HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Health Belief Model dalam Penelitian Kesehatan: Konstruk, Cara Mengukur, dan Contoh Model Penelitian

Health Belief Model (HBM) adalah teori perilaku kesehatan yang menjelaskan bahwa seseorang mau melakukan tindakan pencegahan atau pengobatan bila ia merasa rentan terhadap suatu penyakit, menilai penyakit itu serius, percaya tindakannya bermanfaat, dan menilai hambatannya tidak terlalu besar. Teori ini termasuk yang paling sering dipakai di skripsi dan tesis kesehatan, terutama untuk meneliti skrining kanker, imunisasi, kepatuhan minum obat, dan perilaku pencegahan penyakit menular. Artikel ini membahas asal-usul dan konstruk HBM, cara mengukurnya, temuan penelitian terbaru, posisinya dalam model penelitian, dan kesalahan yang sering terjadi.

Asal-Usul Health Belief Model

Rosenstock (1974) menjelaskan bahwa HBM dikembangkan pada 1950-an oleh sekelompok psikolog sosial di layanan kesehatan masyarakat Amerika Serikat. Mereka ingin memahami mengapa banyak orang tidak memanfaatkan program pencegahan dan skrining, padahal layanannya gratis atau murah.

Jawaban mereka berpusat pada keyakinan. Seseorang menimbang dua hal: seberapa besar ancaman penyakit bagi dirinya, dan seberapa layak tindakan pencegahan itu dibandingkan pengorbanannya. Pada 1988, Rosenstock, Strecher, dan Becker menambahkan efikasi diri ke dalam model, karena perilaku yang sulit dan berlangsung lama, seperti mengubah pola makan atau berhenti merokok, membutuhkan keyakinan bahwa diri sendiri mampu melakukannya.

Konstruk Health Belief Model

 

 

Konstruk Artinya Contoh butir (ilustrasi) pada skrining kanker serviks
Persepsi kerentanan Keyakinan tentang peluang diri terkena penyakit “Saya bisa saja terkena kanker serviks walaupun merasa sehat.”
Persepsi keparahan Keyakinan tentang beratnya akibat penyakit “Kanker serviks dapat mengganggu kehidupan keluarga saya.”
Persepsi manfaat Keyakinan bahwa tindakan mengurangi ancaman “Pemeriksaan IVA membantu menemukan kelainan sejak dini.”
Persepsi hambatan Kerugian, biaya, rasa malu, atau kesulitan tindakan “Saya malu bila harus diperiksa.”
Isyarat untuk bertindak Pemicu dari dalam atau luar diri “Saya akan periksa bila diajak kader.”
Efikasi diri Keyakinan mampu melakukan tindakan “Saya yakin bisa meluangkan waktu untuk pemeriksaan.”

Persepsi kerentanan dan keparahan bersama-sama membentuk ancaman yang dirasakan. Faktor pengubah, seperti umur, pendidikan, status sosial ekonomi, dan pengetahuan tentang penyakit, memengaruhi semua persepsi tersebut. Pengetahuan biasanya diposisikan di sini, sehingga artikel tingkat pengetahuan relevan bila Anda mengukurnya. Efikasi diri dibahas lebih rinci di artikel efikasi diri.

Contoh butir di atas hanya ilustrasi, bukan butir dari instrumen baku.

Cara Mengukur Konstruk Health Belief Model

HBM tidak memiliki satu kuesioner universal. Setiap konstruk harus diukur khusus untuk perilaku dan penyakit yang diteliti, karena persepsi hambatan terhadap mamografi jelas berbeda dari persepsi hambatan terhadap minum obat tuberkulosis. Ada tiga pilihan yang umum.

