Kualitas hidup adalah penilaian seseorang tentang posisinya dalam kehidupan, dilihat dari budaya dan nilai tempat ia tinggal serta dikaitkan dengan tujuan, harapan, standar, dan kekhawatirannya. Definisi dari WHOQOL Group ini menunjukkan bahwa kualitas hidup bersifat subjektif: dua pasien dengan diagnosis yang sama bisa menilai hidupnya sangat berbeda. Karena itu, kualitas hidup menjadi salah satu variabel terikat yang paling sering diteliti dalam tesis keperawatan dan kesehatan masyarakat, terutama pada pasien penyakit kronis seperti diabetes, hipertensi, gagal ginjal, kanker, dan lansia. Artikel ini membahas pengertian kualitas hidup, domainnya, perbandingan alat ukur yang tersedia dalam bahasa Indonesia, temuan penelitian di Indonesia, dan cara memakainya dalam model penelitian.
Pengertian Kualitas Hidup dan Kualitas Hidup Terkait Kesehatan
Ada dua istilah yang sering dipakai bergantian, padahal cakupannya berbeda.
Kualitas hidup (quality of life) adalah konsep luas. Menurut WHOQOL Group (1998), kualitas hidup mencakup kesehatan fisik, keadaan psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan tempat seseorang hidup. Lingkungan di sini termasuk rasa aman, keuangan, akses layanan kesehatan, dan transportasi.
Kualitas hidup terkait kesehatan (health-related quality of life, HRQoL) lebih sempit. Konsep ini hanya melihat aspek hidup yang dipengaruhi kondisi kesehatan, misalnya kemampuan bergerak, rasa nyeri, dan kemampuan bekerja. Instrumen seperti SF-36 dan EQ-5D mengukur HRQoL, bukan kualitas hidup dalam arti luas.
Perbedaan ini perlu ditulis jelas di Bab 2. Bila judul Anda memakai istilah “kualitas hidup” tetapi instrumennya EQ-5D, penguji bisa menanyakan mengapa aspek lingkungan dan hubungan sosial tidak diukur.
Empat Domain Kualitas Hidup dalam WHOQOL-BREF
WHOQOL-BREF adalah versi ringkas instrumen WHO yang terdiri atas 26 butir. Dua butir menanyakan kualitas hidup dan kesehatan secara umum, sedangkan 24 butir lainnya terbagi ke dalam empat domain (WHOQOL Group, 1998).

| Domain | Contoh aspek yang dinilai | Relevan untuk penelitian tentang |
|---|---|---|
| Kesehatan fisik | Nyeri, energi, tidur, mobilitas, ketergantungan pada obat, kemampuan bekerja | Penyakit kronis, pascaoperasi, lansia |
| Psikologis | Perasaan positif dan negatif, konsentrasi, harga diri, citra tubuh, spiritualitas | Kanker, depresi, perubahan penampilan |
| Hubungan sosial | Hubungan pribadi, dukungan sosial, kehidupan seksual | Dukungan keluarga, isolasi sosial |
| Lingkungan | Rasa aman, keuangan, tempat tinggal, akses layanan kesehatan, transportasi | Kebijakan kesehatan, pembiayaan, daerah terpencil |
Skor tiap domain umumnya diubah ke rentang 0–100, makin tinggi makin baik. Purba dkk. (2018) menguji WHOQOL-BREF dan EQ-5D-5L pada 1.056 penduduk Indonesia berusia 17–75 tahun. Pada 206 responden yang mengisi ulang, keempat domain WHOQOL-BREF memiliki keandalan tes-ulang dengan ICC 0,70–0,79, yang tergolong sedang sampai baik.
