Minat beli adalah kecenderungan atau niat konsumen untuk membeli suatu produk atau jasa di masa depan. Dalam penelitian pemasaran, minat beli sering dipakai sebagai variabel terikat karena lebih mudah diukur daripada pembelian yang sebenarnya, terutama untuk produk baru, belanja daring, atau produk yang belum pernah dibeli responden. Artikel ini membahas pengertian minat beli, teori yang mendasarinya, indikator yang banyak dipakai di Indonesia, faktor yang memengaruhinya, serta contoh model penelitian.
Pengertian Minat Beli
Dalam bahasa Inggris, minat beli disebut purchase intention. Intinya adalah niat: konsumen belum membeli, tetapi sudah punya kecenderungan untuk membeli. Karena itu, minat beli berada di antara sikap terhadap produk dan keputusan pembelian.
Kotler dkk. (2022) menjelaskan bahwa sebelum membeli, konsumen biasanya melewati tahap pengenalan kebutuhan, pencarian informasi, dan evaluasi alternatif. Minat beli terbentuk di ujung tahap evaluasi, ketika konsumen sudah cenderung memilih satu merek. Namun, niat tidak selalu berujung pada pembelian. Harga yang berubah, stok yang habis, atau pendapat orang lain bisa membuat konsumen batal membeli.
| Konsep | Yang diukur | Contoh pertanyaan |
|---|---|---|
| Preferensi konsumen |
Urutan kesukaan terhadap pilihan |
“Merek mana yang paling Anda sukai?” |
| Minat beli |
Niat untuk membeli di masa depan |
“Saya berencana membeli produk ini dalam waktu dekat.” |
| Keputusan pembelian |
Pembelian yang sudah dilakukan |
“Saya membeli produk ini karena kualitasnya.” |
| Minat beli ulang . |
Niat membeli lagi setelah pernah membeli |
“Saya akan membeli lagi produk ini.” |
Perbedaan ini penting untuk memilih responden. Bila Anda meneliti minat beli, responden tidak harus pernah membeli. Bila Anda meneliti keputusan pembelian atau minat beli ulang, responden harus sudah pernah membeli.
Teori yang Mendasari Minat Beli
Teori yang paling sering dipakai untuk menjelaskan minat beli adalah Theory of Planned Behavior (TPB) dari Ajzen (1991). TPB menyatakan bahwa perilaku ditentukan oleh niat, dan niat dibentuk oleh tiga hal: sikap terhadap perilaku, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku. Teori ini terus dikembangkan dan diterapkan di berbagai bidang, seperti dirangkum Bosnjak dkk. (2020).

| Komponen TPB | Artinya dalam konteks pembelian | Contoh butir (ilustrasi) |
|---|---|---|
| Sikap | Penilaian konsumen bahwa membeli produk itu baik atau menguntungkan | “Membeli produk ini adalah keputusan yang bijak.” |
| Norma subjektif | Pengaruh orang-orang penting di sekitar konsumen | “Orang-orang terdekat saya menyarankan produk ini.” |
| Persepsi kontrol perilaku | Keyakinan bahwa konsumen mampu membeli (uang, akses, kemudahan) | “Saya mampu membeli produk ini bila saya mau.” |
Pembahasan lebih lengkap tentang TPB ada di artikel teori Theory of Planned Behaviour. Untuk produk teknologi atau belanja daring, peneliti juga sering memakai Technology Acceptance Model (TAM), yang menjelaskan niat dari persepsi kegunaan dan kemudahan. Teori lain yang relevan dirangkum di artikel 20 grand teori penelitian pemasaran.
Indikator Minat Beli
Di Indonesia, banyak penelitian memakai empat indikator minat beli berikut, seperti dalam penelitian Wulandari dkk. (2021) pada konsumen belanja daring di Yogyakarta.
| Indikator | Artinya | Contoh butir (ilustrasi) |
|---|---|---|
| Minat transaksional | Kecenderungan untuk membeli produk | “Saya ingin membeli produk ini.” |
| Minat referensial | Kecenderungan merekomendasikan produk kepada orang lain | “Saya akan menyarankan produk ini kepada teman.” |
| Minat preferensial | Menjadikan produk sebagai pilihan utama | “Produk ini menjadi pilihan pertama saya dibanding merek lain.” |
| Minat eksploratif | Keinginan mencari informasi lebih lanjut tentang produk | “Saya mencari informasi lebih banyak tentang produk ini.” |
Pada penelitian Wulandari dkk. (2021), minat preferensial (70%) dan referensial (69%) tergolong sangat tinggi, sedangkan minat transaksional hanya 34%. Pola ini menarik: konsumen bisa menyukai dan merekomendasikan suatu platform tanpa langsung berniat membeli. Alternatif lain adalah memakai butir niat dari kerangka TPB, misalnya “Saya berniat membeli produk ini dalam tiga bulan ke depan”.
Faktor yang Memengaruhi Minat Beli
| Faktor | Arah hubungan | Bukti penelitian |
|---|---|---|
| Sikap, norma subjektif, kontrol perilaku | Positif (komponen TPB) | Ajzen (1991); Bosnjak dkk. (2020) |
| Pengaruh influencer media sosial | Positif | Brigin dkk. (2026) |
| Kepercayaan daring | Positif; juga menjadi mediator | Brigin dkk. (2026) |
| Persepsi kegunaan (TAM) | Positif | Brigin dkk. (2026) |
| Ulasan dan rekomendasi daring (e-WOM) | Memengaruhi minat beli melalui kepercayaan daring | Brigin dkk. (2026) |
Faktor pemasaran lain yang sering diteliti adalah citra merek, kesadaran merek, harga, dan promosi. Peran ulasan konsumen dibahas lebih lengkap di artikel electronic word of mouth.
Temuan Brigin dkk. (2026) juga menunjukkan bahwa tidak semua faktor bekerja langsung. Ulasan daring baru memengaruhi minat beli ketika konsumen sudah percaya pada penjual atau platform. Karena itu, dalam merancang model, pikirkan urutan prosesnya: faktor mana yang membentuk penilaian konsumen lebih dulu, dan faktor mana yang langsung mendorong niat membeli. Urutan ini menentukan apakah sebuah variabel lebih tepat diletakkan sebagai variabel bebas, variabel intervening, atau variabel moderasi. Pemilihan posisi variabel sebaiknya selalu dijelaskan dengan teori dan hasil penelitian terdahulu, bukan sekadar mengikuti model yang sudah ada.
Definisi Operasional Minat Beli

Bila Anda memakai empat indikator ini, perhatikan bahwa minat referensial mirip dengan niat merekomendasikan. Pastikan tidak ada variabel lain dalam model Anda, misalnya word of mouth, yang butirnya sama persis. Uji validitas dan reliabilitas akan membantu menemukan butir yang tumpang tindih.
Contoh Model Penelitian Minat Beli
Model berikut mengikuti pola Brigin dkk. (2026), dengan kepercayaan daring sebagai variabel intervening:
- H1: Pengaruh influencer media sosial berpengaruh positif terhadap kepercayaan daring.
- H2: Kepercayaan daring berpengaruh positif terhadap minat beli.
- H3: Pengaruh influencer media sosial berpengaruh positif terhadap minat beli.
- H4: Kepercayaan daring memediasi pengaruh influencer terhadap minat beli.
Model ini lazim dianalisis dengan SEM-PLS. Cara menguji efek tidak langsung (H4) dijelaskan di artikel variabel intervening di SmartPLS.
Variasi lain adalah model TPB murni: sikap, norma subjektif, dan persepsi kontrol perilaku sebagai variabel bebas, minat beli sebagai variabel terikat. Model ini sederhana tetapi kuat secara teori, sehingga cocok untuk skripsi.
Contoh Penelitian Minat Beli

Ide topik lain bisa Anda lihat di daftar judul tesis manajemen pemasaran.
Cara Membahas Hasil Penelitian Minat Beli
- Bandingkan skor tiap indikator. Seperti pada Wulandari dkk. (2021), indikator dengan skor terendah sering menjadi pesan utama bagi pelaku usaha. Minat transaksional yang rendah, misalnya, menandakan konsumen tertarik tetapi belum siap membeli.
- Kaitkan dengan teori. Bila norma subjektif berpengaruh kuat, artinya rekomendasi orang lain penting, sehingga strategi pemasaran sebaiknya memanfaatkan ulasan dan rujukan pelanggan.
- Akui jarak antara niat dan perilaku. Minat beli belum tentu menjadi pembelian. Sebutkan hal ini di keterbatasan dan sarankan penelitian lanjutan yang mengukur pembelian sebenarnya.
- Berikan saran yang spesifik. Misalnya, bila kepercayaan daring menjadi mediator, sarankan penguatan ulasan terverifikasi dan kebijakan pengembalian barang yang jelas.
Kesalahan Umum dalam Penelitian Minat Beli
- Responden tidak sesuai. Meneliti minat beli pada konsumen yang sudah rutin membeli sebenarnya lebih tepat disebut minat beli ulang atau loyalitas.
- Mencampur minat beli dan keputusan pembelian. Butir “Saya membeli produk ini karena…” mengukur keputusan, bukan minat.
- Teori tidak disebut. Model minat beli tanpa dasar teori seperti TPB atau TAM mudah dipertanyakan penguji. Sebutkan teori yang menjelaskan mengapa variabel bebas Anda memengaruhi niat.
- Klaim sebab-akibat dari survei. Data survei sekali ambil menunjukkan hubungan statistik, bukan bukti sebab-akibat.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa bedanya minat beli dan keputusan pembelian? Minat beli adalah niat untuk membeli di masa depan, sedangkan keputusan pembelian adalah pembelian yang sudah terjadi. Respondennya juga berbeda: minat beli bisa ditanyakan kepada calon konsumen, keputusan pembelian hanya kepada konsumen yang sudah membeli.
Indikator minat beli apa yang paling tepat? Empat indikator (transaksional, referensial, preferensial, eksploratif) banyak dipakai di Indonesia. Bila Anda memakai TPB sebagai dasar teori, butir niat ala TPB lebih konsisten dengan teorinya. Yang penting, indikator sejalan dengan definisi di Bab 2.
Apakah minat beli bisa menjadi variabel intervening? Bisa, misalnya antara citra merek dan keputusan pembelian. Namun, pastikan responden sudah pernah membeli agar variabel keputusan pembelian bisa diukur.
Teori apa yang cocok untuk penelitian minat beli secara daring? TPB dan TAM paling sering dipakai. TAM cocok bila fokusnya pada aplikasi atau platform, sedangkan TPB cocok bila fokusnya pada pengaruh sosial dan kemampuan membeli.
Apakah minat beli sama dengan minat beli ulang? Tidak. Minat beli ulang (repurchase intention) diukur pada konsumen yang sudah pernah membeli dan lebih dekat dengan konsep loyalitas. Bila responden Anda pelanggan lama, gunakan istilah dan butir minat beli ulang agar konsisten.
Berapa jumlah responden yang dibutuhkan? Sesuaikan dengan populasi dan teknik analisis. Jelaskan dasar penentuan sampel di Bab 3; lihat artikel teknik pengambilan sampel.
Sedang meneliti minat beli atau perilaku konsumen lain? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda memilih teori dan merumuskan model melalui konsultasi judul dan metode penelitian, mendampingi penyusunan kuesioner dan Bab 3 melalui layanan pendampingan skripsi dan tesis, serta membantu analisis SEM-PLS melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.
Referensi
Ajzen, I. (1991). The theory of planned behavior. Organizational Behavior and Human Decision Processes, 50(2), 179–211. https://doi.org/10.1016/0749-5978(91)90020-T
Bosnjak, M., Ajzen, I., & Schmidt, P. (2020). The theory of planned behavior: Selected recent advances and applications. Europe’s Journal of Psychology, 16(3), 352–356. https://doi.org/10.5964/ejop.v16i3.3107
Brigin, A. F., Suroso, A. I., & Wulandari, R. (2026). Factors influencing purchase intention on MSME product: Social media influencers, e-WOM, online trust, and the TAM model impact on millenials and Gen Z in Jabodetabek. Jurnal Aplikasi Bisnis dan Manajemen, 12(2), 748. https://doi.org/10.17358/jabm.12.2.748
Kotler, P., Keller, K. L., & Chernev, A. (2022). Marketing management (16th global ed.). Pearson Education.
Wulandari, A., Wahyuni, D. P., & Nastain, M. (2021). Consumer buying interest: Survey of Shopee consumers in Yogyakarta. JCommsci: Journal of Media and Communication Science, 4(3), 123–134. https://doi.org/10.29303/jcommsci.v4i3.152








