Efikasi diri adalah keyakinan seseorang bahwa ia mampu melakukan tindakan yang diperlukan untuk mencapai hasil tertentu. Dalam penelitian kesehatan, efikasi diri dipakai untuk menjelaskan mengapa sebagian pasien patuh minum obat, mengatur pola makan, atau rutin berolahraga, sementara pasien lain dengan pengetahuan yang sama tidak melakukannya. Variabel ini sangat sering muncul di tesis keperawatan, terutama pada pasien diabetes, hipertensi, penyakit jantung, dan gagal ginjal. Artikel ini membahas pengertian efikasi diri, sumber dan dimensinya, alat ukur yang sudah divalidasi dalam bahasa Indonesia, temuan penelitian terbaru, dan cara memasukkannya ke model penelitian.
Pengertian Efikasi Diri
Istilah efikasi diri (self-efficacy) diperkenalkan oleh Albert Bandura (1977). Bandura membedakan dua jenis harapan. Harapan hasil adalah keyakinan bahwa suatu perilaku akan membawa hasil tertentu, misalnya “jika saya rutin minum obat, tekanan darah saya akan terkendali”. Harapan efikasi adalah keyakinan bahwa saya sendiri mampu melakukan perilaku itu, misalnya “saya yakin bisa minum obat setiap hari, termasuk saat bepergian”.
Perbedaan ini penting. Pasien bisa sangat yakin bahwa obat bermanfaat, tetapi ragu bahwa dirinya mampu menjalankan pengobatan secara teratur. Menurut Bandura, keyakinan kedua inilah yang menentukan apakah seseorang mau memulai perilaku, seberapa besar usahanya, dan seberapa lama ia bertahan ketika menghadapi hambatan.
Efikasi diri juga berbeda dari harga diri. Harga diri adalah penilaian tentang nilai diri secara umum, sedangkan efikasi diri selalu terkait dengan tugas tertentu. Seorang pasien bisa memiliki harga diri yang baik, tetapi efikasi diri rendah dalam menyuntik insulin sendiri.
Empat Sumber Efikasi Diri menurut Bandura
Bandura (1977) menjelaskan bahwa efikasi diri dibentuk oleh empat sumber informasi. Keempat sumber ini sering dipakai sebagai dasar merancang intervensi keperawatan.

|
Sumber |
Penjelasan | Contoh penerapan pada intervensi kesehatan |
|---|---|---|
| Pengalaman berhasil (performance accomplishments) | Keberhasilan nyata menaikkan keyakinan; kegagalan berulang menurunkannya. Ini sumber yang paling kuat | Latihan bertahap memeriksa gula darah sendiri sampai pasien berhasil tanpa bantuan |
| Pengalaman orang lain (vicarious experience) | Melihat orang yang mirip dengan diri sendiri berhasil | Kelompok pendukung pasien, video testimoni pasien yang berhasil mengatur diet |
| Persuasi verbal | Dorongan dan umpan balik dari orang yang dipercaya | Konseling perawat, pesan pengingat yang memberi semangat |
| Kondisi fisik dan emosi | Rasa cemas, lelah, atau nyeri dibaca sebagai tanda tidak mampu | Teknik relaksasi dan manajemen stres sebelum latihan perawatan diri |
Tabel ini membantu Anda menulis Bab 2 dan merancang intervensi. Bila penelitian Anda berupa eksperimen edukasi, jelaskan sumber efikasi diri mana yang disentuh oleh setiap sesi edukasi. Penguji sering menanyakan mengapa sebuah intervensi diharapkan menaikkan efikasi diri, dan keempat sumber ini memberi jawabannya.
