HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Skala Likert: Pengertian, Cara Menyusun Butir, Skoring, dan Analisisnya

Skala Likert adalah skala untuk mengukur sikap, pendapat, atau persepsi dengan meminta responden menyatakan tingkat persetujuan terhadap sejumlah pernyataan. Skala ini diperkenalkan oleh Rensis Likert pada tahun 1932. Pada karya aslinya, Likert memakai lima pilihan, dari sangat menyetujui hingga sangat tidak setuju .

Karena terlihat sederhana, skala Likert sering kali dirancang dengan terburu-buru. Akibatnya, butir sulit dipahami, skor butir negatif lupa dibalik, atau kategori rata-rata tidak dijelaskan di Bab 3. Artikel ini membahas cara menyusun, memberi skor, dan menganalisis skala Likert dengan benar.

Artikel ini bagian dari seri Materi Statistik IDTesis. Kedudukan Skala Likert di antara jenis Skala lainnya dijelaskan di artikel Skala Pengukuran .

Butir Tipe-Likert dan Skala Likert

Joshi dkk. (2015) membedakan dua istilah yang sering tertukar:

  • Butir tipe-Likert ( Likert-type item ) adalah satu pernyataan dengan pilihan jawaban bertingkat, misalnya dari “sangat tidak setuju” sampai “sangat setuju”.
  • Skala Likert adalah kumpulan beberapa butir yang mengukur satu sikap atau variabel. Skor butir-butir itu lalu dijumlahkan atau dirata-rata.

Perbedaan ini mempengaruhi analisis pada. Satu butir hanya menghasilkan data ordinal dengan sedikit pilihan. Skor gabungan dari banyak butir mempunyai rentang yang lebih lebar, sehingga lebih layak dianalisis seperti interval data.

Anatomi Butir: Menguntungkan dan Tidak Menguntungkan

Setiap butir terdiri atas pernyataan dan pilihan jawaban. Butir favourable (positif) searah dengan variabel yang diukur, sehingga “sangat setuju” diberi skor tertinggi. Butir tidak menguntungkan (negatif) berlawanan arah, sehingga skornya dibalik.

Rumus skor terbalik adalah skor akhir = (skor tertinggi + skor terendah) ? skor asli. Pada skala 1–5, rumusnya menjadi 6 ? skor asli. Di SPSS, pembalikan bisa dilakukan lewat Transform ? Kode ulang menjadi Variabel Berbeda , atau Transformasi? Hitung Variabel dengan rumus 6 ? X.

Butir negatif tidak wajib. Mengurangi kecenderungan responden menjawab “setuju” terus-menerus. Namun, van Sonderen dkk. (2013) menemukan bahwa butir terbalik tidak efektif mencegah bias jawaban dan justru bisa membingungkan responden. Jika tetap dipakai, tulis dengan kalimat sederhana dan hindari kalimat negatif ganda.

Berapa Titik Pilihan: 4, 5, atau 7?

Joshi dkk. (2015) cenderung menyarankan tujuh titik karena memberi responden lebih banyak pilihan untuk menyatakan sikapnya. Lima titik tetap sah dan paling umum di skripsi. Yang penting, jumlah titik sama untuk semua butir dalam satu variabel. Jika mengadopsi kuesioner dari penelitian lain, ikuti jumlah titik aslinya atau laporkan perubahannya.

Perhatikan juga makna titik tengah. Responden bisa memilih “netral” karena ragu, tidak peduli, atau tidak tahu. Jika jawaban “tidak tahu” memang mungkin muncul, sediakan pilihan terpisah.

Cara Menyusun Butir Skala Likert

  1. Tetapkan definisi operasional. Pastikan konsep, konstruk, dan variabel penelitian sudah jelas.
  2. Turunkan indikator, lalu tulis butir per indikator. Setiap indikator diwakili minimal satu butir. Satu variabel sebaiknya punya beberapa butir agar reliabilitasnya bisa diuji.
  3. Satu butir, satu gagasan. Hindari butir seperti “Gaji dan fasilitas kantor memuaskan”, karena responden bisa puas pada gaji tetapi tidak pada fasilitas.
  4. Pakai bahasa yang sederhana. Hindari istilah teknis, kalimat panjang, dan negatif ganda.
  5. Uji coba kuesioner. Sebarkan ke responden yang mirip dengan sampel penelitian, lalu lakukan uji validitas dan uji reliabilitas.

Contoh kisi-kisi butir untuk variabel kepuasan pelanggan:

Skoring Skala Likert dan Kategori Rata-Rata

Skor variabel adalah jumlah atau rata-rata skor butir setelah butir unfavorable dibalik. Rata-rata lebih mudah ditafsirkan karena tetap berada di rentang 1–5, berapa pun jumlah butirnya.

Contoh skoring satu responden dari kisi-kisi di atas:

Total skor akhir 17, sehingga rata-ratanya 17 ÷ 4 = 4,25. Tanpa membalik butir 3, rata-ratanya menjadi 3,75 dan kesimpulannya ikut bergeser.

Agar mudah ditafsirkan, rata-rata skor sering dikelompokkan ke dalam kategori dengan panjang kelas yang sama:

Batas kategorinya adalah 1,00–1,80 (sangat rendah), 1,81–2,60 (rendah), 2,61–3,40 (sedang), 3,41–4,20 (tinggi), dan 4,21–5,00 (sangat tinggi). Rata-rata 4,25 pada contoh di atas termasuk kategori sangat tinggi.

