HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Sikap dalam Penelitian Kesehatan: Pengertian, Komponen, Teori, dan Cara Mengukurnya

Sikap adalah kecenderungan seseorang untuk menilai suatu objek, orang, atau perilaku sebagai sesuatu yang disukai atau tidak disukai. Dalam penelitian kesehatan, sikap hampir selalu muncul bersama pengetahuan dan perilaku, misalnya sikap ibu terhadap imunisasi, sikap pasien terhadap pengobatan, atau sikap remaja terhadap rokok. Variabel ini mudah diukur dengan kuesioner, tetapi juga mudah salah dirancang: butir sikap tercampur dengan butir pengetahuan, arah skor tidak jelas, atau kategori positif dan negatif dibuat tanpa dasar. Artikel ini membahas pengertian sikap, tiga komponennya, posisi sikap dalam teori perilaku, cara menyusun kuesioner sikap, temuan penelitian di Indonesia, dan cara menempatkannya dalam model penelitian.

Pengertian Sikap

Eagly dan Chaiken (1993) mendefinisikan sikap sebagai kecenderungan psikologis yang diungkapkan dengan menilai suatu entitas tertentu dengan derajat suka atau tidak suka. Ada tiga unsur penting dalam definisi ini.

  • Sikap selalu punya objek. Tidak ada “sikap” secara umum. Yang ada adalah sikap terhadap vaksin, terhadap diet rendah garam, atau terhadap pemeriksaan payudara sendiri.
  • Sikap berupa penilaian. Isinya bukan fakta yang benar atau salah, melainkan suka atau tidak suka, setuju atau tidak setuju, bermanfaat atau merugikan.
  • Sikap punya derajat. Sikap tidak hanya positif atau negatif, tetapi bisa sangat positif, agak positif, netral, dan seterusnya. Karena itu sikap diukur dengan skala bertingkat.

Perbedaan dengan pengetahuan perlu dipegang sejak menyusun kuesioner. Butir pengetahuan punya jawaban benar dan salah, misalnya “Imunisasi campak diberikan pada usia 9 bulan”. Butir sikap tidak punya jawaban benar, misalnya “Saya merasa imunisasi penting bagi anak saya”. Pembahasan pengetahuan sebagai variabel ada di artikel tingkat pengetahuan.

Tiga Komponen Sikap

Rosenberg dan Hovland (1960) menjelaskan sikap sebagai gabungan tiga komponen. Model ini dikenal sebagai model tiga komponen atau model tripartit, dan masih sering dipakai untuk menyusun kisi-kisi kuesioner sikap.

Komponen Isi Contoh butir sikap terhadap pemeriksaan gula darah rutin
Kognitif Keyakinan tentang objek sikap “Pemeriksaan gula darah rutin membantu saya mengetahui kondisi penyakit saya”
Afektif Perasaan terhadap objek sikap “Saya merasa tenang setelah mengetahui hasil pemeriksaan gula darah saya”
Konatif Kecenderungan bertindak “Saya bersedia datang ke puskesmas setiap bulan untuk memeriksa gula darah”

Komponen kognitif dalam sikap berbeda dari pengetahuan. Pengetahuan menanyakan apakah responden tahu faktanya. Komponen kognitif sikap menanyakan apakah responden yakin bahwa objek itu bermanfaat atau merugikan bagi dirinya. Komponen konatif juga berbeda dari perilaku. Konatif adalah kesediaan atau kecenderungan, sedangkan perilaku adalah tindakan yang benar-benar dilakukan.

Kisi-kisi kuesioner yang baik memuat butir dari ketiga komponen. Bila semua butir hanya berisi keyakinan, kuesioner Anda sebenarnya hanya mengukur komponen kognitif.

Sikap dalam Teori Perilaku Terencana

Teori yang paling sering dipakai untuk menjelaskan hubungan sikap dan perilaku adalah teori perilaku terencana (theory of planned behavior). Ajzen (1991) menjelaskan bahwa perilaku ditentukan oleh niat, dan niat ditentukan oleh tiga hal: sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku.

