HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Literasi Kesehatan dalam Penelitian: Pengertian, Model Sørensen, Tingkatan Nutbeam, dan Alat Ukurnya

Literasi kesehatan (health literacy) adalah kemampuan seseorang untuk mencari, memahami, menilai, dan memakai informasi kesehatan agar bisa mengambil keputusan tentang kesehatannya. Konsep ini makin sering muncul di tesis keperawatan dan kesehatan masyarakat, karena banyak masalah, seperti ketidakpatuhan minum obat, salah memahami aturan diet, atau mudah percaya hoaks kesehatan, ternyata berakar pada kemampuan mengolah informasi, bukan sekadar kurang tahu. Artikel ini membahas pengertian literasi kesehatan, tiga tingkatan menurut Nutbeam, model 12 dimensi Sørensen, alat ukur yang sering dipakai, literasi kesehatan digital, temuan penelitian, dan cara menempatkannya dalam model penelitian.

Pengertian Literasi Kesehatan

Sørensen dkk. (2012) meninjau 17 definisi dan 12 model literasi kesehatan, lalu merumuskan definisi gabungan. Menurut mereka, literasi kesehatan berkaitan dengan literasi umum dan mencakup pengetahuan, motivasi, dan kompetensi orang untuk mengakses, memahami, menilai, dan menerapkan informasi kesehatan. Tujuannya agar orang bisa membuat penilaian dan keputusan sehari-hari tentang pelayanan kesehatan, pencegahan penyakit, dan promosi kesehatan, untuk menjaga atau meningkatkan kualitas hidup.

Definisi ini menunjukkan tiga hal penting bagi peneliti.

  • Literasi kesehatan berbeda dari pengetahuan. Pengetahuan adalah apa yang sudah diketahui. Literasi kesehatan adalah kemampuan mengolah informasi baru. Seseorang bisa tahu bahwa hipertensi berbahaya, tetapi kesulitan membaca aturan pakai obat atau menilai benar tidaknya informasi di media sosial. Pembahasan pengetahuan sebagai variabel ada di artikel tingkat pengetahuan.
  • Literasi kesehatan bukan sekadar bisa membaca. Orang berpendidikan tinggi pun bisa kesulitan menilai informasi kesehatan yang saling bertentangan.
  • Literasi kesehatan juga dipengaruhi sistem. Nutbeam dan Lloyd (2021) memandang literasi kesehatan sebagai salah satu determinan sosial kesehatan. Kemampuan seseorang ditentukan juga oleh seberapa jelas informasi dan layanan yang disediakan.

Tiga Tingkatan Literasi Kesehatan menurut Nutbeam

Nutbeam (2000) membagi literasi kesehatan menjadi tiga tingkatan. Pembagian ini berguna untuk menentukan apa yang sebenarnya ingin diukur dan diubah oleh intervensi Anda.

Tingkatan Kemampuan Contoh pada pasien diabetes
Fungsional Membaca dan memahami informasi dasar Memahami jadwal minum obat yang tertulis di etiket
Interaktif Menggali informasi, berkomunikasi, dan menerapkannya pada situasi yang berubah Bertanya kepada perawat cara menyesuaikan makan saat puasa
Kritis Menilai informasi secara kritis dan memakainya untuk mengendalikan situasi hidup Menilai klaim produk herbal “penyembuh diabetes” di media sosial

Edukasi berupa ceramah dan leaflet umumnya menyasar tingkat fungsional. Bila tujuan penelitian Anda kemampuan menilai informasi, intervensinya perlu melatih tingkat interaktif dan kritis, misalnya diskusi kasus atau latihan membandingkan sumber informasi.

Model 12 Dimensi Sørensen

Model yang paling sering dipakai untuk menyusun kuesioner adalah model integratif Sørensen dkk. (2012). Model ini memasangkan empat kemampuan mengolah informasi dengan tiga ranah kesehatan, sehingga menghasilkan 12 dimensi.

