Self-management atau manajemen diri adalah kemampuan pasien, bersama keluarganya, untuk mengelola gejala, pengobatan, perubahan gaya hidup, serta dampak fisik, emosional, dan sosial dari penyakit kronis dalam kehidupan sehari-hari. Variabel ini banyak dipakai di tesis keperawatan pada pasien diabetes, hipertensi, gagal jantung, penyakit ginjal kronis, dan PPOK. Pasien penyakit kronis menghabiskan sebagian besar waktunya di rumah, bukan di fasilitas kesehatan, sehingga kemampuan mengelola penyakit sendiri menentukan hasil pengobatan. Artikel ini membahas pengertian self-management, bedanya dengan self-care, teori Lorig dan teori Ryan-Sawin, alat ukur versi Indonesia, temuan penelitian, dan cara menempatkannya dalam model penelitian.
Pengertian Self-Management
Lorig dan Holman (2003) menjelaskan bahwa pasien penyakit kronis, mau tidak mau, mengelola penyakitnya sendiri setiap hari. Pertanyaannya bukan apakah pasien melakukan self-management, melainkan seberapa baik ia melakukannya. Menurut mereka, self-management mencakup tiga tugas.
| Tugas | Isi | Contoh pada pasien diabetes |
|---|---|---|
| Manajemen medis | Mengikuti pengobatan dan perubahan perilaku yang dianjurkan | Minum obat, mengatur makan, memeriksa gula darah |
| Manajemen peran | Mempertahankan, mengubah, atau menciptakan peran baru dalam pekerjaan dan keluarga | Menyesuaikan jam kerja dengan jadwal makan dan obat |
| Manajemen emosi | Mengelola perasaan yang muncul karena penyakit | Mengatasi rasa takut komplikasi, marah, atau sedih |
Untuk menjalankan ketiga tugas itu, Lorig dan Holman (2003) menyebut lima keterampilan inti: memecahkan masalah, mengambil keputusan, memanfaatkan sumber daya, membangun kemitraan dengan tenaga kesehatan, dan mengambil tindakan. Keterampilan inilah yang dilatih dalam program edukasi self-management, misalnya membuat rencana tindakan mingguan dan mengevaluasinya.
Self-Management dan Self-Care: Apa Bedanya?
Dua istilah ini sering tertukar dalam proposal. Perbedaannya bisa diringkas sebagai berikut.
| Aspek | Self-care | Self-management |
|---|---|---|
| Cakupan | Kegiatan menjaga kesehatan, bisa pada orang sehat maupun sakit | Pengelolaan penyakit kronis sehari-hari |
| Tokoh teori | Orem; Riegel, Jaarsma, dan Strömberg (2012) | Lorig dan Holman (2003); Ryan dan Sawin (2009) |
| Fokus | Perilaku menjaga, memantau, dan merespons gejala | Perilaku medis ditambah peran sosial dan emosi, serta peran keluarga |
| Contoh variabel | Perawatan diri pasien gagal jantung | Manajemen diri pasien diabetes |
Riegel dkk. (2021) memakai istilah self-care management untuk respons terhadap gejala sebagai bagian dari self-care, sehingga tumpang tindih istilah memang tidak bisa dihindari. Yang penting, pilih satu istilah dan satu teori, lalu definisikan di Bab 2. Pembahasan teori self-care ada di artikel self-care Orem.
Teori Self-Management Individu dan Keluarga (Ryan dan Sawin)

Ryan dan Sawin (2009) mengembangkan Individual and Family Self-Management Theory. Teori ini berguna untuk menyusun kerangka konsep karena memisahkan faktor yang memengaruhi, proses, dan hasil.