Perbandingan Alat Ukur Kualitas Hidup
Instrumen kualitas hidup terbagi dua. Instrumen generik dipakai untuk semua orang, sehat maupun sakit, sehingga hasilnya bisa dibandingkan antarpenyakit. Instrumen spesifik penyakit menanyakan keluhan khas penyakit tertentu, sehingga lebih peka terhadap perubahan setelah intervensi.
| Instrumen | Jenis | Struktur | Bukti di Indonesia | Catatan |
|---|---|---|---|---|
| WHOQOL-BREF | Generik, kualitas hidup luas | 26 butir, 4 domain | Norma penduduk dan keandalan tes-ulang (Purba dkk., 2018) | Satu-satunya dari tiga ini yang mencakup domain lingkungan |
| SF-36 | Generik, HRQoL | 36 butir, 8 skala, 2 skor ringkasan fisik dan mental (Ware & Sherbourne, 1992) | Diuji pada 206 orang usia 46–81 tahun; alpha semua subskala > 0,70 (Arovah, 2020) | Ada versi berlisensi; struktur faktor perlu modifikasi agar cocok |
| EQ-5D-5L | Generik, HRQoL dan nilai utilitas | 5 dimensi, masing-masing 5 tingkat, ditambah skala visual 0–100 | Dipakai pada pasien diabetes dan hipertensi Indonesia dengan nilai set Indonesia (Prabowo dkk., 2023; Arifin dkk., 2024) | Pendek; cocok untuk analisis biaya-utilitas; pemakaian perlu didaftarkan ke EuroQol |
| Instrumen spesifik penyakit | Spesifik | Bervariasi, misalnya KDQOL untuk pasien ginjal | Periksa studi validasi versi Indonesia untuk penyakit Anda | Lebih peka terhadap perubahan klinis |
Purba dkk. (2018) juga mencatat hal yang jarang dibahas: lima dimensi EQ-5D-5L sangat stabil saat diisi ulang, tetapi skor indeks dan skala visualnya kurang stabil (ICC 0,37 dan 0,45). Artinya, bila Anda memakai EQ-5D untuk membandingkan skor sebelum dan sesudah intervensi, bahas keterbatasan ini.
Cara Memilih Instrumen Kualitas Hidup
- Cocokkan dengan definisi di judul. Bila judul Anda tentang kualitas hidup secara luas, WHOQOL-BREF lebih tepat. Bila fokusnya dampak penyakit terhadap fungsi sehari-hari, SF-36 atau EQ-5D sudah cukup.
- Pertimbangkan tujuan analisis. Untuk analisis biaya-utilitas atau farmakoekonomi, EQ-5D-5L paling sering dipakai karena menghasilkan nilai utilitas.
- Pertimbangkan kepekaan. Penelitian intervensi sering membutuhkan instrumen spesifik penyakit karena perubahan kecil pada keluhan khas lebih mudah tertangkap.
- Pertimbangkan beban responden. Pasien lansia atau pasien hemodialisis mudah lelah. EQ-5D-5L jauh lebih pendek daripada SF-36.
- Periksa izin dan versi bahasa Indonesia. Pakai versi resmi yang sudah diterjemahkan, jangan menerjemahkan sendiri tanpa prosedur terjemahan dan terjemahan balik.
Apa pun pilihannya, laporkan uji validitas dan reliabilitas pada sampel Anda sendiri di Bab 3.
Apa Kata Penelitian di Indonesia
Beberapa penelitian terbaru memberi gambaran kualitas hidup pasien penyakit kronis di Indonesia:
| Penelitian | Responden | Instrumen | Temuan utama |
|---|---|---|---|
| Prabowo dkk. (2023) | 236 pasien diabetes tipe 2 di puskesmas Klaten | EQ-5D-5L | Rata-rata indeks 0,86; masalah terbanyak nyeri atau rasa tidak nyaman (64,0%) diikuti cemas atau depresi (28,4%); pendidikan lebih tinggi berhubungan dengan skor lebih baik |
| Arifin dkk. (2024) | 1.239 pasien hipertensi rawat jalan di Indonesia barat, tengah, dan timur | EQ-5D-5L | Rata-rata indeks 0,83; skor lebih rendah pada usia di atas 60 tahun, tiga penyakit penyerta atau lebih, dan pemakaian beberapa obat antihipertensi |
| Nurbadriyah dkk. (2023) | Sekitar 150 pasien hemodialisis di Malang | WHOQOL-BREF | Lama hemodialisis, kadar hemoglobin rendah, dan ureum tinggi bersama-sama menjelaskan 34,6% variasi kualitas hidup |
Ketiga penelitian ini memakai desain potong lintang. Hasilnya menunjukkan faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup, bukan bukti sebab-akibat. Penjelasan lengkapnya ada di artikel desain penelitian cross sectional.
