan perilaku | |
| Afek terkait aktivitas | Perasaan senang atau tidak senang saat menjalankan perilaku | |
| Pengaruh interpersonal | Keluarga, teman, dan tenaga kesehatan melalui norma, dukungan, dan contoh | |
| Pengaruh situasional | Pilihan yang tersedia, tuntutan, dan kesesuaian lingkungan | |
| Hasil perilaku | Komitmen pada rencana tindakan | Niat dan rencana yang jelas untuk berperilaku |
| Tuntutan dan preferensi yang bersaing | Hal lain yang mendesak atau lebih disukai pada saat yang sama | |
| Perilaku promosi kesehatan | Hasil akhir yang diharapkan |
Kelompok kedua disebut “spesifik perilaku” karena isinya berbeda untuk setiap perilaku. Manfaat dan hambatan olahraga tentu berbeda dengan manfaat dan hambatan diet rendah garam. Kelompok inilah yang paling sering dijadikan sasaran intervensi karena dapat diubah. Komponen efikasi diri berasal dari teori Bandura dan dibahas lebih rinci di artikel efikasi diri, sedangkan pengaruh interpersonal sejalan dengan konsep dukungan sosial.
Alat Ukur dalam Penelitian HPM
| Yang diukur | Instrumen | Catatan |
|---|---|---|
| Gaya hidup promosi kesehatan | HPLP-II (Walker & Hill-Polerecky, 1996), revisi dari HPLP (Walker dkk., 1987) | 52 butir, skala 1–4, enam subskala: tanggung jawab kesehatan, aktivitas fisik, nutrisi, pertumbuhan spiritual, hubungan interpersonal, dan manajemen stres |
| Efikasi diri | Skala efikasi diri khusus perilaku | Sesuaikan dengan perilaku yang diteliti |
| Manfaat dan hambatan | Skala manfaat dan hambatan khusus perilaku, misalnya untuk olahraga | Harus spesifik perilaku |
| Komponen lain | Kuesioner yang disusun dari definisi Pender | Perlu uji validitas isi oleh pakar |
Karena kognisi dalam HPM bersifat spesifik perilaku, instrumennya juga harus spesifik. Kuesioner “hambatan berolahraga” tidak bisa dipakai untuk mengukur hambatan diet. Bila Anda menyusun kuesioner sendiri dari komponen Pender, lakukan uji validitas isi oleh pakar, lalu uji validitas dan uji reliabilitas pada uji coba. HPLP-II sendiri sering dipakai untuk menggambarkan perilaku promosi kesehatan secara umum, dengan subskala aktivitas fisik dan spiritualitas yang bisa dianalisis terpisah.
Apa Kata Penelitian tentang HPM
- Faktor yang paling berpengaruh. Tinjauan sistematis dan meta-analisis Choi dkk. (2024) atas 50 penelitian pada perawat di Korea Selatan memakai HPM untuk mengelompokkan faktor yang berhubungan dengan perilaku promosi kesehatan. Hubungan terkuat ditemukan pada pengaruh situasional (r = 0,44, hanya dari 2 penelitian), efikasi diri (r = 0,39), dan afek terkait aktivitas (r = 0,32).
- Intervensi berbasis Pender. Meta-analisis Jalali dkk. (2024) atas 18 penelitian intervensi menemukan bahwa pelatihan berbasis HPM meningkatkan efikasi diri secara bermakna dibanding kelompok kontrol. Besar pengaruhnya cenderung mengecil pada penelitian yang lebih baru dan lebih berkualitas.
- Contoh penelitian Indonesia. Koerniawan (2023) meneliti 183 warga Palembang selama pandemi COVID-19 dengan SEM-PLS. Manfaat yang dirasakan berpengaruh positif dan hambatan berpengaruh negatif terhadap perilaku promosi kesehatan. Efikasi diri tidak berpengaruh langsung, tetapi berpengaruh tidak langsung melalui manfaat yang dirasakan. Model menjelaskan 14,2% variasi perilaku.
- Contoh penelitian kuasi-eksperimen. Rojas-Torres dkk. (2025) di Kolombia memberikan 24 sesi kelompok berbasis HPM kepada orang dewasa. Skor HPLP-II meningkat, dengan peningkatan terbesar pada pertumbuhan spiritual, sedangkan aktivitas fisik tetap menjadi dimensi dengan skor terendah.
Dua pelajaran untuk tesis Anda. Pertama, efikasi diri dan afek terkait aktivitas layak menjadi sasaran utama intervensi. Kedua, tidak semua jalur dalam model selalu bermakna, sehingga pembahasan perlu menjelaskan jalur yang tidak terbukti, bukan menyembunyikannya.