 

Kemampuan Pelayanan kesehatan Pencegahan penyakit Promosi kesehatan
Mengakses Mencari informasi tentang pengobatan Mencari informasi tentang faktor risiko Mencari informasi tentang gaya hidup sehat
Memahami Memahami penjelasan dokter tentang penyakit Memahami anjuran vaksinasi Memahami informasi gizi pada kemasan makanan
Menilai Menilai pilihan pengobatan Menilai benar tidaknya informasi risiko di media Menilai informasi tentang lingkungan yang memengaruhi kesehatan
Menerapkan Mengikuti aturan minum obat Memutuskan ikut skrining Memutuskan berolahraga atau berhenti merokok

Isi sel di atas adalah ilustrasi untuk memahami model, bukan butir instrumen resmi. Kuesioner baku memakai rumusan butirnya sendiri.

Alat Ukur Literasi Kesehatan

 

Instrumen Yang diukur Bukti dan catatan
HLS-EU-Q47 Literasi kesehatan umum menurut 12 dimensi Sørensen; 47 butir Divalidasi pada 10.024 responden di enam negara Asia, termasuk Indonesia; Cronbach’s alpha di atas 0,90 (Duong dkk., 2017)
HLS-EU-Q16 Versi pendek 16 butir Contoh adaptasi bahasa: versi Hindi dan Kannada dengan alpha 0,98 dan 0,97 (Dsouza dkk., 2021)
eHEALS Literasi kesehatan digital; 8 butir skala Likert 1–5 Versi Indonesia (I-eHEALS) dipakai pada 460 responden dewasa (Algifari dkk., 2024)
Instrumen spesifik penyakit Literasi kesehatan untuk penyakit tertentu, misalnya diabetes Periksa dulu apakah sudah ada versi Indonesia yang diuji

Pada HLS-EU-Q47, jawaban setiap butir berupa empat pilihan, dari sangat sulit sampai sangat mudah. Skor biasanya diubah menjadi indeks 0–50, lalu dibagi menjadi empat kategori: tidak memadai, bermasalah, cukup, dan sangat baik. Bila Anda memakai kategori ini, kutip batasnya dari manual instrumen yang Anda pakai, bukan dari penelitian lain.

Bila memakai versi bahasa lain atau versi pendek, lakukan proses adaptasi yang benar: terjemahan dan terjemahan balik, telaah ahli, uji coba, lalu uji validitas dan uji reliabilitas. Untuk instrumen dengan struktur dimensi yang jelas, confirmatory factor analysis menjadi cara pengujian validitas konstruk yang umum.

Literasi Kesehatan Digital

Informasi kesehatan kini banyak dicari lewat internet dan media sosial, sehingga muncul konsep literasi kesehatan digital atau eHealth literacy. Algifari dkk. (2024) menyurvei 460 orang dewasa di Indonesia secara daring pada 2022 dengan I-eHEALS. Skor rata-rata relatif tinggi (3,51 dari 5). Responden paling yakin dalam menemukan sumber informasi kesehatan di internet (rata-rata butir 4,13), tetapi paling tidak yakin dalam menilai mutu sumber itu (3,12) dan membedakan sumber bermutu tinggi dan rendah (3,19). Usia, pendidikan, pekerjaan, pendapatan keluarga, pengalaman penyakit kronis, penggunaan obat resep, dan intensitas penggunaan internet berhubungan dengan skor literasi digital.

Temuan ini cocok dengan tingkatan Nutbeam: kemampuan mengakses informasi sudah baik, tetapi kemampuan menilai, yang termasuk tingkat kritis, masih lemah. Penelitian dengan responden muda dan sampel daring perlu menyadari bahwa hasilnya belum tentu mewakili kelompok lansia atau masyarakat yang jarang memakai internet.

Apa Kata Penelitian tentang Literasi Kesehatan

  • Intervensi literasi kesehatan pada diabetes. Ran dkk. (2022) menggabungkan 21 penelitian dengan 3.402 peserta. Intervensi literasi kesehatan menurunkan HbA1c lebih besar daripada perawatan biasa (selisih rata-rata ?0,78) dengan kepastian bukti sedang. Kepatuhan minum obat dan efikasi diri juga membaik, tetapi kepastian buktinya rendah sampai sangat rendah. Tekanan darah sistolik tidak berbeda bermakna.
  • Literasi kesehatan sebagai determinan sosial. Nutbeam dan Lloyd (2021) menekankan bahwa upaya meningkatkan literasi kesehatan perlu dilakukan di tingkat individu, komunitas, dan sistem layanan, misalnya dengan menyederhanakan bahasa informasi dan alur layanan.