Cara ini adalah kebiasaan yang lazim di skripsi Indonesia, bukan aturan baku. Sebagian kampus memakai tiga kategori dengan panjang kelas (5 ? 1) ÷ 3 = 1,33, atau kategori berdasarkan mean dan simpangan baku. Pilih satu cara, tulis rumusnya di Bab 3, lalu sajikan hasilnya di bagian statistik deskriptif Bab 4.

Data Ordinal atau Interval? Cara Menganalisis Skala Likert

Para ahli belum sepakat. Jamieson (2004) berpendapat data Likert bersifat ordinal, sehingga sebaiknya diringkas dengan median atau frekuensi dan diuji dengan statistik nonparametrik. Norman (2010) menunjukkan bahwa uji parametrik seperti uji t, ANOVA, regresi, dan korelasi tetap andal untuk data Likert, bahkan ketika datanya tidak normal.

Jalan tengah yang banyak dipakai:

  • Analisis per butir: perlakukan sebagai data ordinal. Laporkan frekuensi, persentase, dan median.
  • Skor gabungan beberapa butir: lazim diperlakukan sebagai data interval. Mean, simpangan baku, regresi, uji t, dan ANOVA bisa dipakai setelah asumsinya dicek, misalnya dengan uji normalitas.
  • Model dengan variabel laten: butir Likert lazim menjadi indikator di SEM PLS, yang tidak mensyaratkan data berdistribusi normal.

Pilihan uji lengkapnya, sesuai tujuan dan jenis data, dibahas di artikel metode analisis data. Kalau pembimbing Anda punya pandangan tertentu soal ordinal dan interval, diskusikan sejak awal. Tim IDTesis juga bisa membantu menimbang pilihan analisis yang paling mudah dipertanggungjawabkan.

Contoh Penulisan di Bab 3

Variabel kepuasan pelanggan diukur dengan 12 butir pernyataan yang disusun dari empat indikator. Setiap butir dijawab dengan skala Likert lima titik, mulai dari 1 (sangat tidak setuju) sampai 5 (sangat setuju) (Joshi dkk., 2015). Tiga butir unfavorable diberi skor terbalik sebelum dianalisis. Skor variabel dihitung dari rata-rata skor butir, lalu dikelompokkan ke dalam lima kategori dengan panjang kelas 0,80.

Sesuaikan jumlah butir, indikator, dan cara pengkategorian dengan kuesioner Anda.

Kesalahan yang Sering Terjadi

  • Lupa membalik skor butir unfavorable. Akibatnya korelasi butir dengan skor total menjadi negatif dan reliabilitas turun tajam.
  • Menyebut satu butir sebagai “skala Likert”. Satu butir adalah butir tipe-Likert, bukan skala.
  • Mengubah jumlah titik kuesioner adopsi tanpa melaporkannya.
  • Satu butir berisi dua gagasan, sehingga jawaban responden sulit ditafsirkan.
  • Memakai kategori rata-rata tanpa menuliskan rumus dan batasnya di Bab 3.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Lebih baik skala Likert 5 atau 7 titik?

Keduanya sah. Lima titik paling umum dan mudah dipahami. Tujuh titik lebih peka dan disarankan Joshi dkk. (2015), tetapi menuntut responden lebih cermat. Jika mengadopsi kuesioner, ikuti jumlah titik aslinya.

Bolehkah skala Likert tanpa pilihan netral?

Boleh. Skala empat atau enam titik membuat responden harus memilih arah. Kekurangannya, responden yang benar-benar netral terpaksa memihak. Tuliskan alasan pilihan ini di Bab 3.

Data skala Likert itu ordinal atau interval?

Satu butir adalah data ordinal. Skor gabungan dari beberapa butir lazim diperlakukan sebagai data interval, dan Norman (2010) menunjukkan uji parametrik tetap andal untuk data seperti ini. Tetap ikuti pedoman kampus dan arahan pembimbing.

Apakah butir negatif wajib ada?

Tidak wajib. Butir negatif dimaksudkan untuk mengurangi kecenderungan menjawab kesepakatan terus-menerus, tetapi bukti efektivitasnya lemah (van Sonderen dkk., 2013). Jika dipakai, tulis dengan kalimat sederhana dan jangan lupa membalik skornya.

Butuh Teman Berdiskusi untuk Olah Data?

Masih ragu menyusun atau mengolah kuesioner skala Likert Anda? Tim IDTesis dapat menemani Anda menyusun kisi-kisi butir, menguji validitas dan reliabilitas, serta menganalisis skornya dengan cara yang tepat. Ceritakan dulu kebutuhan Anda melalui WhatsApp , atau lihat layanan olah data statistik .

Baca juga: Uji Validitas · Uji Reliabilitas · Statistik Deskriptif

Referensi

  • Jamieson, S. (2004). Skala Likert: Bagaimana (menyalah)gunakannya. Pendidikan Kedokteran , 38(12), 1217–1218. https://doi.org/10.1111/j.1365-2929.2004.02012.x
  • Joshi, A., Kale, S., Chandel, S., & Pal, DK (2015). Skala Likert: Dieksplorasi dan dijelaskan. British Journal of Applied Science & Technology , 7(4), 396–403. https://doi.org/10.9734/BJAST/2015/14975
  • Likert, R. (1932). Teknik untuk mengukur sikap. Arsip Psikologi , 22(140), 1–55.
  • Norman, G. (2010). Skala Likert, tingkat pengukuran dan “hukum” statistik. Advances in Health Sciences Education , 15(5), 625–632. https://doi.org/10.1007/s10459-010-9222-y
  • van Sonderen, E., Sanderman, R., & Coyne, JC (2013). Ketidakefektifan penggunaan kata-kata terbalik pada item kuesioner: Mari belajar dari sapi di tengah hujan. PLoS ONE , 8(7), e68967. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0068967
error: