HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Tingkat Pengetahuan dalam Penelitian Kesehatan: Pengertian, Tingkatan, Cara Mengukur, dan Kategori Skor

Tingkat pengetahuan adalah ukuran seberapa banyak dan seberapa dalam seseorang memahami informasi tentang suatu topik, misalnya penyakit, pengobatan, atau cara pencegahan. Variabel ini termasuk yang paling sering muncul di skripsi dan tesis kesehatan, terutama pada penelitian edukasi, kepatuhan, dan perilaku pencegahan. Karena terlihat sederhana, pengetahuan sering diukur dengan kuesioner yang disusun cepat, lalu dikategorikan “baik, cukup, kurang” tanpa dasar yang jelas. Artikel ini membahas pengertian pengetahuan, tingkatannya menurut taksonomi Bloom, hubungannya dengan sikap dan perilaku, cara menyusun dan menguji kuesioner, serta cara membuat kategori skor yang bisa dipertanggungjawabkan.

Pengertian Pengetahuan dalam Penelitian Kesehatan

Dalam penelitian kesehatan, pengetahuan biasanya diartikan sebagai informasi dan pemahaman yang dimiliki responden tentang topik tertentu, yang bisa diperiksa benar atau salahnya. Ciri terakhir ini penting. Butir pengetahuan selalu punya jawaban yang benar menurut sumber rujukan, misalnya pedoman Kementerian Kesehatan atau WHO. Butir yang menanyakan pendapat atau kebiasaan bukan butir pengetahuan.

Pengetahuan perlu dibedakan dari beberapa konsep yang sering tertukar:

Konsep Yang diukur Contoh butir
Pengetahuan Benar-salahnya informasi yang diketahui “Tablet tambah darah diminum satu kali seminggu oleh remaja putri.” (benar/salah)
Sikap Penilaian suka-tidak suka atau setuju-tidak setuju “Saya setuju remaja putri perlu minum tablet tambah darah.”
Praktik atau perilaku Apa yang benar-benar dilakukan “Dalam sebulan terakhir, berapa kali Anda minum tablet tambah darah?”
Literasi kesehatan Kemampuan mengakses, memahami, menilai, dan menerapkan informasi kesehatan (Sørensen dkk., 2012) “Seberapa mudah bagi Anda menilai apakah informasi kesehatan di media dapat dipercaya?”

Contoh butir di atas hanya ilustrasi bentuk pertanyaan. Kebenaran isi butir pengetahuan Anda harus dicocokkan dengan pedoman yang berlaku saat penelitian.

Tingkatan Pengetahuan menurut Taksonomi Bloom

Banyak buku teks perilaku kesehatan di Indonesia membagi pengetahuan menjadi enam tingkat yang berasal dari taksonomi Bloom versi awal: tahu, memahami, aplikasi, analisis, sintesis, dan evaluasi. Krathwohl (2002) menjelaskan revisi taksonomi tersebut. Dalam versi revisi, keenam tingkat diubah menjadi kata kerja, dan urutan dua tingkat teratas berubah: mengevaluasi berada di bawah mencipta.

 

 

Taksonomi awal Taksonomi revisi Bentuk butir yang cocok
Tahu (knowledge) Mengingat Menyebutkan, mengenali definisi atau tanda
Memahami (comprehension) Memahami Menjelaskan alasan, memberi contoh
Aplikasi Menerapkan Kasus sederhana: “Apa yang sebaiknya dilakukan bila…”
Analisis Menganalisis Membedakan dua keadaan yang mirip
Sintesis Mengevaluasi Menilai pilihan atau informasi
Evaluasi Mencipta Menyusun rencana sendiri

Krathwohl (2002) juga menambahkan satu dimensi lain, yaitu jenis pengetahuan: faktual, konseptual, prosedural, dan metakognitif. Untuk tesis kesehatan, dimensi ini berguna saat menyusun kisi-kisi. Pengetahuan pasien diabetes tentang kadar gula darah normal adalah pengetahuan faktual, sedangkan cara menyuntik insulin adalah pengetahuan prosedural.

Pelajaran praktisnya: bila kuesioner Anda hanya berisi butir “mengingat”, tuliskan bahwa yang diukur adalah pengetahuan tingkat dasar. Jangan menyimpulkan bahwa responden “memahami” topik bila tidak ada butir pemahaman.

