Keselamatan pasien adalah upaya sistematis agar pelayanan kesehatan tidak menimbulkan cedera yang sebenarnya bisa dicegah. Topik ini banyak diteliti di tesis keperawatan, manajemen rumah sakit, dan kesehatan masyarakat, misalnya pelaksanaan sasaran keselamatan pasien, budaya keselamatan, pelaporan insiden, atau faktor yang memengaruhi kepatuhan perawat terhadap prosedur. Karena istilahnya banyak dan diatur dalam peraturan, kesalahan yang sering terjadi adalah memakai istilah insiden secara tertukar atau mengukur budaya keselamatan dengan kuesioner yang sebenarnya mengukur pengetahuan. Artikel ini membahas pengertian keselamatan pasien, enam sasaran dan jenis insiden, budaya keselamatan, alat ukur, temuan penelitian, dan cara menempatkannya dalam model penelitian.
Pengertian dan Besarnya Masalah
World Health Organization (2021) menetapkan Rencana Aksi Keselamatan Pasien Global 2021–2030 dengan tujuan menghilangkan cedera yang dapat dihindari dalam pelayanan kesehatan. Rencana ini menempatkan keselamatan pasien sebagai tanggung jawab sistem, bukan hanya individu tenaga kesehatan.
Besarnya masalah terlihat dari meta-analisis Panagioti dkk. (2019) atas 70 penelitian: sekitar 6% pasien yang menerima pelayanan medis mengalami cedera yang sebenarnya bisa dicegah. Cedera terkait obat, diagnosis, infeksi terkait pelayanan kesehatan, dan prosedur merupakan bagian yang besar dari cedera yang dapat dicegah itu.
Di Indonesia, keselamatan pasien diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2017). Peraturan ini mendefinisikan insiden sebagai setiap kejadian yang tidak disengaja dan kondisi yang mengakibatkan atau berpotensi mengakibatkan cedera yang dapat dicegah pada pasien.
Jenis Insiden Keselamatan Pasien

| Jenis insiden | Arti | Contoh |
|---|---|---|
| Kondisi potensial cedera (KPC) | Kondisi yang sangat berpotensi menimbulkan cedera, tetapi belum terjadi insiden | Lantai licin tanpa tanda peringatan |
| Kejadian nyaris cedera (KNC) | Insiden yang belum sampai terpapar ke pasien | Obat yang salah disiapkan, tetapi diketahui sebelum diberikan |
| Kejadian tidak cedera (KTC) | Insiden yang sudah terpapar ke pasien, tetapi tidak menimbulkan cedera | Obat yang salah terminum, tetapi tidak menimbulkan akibat |
| Kejadian tidak diharapkan (KTD) | Insiden yang mengakibatkan cedera pada pasien | Pasien jatuh dan mengalami luka |
| Sentinel | KTD yang mengakibatkan kematian, cedera permanen, atau cedera berat yang sementara | Salah sisi operasi |
Dalam penelitian, jenis insiden ini sering dipakai sebagai variabel terikat (jumlah atau ada tidaknya insiden) atau sebagai kategori dalam analisis laporan insiden. Tetapkan sejak awal jenis insiden yang Anda hitung dan sumber datanya, misalnya laporan insiden resmi atau observasi.
Enam Sasaran Keselamatan Pasien
| Sasaran | Isi | Contoh indikator penelitian |
|---|---|---|
| 1 | Mengidentifikasi pasien dengan benar | Kepatuhan memakai dua identitas sebelum tindakan |
| 2 | Meningkatkan komunikasi yang efektif | Pelaksanaan komunikasi serah terima dan konfirmasi instruksi lisan |
| 3 | Meningkatkan keamanan obat yang perlu diwaspadai | Penyimpanan dan pemberian obat high alert |
| 4 | Memastikan lokasi, prosedur, dan pasien operasi yang benar | Pelaksanaan daftar tilik keselamatan operasi |
| 5 | Mengurangi risiko infeksi terkait pelayanan kesehatan | Kepatuhan kebersihan tangan |
| 6 | Mengurangi risiko cedera pasien akibat jatuh | Pengkajian risiko jatuh dan pemasangan penanda |
Banyak tesis memilih satu sasaran, misalnya kepatuhan cuci tangan atau pencegahan jatuh, karena lebih mudah diukur secara rinci. Pilihan ini sah, asalkan judul dan kesimpulan tidak mengklaim “keselamatan pasien” secara umum.