 

Konstruk Arti Contoh pada perilaku minum obat hipertensi
Sikap terhadap perilaku Penilaian positif atau negatif terhadap melakukan perilaku itu “Minum obat setiap hari bermanfaat bagi saya”
Norma subjektif Persepsi tekanan sosial dari orang yang dianggap penting “Keluarga saya ingin saya minum obat setiap hari”
Persepsi kontrol perilaku Persepsi mudah atau sulitnya melakukan perilaku “Saya mampu minum obat tepat waktu walaupun sedang bepergian”
Niat Kesiapan untuk melakukan perilaku “Saya berniat minum obat setiap hari bulan ini”

Ada dua pelajaran dari teori ini untuk penelitian sikap. Pertama, yang paling dekat dengan perilaku adalah sikap terhadap perilaku tertentu, bukan sikap terhadap objek secara umum. Sikap positif terhadap “kesehatan” tidak banyak meramalkan apakah seseorang rutin berolahraga. Sikap terhadap “berolahraga tiga kali seminggu” jauh lebih dekat. Kedua, sikap hanyalah salah satu penentu niat. Sikap positif bisa tidak terwujud bila norma sosial tidak mendukung atau bila seseorang merasa tidak mampu.

Bosnjak dkk. (2020) mencatat bahwa teori ini masih banyak dikembangkan dan dipakai dalam penelitian kesehatan masyarakat. Penjelasan teori ini secara lengkap ada di artikel Theory of Planned Behavior. Persepsi kontrol perilaku dekat dengan konsep efikasi diri, sedangkan Health Belief Model menjelaskan perilaku dari persepsi kerentanan, manfaat, dan hambatan.

Cara Menyusun Kuesioner Sikap

Andrade dkk. (2020) menyarankan agar survei pengetahuan, sikap, dan praktik dirancang dengan langkah yang jelas: menentukan tujuan, menulis butir untuk setiap ranah, memilih bentuk jawaban, menentukan skoring, dan memvalidasi instrumen. Untuk ranah sikap, langkah praktisnya sebagai berikut.

  1. Tetapkan objek sikap secara spesifik. Tulis “sikap terhadap pemberian ASI eksklusif”, bukan “sikap tentang kesehatan bayi”.
  2. Susun kisi-kisi. Bagi butir ke komponen kognitif, afektif, dan konatif, atau ke aspek yang relevan dengan topik.
  3. Tulis butir positif dan butir negatif. Butir positif (favorable) mendukung objek sikap; butir negatif (unfavorable) menolaknya. Campuran keduanya mengurangi kecenderungan responden menjawab “setuju” untuk semua butir.
  4. Pilih bentuk jawaban. Yang paling umum adalah skala Likert empat atau lima pilihan, dari sangat tidak setuju sampai sangat setuju.
  5. Tetapkan arah skor. Pada butir positif, sangat setuju diberi skor tertinggi. Pada butir negatif, skornya dibalik.
  6. Uji instrumen. Lakukan uji validitas dan uji reliabilitas pada sampel uji coba sebelum pengambilan data utama.

 

Jenis butir Contoh Skor SS–S–N–TS–STS
Positif “Pemberian ASI saja selama 6 bulan baik untuk kesehatan bayi” 5–4–3–2–1
Negatif “Bayi perlu diberi susu formula sejak awal agar cepat gemuk” 1–2–3–4–5

Arah skor harus diputuskan dari isi butir, bukan dari kebiasaan. Kaaffah dkk. (2023) memakai enam butir sikap tentang tuberkulosis dengan skala Likert lima pilihan dan membalik skor butir negatif. Namun, salah satu butirnya, “menghindari penderita TB adalah sikap terbaik untuk mencegah penularan”, dapat dibaca sebagai sikap yang menstigma penderita. Contoh ini menunjukkan pentingnya menulis butir yang arahnya tidak bisa ditafsirkan ganda.

Kategori Sikap: Positif dan Negatif

Banyak skripsi dan tesis membagi skor sikap menjadi dua atau tiga kategori. Ada beberapa cara yang dipakai.

 

Cara Contoh Catatan
Persentase dari skor maksimum Kaaffah dkk. (2023) mengubah skor menjadi indeks 0–100, lalu membagi: di bawah 50 rendah, 50–70 sedang, di atas 70 tinggi Batas persentase adalah pilihan peneliti; sebutkan asalnya
Batas jumlah butir Lee dan Suryohusodo (2022) memakai enam butir setuju atau tidak setuju; sikap baik bila skor 5 atau 6 Cocok untuk butir dua pilihan
Nilai tengah sampel Skor di atas median atau rata-rata dianggap positif Hasilnya bergantung pada sampel, sehingga sulit dibandingkan antarpenelitian
Skor T Skor mentah diubah menjadi skor T; di atas 50 positif Masih berbasis sampel

Tidak ada satu cara yang resmi. Yang penting, jelaskan cara yang Anda pakai di Bab 3, sebutkan sumbernya bila ada, dan pakai cara yang sama di seluruh analisis. Untuk uji statistik, skor total biasanya lebih informatif daripada kategori.

Apa Kata Penelitian tentang Sikap

  • Pengetahuan tidak selalu sejalan dengan sikap. Lee dan Suryohusodo (2022) meneliti 410 orang dewasa di 22 kabupaten dan kota di Nusa Tenggara Timur pada akhir 2021. Sebanyak 79,8% berpengetahuan baik dan 72,7% bersikap baik tentang COVID-19. Namun, skor pengetahuan dan sikap tidak berkorelasi bermakna, sedangkan dalam analisis regresi skor sikap berhubungan dengan skor praktik.
  • Sikap dipengaruhi tempat tinggal. Kaaffah dkk. (2023) menyurvei 3.205 responden dari 34 provinsi secara daring. Sebanyak 91% memiliki skor sikap tinggi tentang tuberkulosis. Dalam analisis multivariat, responden yang tinggal di desa memiliki peluang sikap tinggi yang lebih kecil daripada responden di kota (adjusted OR 0,76).

Kedua penelitian memakai desain potong lintang dan pengambilan sampel nonprobabilitas, sehingga hasilnya menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat, dan belum tentu mewakili seluruh penduduk. Pelajaran untuk tesis Anda: jangan berasumsi bahwa edukasi yang menaikkan pengetahuan otomatis memperbaiki sikap. Bila sikap menjadi sasaran, ukur sikapnya secara terpisah.

Posisi Sikap dalam Model Penelitian

 

Posisi Contoh rumusan Analisis yang cocok
Variabel terikat Pengaruh edukasi video terhadap sikap ibu tentang imunisasi Uji t berpasangan atau uji Wilcoxon; uji Mann-Whitney untuk dua kelompok
Variabel bebas Hubungan sikap dengan kepatuhan diet pasien diabetes Korelasi, regresi, atau chi-square bila dikategorikan
Variabel perantara Pengetahuan memengaruhi perilaku melalui sikap SEM-PLS dengan uji efek tidak langsung
Prediktor niat Sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol terhadap niat vaksinasi Regresi berganda atau SEM

Contoh hipotesis untuk model perantara:

  1. H1: Pengetahuan berpengaruh positif terhadap sikap.
  2. H2: Sikap berpengaruh positif terhadap perilaku pencegahan.
  3. H3: Sikap memediasi pengaruh pengetahuan terhadap perilaku pencegahan.

Cara menguji H3 dijelaskan di artikel variabel intervening di SmartPLS.

Definisi Operasional Sikap

 

Unsur Contoh isi
Variabel Sikap ibu terhadap pemberian ASI eksklusif
Definisi konseptual Penilaian suka atau tidak suka ibu terhadap pemberian ASI saja selama 6 bulan (Eagly & Chaiken, 1993)
Definisi operasional Skor jawaban ibu pada kuesioner sikap yang memuat butir kognitif, afektif, dan konatif
Alat ukur Kuesioner sikap skala Likert lima pilihan, butir positif dan negatif
Hasil ukur Skor total; makin tinggi, makin positif sikap
Skala data Interval, atau ordinal bila dikategorikan

Contoh Judul Penelitian Sikap

Ide judul bisa Anda lihat di katalog judul tesis edukasi, pengetahuan, dan promosi kesehatan, judul tesis kepatuhan dan perilaku kesehatan, dan judul tesis keperawatan remaja dan kesehatan sekolah. Contoh penelitian lama yang memakai sikap sebagai variabel bisa dilihat pada pengaruh pengetahuan dan sikap perawat terhadap praktik pencegahan infeksi.

Pola judul yang sering dipakai, misalnya:

  • Pengaruh edukasi berbasis media sosial terhadap pengetahuan dan sikap remaja tentang anemia.
  • Hubungan sikap dan dukungan keluarga dengan kepatuhan minum obat pasien tuberkulosis.
  • Sikap sebagai variabel perantara pengaruh pengetahuan terhadap perilaku pemeriksaan payudara sendiri.

Judul di atas adalah ilustrasi pola, bukan judul penelitian yang sudah ada.

Kesalahan Umum dalam Penelitian Sikap

  • Mencampur butir sikap dan pengetahuan. Butir yang punya jawaban benar atau salah adalah butir pengetahuan.
  • Objek sikap terlalu umum. Sikap terhadap “kesehatan” sulit dikaitkan dengan perilaku tertentu.
  • Semua butir positif. Responden cenderung menjawab setuju untuk semua butir, sehingga skor terlihat tinggi.
  • Arah skor tidak jelas. Butir yang bisa dibaca sebagai positif dan negatif sekaligus membuat skor sulit ditafsirkan.
  • Kategori tanpa dasar. Batas positif dan negatif harus dijelaskan dan disebutkan sumbernya.
  • Menyamakan sikap dengan perilaku. Sikap positif belum tentu diikuti tindakan; ukur perilakunya bila itu yang ingin disimpulkan.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa bedanya sikap dan perilaku? Sikap adalah penilaian dan kecenderungan, sedangkan perilaku adalah tindakan yang dilakukan. Komponen konatif sikap baru berupa kesediaan, misalnya “saya bersedia”, bukan “saya sudah melakukan”.

Skala Likert empat atau lima pilihan? Keduanya dipakai. Lima pilihan memberi pilihan netral; empat pilihan memaksa responden memilih arah. Jelaskan alasan pilihan Anda dan pakai bentuk yang sama untuk semua butir.

Berapa jumlah butir kuesioner sikap? Tidak ada aturan baku. Yang penting, setiap komponen atau aspek terwakili dan butir yang tidak valid dibuang setelah uji coba. Laporkan jumlah butir akhir yang dipakai.

Bolehkah memakai kuesioner sikap dari penelitian lain? Boleh, dengan menyebut sumbernya dan memeriksa kesesuaian objek sikap serta populasinya. Bila ada perubahan butir atau terjemahan, lakukan uji coba lagi.

Apakah sikap bisa diukur dengan wawancara? Bisa, terutama pada responden yang sulit membaca. Gunakan kalimat yang sama untuk setiap responden agar hasilnya bisa dibandingkan.

Sedang meneliti sikap dan perilaku kesehatan? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda merumuskan objek sikap dan posisi variabel melalui konsultasi judul penelitian, mendampingi penyusunan kisi-kisi kuesioner dan Bab 3 melalui layanan pendampingan tesis, serta membantu uji instrumen dan analisis data melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.

Referensi

Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211. https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90020-T

Andrade, C., Menon, V., Ameen, S., & Kumar Praharaj, S. (2020). Designing and conducting knowledge, attitude, and practice surveys in psychiatry: Practical guidance. Indian Journal of Psychological Medicine, 42(5), 478–481. https://doi.org/10.1177/0253717620946111

Bosnjak, M., Ajzen, I., & Schmidt, P. (2020). The theory of planned behavior: Selected recent advances and applications. Europe’s Journal of Psychology, 16(3), 352–356. https://doi.org/10.5964/ejop.v16i3.3107

Eagly, A. H., & Chaiken, S. (1993). The psychology of attitudes. Harcourt Brace Jovanovich.

Kaaffah, S., Kusuma, I. Y., Renaldi, F. S., Lestari, Y. E., Pratiwi, A. D. E., & Bahar, M. A. (2023). Knowledge, attitudes, and perceptions of tuberculosis in Indonesia: A multi-center cross-sectional study. Infection and Drug Resistance, 16, 1787–1800. https://doi.org/10.2147/IDR.S404171

Lee, F., & Suryohusodo, A. A. (2022). Knowledge, attitude, and practice assessment toward COVID-19 among communities in East Nusa Tenggara, Indonesia: A cross-sectional study. Frontiers in Public Health, 10, 957630. https://doi.org/10.3389/fpubh.2022.957630

Rosenberg, M. J., & Hovland, C. I. (1960). Cognitive, affective, and behavioral components of attitudes. Dalam M. J. Rosenberg, C. I. Hovland, W. J. McGuire, R. P. Abelson, & J. W. Brehm (Ed.), Attitude organization and change: An analysis of consistency among attitude components. Yale University Press.

 

Bapak/Ibu tidak perlu khawatir.

Untuk memastikan reputasi dan keamanan sebuah website, Bapak/Ibu dapat melakukan pengecekan secara mandiri melalui platform pemeriksa reputasi website, seperti ScamAdviser dan Scamwise.

Berikut tautan yang dapat digunakan:

Kami berkomitmen untuk memberikan layanan IDTesis.com secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab. Silakan lakukan pengecekan secara mandiri agar Bapak/Ibu dapat memperoleh informasi tambahan sebelum menggunakan layanan kami.