Pengetahuan, Sikap, dan Praktik

Survei pengetahuan, sikap, dan praktik (knowledge, attitude, practice atau KAP) adalah desain yang sangat umum di bidang kesehatan. Andrade dkk. (2020) menguraikan langkah merancangnya: memastikan survei memang diperlukan, menentukan populasi sasaran, menulis butir untuk ketiga ranah, memilih bentuk jawaban, menentukan cara skoring dan analisis, serta memvalidasi instrumen.

Satu hal yang sering dilupakan: pengetahuan yang baik tidak otomatis menghasilkan perilaku yang baik. Dalam teori Lawrence Green, pengetahuan termasuk faktor predisposisi, yang bekerja bersama faktor pemungkin seperti akses layanan dan faktor penguat seperti dukungan keluarga. Dalam Health Belief Model, pengetahuan memengaruhi persepsi kerentanan dan manfaat, tetapi keputusan berperilaku juga ditentukan oleh hambatan yang dirasakan. Penjelasan lengkap model pertama ada di artikel teori Lawrence Green.

Karena itu, penelitian yang hanya membuktikan bahwa edukasi menaikkan skor pengetahuan belum bisa menyimpulkan bahwa edukasi mengubah perilaku. Bila tujuan Anda perubahan perilaku, ukur juga perilakunya.

Cara Menyusun Kuesioner Tingkat Pengetahuan

  1. Susun kisi-kisi. Tentukan subtopik dan tingkat kognitif yang ingin diukur, lalu tentukan jumlah butir per subtopik. Sumber isi butir sebaiknya pedoman resmi atau buku teks, bukan kuesioner penelitian lain yang belum jelas rujukannya.
  2. Pilih bentuk butir. Benar-salah paling mudah dijawab, tetapi peluang menebak benar 50%. Pilihan ganda dengan tiga sampai empat pilihan mengurangi tebakan. Pilihan “tidak tahu” membantu membedakan responden yang tidak tahu dari yang salah paham.
  3. Uji validitas isi. Mintalah ahli menilai kesesuaian butir dengan kisi-kisi dan kebenaran kunci jawabannya.
  4. Uji coba dan analisis butir. Hitung tingkat kesukaran (proporsi responden yang menjawab benar) dan daya beda (kemampuan butir membedakan responden berpengetahuan tinggi dan rendah). Penjelasan rinci ada di artikel analisis butir soal.
  5. Uji reliabilitas. Untuk butir dengan skor benar 1 dan salah 0, koefisien KR-20 lazim dipakai; nilainya setara dengan Cronbach’s alpha pada data dikotomi. Lihat uji validitas dan uji reliabilitas.

Contoh analisis butir yang baik bisa dilihat pada Orozco dkk. (2022). Mereka menyusun 45 butir tentang pengetahuan penyakit ginjal tahap akhir, lalu mempertahankan 32 butir dengan indeks kesukaran 0,19–0,79 dan daya beda 0,31–0,81. Butir yang terlalu mudah, terlalu sulit, atau tidak membedakan responden dibuang.

Kategori Tingkat Pengetahuan: Baik, Cukup, Kurang

Banyak skripsi kesehatan di Indonesia mengubah skor menjadi persentase jawaban benar, lalu memakai batas 76–100% untuk “baik”, 56–75% untuk “cukup”, dan di bawah 56% untuk “kurang”. Batas ini adalah kebiasaan yang diturunkan dari buku metodologi, bukan ketentuan baku sebuah instrumen. Ada beberapa pilihan yang bisa Anda pertimbangkan.

 

Cara Kelebihan Kekurangan
Batas persentase tetap (76/56) Mudah dan sering dipakai Tidak mempertimbangkan tingkat kesulitan kuesioner Anda
Rata-rata dan simpangan baku sampel Menyesuaikan dengan sebaran data Kategori hanya berlaku untuk sampel itu
Median atau persentil Cocok bila data tidak normal Sama seperti di atas
Tidak dikategorikan Informasi skor utuh terpakai Penyajian kurang ringkas

Apa pun pilihannya, tuliskan dasarnya di Bab 3. Untuk uji statistik, skor kontinu umumnya lebih kuat daripada kategori. Kategori boleh dipakai untuk penyajian deskriptif.