Tiga Dimensi Efikasi Diri
Bandura (1977) juga menjelaskan bahwa efikasi diri berbeda antarorang pada tiga dimensi. Dimensi ini sering dipakai sebagai indikator ketika peneliti menyusun kuesioner sendiri.
| Dimensi | Arti | Contoh butir (ilustrasi) |
|---|---|---|
| Tingkat kesulitan (magnitude) | Seberapa sulit tugas yang diyakini bisa dilakukan | “Saya yakin tetap bisa mengatur makan saat menghadiri acara keluarga” |
| Keluasan (generality) | Apakah keyakinan berlaku di satu situasi saja atau di banyak situasi | “Saya yakin bisa minum obat tepat waktu, baik di rumah maupun saat bepergian” |
| Kekuatan (strength) | Seberapa kokoh keyakinan ketika menghadapi hambatan | “Saya yakin tetap berolahraga walaupun sedang sibuk” |
Contoh butir di atas hanya gambaran, bukan butir dari instrumen baku. Bila Anda menyusun kuesioner sendiri, butir harus diuji validitas dan reliabilitasnya sebelum dipakai.
Efikasi Diri Umum dan Efikasi Diri Spesifik Penyakit
Ada dua cara mengukur efikasi diri. Efikasi diri umum mengukur keyakinan menghadapi berbagai tantangan hidup. Efikasi diri spesifik mengukur keyakinan melakukan tugas tertentu, misalnya mengelola diabetes. Bandura sendiri menekankan bahwa efikasi diri terkait tugas, sehingga untuk penelitian pasien, instrumen spesifik penyakit umumnya lebih tepat.
| Instrumen | Yang diukur | Bukti versi Indonesia | Kapan dipakai |
|---|---|---|---|
| General Self-Efficacy Scale (GSES) | Efikasi diri umum; 10 butir, skala 1–4, skor 10–40 (Schwarzer & Jerusalem, 1995) | Diuji pada 585 mahasiswa dengan analisis faktor konfirmatori; 10 butir terbukti mengukur satu faktor (Novrianto dkk., 2019) | Responden sehat, mahasiswa, tenaga kesehatan, atau bila tugasnya tidak spesifik |
| Diabetes Management Self-Efficacy Scale versi Indonesia (DMSES-I) | Efikasi diri mengelola diabetes | Diuji pada 227 penderita diabetes tipe 2: validitas isi 0,955; KMO 0,922; RMSEA 0,049; Cronbach’s alpha 0,928 (Marlina dkk., 2024) | Penelitian pasien diabetes melitus |
| Skala spesifik penyakit lain | Efikasi diri pada hipertensi, gagal jantung, menyusui, berhenti merokok, dan lain-lain | Periksa dulu apakah sudah ada studi validasi versi Indonesia | Sesuaikan dengan populasi dan perilaku yang diteliti |
Satu hal sering terlewat: GSES mengukur keyakinan umum, sehingga kurang peka terhadap perubahan setelah edukasi tentang penyakit tertentu. Bila penelitian Anda menguji pengaruh edukasi diabetes, DMSES-I lebih masuk akal daripada GSES.
Apa Kata Penelitian tentang Efikasi Diri dan Perilaku Kesehatan
Bukti bahwa efikasi diri berkaitan dengan perilaku perawatan diri cukup konsisten, tetapi kekuatan buktinya perlu dibaca dengan hati-hati.
- Hipertensi. Tan dkk. (2021) meninjau 22 penelitian potong lintang tentang efikasi diri dan perawatan diri pada hipertensi esensial. Sebanyak 21 dari 22 penelitian melaporkan bahwa efikasi diri yang lebih tinggi berhubungan dengan perilaku perawatan diri yang lebih baik, termasuk kepatuhan minum obat pada sembilan penelitian. Namun, semua penelitiannya potong lintang dan memakai laporan diri, sehingga belum bisa menunjukkan sebab-akibat.
- Penyakit kronis secara umum. Breland dkk. (2020) meninjau 29 artikel pada orang dewasa dengan penyakit kronis. Dalam model statistik yang sama, efikasi diri lebih konsisten berhubungan dengan perilaku manajemen diri, sedangkan persepsi tentang penyakit lebih konsisten berhubungan dengan hasil kesehatan.
- Intervensi. Meta-analisis Yao dkk. (2026) atas 34 uji acak terkendali dengan 4.584 peserta menemukan intervensi berbasis cerita pengalaman pasien menaikkan efikasi diri (SMD 0,66) dan manajemen diri (SMD 1,73). Kepastian buktinya dinilai rendah karena hasil antarpenelitian sangat beragam.