Budaya Keselamatan Pasien dan Alat Ukurnya
Budaya keselamatan adalah nilai, sikap, dan kebiasaan bersama di unit kerja yang menentukan seberapa serius keselamatan diperlakukan, termasuk apakah petugas merasa aman melaporkan kesalahan. Instrumen yang paling sering dipakai adalah Hospital Survey on Patient Safety Culture (HSOPSC) dari Agency for Healthcare Research and Quality (Sorra & Nieva, 2004).
| Aspek | Keterangan |
|---|---|
| Versi 1.0 | 42 butir pada 12 dimensi, skala Likert |
| Versi 2.0 | Versi yang diperbarui dan lebih ringkas; periksa dulu ketersediaan versi Indonesianya |
| Cara skoring | Persentase respons positif per dimensi |
| Contoh dimensi | Kerja sama dalam unit, harapan dan tindakan atasan, respons tidak menghukum terhadap kesalahan, kecukupan staf, pembelajaran organisasi |
Hasil HSOPSC biasanya dilaporkan per dimensi, bukan hanya sebagai satu skor total, karena tujuan utamanya menemukan dimensi yang lemah. Bila memakai versi Indonesia, sebutkan versinya dan sumber uji validitasnya. Untuk kuesioner buatan sendiri, lakukan uji validitas dan uji reliabilitas, dan bila dimensinya jelas, confirmatory factor analysis.
Apa Kata Penelitian tentang Keselamatan Pasien
- Budaya keselamatan di rumah sakit umum daerah. Kartikasari dkk. (2023) menyurvei 238 dokter, perawat, bidan, dan tenaga farmasi di sebuah rumah sakit umum daerah di Lombok Timur dengan HSOPSC. Respons positif keseluruhan 70,34%. Dimensi terkuat adalah pembelajaran organisasi (91,3%) dan kerja sama dalam unit (87,7%). Dimensi terlemah adalah kecukupan staf (42,5%); 69,3% responden bekerja 40–59 jam per minggu. Respons tidak menghukum terhadap kesalahan berada pada tingkat sedang (53,6%).
- Mengapa insiden jarang dilaporkan. Pramesona dkk. (2023) mewawancarai 15 perawat di rumah sakit umum di Lampung. Mereka menemukan tujuh tema penyebab rendahnya pelaporan insiden, antara lain pemahaman tentang pelaporan, budaya kerja, kekhawatiran akan akibat melapor, pelatihan, fasilitas, umpan balik, serta penghargaan dan hukuman.
- Asuhan yang terlewat dan keselamatan. Tinjauan sistematis Uchmanowicz dkk. (2024) menghubungkan pengurangan asuhan keperawatan dengan keselamatan pasien, dan pengurangan itu berkaitan dengan beban kerja dan jumlah staf.
Pelajaran untuk tesis Anda: angka insiden yang rendah di laporan belum tentu berarti pelayanan aman, karena banyak insiden tidak dilaporkan. Bila memakai data laporan insiden, sebutkan keterbatasan ini dan pertimbangkan sumber data tambahan.
Posisi Keselamatan Pasien dalam Model Penelitian
| Posisi | Contoh rumusan | Analisis yang cocok |
|---|---|---|
| Variabel terikat | Pengaruh supervisi kepala ruang terhadap kepatuhan perawat pada sasaran keselamatan pasien | Regresi atau regresi logistik bila kepatuhan dikategorikan |
| Variabel bebas | Hubungan budaya keselamatan dengan pelaporan insiden | Korelasi atau chi-square |
| Variabel terikat pada eksperimen | Pengaruh pelatihan komunikasi serah terima terhadap insiden komunikasi | Uji sebelum dan sesudah, misalnya uji Wilcoxon |
| Model perantara | Beban kerja memengaruhi insiden melalui asuhan yang terlewat | SEM-PLS dengan uji efek tidak langsung |
| Kualitatif | Pengalaman perawat dalam melaporkan insiden | Wawancara mendalam dan analisis tematik |
Untuk penelitian kualitatif, panduan wawancara bisa dilihat di artikel in-depth interview dalam penelitian kualitatif. Variabel lain yang sering dikaitkan adalah beban kerja perawat, burnout perawat, dan kepuasan pasien.
Definisi Operasional Kepatuhan Sasaran Keselamatan Pasien
| Unsur | Contoh isi |
|---|---|
| Variabel | Kepatuhan perawat pada sasaran keselamatan pasien ke-6 (pencegahan jatuh) |
| Definisi konseptual | Pelaksanaan langkah pencegahan cedera akibat jatuh sesuai standar rumah sakit dan Permenkes 11/2017 |
| Definisi operasional | Jumlah langkah pencegahan jatuh yang dilakukan perawat pada pasien berisiko, menurut lembar observasi |
| Alat ukur | Lembar observasi berisi langkah pengkajian risiko jatuh, penanda, edukasi, dan pengamanan tempat tidur |
| Hasil ukur | Persentase langkah yang dilakukan; atau kategori patuh dan tidak patuh dengan batas yang dijelaskan |
| Skala data | Rasio, atau nominal bila dikategorikan |
Bila memakai observasi, siapkan panduan pengamatan dan uji kesepakatan antarpengamat, misalnya dengan uji kappa. Jelaskan juga cara mengurangi perubahan perilaku karena perawat tahu sedang diamati.
Etika dan Kerahasiaan dalam Penelitian Keselamatan Pasien
Data keselamatan pasien sensitif, baik bagi pasien maupun petugas. Beberapa langkah perlu dituliskan sejak proposal.
- Izin resmi. Minta izin komite etik dan manajemen rumah sakit, termasuk komite mutu dan keselamatan pasien bila data insiden dipakai.
- Hilangkan identitas. Data laporan insiden diolah tanpa nama pasien, nama petugas, dan nomor rekam medis.
- Tidak untuk menyalahkan. Jelaskan kepada responden bahwa hasil penelitian tidak dipakai untuk menilai atau menghukum individu. Hal ini penting agar jawaban tentang kesalahan dan pelaporan lebih jujur.
- Prosedur bila menemukan bahaya. Bila saat observasi peneliti melihat kondisi yang membahayakan pasien, tetapkan prosedur untuk menyampaikannya kepada penanggung jawab ruangan.
Contoh Judul Penelitian Keselamatan Pasien
Ide judul bisa Anda lihat di katalog judul tesis manajemen keperawatan dan mutu pelayanan, judul tesis keperawatan gawat darurat dan kritis, dan judul tesis rekam medis, informasi kesehatan, dan administrasi.
Pola judul yang sering dipakai, misalnya:
- Hubungan budaya keselamatan pasien dengan pelaporan insiden oleh perawat.
- Pengaruh pelatihan komunikasi SBAR terhadap mutu serah terima pasien.
- Faktor yang berhubungan dengan kepatuhan perawat dalam pencegahan pasien jatuh.
Judul di atas adalah ilustrasi pola, bukan judul penelitian yang sudah ada.
Kesalahan Umum dalam Penelitian Keselamatan Pasien
- Menukar istilah insiden. KNC dan KTC sering tertukar; ikuti definisi peraturan.
- Mengukur pengetahuan tetapi menyebutnya budaya keselamatan. Budaya diukur dari persepsi bersama, bukan jawaban benar dan salah.
- Menganggap laporan insiden lengkap. Pelaporan sering rendah, sehingga angka laporan bisa meremehkan masalah.
- Hanya melaporkan skor total HSOPSC. Kekuatan instrumen ini ada pada profil per dimensi.
- Klaim terlalu luas. Penelitian satu sasaran tidak bisa menyimpulkan keselamatan pasien secara keseluruhan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa bedanya KTD dan sentinel? Sentinel adalah KTD yang berat, yaitu yang mengakibatkan kematian, cedera permanen, atau cedera berat yang sementara.
Apakah HSOPSC bisa diisi perawat saja? Bisa, asalkan populasi penelitian dijelaskan. Hasilnya menggambarkan budaya keselamatan menurut perawat, bukan seluruh tenaga kesehatan.