| Komponen | Isi | Contoh variabel penelitian |
|---|---|---|
| Konteks | Faktor khusus penyakit, lingkungan fisik dan sosial, serta karakteristik individu dan keluarga | Lama sakit, komplikasi, akses layanan, pendidikan, literasi kesehatan |
| Proses | Pengetahuan dan keyakinan, keterampilan dan kemampuan mengatur diri, serta fasilitasi sosial | Pengetahuan, efikasi diri, dukungan keluarga |
| Hasil dekat | Perilaku self-management dan pemakaian layanan kesehatan | Skor self-management, kunjungan kontrol |
| Hasil jauh | Status kesehatan, kualitas hidup, dan biaya | HbA1c, tekanan darah, kualitas hidup |
Teori ini menempatkan keluarga sebagai bagian dari proses, bukan sekadar latar. Karena itu, teori Ryan-Sawin cocok untuk tesis yang melibatkan keluarga, misalnya intervensi edukasi pasien bersama pendamping keluarga.
Alat Ukur Self-Management
| Instrumen | Isi | Bukti dan catatan |
|---|---|---|
| Diabetes Self-Management Instrument versi Indonesia (IDN-DSMI) | 35 butir, skala 1–4, skor 35–140; lima subskala: integrasi diri, regulasi diri, interaksi dengan tenaga kesehatan dan orang terdekat, pemantauan gula darah, kepatuhan terapi | Diuji pada 222 pasien diabetes tipe 2 di Malang; alpha total 0,96, alpha subskala 0,84–0,93 (Rahayu & Chen, 2020) |
| Kuesioner self-management penyakit lain | Hipertensi, gagal jantung, PPOK, penyakit ginjal | Periksa dulu ketersediaan versi Indonesia yang sudah diuji |
| Kuesioner buatan sendiri | Disusun dari tiga tugas Lorig atau komponen Ryan-Sawin | Wajib uji validitas dan uji reliabilitas |
Hasil uji IDN-DSMI perlu dibaca dengan teliti. Model lima faktornya pada confirmatory factor analysis belum mencapai batas kecocokan yang ditetapkan peneliti sendiri (CFI 0,827; RMSEA 0,088), dan dua subskala memiliki AVE di bawah 0,5. Alpha 0,96 yang sangat tinggi juga bisa menandakan ada butir yang berulang. Bila Anda memakai instrumen ini, laporkan skor total dan sebutkan keterbatasan ini di Bab 3.
Merancang Intervensi Edukasi Self-Management
Bila tesis Anda menguji program edukasi, rancang setiap sesi agar melatih keterampilan inti Lorig, bukan hanya memberi informasi.
| Keterampilan | Contoh kegiatan dalam sesi |
|---|---|
| Memecahkan masalah | Pasien menuliskan hambatan diet, lalu mencari dua atau tiga cara mengatasinya |
| Mengambil keputusan | Latihan memutuskan tindakan saat gula darah tinggi atau rendah |
| Memanfaatkan sumber daya | Mengenali layanan puskesmas, kelompok pasien, dan informasi tepercaya |
| Bermitra dengan tenaga kesehatan | Latihan menyiapkan pertanyaan sebelum kontrol |
| Mengambil tindakan | Membuat rencana tindakan mingguan yang spesifik dan mengevaluasinya pada sesi berikutnya |
Tuliskan isi sesi, durasi, pelaksana, dan media yang dipakai di Bab 3. Rincian ini membuat intervensi bisa diulang oleh peneliti lain dan memudahkan penguji menilai kesesuaiannya dengan teori.
Apa Kata Penelitian tentang Self-Management
- Intervensi pada diabetes. Asmat dkk. (2024) menguji intervensi self-management berpusat pada pasien pada 612 orang dewasa diabetes tipe 2 di Asia Selatan. Setelah 3 bulan, HbA1c kelompok intervensi lebih rendah 0,25 poin persen (efek kecil, d = 0,16), sedangkan efikasi diri dan perilaku perawatan diri meningkat jauh lebih besar. Analisis mereka menunjukkan pengaruh intervensi terhadap HbA1c dimediasi oleh peningkatan efikasi diri dan perilaku perawatan diri.
- Intervensi pada hipertensi. Meta-analisis Liu dkk. (2025) atas 16 uji acak terkendali dengan 8.652 peserta di Tiongkok menemukan self-management menurunkan tekanan darah sistolik rata-rata 6,37 mmHg dan diastolik 4,01 mmHg. Keragaman hasil antarpenelitian sangat tinggi (I² 93–96%), sehingga besar pengaruhnya perlu dibaca hati-hati.
Pelajaran untuk tesis Anda: perubahan perilaku biasanya lebih besar dan lebih cepat terlihat daripada perubahan hasil klinis. Bila waktu penelitian pendek, tetapkan perilaku self-management sebagai hasil utama dan hasil klinis sebagai hasil tambahan.
Posisi Self-Management dalam Model Penelitian
| Posisi | Contoh rumusan | Analisis yang cocok |
|---|---|---|
| Variabel terikat | Pengaruh edukasi berbasis aplikasi terhadap self-management pasien diabetes | Uji t berpasangan atau uji Wilcoxon; uji Mann-Whitney untuk dua kelompok |
| Variabel bebas | Hubungan self-management dengan kadar HbA1c | Korelasi atau regresi |
| Variabel perantara | Efikasi diri memengaruhi kualitas hidup melalui self-management | SEM-PLS dengan uji efek tidak langsung |
| Model teori | Faktor konteks dan proses Ryan-Sawin terhadap perilaku self-management | Regresi berganda atau SEM |
Contoh hipotesis untuk model perantara:
- H1: Dukungan keluarga berpengaruh positif terhadap efikasi diri pasien hipertensi.
- H2: Efikasi diri berpengaruh positif terhadap perilaku self-management.
- H3: Perilaku self-management memediasi pengaruh efikasi diri terhadap tekanan darah.
Perilaku self-management sering memuat aktivitas fisik, diet, minum obat, dan pemantauan. Bila salah satunya menjadi fokus, misalnya kepatuhan minum obat, pertimbangkan untuk mengukurnya secara khusus.
Definisi Operasional Self-Management
| Unsur | Contoh isi |
|---|---|
| Variabel | Self-management pasien diabetes melitus tipe 2 |
| Definisi konseptual | Kemampuan pasien mengelola pengobatan, peran, dan emosi yang berkaitan dengan penyakit kronis (Lorig & Holman, 2003) |
| Definisi operasional | Skor frekuensi perilaku pengelolaan diabetes dalam 3 bulan terakhir |
| Alat ukur | IDN-DSMI, 35 butir |
| Hasil ukur | Skor 35–140; makin tinggi, makin baik self-management |
| Skala data | Interval |
Contoh Judul Penelitian Self-Management
Ide judul bisa Anda lihat di katalog judul tesis tentang kualitas hidup dan perawatan diri, judul tesis keperawatan diabetes dan endokrin, dan judul tesis keperawatan kardiovaskular.
Pola judul yang sering dipakai, misalnya:
- Pengaruh diabetes self-management education terhadap self-management dan kadar HbA1c pasien diabetes tipe 2.
- Hubungan dukungan keluarga dan efikasi diri dengan self-management pasien hipertensi.
- Self-management sebagai variabel perantara pengaruh literasi kesehatan terhadap kualitas hidup pasien penyakit ginjal kronis.
Judul di atas adalah ilustrasi pola, bukan judul penelitian yang sudah ada.
Kesalahan Umum dalam Penelitian Self-Management
- Mencampur istilah. Judul memakai self-management, Bab 2 memakai teori self-care, dan instrumen mengukur kepatuhan.
- Hanya mengukur manajemen medis. Teori Lorig juga memuat manajemen peran dan emosi.
- Mengharapkan perubahan klinis dalam waktu singkat. HbA1c dan tekanan darah butuh waktu untuk berubah.
- Melaporkan subskala tanpa memeriksa struktur faktor. Periksa dulu apakah subskala terbukti terpisah pada sampel Anda.
- Intervensi tanpa latihan keterampilan. Edukasi berupa ceramah saja jarang melatih pemecahan masalah dan pengambilan keputusan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah self-management sama dengan kepatuhan? Tidak. Kepatuhan menilai seberapa sesuai perilaku pasien dengan anjuran tenaga kesehatan. Self-management lebih luas dan menekankan peran aktif pasien dalam memecahkan masalah dan mengambil keputusan.