  1. Memakai skala yang sudah divalidasi untuk perilaku yang sama. Untuk skrining kanker payudara, misalnya, banyak penelitian intervensi memakai Champion’s Health Belief Model Scale (Abed dkk., 2025). Bila belum ada versi Indonesia, lakukan penerjemahan maju-mundur dan uji ulang.
  2. Mengadaptasi skala dari perilaku lain. Ganti nama penyakit dan tindakan, lalu periksa apakah isi butir masih masuk akal.
  3. Menyusun butir sendiri. Susun minimal tiga sampai lima butir per konstruk, gunakan skala Likert, lalu uji validitas dan reliabilitas per konstruk, bukan untuk seluruh kuesioner sekaligus.

Satu hal teknis yang sering terlewat: butir persepsi hambatan arahnya berlawanan dengan konstruk lain. Skor hambatan yang tinggi diharapkan berhubungan dengan perilaku yang lebih rendah. Jangan membalik skor hambatan lalu menjumlahkannya dengan konstruk lain menjadi satu skor “HBM”. Analisis setiap konstruk sebagai variabel terpisah.

Apa Kata Penelitian tentang Health Belief Model

  • Daya prediksi jangka panjang. Meta-analisis Carpenter (2010) atas 18 penelitian longitudinal dengan 2.702 subjek menemukan bahwa persepsi manfaat dan persepsi hambatan secara konsisten menjadi prediktor terkuat perilaku. Dua prediktor lain lemah, sehingga penulis tidak menyarankan pemakaian HBM sebagai model pengaruh langsung yang sederhana.
  • Keraguan vaksin COVID-19. Tinjauan sistematis Limbu dkk. (2022) atas 16 penelitian dengan 30.242 peserta menemukan bahwa persepsi hambatan paling sering berhubungan dengan keraguan vaksin, sedangkan persepsi manfaat berhubungan terbalik. Persepsi kerentanan, keparahan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri juga berhubungan terbalik dengan keraguan, walaupun tidak di semua penelitian.
  • Pemeriksaan payudara sendiri di Surabaya. Dewi dkk. (2022) meneliti 204 perempuan. Sebanyak 72,5% berniat memeriksa payudara sendiri, tetapi hanya 7,8% melakukannya setiap minggu. Persepsi manfaat dan hambatan berhubungan dengan niat dan perilaku hanya pada analisis bivariat, sedangkan pengetahuan dan sikap tetap berhubungan pada analisis bersama.
  • Pasien tuberkulosis di Lombok Timur. Suprijandani dkk. (2025) meneliti 112 pasien dengan desain potong lintang. Persepsi kerentanan, manfaat, hambatan, isyarat untuk bertindak, dan efikasi diri berhubungan dengan kepatuhan pengobatan, sedangkan persepsi keparahan tidak.
  • Edukasi berbasis HBM. Tinjauan sistematis Abed dkk. (2025) atas delapan penelitian intervensi mamografi menemukan bahwa edukasi berbasis HBM umumnya meningkatkan pengetahuan, keyakinan, dan niat. Penulis mencatat keterbatasan sampel kecil dan masa tindak lanjut yang pendek.

Pelajaran untuk tesis Anda: jangan berharap semua konstruk HBM signifikan. Manfaat dan hambatan cenderung paling konsisten, sedangkan kerentanan dan keparahan sering lemah. Hasil yang tidak signifikan tetap layak dibahas dengan merujuk temuan ini.

Kekuatan dan Keterbatasan Health Belief Model

Bagian ini berguna untuk Bab 2, karena penguji sering menanyakan mengapa Anda memilih HBM dan bukan teori lain.