Pelajaran untuk tesis Anda: bila literasi kesehatan menjadi variabel terikat, pastikan intervensi Anda memang melatih kemampuan mengolah informasi, bukan hanya memberi informasi. Bila menjadi variabel bebas, pertimbangkan faktor sosial ekonomi sebagai variabel kontrol.

Posisi Literasi Kesehatan dalam Model Penelitian

 

Posisi Contoh rumusan Analisis yang cocok
Variabel bebas Hubungan literasi kesehatan dengan kepatuhan minum obat pasien hipertensi Korelasi, regresi, atau regresi logistik bila kepatuhan dikategorikan
Variabel terikat Pengaruh edukasi berbasis diskusi terhadap literasi kesehatan remaja Uji t berpasangan atau uji Wilcoxon
Variabel perantara Pendidikan memengaruhi perawatan diri melalui literasi kesehatan SEM-PLS dengan uji efek tidak langsung
Variabel pemoderasi Literasi kesehatan memperkuat pengaruh edukasi terhadap pengetahuan Regresi dengan interaksi atau moderasi di SmartPLS

Contoh hipotesis untuk model perantara:

  1. H1: Literasi kesehatan berpengaruh positif terhadap efikasi diri pasien diabetes.
  2. H2: Efikasi diri berpengaruh positif terhadap perilaku manajemen diri.
  3. H3: Efikasi diri memediasi pengaruh literasi kesehatan terhadap perilaku manajemen diri.

Manajemen diri penyakit kronis dibahas di artikel self-management.

Definisi Operasional Literasi Kesehatan

 

Unsur Contoh isi
Variabel Literasi kesehatan pasien hipertensi
Definisi konseptual Kemampuan mengakses, memahami, menilai, dan menerapkan informasi kesehatan untuk mengambil keputusan (Sørensen dkk., 2012)
Definisi operasional Skor jawaban responden pada kuesioner literasi kesehatan tentang kemudahan mengolah informasi kesehatan
Alat ukur HLS-EU-Q16 versi Indonesia yang sudah diuji
Hasil ukur Skor total atau indeks; makin tinggi, makin baik literasi kesehatan
Skala data Interval, atau ordinal bila dikategorikan

Contoh Judul Penelitian Literasi Kesehatan

Ide judul bisa Anda lihat di katalog judul tesis edukasi, pengetahuan, dan promosi kesehatan, judul tesis kepatuhan dan perilaku kesehatan, dan judul tesis keperawatan diabetes dan endokrin.

Pola judul yang sering dipakai, misalnya:

  • Hubungan literasi kesehatan dengan kepatuhan minum obat pada pasien hipertensi di puskesmas.
  • Pengaruh edukasi berbasis aplikasi terhadap literasi kesehatan digital remaja.
  • Literasi kesehatan sebagai variabel perantara pengaruh pendidikan terhadap perawatan diri pasien diabetes.

Judul di atas adalah ilustrasi pola, bukan judul penelitian yang sudah ada.

Kesalahan Umum dalam Penelitian Literasi Kesehatan

  • Menyamakan literasi kesehatan dengan pengetahuan. Kuesioner benar-salah tentang penyakit mengukur pengetahuan, bukan literasi kesehatan.
  • Memakai versi terjemahan tanpa uji ulang. Instrumen dari bahasa lain perlu diadaptasi dan diuji pada populasi Anda.
  • Kategori tanpa sumber. Batas kategori harus diambil dari manual instrumen yang dipakai.
  • Intervensi tidak sesuai tingkatan. Leaflet saja jarang cukup untuk meningkatkan kemampuan menilai informasi.
  • Mengabaikan faktor sosial ekonomi. Pendidikan, pendapatan, dan akses internet berhubungan dengan literasi kesehatan, sehingga perlu dipertimbangkan sebagai variabel kontrol.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apa bedanya literasi kesehatan dan pengetahuan kesehatan? Pengetahuan adalah informasi yang sudah dimiliki. Literasi kesehatan adalah kemampuan mencari, memahami, menilai, dan memakai informasi, termasuk informasi baru.

HLS-EU-Q47 atau versi pendek? Versi 47 butir lebih lengkap untuk survei populasi. Versi pendek lebih praktis untuk pasien di layanan kesehatan. Pilih versi yang sudah diuji dalam bahasa dan populasi yang mirip dengan responden Anda.

Apakah literasi kesehatan bisa diukur pada lansia yang sulit membaca? Bisa, dengan wawancara terstruktur. Bacakan butir dengan kalimat yang sama untuk setiap responden dan catat cara pengisian di Bab 3.

Bolehkah literasi kesehatan digital dipakai untuk semua responden? Hanya untuk responden yang memakai internet untuk mencari informasi kesehatan. Untuk populasi yang jarang memakai internet, ukur literasi kesehatan umum.

Berapa jumlah sampel penelitian literasi kesehatan? Tergantung desain dan analisis. Jelaskan dasar penentuannya di Bab 3; lihat artikel teknik pengambilan sampel.

Sedang meneliti literasi kesehatan? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda memilih instrumen dan menentukan posisi variabel melalui konsultasi judul penelitian, mendampingi penyusunan proposal dan proses adaptasi kuesioner melalui layanan pendampingan tesis, serta membantu uji validitas, reliabilitas, dan analisis data melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.

Referensi

Algifari, M. H., Zachary, L., Yuliani, R. P., Aditama, H., & Kristina, S. A. (2024). Digital health literacy and its associated factors in general population in Indonesia. Indonesian Journal of Pharmacy, 35(2), 355–362. https://doi.org/10.22146/ijp.5640

Dsouza, J. P., Van den Broucke, S., & Pattanshetty, S. (2021). Validity and reliability of the Indian version of the HLS-EU-Q16 questionnaire. International Journal of Environmental Research and Public Health, 18(2), 495.

Duong, T. V., Aringazina, A., Baisunova, G., Nurjanah, Pham, T. V., Pham, K. M., dkk. (2017). Measuring health literacy in Asia: Validation of the HLS-EU-Q47 survey tool in six Asian countries. Journal of Epidemiology, 27(2), 80–86. https://doi.org/10.1016/j.je.2016.09.005

Nutbeam, D. (2000). Health literacy as a public health goal: A challenge for contemporary health education and communication strategies into the 21st century. Health Promotion International, 15(3), 259–267. https://doi.org/10.1093/heapro/15.3.259

Nutbeam, D., & Lloyd, J. E. (2021). Understanding and responding to health literacy as a social determinant of health. Annual Review of Public Health, 42, 159–173. https://doi.org/10.1146/annurev-publhealth-090419-102529

Ran, X., Chen, Y., Jiang, K., & Shi, Y. (2022). The effect of health literacy intervention on patients with diabetes: A systematic review and meta-analysis. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(20), 13078. https://doi.org/10.3390/ijerph192013078

Sørensen, K., Van den Broucke, S., Fullam, J., Doyle, G., Pelikan, J., Slonska, Z., & Brand, H. (2012). Health literacy and public health: A systematic review and integration of definitions and models. BMC Public Health, 12, 80. https://doi.org/10.1186/1471-2458-12-80

 

Bapak/Ibu tidak perlu khawatir.

Untuk memastikan reputasi dan keamanan sebuah website, Bapak/Ibu dapat melakukan pengecekan secara mandiri melalui platform pemeriksa reputasi website, seperti ScamAdviser dan Scamwise.

Berikut tautan yang dapat digunakan:

Kami berkomitmen untuk memberikan layanan IDTesis.com secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab. Silakan lakukan pengecekan secara mandiri agar Bapak/Ibu dapat memperoleh informasi tambahan sebelum menggunakan layanan kami.