Teknik sampling adalah cara memilih sebagian anggota populasi untuk diteliti. Teknik yang dipilih menentukan seberapa jauh hasil penelitian boleh digeneralisasi ke populasi.
Di seminar proposal, bagian ini sering memancing dua pertanyaan: “Kenapa memakai purposive?” dan “Apakah hasilnya bisa digeneralisasi?” Jawaban keduanya bergantung pada pemahaman jenis teknik sampling, yang dibahas di artikel ini.
Artikel ini bagian dari seri Materi Statistik IDTesis. Cara menghitung jumlah sampel dibahas terpisah di artikel rumus Slovin.
Populasi, Sampel, dan Kerangka Sampel
- Populasi: seluruh unit yang menjadi sasaran kesimpulan penelitian, misalnya seluruh perawat di RS X.
- Sampel: sebagian populasi yang benar-benar diteliti.
- Kerangka sampel (sampling frame): daftar anggota populasi yang bisa dipakai untuk memilih sampel, misalnya daftar pegawai dari bagian kepegawaian.
Tanpa kerangka sampel, teknik acak sulit dijalankan dengan benar.
Dua Kelompok Besar Teknik Sampling

Pada probability sampling, setiap anggota populasi punya peluang terpilih yang diketahui. Karena itu, hasilnya bisa digeneralisasi secara statistik ke populasi. Pada non-probability sampling, peluang itu tidak diketahui. Hasilnya tetap bermanfaat, tetapi generalisasinya terbatas (Etikan dkk., 2016; Taherdoost, 2016).
Teknik Probability Sampling
- Acak sederhana (simple random sampling): sampel dipilih secara acak dari kerangka sampel, misalnya dengan angka acak di Excel.
- Sistematis: sampel dipilih setiap anggota ke-k dari daftar, dengan k = N ÷ n, dan titik awal dipilih secara acak.
- Stratifikasi (stratified random sampling): populasi dibagi ke dalam strata yang seragam di dalamnya, misalnya per fakultas, lalu sampel diacak di setiap strata.
- Klaster (cluster sampling): populasi terbagi dalam kelompok alami, misalnya kelas atau desa. Beberapa kelompok diacak, lalu seluruh anggotanya diteliti.
- Bertahap (multistage): gabungan beberapa tahap, misalnya mengacak kabupaten, lalu sekolah, lalu siswa.

Contoh alokasi proporsional pada sampling stratifikasi. Populasinya 600 mahasiswa: 300 dari Fakultas A, 200 dari Fakultas B, dan 100 dari Fakultas C. Jika sampel totalnya 240 orang, setiap fakultas mendapat jatah sesuai proporsinya:
Hasilnya: Fakultas A = 300/600 × 240 = 120, Fakultas B = 80, dan Fakultas C = 40 orang. Setelah itu, mahasiswa di setiap fakultas dipilih secara acak.
Teknik Non-Probability Sampling
- Convenience (aksidental): responden adalah siapa saja yang mudah dijangkau.
- Purposive: responden dipilih berdasarkan kriteria yang sesuai tujuan penelitian, misalnya perawat dengan masa kerja minimal dua tahun. Kriterianya harus ditulis jelas.
- Kuota: responden dikumpulkan sampai jatah tiap kategori terpenuhi, tetapi tanpa pengacakan.
- Snowball: responden awal menunjuk responden berikutnya. Teknik ini cocok untuk populasi yang sulit dijangkau.
- Sampling jenuh: seluruh anggota populasi diteliti, biasanya karena populasinya kecil. Secara teknis, ini adalah sensus.
Memilih Teknik Sampling yang Tepat

Perbedaan logika sampel pada kedua pendekatan dibahas di artikel penelitian kualitatif dan kuantitatif.
Berapa Jumlah Sampel yang Dibutuhkan?
Jumlah sampel sebaiknya mengikuti tujuan analisis, bukan hanya ukuran populasi:
- Untuk menaksir proporsi, rumus Slovin atau Cochran bisa dipakai. Lihat batas penggunaannya di artikel rumus Slovin.
- Untuk analisis regresi, ada patokan minimal 50 + 8k dari Green (1991).
- Untuk SEM PLS, gunakan metode inverse square root.
Jangan lupa juga menyiapkan responden terpisah untuk uji coba instrumen, kecuali Anda memakai uji coba terpakai.
Contoh Penulisan di Bab 3
Populasi penelitian ini adalah seluruh mahasiswa aktif Fakultas A, B, dan C angkatan 2024, sebanyak 600 orang. Sampel diambil dengan teknik proportionate stratified random sampling, dengan fakultas sebagai strata. Jumlah sampel ditentukan sebanyak 240 orang, lalu dialokasikan secara proporsional: 120 mahasiswa Fakultas A, 80 mahasiswa Fakultas B, dan 40 mahasiswa Fakultas C. Pemilihan di setiap strata dilakukan secara acak berdasarkan daftar mahasiswa dari bagian akademik.
Menyelaraskan teknik sampling, jumlah sampel, dan klaim generalisasi sering membuat Bab 3 bolak-balik direvisi. Kalau Anda ingin rancangan sampel diperiksa sebelum turun lapangan, tim IDTesis bisa membantu.
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Menyebut “random sampling” untuk kuesioner online yang disebar di grup. Cara ini sebenarnya convenience sampling, karena tidak semua anggota populasi punya peluang yang diketahui.
- Menggeneralisasi hasil dari non-probability sampling seolah-olah sampelnya acak.
- Menulis “purposive” tanpa kriteria yang jelas dan bisa diperiksa.
- Tidak menyebut kerangka sampel pada teknik acak.
- Menghitung jumlah sampel tanpa melihat jenis analisis yang akan dipakai.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Kuesioner Google Form yang disebar di grup WhatsApp termasuk teknik apa?
Umumnya termasuk convenience sampling. Jika ada kriteria responden yang disaring di awal kuesioner, teknik ini lebih tepat disebut purposive. Meski begitu, tetap bukan sampling acak.
Apa beda purposive dan convenience sampling?
Purposive memilih responden berdasarkan kriteria yang sengaja ditetapkan peneliti. Convenience memilih responden berdasarkan kemudahan menjangkaunya.
Bolehkah penelitian kuantitatif memakai non-probability sampling?
Boleh, dan banyak dilakukan. Konsekuensinya, generalisasi ke populasi harus dibatasi dan ditulis di bagian keterbatasan penelitian.
Apa itu sampling jenuh?
Sampling jenuh berarti seluruh anggota populasi dijadikan responden. Cara ini cocok jika populasinya kecil dan semuanya bisa dijangkau.
Bila Anda memerlukan pendampingan menentukan instrumen atau menyusun kerangka konsep, layanan bimbingan penulisan IDTESIS siap membantu.
Butuh Teman Diskusi untuk Rancangan Sampel?
Masih ragu menentukan teknik dan jumlah sampel penelitian Anda? Tim IDTesis bisa menemani Anda menyusun rancangan sampel, menghitung jumlahnya, dan menuliskannya di Bab 3 dengan alasan yang kuat. Ceritakan dulu kondisi penelitian Anda lewat WhatsApp, atau lihat layanan olah data statistik.
Baca juga: Rumus Slovin · Uji Validitas · SEM PLS
Referensi
- Cochran, W. G. (1977). Sampling techniques (3rd ed.). John Wiley & Sons.
- Etikan, I., Musa, S. A., & Alkassim, R. S. (2016). Comparison of convenience sampling and purposive sampling. American Journal of Theoretical and Applied Statistics, 5(1), 1–4. https://doi.org/10.11648/j.ajtas.20160501.11
- Green, S. B. (1991). How many subjects does it take to do a regression analysis? Multivariate Behavioral Research, 26(3), 499–510. https://doi.org/10.1207/s15327906mbr2603_7
- Taherdoost, H. (2016). Sampling methods in research methodology: How to choose a sampling technique for research. International Journal of Academic Research in Management, 5(2), 18–27.
Incoming search terms:
- rumus arikunto
- rumus menentukan sampel menurut sugiyono
- contoh rumus pengambilan sampel menurut arikunto
- rumus pengambilan sampel penelitian menurut notoatmodjo






Leave a Reply