Pelajaran untuk tesis Anda: bila desain penelitian Anda potong lintang, tulis “berhubungan dengan” atau “berpengaruh secara statistik”, bukan “menyebabkan”. Klaim sebab-akibat membutuhkan desain eksperimen.
Posisi Efikasi Diri dalam Model Penelitian
Efikasi diri fleksibel. Variabel ini bisa menjadi variabel bebas, terikat, perantara, atau pemoderasi.
| Posisi | Contoh rumusan | Analisis yang cocok |
|---|---|---|
| Variabel terikat | Pengaruh edukasi diabetes terhadap efikasi diri pasien | Uji t berpasangan atau uji Wilcoxon untuk pretest-posttest satu kelompok; uji Mann-Whitney atau uji t independen untuk dua kelompok |
| Variabel bebas | Hubungan efikasi diri dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi | Korelasi, regresi, atau chi-square bila skor dikategorikan |
| Variabel perantara | Dukungan keluarga memengaruhi perawatan diri melalui efikasi diri | SEM-PLS dengan uji efek tidak langsung |
| Variabel pemoderasi | Efikasi diri memperkuat pengaruh pengetahuan terhadap perilaku | Regresi dengan interaksi atau moderasi di SmartPLS |
Contoh hipotesis untuk model perantara:
- H1: Dukungan keluarga berpengaruh positif terhadap efikasi diri pasien diabetes.
- H2: Efikasi diri berpengaruh positif terhadap perilaku perawatan diri.
- H3: Efikasi diri memediasi pengaruh dukungan keluarga terhadap perilaku perawatan diri.
Cara membaca efek tidak langsung pada H3 dijelaskan di artikel variabel intervening di SmartPLS. Bila model Anda memakai teori perilaku, efikasi diri juga merupakan salah satu unsur dalam Health Belief Model versi lanjutan dan dekat dengan konsep kontrol perilaku dalam Theory of Planned Behavior.
Kalau bagian model penelitian ini masih membingungkan, Anda bisa mendiskusikannya dulu sebelum menyusun kuesioner, karena kesalahan posisi variabel sulit diperbaiki setelah data terkumpul.
Definisi Operasional Efikasi Diri
| Unsur | Contoh isi |
|---|---|
| Variabel | Efikasi diri pengelolaan diabetes |
| Definisi konseptual . | Keyakinan pasien terhadap kemampuannya melakukan tindakan pengelolaan diabetes (Bandura, 1977) |
| Definisi operasional | Skor jawaban responden pada DMSES-I tentang keyakinan mengatur makan, aktivitas fisik, obat, dan pemeriksaan gula darah |
| Alat ukur | Kuesioner DMSES-I (Marlina dkk., 2024) |
| Hasil ukur | Skor total; makin tinggi skor, makin tinggi efikasi diri |
| Skala data | Interval, atau ordinal bila skor dikategorikan |
Bila Anda membuat kategori tinggi, sedang, dan rendah, jelaskan dasarnya, misalnya nilai rata-rata dan simpangan baku sampel. Jangan menyajikan batas kategori dari penelitian lain seolah-olah ketentuan resmi instrumen.
Contoh Judul Penelitian Efikasi Diri
Ide judul bisa Anda lihat di katalog judul tesis koping, resiliensi, spiritualitas, dan efikasi diri, judul tesis keperawatan diabetes dan endokrin, dan judul tesis kepatuhan dan perilaku kesehatan. Untuk sudut pandang psikologi, lihat judul skripsi dan tesis psikologi tentang konsep diri, harga diri, dan efikasi diri.
Pola judul yang sering dipakai, misalnya:
- Pengaruh edukasi berbasis video terhadap efikasi diri dan perawatan kaki pasien diabetes melitus tipe 2.
- Hubungan dukungan keluarga dan efikasi diri dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi.
- Efikasi diri sebagai variabel perantara pengaruh pengetahuan terhadap perilaku pencegahan.
Judul di atas adalah ilustrasi pola, bukan judul penelitian yang sudah ada.
Kesalahan Umum dalam Penelitian Efikasi Diri
- Memakai instrumen umum untuk tugas spesifik. GSES kurang peka untuk mengukur perubahan keyakinan mengelola penyakit tertentu.
