Catatan: artikel ini disusun untuk keperluan akademik, yaitu membantu mahasiswa merancang penelitian tentang stigma. Penelitian stigma melibatkan kelompok rentan, sehingga kerahasiaan dan persetujuan responden perlu dijaga ketat.
Stigma adalah cap negatif yang dilekatkan pada seseorang karena ciri tertentu, misalnya status HIV atau gangguan jiwa, yang membuat orang itu dipandang lebih rendah dan diperlakukan berbeda. Dalam kesehatan, stigma bukan hanya soal perasaan tidak nyaman. Stigma bisa membuat orang menunda tes HIV, berhenti minum obat, atau tidak mencari pertolongan untuk masalah kejiwaan. Karena itu, stigma sering muncul dalam tesis keperawatan, kesehatan masyarakat, dan psikologi, baik sebagai variabel yang diteliti maupun sebagai penghambat program kesehatan. Artikel ini membahas pengertian stigma, teori Link dan Phelan, jenis-jenis stigma, data di Indonesia, alat ukur, dan cara menempatkannya dalam model penelitian.
Pengertian Stigma
Goffman (1963) menggambarkan stigma sebagai ciri yang sangat mendiskreditkan, yang mengubah seseorang dari orang biasa yang utuh menjadi orang yang dianggap “tercela”. Link dan Phelan (2001) kemudian memperluas pengertian ini. Menurut mereka, stigma ada ketika beberapa unsur muncul bersamaan dalam situasi ketika satu kelompok memiliki kekuasaan atas kelompok lain.
Dalam penelitian, tiga istilah sering dipakai bergantian padahal berbeda:
| Istilah | Arti | Contoh |
|---|---|---|
| Stereotip | Keyakinan atau anggapan tentang suatu kelompok | “Orang dengan gangguan jiwa itu berbahaya” |
| Prasangka | Sikap dan perasaan negatif yang menyertai anggapan itu | Takut atau jijik |
| Diskriminasi | Perilaku yang merugikan | Menolak mempekerjakan, menolak merawat, mengucilkan |
Pembedaan ini penting karena instrumen yang mengukur anggapan berbeda dengan instrumen yang mengukur pengalaman diskriminasi. Bagian sikap dalam stigma berkaitan erat dengan konsep sikap dalam teori perilaku kesehatan.
Teori Stigma Link dan Phelan

Link dan Phelan (2001) menguraikan stigma sebagai rangkaian unsur berikut:
- Pemberian label. Masyarakat memilih perbedaan tertentu dan memberinya nama, misalnya “ODHA” atau “orang gila”.
- Stereotip. Label itu dikaitkan dengan ciri negatif.
- Pemisahan. Orang yang diberi label ditempatkan sebagai “mereka”, terpisah dari “kita”.
- Kehilangan status dan diskriminasi. Orang itu kehilangan kedudukan dan mengalami perlakuan tidak adil.
- Kekuasaan. Semua unsur di atas hanya menjadi stigma bila kelompok yang memberi label memiliki kekuasaan sosial, ekonomi, atau politik.
Unsur kekuasaan menjelaskan mengapa stigma sulit dihapus hanya dengan penyuluhan. Selama kelompok yang memberi label menguasai akses pekerjaan, layanan, dan keputusan, diskriminasi tetap bisa terjadi walaupun pengetahuan sudah meningkat.
Jenis-Jenis Stigma
| Jenis | Siapa yang memegang atau mengalaminya | Contoh variabel penelitian |
|---|---|---|
| Stigma publik (masyarakat) | Masyarakat umum terhadap kelompok tertentu | Stigma masyarakat terhadap ODHA |
| Stigma diri (internal) | Orang yang distigma menerima anggapan negatif tentang dirinya | Stigma diri pada pasien skizofrenia |
| Stigma yang dirasakan atau diantisipasi | Orang yang distigma merasa atau khawatir akan diperlakukan buruk | Kekhawatiran status HIV diketahui orang lain |
| Stigma oleh tenaga kesehatan | Petugas di fasilitas layanan | Sikap perawat terhadap pasien HIV |
| Stigma pada keluarga dan petugas | Keluarga atau perawat ikut terkena cap | Rasa malu keluarga pasien gangguan jiwa |
Subu dkk. (2021) mewawancarai 15 pasien gangguan jiwa dan 15 perawat jiwa di Indonesia. Mereka menemukan lima bentuk stigma: stigma pada diri pasien, stigma masyarakat, stigma pada keluarga, stigma dalam pekerjaan, dan stigma terhadap perawat jiwa itu sendiri. Temuan terakhir menunjukkan bahwa stigma bisa “menular” kepada orang yang merawat.
Stigma HIV dan Gangguan Jiwa di Indonesia
Stigma HIV. Adiansyah dkk. (2023) menganalisis 47.233 responden Survei Demografi dan Kesehatan Indonesia (SDKI) 2017. Pengetahuan HIV yang rendah berhubungan paling kuat dengan sikap menstigma (OR 2,59), diikuti usia muda, pendidikan rendah, dan status ekonomi sangat miskin. Penelitian kualitatif Fauk dkk. (2021) di Yogyakarta dan Belu menemukan bahwa orang dengan HIV mengalami stigma dari keluarga, masyarakat, dan tenaga kesehatan. Pendorongnya adalah kurangnya pengetahuan, rasa takut tertular, dan keyakinan moral tentang HIV. Temuan ini menunjukkan peran tingkat pengetahuan sebagai variabel yang sering diteliti bersama stigma.
Gambaran global. UNAIDS (2022) melaporkan bahwa di 52 dari 58 negara dengan data survei terbaru, lebih dari 25% penduduk usia 15–49 tahun masih memiliki sikap diskriminatif terhadap orang dengan HIV, dan di 36 negara angkanya lebih dari 50%.
Stigma gangguan jiwa. Komisi Lancet tentang penghapusan stigma dan diskriminasi dalam kesehatan jiwa (Thornicroft dkk., 2022) menegaskan bahwa stigma memperburuk dampak gangguan jiwa, antara lain lewat penundaan mencari pertolongan dan pengucilan sosial. Komisi ini menyoroti kontak sosial, yaitu pertemuan langsung dengan orang yang memiliki pengalaman gangguan jiwa, sebagai salah satu pendekatan yang paling banyak didukung bukti untuk menurunkan stigma.
Implikasi untuk Penelitian Intervensi
Bila Anda merancang penelitian untuk menurunkan stigma, dua temuan di atas bisa dijadikan dasar. Pertama, karena pengetahuan rendah berhubungan dengan sikap menstigma, edukasi tetap relevan, terutama untuk meluruskan anggapan keliru tentang cara penularan HIV. Kedua, karena Komisi Lancet menyoroti kontak sosial, edukasi bisa dipadukan dengan sesi bertemu atau mendengar langsung cerita orang yang memiliki pengalaman HIV atau gangguan jiwa, tentu dengan persetujuan mereka. Tetapkan sasaran intervensi dengan jelas: masyarakat, kader, tenaga kesehatan, atau orang yang distigma itu sendiri untuk mengurangi stigma diri.
Alat Ukur Stigma
| Instrumen | Yang diukur | Isi |
|---|---|---|
| HIV Stigma Scale (Berger dkk., 2001) | Stigma yang dialami orang dengan HIV | 40 butir; empat subskala: stigma personal, kekhawatiran pengungkapan status, citra diri negatif, dan sikap publik yang dirasakan |
| Internalized Stigma of Mental Illness, ISMI (Ritsher dkk., 2003) | Stigma diri pada orang dengan gangguan jiwa | 29 butir; lima subskala: keterasingan, pengesahan stereotip, pengalaman diskriminasi, penarikan diri sosial, dan perlawanan terhadap stigma |
| Butir sikap diskriminatif SDKI/DHS | Sikap masyarakat terhadap orang dengan HIV | Misalnya kesediaan membeli sayur dari pedagang dengan HIV |
| Kuesioner stigma tenaga kesehatan | Sikap dan praktik petugas | Disesuaikan dengan konteks fasilitas |
Pilih instrumen sesuai sudut pandang yang diteliti: stigma yang dimiliki masyarakat, atau stigma yang dialami orang yang distigma. Bila memakai terjemahan Indonesia, sebutkan sumbernya dan lakukan uji validitas serta uji reliabilitas. Perhatikan butir yang arahnya terbalik, misalnya subskala perlawanan terhadap stigma pada ISMI.
Posisi Stigma dalam Model Penelitian
| Posisi | Contoh rumusan | Analisis yang cocok |
|---|---|---|
| Variabel terikat | Faktor yang berhubungan dengan stigma masyarakat terhadap ODHA | Regresi logistik bila dikategorikan |
| Variabel bebas | Pengaruh stigma diri terhadap kepatuhan minum ARV | Regresi |
| Variabel terikat pada eksperimen | Pengaruh edukasi berbasis kontak sosial terhadap stigma kader | Uji t berpasangan atau uji Wilcoxon |
| Variabel perantara | Stigma diri memediasi pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup | SEM-PLS |
Contoh hipotesis untuk model perantara:
- H1: Dukungan sosial berpengaruh negatif terhadap stigma diri orang dengan HIV.
- H2: Stigma diri berpengaruh negatif terhadap kualitas hidup.
- H3: Stigma diri memediasi pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup.
Stigma diri juga sering dikaitkan dengan depresi dan kesepian, karena orang yang menerima cap negatif cenderung menarik diri.
Definisi Operasional Stigma
| Unsur | Contoh isi |
|---|---|
| Variabel | Stigma pada orang dengan HIV |
| Definisi konseptual | Proses pemberian label, stereotip, pemisahan, kehilangan status, dan diskriminasi dalam situasi ketimpangan kekuasaan (Link & Phelan, 2001) |
| Definisi operasional | Skor jawaban responden tentang pengalaman diperlakukan berbeda, kekhawatiran status diketahui, citra diri, dan sikap publik yang dirasakan |
| Alat ukur | HIV Stigma Scale (Berger dkk., 2001), versi Indonesia yang sudah diuji |
| Hasil ukur | Skor total; makin tinggi, makin besar stigma yang dirasakan |
| Skala data | Interval |
Etika Penelitian Stigma
Penelitian stigma menyentuh hal yang sangat pribadi. Beberapa hal perlu disiapkan sejak proposal:
- Kerahasiaan status. Jangan mencatat nama pada kuesioner, dan simpan data terpisah dari daftar kontak.
- Tempat pengisian. Wawancara di ruang tertutup agar status responden tidak diketahui orang lain.
- Perekrutan. Lewat petugas layanan atau kelompok dukungan sebaya yang sudah dipercaya responden.
- Bahasa. Gunakan bahasa yang berpusat pada orang, misalnya “orang dengan HIV” dan “orang dengan gangguan jiwa”.
- Rujukan. Siapkan jalur rujukan bila responden menceritakan diskriminasi berat atau tampak tertekan.
Contoh Judul Penelitian Stigma
Ide judul bisa Anda lihat di katalog judul tesis keperawatan penyakit infeksi, HIV, dan Covid serta judul skripsi dan tesis psikologi tentang pencarian bantuan dan stigma kesehatan mental. Pengertian dasar HIV ada di glosarium HIV.
Pola judul yang sering dipakai, misalnya:
- Hubungan pengetahuan HIV dengan stigma masyarakat terhadap orang dengan HIV.
- Pengaruh stigma diri terhadap kepatuhan terapi ARV dengan dukungan keluarga sebagai variabel moderasi.
- Pengaruh pendidikan kesehatan berbasis kontak sosial terhadap stigma kader kesehatan jiwa.
Judul di atas adalah ilustrasi pola, bukan judul penelitian yang sudah ada.
Kesalahan Umum dalam Penelitian Stigma
- Mencampur stigma publik dan stigma diri. Responden dan instrumennya berbeda.
- Menyebut “pengaruh” pada desain potong lintang. Gunakan kata “hubungan” bila desainnya tidak memungkinkan kesimpulan sebab-akibat.
- Hanya mengukur pengetahuan. Pengetahuan berhubungan dengan stigma, tetapi tidak sama dengan stigma.
- Mengabaikan bias jawaban yang diinginkan. Responden cenderung menjawab tidak menstigma. Jamin anonimitas dan gunakan kalimat netral.
- Memakai istilah yang merendahkan di kuesioner atau laporan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa beda stigma dan diskriminasi? Stigma mencakup label, anggapan, dan sikap; diskriminasi adalah perilaku nyata yang merugikan sebagai bagian dari proses stigma.
Apakah tenaga kesehatan bisa menjadi responden penelitian stigma? Bisa. Stigma oleh petugas berpengaruh besar karena dapat menghambat orang datang ke layanan.
Bisakah stigma diukur dengan wawancara kualitatif? Bisa, terutama untuk memahami bentuk dan pengalaman stigma, seperti pada penelitian Subu dkk. (2021) dan Fauk dkk. (2021).
Berapa jumlah sampel penelitian stigma? Tergantung desain dan analisis; lihat artikel teknik pengambilan sampel.
Sedang meneliti stigma? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda menajamkan jenis stigma yang diteliti melalui konsultasi judul penelitian, mendampingi penyusunan proposal dan rencana etika melalui layanan pendampingan tesis, serta membantu analisis data melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.
Referensi
Adiansyah, M. T., Ramani, A., & Baroya, N. (2023). Determinants of stigma on people living with HIV and AIDS in Indonesia (Evidence from 2017 IDHS data). The Indonesian Journal of Public Health, 18(2), 291–301. https://doi.org/10.20473/ijph.v18i2.2023.291-301
Berger, B. E., Ferrans, C. E., & Lashley, F. R. (2001). Measuring stigma in people with HIV: Psychometric assessment of the HIV stigma scale. Research in Nursing & Health, 24(6), 518–529. https://doi.org/10.1002/nur.10011
Fauk, N. K., Hawke, K., Mwanri, L., & Ward, P. R. (2021). Stigma and discrimination towards people living with HIV in the context of families, communities, and healthcare settings: A qualitative study in Indonesia. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(10), 5424. https://doi.org/10.3390/ijerph18105424
Goffman, E. (1963). Stigma: Notes on the management of spoiled identity. Prentice-Hall.
Link, B. G., & Phelan, J. C. (2001). Conceptualizing stigma. Annual Review of Sociology, 27, 363–385. https://doi.org/10.1146/annurev.soc.27.1.363
Ritsher, J. B., Otilingam, P. G., & Grajales, M. (2003). Internalized stigma of mental illness: Psychometric properties of a new measure. Psychiatry Research, 121(1), 31–49. https://doi.org/10.1016/j.psychres.2003.08.008
Subu, M. A., Wati, D. F., Netrida, N., Priscilla, V., Dias, J. M., Abraham, M. S., Slewa-Younan, S., & Al-Yateem, N. (2021). Types of stigma experienced by patients with mental illness and mental health nurses in Indonesia: A qualitative content analysis. International Journal of Mental Health Systems, 15(1). https://doi.org/10.1186/s13033-021-00502-x
Thornicroft, G., Sunkel, C., Alikhon Aliev, A., Baker, S., Brohan, E., El Chammay, R., dkk. (2022). The Lancet Commission on ending stigma and discrimination in mental health. The Lancet, 400(10361), 1438–1480. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(22)01470-2
UNAIDS. (2022, 14 Maret). Discriminatory attitudes remain common. https://www.unaids.org/en/resources/presscentre/featurestories/2022/march/20220314_discriminatory-attitudes-remain-common
Bapak/Ibu tidak perlu khawatir.
Untuk memastikan reputasi dan keamanan sebuah website, Bapak/Ibu dapat melakukan pengecekan secara mandiri melalui platform pemeriksa reputasi website, seperti ScamAdviser dan Scamwise.
Berikut tautan yang dapat digunakan:
- ScamAdviser: https://www.scamadviser.com/check-website/idtesis.com
- Scamwise: https://scamwise.com/website-scam-checker
Kami berkomitmen untuk memberikan layanan IDTesis.com secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab. Silakan lakukan pengecekan secara mandiri agar Bapak/Ibu dapat memperoleh informasi tambahan sebelum menggunakan layanan kami.