Perbandingan HPM dengan Teori Perilaku Lain
| Aspek | HPM Pender | Health Belief Model | Teori Lawrence Green |
|---|---|---|---|
| Pendorong perilaku | Keinginan meningkatkan kesehatan | Ancaman penyakit yang dirasakan | Faktor predisposisi, pemungkin, dan penguat |
| Cocok untuk | Gaya hidup sehat, olahraga, nutrisi | Skrining, vaksinasi, pencegahan penyakit tertentu | Perencanaan dan evaluasi program |
| Komponen khas | Afek terkait aktivitas, komitmen | Kerentanan dan keparahan yang dirasakan | Tahapan diagnosis PRECEDE-PROCEED |
Pilih teori yang paling sesuai dengan perilaku dan tujuan penelitian. Bila perilaku yang diteliti adalah gaya hidup sehat tanpa ancaman penyakit yang jelas, HPM biasanya lebih tepat.
Menyusun Model Penelitian Berbasis HPM
Anda tidak wajib meneliti semua komponen. Pilih komponen yang paling relevan, lalu jelaskan alasannya di Bab 2.
| Desain | Contoh rumusan | Analisis yang cocok |
|---|---|---|
| Korelasional | Hubungan manfaat, hambatan, dan efikasi diri dengan perilaku olahraga pasien hipertensi | Regresi linear berganda |
| Model jalur | Efikasi diri memengaruhi perilaku melalui manfaat dan komitmen | SEM-PLS dengan uji efek tidak langsung |
| Eksperimen | Pengaruh edukasi berbasis HPM terhadap efikasi diri dan perilaku diet | Uji t berpasangan atau uji Wilcoxon |
Contoh hipotesis untuk model jalur:
- H1: Efikasi diri berpengaruh positif terhadap manfaat yang dirasakan.
- H2: Hambatan yang dirasakan berpengaruh negatif terhadap perilaku promosi kesehatan.
- H3: Manfaat yang dirasakan berpengaruh positif terhadap perilaku promosi kesehatan.
- H4: Efikasi diri berpengaruh tidak langsung terhadap perilaku melalui manfaat yang dirasakan.
Langkah Merancang Intervensi Berbasis HPM
Bila HPM dipakai sebagai dasar intervensi, misalnya edukasi kelompok, langkah berikut membantu menjaga kesesuaian antara teori dan isi intervensi:
- Tetapkan satu perilaku sasaran yang spesifik, misalnya jalan kaki 30 menit lima kali seminggu, bukan “gaya hidup sehat” secara umum.
- Kaji komponen kognisi dan afek pada responden sebelum intervensi: manfaat, hambatan, efikasi diri, dan perasaan terhadap aktivitas tersebut.
- Susun isi sesi sesuai komponen yang lemah. Hambatan yang tinggi dijawab dengan pemecahan masalah; efikasi diri yang rendah dijawab dengan latihan bertahap dan contoh dari teman sebaya.
- Libatkan pengaruh interpersonal, misalnya keluarga atau kelompok, karena dukungan dan contoh dari orang dekat termasuk komponen model.
- Bantu peserta menyusun rencana tindakan tertulis sebagai bentuk komitmen, lalu ukur perilaku dan komponen yang menjadi sasaran setelah program.
Tuliskan pemetaan antara setiap sesi dan komponen HPM dalam tabel di Bab 3. Pemetaan ini memudahkan penguji melihat bahwa intervensi benar-benar berbasis teori.
Definisi Operasional Contoh
| Unsur | Contoh isi |
|---|---|
| Variabel | Perilaku promosi kesehatan mahasiswa keperawatan |
| Definisi konseptual | Perilaku yang didorong oleh keinginan meningkatkan kesejahteraan dan potensi kesehatan (Pender dkk., 2015) |
| Definisi operasional | Skor frekuensi responden menjalankan perilaku tanggung jawab kesehatan, aktivitas fisik, nutrisi, pertumbuhan spiritual, hubungan interpersonal, dan manajemen stres |
| Alat ukur | HPLP-II versi Indonesia yang sudah diuji |
| Hasil ukur | Skor rerata 1–4 untuk total dan setiap subskala; makin tinggi, makin baik |
| Skala data | Interval |
Contoh Judul Penelitian Berbasis HPM
Ide judul bisa Anda lihat di katalog judul tesis edukasi, pengetahuan, dan promosi kesehatan, judul tesis kepatuhan dan perilaku kesehatan, dan contoh tesis promosi kesehatan.
Pola judul yang sering dipakai, misalnya:
- Faktor yang berhubungan dengan perilaku olahraga pasien hipertensi berdasarkan Health Promotion Model Pender.