Observasi atau kuesioner untuk kepatuhan? Observasi lebih menggambarkan perilaku nyata, sedangkan kuesioner rentan jawaban yang dianggap baik. Bila memakai kuesioner, sebutkan keterbatasan ini.
Bolehkah memakai data insiden dari rumah sakit? Boleh dengan izin dan menjaga kerahasiaan. Data insiden bersifat sensitif, sehingga identitas pasien dan petugas harus dihilangkan.
Apa yang dimaksud respons tidak menghukum terhadap kesalahan? Dimensi ini menilai apakah petugas merasa kesalahan mereka diperlakukan sebagai bahan perbaikan sistem, bukan alasan untuk disalahkan. Dimensi ini penting karena berkaitan dengan kesediaan melapor. Pada penelitian Kartikasari dkk. (2023), dimensi ini berada pada tingkat sedang, sejalan dengan tema kekhawatiran akan akibat melapor yang ditemukan Pramesona dkk. (2023).
Berapa jumlah sampel penelitian keselamatan pasien? Tergantung desain dan analisis; lihat artikel teknik pengambilan sampel.
Sedang meneliti keselamatan pasien? Sejak 2007, IDTesis mendampingi mahasiswa S1, S2, dan S3 menyusun penelitian. Kami bisa membantu Anda memilih fokus sasaran dan sumber data melalui konsultasi judul penelitian, mendampingi penyusunan proposal, lembar observasi, dan izin penelitian melalui layanan pendampingan tesis, serta membantu analisis data survei budaya keselamatan atau data observasi melalui layanan olah data statistik. Pendampingan berfokus pada pemahaman Anda, sehingga Anda siap mempertanggungjawabkan hasilnya di depan penguji.
Referensi
Kartikasari, B. K., Samirah, & Zairina, E. (2023). The assessment of patient safety culture among doctors, nurses, and pharmacists in a public hospital in Indonesia. Jurnal Manajemen dan Pelayanan Farmasi, 13(2), 104–112. https://doi.org/10.22146/jmpf.83575
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2017). Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2017 tentang Keselamatan Pasien. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Panagioti, M., Khan, K., Keers, R. N., dkk. (2019). Prevalence, severity, and nature of preventable patient harm across medical care settings: Systematic review and meta-analysis. BMJ, 366, l4185. https://doi.org/10.1136/bmj.l4185
Pramesona, B. A., Sukohar, A., Taneepanichskul, S., & Rasyid, M. F. A. (2023). A qualitative study of the reasons for low patient safety incident reporting among Indonesian nurses. Revista Brasileira de Enfermagem. https://doi.org/10.1590/0034-7167-2022-0583
Sorra, J. S., & Nieva, V. F. (2004). Hospital survey on patient safety culture (AHRQ Publication No. 04-0041). Agency for Healthcare Research and Quality.
Uchmanowicz, I., Lisiak, M., Wleklik, M., Pawlak, A. M., Zborowska, A., Sta?czykiewicz, B., Ross, C., Czapla, M., & Juárez-Vela, R. (2024). The impact of rationing nursing care on patient safety: A systematic review. Medical Science Monitor, 30, e942031. https://doi.org/10.12659/MSM.942031
World Health Organization. (2021). Global patient safety action plan 2021–2030: Towards eliminating avoidable harm in health care. World Health Organization.
Bapak/Ibu tidak perlu khawatir.
Untuk memastikan reputasi dan keamanan sebuah website, Bapak/Ibu dapat melakukan pengecekan secara mandiri melalui platform pemeriksa reputasi website, seperti ScamAdviser dan Scamwise.
Berikut tautan yang dapat digunakan:
- ScamAdviser: https://www.scamadviser.com/check-website/idtesis.com
- Scamwise: https://scamwise.com/website-scam-checker
Kami berkomitmen untuk memberikan layanan IDTesis.com secara profesional, transparan, dan bertanggung jawab. Silakan lakukan pengecekan secara mandiri agar Bapak/Ibu dapat memperoleh informasi tambahan sebelum menggunakan layanan kami.