Teori mana yang dipakai untuk kerangka konsep? Teori Ryan-Sawin cocok bila Anda ingin menguji faktor yang memengaruhi self-management dan dampaknya. Teori Lorig cocok untuk merancang intervensi edukasi self-management.
Berapa lama intervensi self-management? Tidak ada aturan baku. Jelaskan jumlah sesi, lama setiap sesi, dan waktu pengukuran, lalu pertimbangkan waktu yang dibutuhkan hasil klinis untuk berubah.
Apakah keluarga perlu dilibatkan? Menurut teori Ryan-Sawin, keluarga bagian dari proses self-management. Melibatkan keluarga bisa memperkuat intervensi, tetapi jelaskan perannya dalam protokol.
Berapa jumlah sampel penelitian self-management? Tergantung desain dan analisis; lihat artikel teknik pengambilan sampel.
Sedang meneliti self-management pasien? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda memilih teori dan menentukan posisi variabel melalui konsultasi judul penelitian, mendampingi penyusunan proposal dan protokol intervensi melalui layanan pendampingan tesis, serta membantu analisis data, termasuk model perantara, melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.
Referensi
Asmat, K., Froelicher, E. S., Dhamani, K. A., Gul, R., & Khan, N. (2024). Effect of patient-centered self-management intervention on glycemic control, self-efficacy, and self-care behaviors in South Asian adults with type 2 diabetes mellitus: A multicenter randomized controlled trial. Journal of Diabetes, 16(9), e13611. https://doi.org/10.1111/1753-0407.13611
Liu, X., Xiao, L., Liu, H., Wang, J., Wang, W., & Zhang, Z. (2025). Effectiveness of self-management for hypertension patients and behavior changes in China: A systematic review and meta-analysis. Advances in Interventional Cardiology, 21(1), 15–24. https://doi.org/10.5114/aic.2025.147975
Lorig, K. R., & Holman, H. R. (2003). Self-management education: History, definition, outcomes, and mechanisms. Annals of Behavioral Medicine, 26(1), 1–7. https://doi.org/10.1207/S15324796ABM2601_01
Rahayu, H. T., & Chen, C.-M. (2020). Psychometric testing of an Indonesian-version diabetes self-management instrument. The Journal of Nursing Research, 28(6), e127. https://doi.org/10.1097/jnr.0000000000000403
Riegel, B., Dunbar, S. B., Fitzsimons, D., Freedland, K. E., Lee, C. S., Middleton, S., Stromberg, A., Vellone, E., Webber, D. E., & Jaarsma, T. (2021). Self-care research: Where are we now? Where are we going? International Journal of Nursing Studies, 116, 103402. https://doi.org/10.1016/j.ijnurstu.2019.103402
Riegel, B., Jaarsma, T., & Strömberg, A. (2012). A middle-range theory of self-care of chronic illness. Advances in Nursing Science, 35(3), 194–204. https://doi.org/10.1097/ANS.0b013e318261b1ba
Ryan, P., & Sawin, K. J. (2009). The Individual and Family Self-Management Theory: Background and perspectives on context, process, and outcomes. Nursing Outlook, 57(4), 217–225. https://doi.org/10.1016/j.outlook.2008.10.004
Bapak/Ibu tidak perlu khawatir.
Untuk memastikan reputasi dan keamanan sebuah website, Bapak/Ibu dapat melakukan pengecekan secara mandiri melalui platform pemeriksa reputasi website, seperti ScamAdviser dan Scamwise.
Berikut tautan yang dapat digunakan:
- ScamAdviser: https://www.scamadviser.com/check-website/idtesis.com
- Scamwise: https://scamwise.com/website-scam-checker
Kami berkomitmen untuk memberikan layanan IDTesis.com secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab. Silakan lakukan pengecekan secara mandiri agar Bapak/Ibu dapat memperoleh informasi tambahan sebelum menggunakan layanan kami.