 

Kekuatan Keterbatasan
Konstruknya jelas dan mudah diturunkan menjadi butir kuesioner Berfokus pada pertimbangan rasional; kebiasaan, emosi, dan pengaruh sosial kurang tergambar
Cocok untuk perilaku pencegahan dan skrining yang dilakukan sekali atau berkala Hubungan antarkonstruk tidak dirumuskan secara tegas, sehingga model penelitian bisa berbeda-beda
Mudah dihubungkan dengan rancangan edukasi: setiap sesi bisa menyasar satu konstruk Daya prediksi sebagian konstruk lemah bila dipakai sebagai pengaruh langsung (Carpenter, 2010)

Karena keterbatasan itu, banyak peneliti menggabungkan HBM dengan teori lain. Norma subjektif dari Theory of Planned Behavior, misalnya, menambah unsur pengaruh sosial, sedangkan faktor pemungkin dari teori Lawrence Green menambah unsur akses layanan. Penggabungan sah selama setiap konstruk tambahan punya dasar teori dan diukur dengan instrumen yang sesuai.

Posisi Health Belief Model dalam Model Penelitian

 

Model Contoh rumusan Analisis yang cocok
Konstruk HBM sebagai variabel bebas Hubungan persepsi kerentanan, keparahan, manfaat, hambatan, dan efikasi diri dengan pemeriksaan IVA Chi-square per konstruk, lalu regresi logistik biner
Edukasi berbasis HBM Pengaruh edukasi berbasis HBM terhadap persepsi manfaat dan hambatan vaksinasi Uji Mann-Whitney atau uji t independen dengan kelompok kontrol
HBM dengan variabel perantara Persepsi manfaat dan hambatan memengaruhi kepatuhan melalui niat SEM-PLS dengan uji efek tidak langsung

Contoh hipotesis:

  1. H1: Persepsi kerentanan berhubungan positif dengan pemeriksaan IVA pada wanita usia subur.
  2. H2: Persepsi manfaat berhubungan positif dengan pemeriksaan IVA.
  3. H3: Persepsi hambatan berhubungan negatif dengan pemeriksaan IVA.
  4. H4: Efikasi diri berhubungan positif dengan pemeriksaan IVA.

Perhatikan arah hipotesis H3. Banyak proposal menulis semua hipotesis HBM sebagai hubungan positif, padahal persepsi hambatan secara teori berhubungan negatif dengan perilaku.

Definisi Operasional Konstruk Health Belief Model

 

Unsur Contoh isi untuk persepsi hambatan
Variabel Persepsi hambatan pemeriksaan IVA
Definisi konseptual Keyakinan responden tentang biaya, rasa malu, dan kesulitan melakukan pemeriksaan IVA (Rosenstock, 1974)
Definisi operasional Skor jawaban responden pada lima butir persepsi hambatan
Alat ukur Kuesioner skala Likert 1–4 yang sudah diuji validitas dan reliabilitasnya
Hasil ukur Skor 5–20; makin tinggi skor, makin besar hambatan yang dirasakan
Skala data Interval, atau ordinal bila dikategorikan

Buat tabel serupa untuk setiap konstruk yang Anda teliti. Bila dikategorikan menjadi tinggi dan rendah, tuliskan dasar batasnya.

Contoh Judul Penelitian Health Belief Model

Ide judul bisa Anda lihat di katalog judul tesis kepatuhan dan perilaku kesehatan, judul tesis edukasi, pengetahuan, dan promosi kesehatan, judul tesis keperawatan penyakit infeksi, HIV, dan Covid, dan judul tesis kesehatan reproduksi dan onkologi ginekologi. Bila variabel terikat Anda kepatuhan, baca juga artikel pengertian adherence.

Pola judul yang sering dipakai, misalnya:

  • Analisis faktor perilaku pemeriksaan IVA berdasarkan Health Belief Model.
  • Pengaruh edukasi berbasis Health Belief Model terhadap kepatuhan minum obat pasien hipertensi.
  • Hubungan persepsi manfaat dan hambatan dengan imunisasi dasar lengkap pada ibu balita.

Judul di atas adalah ilustrasi pola, bukan judul penelitian yang sudah ada.

Kesalahan Umum dalam Penelitian Health Belief Model

  • Menjumlahkan semua konstruk menjadi satu skor. Konstruk HBM punya arah yang berbeda dan harus dianalisis terpisah.
  • Menulis hipotesis persepsi hambatan sebagai hubungan positif. Arah yang sesuai teori adalah negatif.
  • Tidak memasukkan efikasi diri. Untuk perilaku jangka panjang, model tanpa efikasi diri dianggap kurang lengkap sejak revisi 1988.
  • Butir tidak spesifik perilaku. “Saya merasa sehat” bukan butir persepsi kerentanan. Butir harus menyebut penyakit dan tindakan yang diteliti.
  • Memakai kata “pengaruh” pada desain potong lintang. Gunakan “hubungan”, kecuali Anda menguji edukasi dengan desain eksperimen.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa beda Health Belief Model dan Theory of Planned Behavior? HBM berpusat pada ancaman penyakit serta pertimbangan manfaat dan hambatan. Theory of Planned Behavior berpusat pada sikap, norma subjektif, dan kontrol perilaku yang membentuk niat. Lihat artikel Theory of Planned Behavior.

Bolehkah HBM digabung dengan teori Lawrence Green? Boleh. Konstruk HBM sering ditempatkan sebagai faktor predisposisi dalam teori Lawrence Green. Jelaskan alasan penggabungannya di Bab 2.

Apakah semua konstruk wajib diteliti? Tidak wajib, tetapi bila Anda menyebut HBM sebagai kerangka teori, jelaskan mengapa konstruk tertentu tidak diukur.

Berapa jumlah sampel penelitian HBM? Tergantung desain dan jumlah variabel dalam analisis multivariabel. Lihat artikel teknik pengambilan sampel.

Mengapa persepsi keparahan sering tidak signifikan? Banyak responden sudah sepakat bahwa penyakit yang diteliti serius, sehingga skornya seragam dan tidak membedakan perilaku. Temuan Carpenter (2010) juga menunjukkan sebagian konstruk HBM lemah sebagai prediktor.

Sedang memakai Health Belief Model di tesis Anda? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda menurunkan konstruk HBM menjadi variabel dan butir yang tepat melalui konsultasi judul penelitian, mendampingi penyusunan proposal dan Bab 3 melalui layanan pendampingan tesis, serta membantu uji instrumen dan regresi logistik melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.

Referensi

Abed, A. S. A., Garcia-Valdes, L., Taha, H., & Amezcua-Prieto, C. (2025). Health belief model-based educational interventions for knowledge, beliefs, and intentions on mammography: A systematic review. BMC Women’s Health, 26, 48. https://doi.org/10.1186/s12905-025-04218-9

Carpenter, C. J. (2010). A meta-analysis of the effectiveness of health belief model variables in predicting behavior. Health Communication, 25(8), 661–669. https://doi.org/10.1080/10410236.2010.521906

Dewi, T. K., Ruiter, R. A. C., Diering, M., Ardi, R., & Massar, K. (2022). Breast self-examination as a route to early detection in a lower-middle-income country: Assessing psychosocial determinants among women in Surabaya, Indonesia. BMC Women’s Health, 22. https://doi.org/10.1186/s12905-022-01748-4

Limbu, Y. B., Gautam, R. K., & Pham, L. (2022). The health belief model applied to COVID-19 vaccine hesitancy: A systematic review. Vaccines, 10(6), 973. https://doi.org/10.3390/vaccines10060973

Rosenstock, I. M. (1974). Historical origins of the health belief model. Health Education Monographs, 2(4), 328–335. https://doi.org/10.1177/109019817400200403

Rosenstock, I. M., Strecher, V. J., & Becker, M. H. (1988). Social learning theory and the health belief model. Health Education Quarterly, 15(2), 175–183. https://doi.org/10.1177/109019818801500203

Suprijandani, S., Setiawan, S., Pathurrahman, P., Wardoyo, S., & Rahayyu, A. M. (2025). The behaviour of TB patients in East Lombok through a health belief model approach. Journal of Health, Population and Nutrition. https://doi.org/10.1186/s41043-025-00746-0

error: