Resiliensi adalah kemampuan atau proses seseorang untuk beradaptasi dengan baik dan bangkit kembali ketika menghadapi tekanan, kesulitan, atau peristiwa yang berat. Dalam penelitian kesehatan, resiliensi sering diteliti pada perawat dan tenaga kesehatan lain, pasien penyakit kronis, penyintas bencana, dan keluarga yang merawat pasien. Variabel ini menarik karena menjawab pertanyaan yang berbeda dari penelitian stres: bukan “mengapa orang tertekan”, tetapi “mengapa sebagian orang tetap berfungsi baik walaupun tekanannya sama”. Artikel ini membahas pengertian resiliensi, faktor yang membentuknya, alat ukur yang sudah diuji, temuan penelitian terbaru, dan cara menempatkannya dalam model penelitian.
Pengertian Resiliensi
Istilah resiliensi dipakai dengan tiga makna yang berbeda dalam literatur. Perbedaan ini penting karena menentukan alat ukur dan desain penelitian Anda.
| Resiliensi sebagai | Artinya | Konsekuensi untuk penelitian |
|---|---|---|
| Sifat atau kemampuan | Karakteristik pribadi yang relatif menetap, misalnya ketekunan dan keyakinan diri | Diukur sekali dengan skala laporan diri seperti CD-RISC |
| Proses | Interaksi antara individu dan lingkungannya selama menghadapi tekanan | Perlu mengukur sumber daya dan, idealnya, beberapa kali pengukuran |
| Hasil | Seseorang tetap sehat secara mental setelah mengalami kesulitan | Perlu bukti bahwa responden memang mengalami tekanan, lalu menilai fungsinya |
Windle dkk. (2011) merumuskan resiliensi sebagai proses mengelola dan beradaptasi dengan sumber tekanan atau trauma yang bermakna, dengan bantuan sumber daya dari dalam diri dan dari lingkungan. Ungar dan Theron (2020) menegaskan bahwa resiliensi tidak hanya bergantung pada individu. Menurut mereka, sumber daya dari lingkungan sosial, layanan, budaya, dan lingkungan fisik sama pentingnya dengan pikiran, perasaan, dan perilaku orang itu sendiri.
Bagi penulis tesis, konsekuensinya jelas. Bila judul Anda memakai kata “resiliensi”, tulis di Bab 2 makna mana yang Anda pakai, lalu pastikan alat ukurnya sesuai.
Faktor yang Membentuk Resiliensi
Ungar dan Theron (2020) menggambarkan resiliensi sebagai hasil kerja beberapa sistem sekaligus. Kerangka ini berguna untuk menyusun kerangka teori, karena setiap sistem memberi calon variabel bebas atau variabel perantara.

| Sistem | Contoh faktor | Variabel yang sering diteliti |
|---|---|---|
| Biologis | Kondisi fisik, kualitas tidur, nyeri kronis | Kualitas tidur, skala nyeri |
| Psikologis | Keyakinan mampu, cara menghadapi masalah, makna hidup | Efikasi diri, mekanisme koping, spiritualitas |
| Sosial | Hubungan dengan keluarga, teman, dan rekan kerja | Dukungan sosial, dukungan keluarga |
| Ekologis | Layanan kesehatan, budaya, lingkungan kerja | Beban kerja, iklim organisasi, akses layanan |
Kerangka ini juga mengingatkan satu hal: resiliensi yang rendah tidak selalu berarti kelemahan pribadi. Perawat dengan beban kerja berlebih dan dukungan atasan yang minim bisa tampak “kurang resilien” padahal masalahnya ada di sistem kerja.
Resiliensi pada Pasien dan pada Tenaga Kesehatan
Dua kelompok responden ini paling sering muncul di tesis kesehatan, tetapi tekanan yang mereka hadapi berbeda. Pada pasien, tekanannya berupa penyakit dan pengobatannya: diagnosis kanker, hemodialisis rutin, atau kecacatan setelah stroke. Resiliensi pasien biasanya dikaitkan dengan kepatuhan pengobatan, gejala depresi, dan kualitas hidup. Pada tenaga kesehatan, tekanannya berasal dari pekerjaan: beban kerja, kematian pasien, konflik, dan jadwal jaga. Resiliensi tenaga kesehatan biasanya dikaitkan dengan burnout, niat keluar, dan kesehatan mental.
Perbedaan ini memengaruhi isi Bab 1. Pada penelitian pasien, uraikan beban penyakitnya. Pada penelitian tenaga kesehatan, uraikan kondisi kerjanya. Keduanya membutuhkan data awal yang menunjukkan bahwa tekanan itu memang ada di tempat penelitian Anda, misalnya dari studi pendahuluan.
Alat Ukur Resiliensi
Windle dkk. (2011) meninjau 19 skala resiliensi dan menyimpulkan bahwa tidak ada satu pun yang unggul di semua aspek psikometri. Tiga skala mendapat penilaian terbaik, termasuk CD-RISC dan Brief Resilience Scale. Berikut pilihan yang paling relevan untuk penelitian di Indonesia.
| Instrumen | Isi | Bukti | Kapan dipakai |
|---|---|---|---|
| Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) | 25 butir, skala 0–4, skor total 0–100 (Connor & Davidson, 2003) | Pada uji awal, skor lebih tinggi pada sampel umum daripada pasien psikiatri, dan skor naik setelah pengobatan | Resiliensi sebagai kemampuan pribadi; populasi pasien atau tenaga kesehatan. Berhak cipta, pemakaian memerlukan izin pengembang |
| Brief Resilience Scale (BRS) | 6 butir, skala 1–5, skor rata-rata (Smith dkk., 2008) | Dirancang khusus untuk mengukur kemampuan bangkit dari tekanan | Bila yang ingin diukur benar-benar “bangkit kembali”, dan kuesioner harus singkat |
| Resilience Evaluation Scale versi Indonesia (RES) | 8 butir, skala 0–4, dua faktor: kepercayaan diri dan efikasi diri | Diuji pada 327 mahasiswa Indonesia: Cronbach’s alpha total 0,823; korelasi dengan CD-RISC 0,739 (Primasari dkk., 2022) | Responden dewasa muda; perlu uji ulang bila respondennya pasien |
Pilih satu instrumen yang sesuai dengan makna resiliensi yang Anda pakai. Bila instrumen diterjemahkan sendiri, lakukan penerjemahan maju-mundur dan uji validitas serta reliabilitas pada uji coba. Perhatikan juga bahwa RES versi Indonesia memiliki satu faktor bernama efikasi diri. Bila model Anda juga memuat variabel efikasi diri, kedua variabel itu bisa tumpang tindih, dan penguji hampir pasti menanyakannya.
Apa Kata Penelitian tentang Resiliensi
- Tenaga kesehatan selama pandemi. Tinjauan sistematis Labrague (2021) atas 31 penelitian menemukan bahwa resiliensi yang lebih tinggi berhubungan dengan kecemasan, depresi, stres, kelelahan emosional, dan gejala stres pascatrauma yang lebih rendah. Hampir semua penelitiannya berdesain potong lintang.
- Intervensi peningkatan resiliensi. Tinjauan Cochrane oleh Kunzler dkk. (2020) atas 44 uji acak terkendali pada tenaga kesehatan menemukan bahwa intervensi psikologis menaikkan skor resiliensi segera setelah intervensi (SMD 0,45) serta menurunkan depresi (SMD ?0,29) dan stres (SMD ?0,61). Namun, kepastian buktinya sangat rendah, dan data jangka menengah serta panjang masih terbatas.
- Mahasiswa di Indonesia. Primasari dkk. (2022) melaporkan bahwa skor resiliensi berkorelasi negatif dengan gejala depresi (r = ?0,410) dan gejala stres pascatrauma (r = ?0,390).
Pelajaran untuk tesis Anda: bila desain penelitian Anda potong lintang, resiliensi dan kesehatan mental hanya bisa dinyatakan berhubungan. Bila Anda menguji pelatihan resiliensi, gunakan desain eksperimen dengan kelompok kontrol, dan jelaskan bahwa efek jangka panjangnya belum tentu bertahan.