- Pengaruh edukasi berbasis Health Promotion Model terhadap efikasi diri dan perilaku diet pasien diabetes melitus.
- Analisis gaya hidup promosi kesehatan mahasiswa keperawatan dengan HPLP-II.
Judul di atas adalah ilustrasi pola, bukan judul penelitian yang sudah ada.
Kesalahan Umum dalam Penelitian HPM
- Memakai instrumen umum untuk kognisi spesifik perilaku. Manfaat, hambatan, dan efikasi diri harus diukur untuk perilaku yang diteliti.
- Menyebut “berdasarkan teori Pender” tanpa memetakan komponen. Tunjukkan komponen mana yang diteliti dan mana yang tidak.
- Menyamakan HPM dengan Health Belief Model. HPM tidak memasukkan ancaman penyakit sebagai pendorong utama.
- Mengabaikan jalur tidak langsung. HPM menggambarkan hubungan berjenjang, sehingga analisis jalur sering lebih tepat daripada regresi biasa.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah semua komponen HPM harus diteliti? Tidak. Pilih komponen yang paling relevan dan jelaskan alasannya. Banyak penelitian berfokus pada manfaat, hambatan, dan efikasi diri.
Apakah HPLP-II mengukur seluruh model Pender? Tidak. HPLP-II mengukur hasil perilaku (gaya hidup promosi kesehatan), bukan kognisi seperti manfaat atau hambatan.
Bisakah HPM dipakai untuk pasien dengan penyakit kronis? Bisa, misalnya untuk perilaku olahraga atau diet pada pasien hipertensi, selama fokusnya adalah peningkatan kesehatan.
Berapa jumlah sampel penelitian HPM? Tergantung desain dan analisis; lihat artikel teknik pengambilan sampel.
Sedang menyusun penelitian dengan teori Pender? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda memilih komponen teori yang relevan melalui konsultasi judul penelitian, mendampingi penyusunan kerangka teori dan instrumen melalui layanan pendampingan tesis, serta membantu analisis jalur melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.
Referensi
Choi, M. J., Kim, S., & Jeong, S. H. (2024). Factors associated with health-promoting behaviors among nurses in South Korea: Systematic review and meta-analysis based on Pender’s Health Promotion Model. Asian Nursing Research, 18(2), 188–202.
Jalali, A., Ziapour, A., Ezzati, E., Kazemi, S., & Kazeminia, M. (2024). The impact of training based on the Pender Health Promotion Model on self-efficacy: A systematic review and meta-analysis. American Journal of Health Promotion, 38(7), 918–929.
Koerniawan, D. (2023). The effect of benefits, barriers, and self-efficacy on public health promotion behavior during the COVID-19 pandemic. Nurse and Health: Jurnal Keperawatan, 12(2), 204–211. https://doi.org/10.36720/nhjk.v12i2.501
Pender, N. J., Murdaugh, C. L., & Parsons, M. A. (2015). Health promotion in nursing practice (Ed. ke-7). Pearson.
Rojas-Torres, I. L., Garizábalo Dávila, C. M., Ruidíaz Gómez, K. S., Fernández Aragón, S. P., Perea-Rojas, D. M., Rodelo Olmos, G. M., & Liñán Meléndez, N. I. (2025). Effectiveness of Nola Pender’s Health Promotion Model: A comprehensive approach for enhancing healthy behaviors and quality of life in adults. International Journal of Environmental Research and Public Health, 22(10), 1506. https://doi.org/10.3390/ijerph22101506
Walker, S. N., & Hill-Polerecky, D. M. (1996). Psychometric evaluation of the Health-Promoting Lifestyle Profile II [Manuskrip tidak diterbitkan]. University of Nebraska Medical Center.
Walker, S. N., Sechrist, K. R., & Pender, N. J. (1987). The Health-Promoting Lifestyle Profile: Development and psychometric characteristics. Nursing Research, 36(2), 76–81.
Bapak/Ibu tidak perlu khawatir.
Untuk memastikan reputasi dan keamanan sebuah website, Bapak/Ibu dapat melakukan pengecekan secara mandiri melalui platform pemeriksa reputasi website, seperti ScamAdviser dan Scamwise.
Berikut tautan yang dapat digunakan:
- ScamAdviser: https://www.scamadviser.com/check-website/idtesis.com
- Scamwise: https://scamwise.com/website-scam-checker
Kami berkomitmen untuk memberikan layanan IDTesis.com secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab. Silakan lakukan pengecekan secara mandiri agar Bapak/Ibu dapat memperoleh informasi tambahan sebelum menggunakan layanan kami.