Kualitas Hidup dalam Model Penelitian
Kualitas hidup paling sering menjadi variabel terikat atau hasil akhir. Variabel yang sering dipasangkan dengannya adalah efikasi diri, dukungan keluarga, dukungan sosial, kepatuhan pengobatan, perawatan diri, kecemasan, dan depresi.
| Rumusan penelitian | Desain | Analisis yang cocok |
|---|---|---|
| Faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien hemodialisis | Potong lintang | Regresi linier bila skor numerik; regresi logistik bila skor dibagi baik dan kurang |
| Pengaruh edukasi perawatan diri terhadap kualitas hidup pasien diabetes | Kuasi eksperimen pretest-posttest dengan kelompok kontrol | Uji t atau Mann-Whitney untuk selisih skor |
| Dukungan sosial memengaruhi kualitas hidup melalui efikasi diri | Potong lintang | SEM-PLS dengan uji efek tidak langsung |
| Perbandingan kualitas hidup pasien hemodialisis dan CAPD | Komparatif | Uji t independen atau Mann-Whitney |
Contoh hipotesis untuk model perantara: dukungan sosial berpengaruh positif terhadap efikasi diri (H1), efikasi diri berpengaruh positif terhadap kualitas hidup (H2), dan efikasi diri memediasi pengaruh dukungan sosial terhadap kualitas hidup (H3). Konsep efikasi diri dibahas di artikel efikasi diri dalam penelitian kesehatan, sedangkan dukungan sosial dan keluarga dibahas di artikel dukungan sosial dan dukungan keluarga.
Kalau Anda ragu memilih antara skor per domain atau skor total, diskusikan dengan pembimbing sejak proposal. Pilihan itu menentukan jumlah hipotesis dan teknik analisisnya.
Definisi Operasional Kualitas Hidup
| Unsur | Contoh isi |
|---|---|
| Variabel | Kualitas hidup pasien hemodialisis |
| Definisi konseptual | Persepsi pasien tentang posisinya dalam kehidupan, dikaitkan dengan tujuan, harapan, dan kekhawatirannya (WHOQOL Group, 1998) |
| Definisi operasional | Skor jawaban pasien pada WHOQOL-BREF untuk domain fisik, psikologis, hubungan sosial, dan lingkungan |
| Alat ukur | Kuesioner WHOQOL-BREF versi bahasa Indonesia |
| Hasil ukur | Skor tiap domain 0–100; makin tinggi makin baik |
| Skala data | Interval |
Bila Anda membuat kategori baik dan kurang, sebutkan dasar pembagiannya, misalnya median sampel. Jangan menyajikan titik potong dari penelitian lain seolah-olah ketentuan resmi WHO.
Contoh Judul Penelitian Kualitas Hidup
Ide judul bisa Anda lihat di katalog judul tesis tentang kualitas hidup dan perawatan diri, judul tesis keperawatan ginjal dan hemodialisis, judul tesis keperawatan onkologi dan paliatif, dan judul tesis keperawatan gerontik dan lansia.
Pola judul yang sering dipakai, misalnya:
- Faktor-faktor yang berhubungan dengan kualitas hidup pasien gagal ginjal kronik yang menjalani hemodialisis.
- Pengaruh edukasi manajemen diri terhadap kualitas hidup pasien diabetes melitus tipe 2.
- Hubungan dukungan keluarga dan efikasi diri dengan kualitas hidup lansia hipertensi.
Judul di atas adalah ilustrasi pola, bukan judul penelitian yang sudah ada.
Kesalahan Umum dalam Penelitian Kualitas Hidup
- Menyebut kualitas hidup, tetapi mengukur HRQoL. Sesuaikan istilah di judul dengan instrumen.
- Menjumlahkan semua butir WHOQOL-BREF menjadi satu skor tanpa dasar. Instrumen ini dirancang untuk skor per domain.
- Menerjemahkan instrumen sendiri. Pakai versi bahasa Indonesia yang sudah diuji.
- Lupa membalik butir negatif. Beberapa butir, misalnya tentang nyeri dan perasaan negatif, harus dibalik skornya sebelum dijumlahkan.
- Klaim sebab-akibat dari desain potong lintang. Tulis “berhubungan dengan”, bukan “menyebabkan”.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa perbedaan WHOQOL-BREF dan SF-36? WHOQOL-BREF mengukur kualitas hidup luas, termasuk lingkungan dan hubungan sosial. SF-36 mengukur kualitas hidup terkait kesehatan, terutama fungsi fisik dan mental.
Instrumen mana yang paling pendek? EQ-5D-5L, dengan lima pertanyaan dan satu skala visual. Kelemahannya, instrumen ini kurang rinci untuk melihat aspek psikologis dan sosial.
Bolehkah memakai skor total WHOQOL-BREF? Banyak penelitian melaporkan skor per domain karena itulah rancangan instrumennya. Bila Anda ingin skor total, jelaskan alasannya dan rujuk penelitian yang memakai cara serupa.
Kualitas hidup pasien kronis sebaiknya diukur dengan instrumen apa? Gabungan instrumen generik dan spesifik sering dianjurkan. Bila waktu terbatas, pilih yang paling sesuai dengan rumusan masalah Anda.
Apakah kualitas hidup bisa menjadi variabel bebas? Bisa, misalnya kualitas hidup lansia terhadap pemanfaatan posyandu, tetapi posisi ini lebih jarang. Pastikan alur teorinya masuk akal.
Sedang meneliti kualitas hidup pasien? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda memilih instrumen dan merumuskan model melalui konsultasi judul penelitian, mendampingi penyusunan proposal melalui layanan pendampingan tesis, serta membantu analisis skor per domain atau regresi melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.
Referensi
Arifin, B., Wahyudin, E., Setiawan, I., dkk. (2024). Health-related quality of life in Indonesian hypertension outpatients in Western, Central, and Eastern Indonesia measured with the Bahasa Indonesia version of EQ-5D-5L. Discover Medicine, 1, 36. https://doi.org/10.1007/s44337-024-00043-5
Arovah, N. I., & Heesch, K. C. (2020). Verification of the reliability and validity of the Short Form 36 scale in Indonesian middle-aged and older adults. Journal of Preventive Medicine and Public Health, 53(3), 180–188. https://doi.org/10.3961/jpmph.19.324
Nurbadriyah, W. D., Nursalam, N., Widyawati, I. Y., & Kurniawan, A. W. (2023). Factors associated with quality of life among patients undergoing hemodialysis in Indonesia. Jurnal Ners, 18(3), 252–256. https://doi.org/10.20473/jn.v18i3.46280
Prabowo, M. H., Febrinasari, R. P., Pamungkasari, E. P., Mahendradhata, Y., Pulkki-Brännström, A. M., & Probandari, A. (2023). Health-related quality of life of patients with diabetes mellitus measured with the Bahasa Indonesia version of EQ-5D in primary care settings in Indonesia. Journal of Preventive Medicine and Public Health, 56(5), 467–474. https://doi.org/10.3961/jpmph.23.229
Purba, F. D., Hunfeld, J. A. M., Iskandarsyah, A., Fitriana, T. S., Sadarjoen, S. S., Passchier, J., & Busschbach, J. J. V. (2018). Quality of life of the Indonesian general population: Test-retest reliability and population norms of the EQ-5D-5L and WHOQOL-BREF. PLOS ONE, 13(5), e0197098. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0197098
Ware, J. E., & Sherbourne, C. D. (1992). The MOS 36-item short-form health survey (SF-36): I. Conceptual framework and item selection. Medical Care, 30(6), 473–483.
WHOQOL Group. (1998). Development of the World Health Organization WHOQOL-BREF quality of life assessment. Psychological Medicine, 28(3), 551–558. https://doi.org/10.1017/S0033291798006667