Posisi Resiliensi dalam Model Penelitian
| Posisi | Contoh rumusan | Analisis yang cocok |
|---|---|---|
| Variabel terikat | Hubungan dukungan sosial dan efikasi diri dengan resiliensi perawat | Korelasi atau regresi |
| Variabel bebas | Pengaruh resiliensi terhadap burnout perawat ICU | Regresi linier |
| Variabel perantara | Beban kerja memengaruhi kesehatan mental perawat melalui resiliensi | SEM-PLS dengan uji efek tidak langsung |
| Variabel pemoderasi | Resiliensi memperlemah pengaruh stres kerja terhadap depresi | Regresi dengan interaksi atau moderasi di SmartPLS |
| Variabel terikat pada eksperimen | Pengaruh pelatihan mindfulness terhadap resiliensi mahasiswa keperawatan | Uji t berpasangan atau uji Wilcoxon |
Contoh nyata pemakaian resiliensi sebagai variabel mediasi bisa Anda lihat pada ringkasan tesis pengaruh pengetahuan COVID-19 dan sikap terhadap praktik pencegahan infeksi dengan resiliensi sebagai variabel mediasi.
Contoh hipotesis untuk model pemoderasi:
- H1: Stres kerja berpengaruh positif terhadap gejala depresi perawat.
- H2: Resiliensi berpengaruh negatif terhadap gejala depresi perawat.
- H3: Resiliensi memoderasi pengaruh stres kerja terhadap gejala depresi; pengaruhnya lebih lemah pada perawat dengan resiliensi tinggi.
Model pemoderasi dan model perantara menjawab pertanyaan yang berbeda. Pemoderasi menanyakan “pada siapa pengaruhnya lebih kuat atau lebih lemah”, sedangkan perantara menanyakan “melalui jalur apa pengaruh itu terjadi”. Pilih salah satu berdasarkan teori, bukan berdasarkan hasil uji mana yang signifikan. Penjelasan lebih lanjut ada di artikel variabel intervening di SmartPLS.
Definisi Operasional Resiliensi
| Unsur | Contoh isi |
|---|---|
| Variabel | Resiliensi perawat |
| Definisi konseptual | Kemampuan perawat untuk beradaptasi dan bangkit saat menghadapi tekanan kerja (Connor & Davidson, 2003) |
| Definisi operasional | Skor total jawaban perawat pada CD-RISC 25 butir |
| Alat ukur | Kuesioner CD-RISC versi bahasa Indonesia yang sudah diuji pada uji coba |
| Hasil ukur | Skor 0–100; makin tinggi skor, makin tinggi resiliensi |
| Skala data | Interval, atau ordinal bila skor dikategorikan |
Bila Anda membuat kategori tinggi, sedang, dan rendah, jelaskan dasar batasnya, misalnya nilai rata-rata dan simpangan baku sampel. Jangan menyajikan batas kategori dari penelitian lain seolah-olah ketentuan resmi instrumen.
Contoh Judul Penelitian Resiliensi
Ide judul bisa Anda lihat di katalog judul tesis koping, resiliensi, spiritualitas, dan efikasi diri, judul tesis keperawatan komunitas dan kesehatan kerja, dan judul tesis kecemasan, stres, dan depresi. Untuk sudut pandang psikologi, lihat judul skripsi dan tesis psikologi tentang resiliensi, koping, dan regulasi emosi.
Pola judul yang sering dipakai, misalnya:
- Hubungan dukungan sosial dan spiritualitas dengan resiliensi pasien kanker payudara.
- Pengaruh pelatihan resiliensi terhadap stres kerja perawat instalasi gawat darurat.
- Resiliensi sebagai variabel pemoderasi pengaruh beban kerja terhadap burnout perawat.
Judul di atas adalah ilustrasi pola, bukan judul penelitian yang sudah ada.
Kesalahan Umum dalam Penelitian Resiliensi
- Tidak menjelaskan makna resiliensi yang dipakai. Sifat, proses, dan hasil membutuhkan alat ukur dan desain yang berbeda.
- Mengukur resiliensi pada orang yang tidak sedang menghadapi tekanan. Resiliensi bermakna bila ada kesulitan yang dihadapi. Jelaskan tekanan apa yang dialami responden Anda.
- Tumpang tindih variabel. Beberapa skala resiliensi memuat butir efikasi diri atau koping. Periksa isi butir sebelum menempatkan variabel-variabel itu dalam satu model.
- Klaim efek jangka panjang dari pengukuran segera setelah pelatihan. Bukti tentang ketahanan efek intervensi resiliensi masih terbatas.
- Memakai CD-RISC tanpa izin. Instrumen ini berhak cipta; urus izinnya sejak penyusunan proposal.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa beda resiliensi dan mekanisme koping? Koping adalah usaha yang dilakukan saat menghadapi tekanan. Resiliensi adalah kemampuan atau proses yang membuat seseorang bisa bangkit. Koping yang adaptif bisa menjadi bagian dari proses resiliensi.
Apakah resiliensi bisa dilatih? Penelitian intervensi menunjukkan skor resiliensi bisa naik setelah pelatihan psikologis, tetapi kepastian buktinya masih sangat rendah (Kunzler dkk., 2020). Bila Anda meneliti pelatihan resiliensi, ukur juga hasil kesehatan mentalnya, bukan hanya skor resiliensi.
Skala mana yang paling tepat untuk perawat? CD-RISC paling sering dipakai pada tenaga kesehatan. Bila kuesioner Anda sudah panjang, BRS yang hanya enam butir bisa menjadi pilihan, dengan konsekuensi aspek yang diukur lebih sempit.
Berapa jumlah sampel penelitian resiliensi? Tergantung desain dan analisis. Jelaskan dasar penentuan sampel di Bab 3; lihat artikel teknik pengambilan sampel.
Bolehkah resiliensi dikategorikan menjadi tinggi dan rendah? Boleh, asalkan dasar pengelompokannya dijelaskan. Untuk analisis inferensial, skor kontinu umumnya memberi informasi yang lebih lengkap daripada kategori.
Sedang meneliti resiliensi? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda menentukan makna resiliensi dan posisi variabelnya melalui konsultasi judul penelitian, mendampingi penyusunan proposal dan Bab 3 melalui layanan pendampingan tesis, serta membantu uji instrumen dan analisis moderasi atau mediasi melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.
Referensi
Connor, K. M., & Davidson, J. R. T. (2003). Development of a new resilience scale: The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC). Depression and Anxiety, 18(2), 76–82. https://doi.org/10.1002/da.10113
Kunzler, A. M., Helmreich, I., Chmitorz, A., König, J., Binder, H., Wessa, M., & Lieb, K. (2020). Psychological interventions to foster resilience in healthcare professionals. Cochrane Database of Systematic Reviews, 7, CD012527. https://doi.org/10.1002/14651858.CD012527.pub2
Labrague, L. J. (2021). Psychological resilience, coping behaviours and social support among health care workers during the COVID-19 pandemic: A systematic review of quantitative studies. Journal of Nursing Management, 29(7), 1893–1905. https://doi.org/10.1111/jonm.13336
Primasari, I., Hoeboer, C. M., Bakker, A., & Olff, M. (2022). Validation of the Indonesian resilience evaluation scale in an undergraduate student population. BMC Public Health, 22, 2410. https://doi.org/10.1186/s12889-022-14769-3
Smith, B. W., Dalen, J., Wiggins, K., Tooley, E., Christopher, P., & Bernard, J. (2008). The brief resilience scale: Assessing the ability to bounce back. International Journal of Behavioral Medicine, 15(3), 194–200. https://doi.org/10.1080/10705500802222972
Ungar, M., & Theron, L. (2020). Resilience and mental health: How multisystemic processes contribute to positive outcomes. The Lancet Psychiatry, 7(5), 441–448. https://doi.org/10.1016/S2215-0366(19)30434-1
Windle, G., Bennett, K. M., & Noyes, J. (2011). A methodological review of resilience measurement scales. Health and Quality of Life Outcomes, 9, 8. https://doi.org/10.1186/1477-7525-9-8