- Mencampur efikasi diri dengan pengetahuan. Butir “Saya tahu cara menyuntik insulin” mengukur pengetahuan. Butir efikasi diri berbunyi “Saya yakin mampu menyuntik insulin sendiri”.
- Tidak menjelaskan mekanisme intervensi. Sebutkan sumber efikasi diri mana yang disentuh intervensi Anda.
- Klaim sebab-akibat dari survei sekali ambil. Hubungan statistik pada desain potong lintang belum membuktikan sebab-akibat.
- Mengutip Bandura dari sumber kedua. Rujuk tulisan asli Bandura (1977) bila Anda menjelaskan sumber dan dimensi efikasi diri.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa bedanya efikasi diri dan percaya diri? Percaya diri adalah istilah sehari-hari untuk keyakinan umum. Efikasi diri lebih sempit: keyakinan mampu melakukan tugas tertentu dalam situasi tertentu.
Apakah efikasi diri bisa ditingkatkan? Bisa. Intervensi yang memberi pengalaman berhasil secara bertahap, contoh dari sesama pasien, dan dorongan dari tenaga kesehatan dirancang untuk menaikkan efikasi diri. Hasilnya tetap perlu diuji pada penelitian Anda.
Bolehkah memakai GSES untuk pasien? Boleh bila yang ingin diukur keyakinan umum, misalnya pada pasien yang menghadapi banyak tuntutan sekaligus. Untuk perilaku pengelolaan penyakit, instrumen spesifik lebih tepat.
Berapa jumlah sampel penelitian efikasi diri? Tergantung desain dan teknik analisis. Jelaskan dasar penentuan sampel di Bab 3; lihat artikel teknik pengambilan sampel.
Efikasi diri sebaiknya diukur dengan skala apa? Ikuti skala instrumen aslinya. Bila menyusun butir sendiri, skala Likert atau skala keyakinan bertingkat bisa dipakai, asalkan konsisten dan diuji validitasnya.
Sedang meneliti efikasi diri pasien? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda menentukan posisi variabel dan instrumen melalui konsultasi judul penelitian, mendampingi penyusunan proposal dan Bab 3 melalui layanan pendampingan tesis, serta membantu uji instrumen dan analisis data melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.
Referensi
Bandura, A. (1977). Self-efficacy: Toward a unifying theory of behavioral change. Psychological Review, 84(2), 191–215. https://doi.org/10.1037/0033-295X.84.2.191
Breland, J. Y., Wong, J. J., & McAndrew, L. M. (2020). Are Common Sense Model constructs and self-efficacy simultaneously correlated with self-management behaviors and health outcomes: A systematic review. Health Psychology Open, 7(1). https://doi.org/10.1177/2055102919898846
Marlina, T. T., Haryani, H., & Widyawati, W. (2024). The validity and reliability of the Indonesian version of the Diabetes Mellitus Self-Efficacy Scale (DMSES-I). Journal of Research in Nursing, 29(8), 666–678. https://doi.org/10.1177/17449871241276816
Novrianto, R., Marettih, A. K. E., & Wahyudi, H. (2019). Validitas konstruk instrumen General Self Efficacy Scale versi Indonesia. Jurnal Psikologi, 15(1), 1–9. https://doi.org/10.24014/jp.v15i1.6943
Schwarzer, R., & Jerusalem, M. (1995). Generalized Self-Efficacy Scale. Dalam J. Weinman, S. Wright, & M. Johnston (Ed.), Measures in health psychology: A user’s portfolio. Causal and control beliefs (hlm. 35–37). NFER-Nelson.
Tan, F. C. J. H., Oka, P., Dambha-Miller, H., & Tan, N. C. (2021). The association between self-efficacy and self-care in essential hypertension: A systematic review. BMC Family Practice, 22, 44. https://doi.org/10.1186/s12875-021-01391-2
Yao, Z., Choi, E. P. H., Chow, D. D. W. N., Chen, H., Wang, L., & Ho, M.-H. (2026). Effects of narrative-based interventions on self-efficacy and self-management in chronic disease: A systematic review and meta-analysis. Applied Psychology: Health and Well-Being, 18(1), e70127. https://doi.org/10.1111/aphw.70127