Waspadai juga efek langit-langit, yaitu ketika sebagian besar responden sudah mendapat skor hampir maksimal sebelum intervensi. Andriyani dkk. (2025) menguji edukasi pencegahan stunting berbasis model PRECEDE-PROCEED pada 52 ibu balita di Cimahi. Rata-rata skor pengetahuan sebelum edukasi sudah 18,67 dari 20, naik menjadi 19,69, dan 73% ibu mendapat skor sempurna setelah edukasi. Kenaikan seperti ini signifikan secara statistik, tetapi ruang perbaikannya sangat sempit. Desainnya juga satu kelompok tanpa kontrol. Pelajarannya: uji coba kuesioner harus memastikan butir tidak terlalu mudah.

Apa Kata Penelitian tentang Pengetahuan dan Edukasi Kesehatan

  • Program berbasis teori. Kim dkk. (2022) meninjau 26 penelitian program kesehatan yang memakai model PRECEDE-PROCEED dan memasukkan 11 di antaranya ke meta-analisis. Pengetahuan adalah hasil yang paling bisa digabungkan, dan programnya terbukti menaikkan pengetahuan.
  • Kualitas instrumen. Orozco dkk. (2022) menunjukkan bahwa analisis butir bisa memangkas kuesioner dari 45 menjadi 32 butir yang lebih mampu membedakan tingkat pengetahuan pasien.
  • Batas pembuktian. Andriyani dkk. (2025) tidak mengukur perilaku atau hasil kesehatan, sehingga kenaikan pengetahuan belum bisa diartikan sebagai perubahan perilaku pencegahan stunting.

Posisi Tingkat Pengetahuan dalam Model Penelitian

 

Posisi Contoh rumusan Analisis yang cocok
Variabel terikat Pengaruh edukasi video terhadap tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif Uji t berpasangan atau uji Wilcoxon untuk satu kelompok; uji Mann-Whitney atau uji t independen untuk dua kelompok
Variabel bebas Hubungan tingkat pengetahuan dengan kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis Chi-square bila keduanya kategori; regresi logistik biner untuk beberapa faktor sekaligus
Variabel perantara Edukasi memengaruhi perilaku pencegahan melalui pengetahuan dan sikap SEM-PLS atau analisis jalur

Contoh hipotesis untuk model pengetahuan-sikap-praktik:

  1. H1: Tingkat pengetahuan berpengaruh positif terhadap sikap remaja putri tentang konsumsi tablet tambah darah.
  2. H2: Sikap berpengaruh positif terhadap kepatuhan konsumsi tablet tambah darah.
  3. H3: Sikap memediasi pengaruh tingkat pengetahuan terhadap kepatuhan.

Bila penelitian Anda memakai kepatuhan sebagai variabel terikat, baca juga artikel pengertian adherence untuk membedakan kepatuhan dan keteraturan.

Definisi Operasional Tingkat Pengetahuan

 

Unsur Contoh isi
Variabel Tingkat pengetahuan ibu tentang ASI eksklusif
Definisi konseptual Informasi dan pemahaman ibu tentang pengertian, manfaat, dan cara pemberian ASI eksklusif
Definisi operasional Jumlah jawaban benar ibu pada kuesioner pengetahuan ASI eksklusif
Alat ukur Kuesioner pilihan ganda susunan peneliti, sudah diuji validitas isi, analisis butir, dan KR-20
Hasil ukur Skor 0 sampai jumlah butir; dapat dinyatakan dalam persen jawaban benar
Skala data Rasio untuk skor; ordinal bila dikategorikan baik, cukup, dan kurang

Contoh Judul Penelitian Tingkat Pengetahuan

Ide judul bisa Anda lihat di katalog judul tesis edukasi, pengetahuan, dan promosi kesehatan, judul tesis kepatuhan dan perilaku kesehatan, judul tesis keperawatan remaja dan kesehatan sekolah, dan judul tesis keperawatan gizi anak dan stunting. Contoh ringkasan penelitian lama bisa dilihat pada tingkat pengetahuan ibu dengan pemakaian kontrasepsi.

Pola judul yang sering dipakai, misalnya:

  • Pengaruh edukasi berbasis aplikasi terhadap tingkat pengetahuan dan sikap ibu hamil tentang tanda bahaya kehamilan.
  • Hubungan tingkat pengetahuan dan dukungan keluarga dengan kepatuhan diet pasien hipertensi.
  • Perbedaan tingkat pengetahuan kader posyandu sebelum dan sesudah pelatihan deteksi dini stunting.

Judul di atas adalah ilustrasi pola, bukan judul penelitian yang sudah ada.

Kesalahan Umum dalam Penelitian Tingkat Pengetahuan

  • Mencampur butir pengetahuan dan sikap. Butir “Saya setuju…” tidak punya jawaban benar, sehingga bukan butir pengetahuan.
  • Kuesioner terlalu mudah. Akibatnya terjadi efek langit-langit dan perubahan setelah intervensi sulit terlihat.
  • Memakai uji validitas korelasi saja. Untuk tes pengetahuan, validitas isi oleh ahli dan analisis butir sama pentingnya.
  • Kategori tanpa dasar. Tuliskan asal batas kategori, dan jangan menyebutnya sebagai standar resmi.
  • Menyimpulkan perubahan perilaku dari kenaikan pengetahuan. Ukur perilakunya bila itu yang ingin disimpulkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Berapa jumlah butir kuesioner pengetahuan yang ideal? Tidak ada angka baku. Jumlah butir ditentukan oleh kisi-kisi. Yang penting, setiap subtopik terwakili dan hasil analisis butirnya baik.

Bolehkah memakai kuesioner pengetahuan dari penelitian lain? Boleh, dengan menyebut sumbernya dan memastikan isinya masih sesuai pedoman terbaru. Pedoman kesehatan sering berubah, sehingga kunci jawaban lama bisa sudah tidak berlaku.

Skor pengetahuan termasuk skala data apa? Jumlah jawaban benar diperlakukan sebagai data rasio atau interval. Setelah dikategorikan, datanya menjadi ordinal.

Apa bedanya pengetahuan dan literasi kesehatan? Pengetahuan mengukur apa yang diketahui. Literasi kesehatan mengukur kemampuan mencari, memahami, menilai, dan memakai informasi (Sørensen dkk., 2012).

Berapa jumlah sampel penelitian pengetahuan? Tergantung desain dan analisis. Jelaskan dasar penentuan sampel di Bab 3; lihat artikel teknik pengambilan sampel.

Sedang menyusun kuesioner tingkat pengetahuan? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda menajamkan variabel dan kisi-kisi melalui konsultasi judul penelitian, mendampingi penyusunan proposal dan Bab 3 melalui layanan pendampingan tesis, serta membantu analisis butir, uji reliabilitas, dan analisis data melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.

Referensi

Andrade, C., Menon, V., Ameen, S., & Kumar Praharaj, S. (2020). Designing and conducting knowledge, attitude, and practice surveys in psychiatry: Practical guidance. Indian Journal of Psychological Medicine, 42(5), 478–481. https://doi.org/10.1177/0253717620946111

Andriyani, S., Sulastri, A., Fitriana, L. A., Darmawan, D., Perdani, A. L., Safariah, T. D., Malisa, N., Putri, T. H., & Mediani, H. S. (2025). Effectiveness of a Precede–Proceed model-based health promotion intervention on evaluating changes in mothers’ knowledge of stunting prevention in Indonesian communities. Journal of Multidisciplinary Healthcare, 18, 8249–8256. https://doi.org/10.2147/JMDH.S541443

Kim, J., Jang, J., Kim, B., & Lee, K. H. (2022). Effect of the PRECEDE-PROCEED model on health programs: A systematic review and meta-analysis. Systematic Reviews, 11, 213. https://doi.org/10.1186/s13643-022-02092-2

Krathwohl, D. R. (2002). A revision of Bloom’s taxonomy: An overview. Theory Into Practice, 41(4), 212–218. https://doi.org/10.1207/s15430421tip4104_2

Orozco, T., Segal, E., Hinkamp, C., Olaoye, O., Shell, P., & Shukla, A. M. (2022). Development and validation of an end stage kidney disease awareness survey: Item difficulty and discrimination indices. PLOS ONE, 17(9), e0269488. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0269488

Sørensen, K., Van den Broucke, S., Fullam, J., Doyle, G., Pelikan, J., Slonska, Z., & Brand, H. (2012). Health literacy and public health: A systematic review and integration of definitions and models. BMC Public Health, 12, 80. https://doi.org/10.1186/1471-2458-12-80

error: