HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Bimbingan Keluarga dan Tingkat Pendidikan dengan Perilaku Menyimpang

BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang Masalah

Modernisasi Negara-negara barat acapkali menjadi tolok ukur kesuksesan atau kemajuan suatu Negara. Negara-negara berkembang di dunia termasuk Indonesia mengikuti gerakan modernisasi Negara-negara barat tersebut. Ciri yang menonjol dari proses modernisasi disuatu Negara adalah berkembangnya suatu kota kecil menjadi kota industri yang besar. Kemudian perkembangan industrialisasi diikuti oleh gerakan urbanisasi, yaitu perpindahan penduduk dari desa ke kota. Seperti yang dikemukakan oleh Robert H. Lauer (2001:454) “Meskipun urbanisasi tidak selalu berarti modernisasi, proses modernisasi selalu ditandai oleh urbanisasi dimanapun proses modernisasi itu terjadi.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi psikologi lengkap / tesis psikologi lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

Pesatnya industrialisasi kota menjadi pusat kegitan ekonomi yang merupakan penarik utama terjadinya urbanisasi. Sebagaimana pendapat Alan Gilbert & Josef Gugler (1996:60) bahwa “…mayoritas penduduk berpindah karena alasan ekonomi. Ketika masyarakat ditanya alasan kepindahan mereka selalu saja prospek ekonomi perkotaan yang lebih baik menjadi alasan”. Karena lapangan pekerjaan yang banyak dan upah yang tinggi akibat dari industrialisasi di kota. Disamping itu banyak faktor penarik lain yang menyebabkan terjadinya urbanisasi, yaitu kota mempunyai fasilitas kehidupan yang lengkap seperti fasilitas pendidikan, kesehatan, hiburan ,dan sebagainya. Faktor-faktor penarik tersebut sangat menggiurkan penduduk desa uantuk berbondong-bondong mengadu nasib ke kota. Selain faktor penarik dari kota yang menyebabkan meledaknya arus urbanisasi ada faktor pendorong yang berasal dari desa itu sendiri, yaitu semakin sempitnya lapangan kerja di desa, rendahnya upah buruh, meningkatnya kemiskinan dipedesaan akibat pertumbuhan penduduk yang relatif cepat, serta kurangnya fasilitas kehidupan di desa.

Akibat dari ledakan urbanisasi yang besar-besaran, kota menjadi daerah yang padat penduduk. Sebesar apapun kota dan sepesat apapun kegiatan ekonomi serta selengkap apapun fasilitas kehidupan kota, tetapi jika terjadi perpindahan penduduk yang besar-besaran, maka daya tampung kota tidak akan mencukupi. Chris Manning & Tadjuddin Noer E.(1996:4) mengatakan bahwa “Kota dunia ketiga berkembang dengan pesat setiap tahun berjuta-juta orang pindah dari desa kekota. Sekalipun banyak kota besar dalam kenyataannya sudah tidak mampu menyediakan pelayanan sanitasi , kesehatan, perumahan dan transportasi lebih yang dari minimal kepda penduduknya yang padat itu”. Keterbatasan daya tampung kota akan menimbulkan munculnya berbagai permasalahan sosial seperti kemiskinan. A. Gilbert & J. Gugler (1996:64) berpendapat bahwa “Pemandangan yang menyedihkan dan tersebarnya kemiskinan didunia ketiga, dengan mudah membawa asumsi bahwa para migran tidak memahami apa yang diharapkan. Ilusi tentang prospek yang terpampang membawa mereka keliang perkotaan yang akhirnya menjerat mereka dalam kemiskinan”. Kebanyakan dari orang-orang yang ikut arus urbanisasi tidak mendapatkan apa yang mereka harapkan karena kehidupan kota penuh dengan persaingan, memang banyak lapangan pekerjaan tetapi pekerjaan itu membutuhkan keahlian-keahlian khusus dan mensyaratkan jenjang pendidikan tertentu, sehingga bagi mereka yang tidak punya keahlian khusus dan tidak berpendidikan akhirnyan untuk memenuhi kebutuhan hidup ada diantara mereka yang menjadi pengemis, pemulung, pengamen, bahkan ada yang menjadi pelacur, pencuri dan perampok.

Kondisi kemiskinan diperkotaan identik dengan pemukiman kumuh dan kehidupan jalanan. Karena keterbatasan daya tampung tersebut maka kota tidak mampu lagi uantuk menyediakan pemukiman yang layak bagi pendudukanya yang padat itu. Selain itu fasilitas lain seperti fasilitas kesehatan dan pendidikan juga tidak dapat dinikmati oleh penduduk kota yang miskin karena fasilitas tersebut membutuhkan biaya yang tinggi. Sehingga kehidupan mereka sangat memprihatinkan dan terpinggirkan. Kehidupan sosial dikota besar banyak ditandai oleh hal-hal yang sensasional, kejutan-kejutan, agresifitas, penonjolan diri ekstrim tanpa malumalu, ketidakstabilan dan ketidak amanan sebab merasa diancam oleh macam-macam bahaya, terutama sekali dijalan-jalan raya. Iklim sosial selalu diliputi suasana kecurigaan, kebencian, kecemburuan, kekerasan, tekanan dan persaingan ketat. Dengan adanya situasi-kondisi yang serba hiruk pikuk dan kisruh demikian itu kota menjadi pusat-pusat ketidaksesuaian (maladjustment) yang ganda pada pendudukanya. Karena itu mentalitas kota banyak ditandai oleh ketegangan syaraf, ketegangan batin, kerisauan, ketakutan, kecemasan, yang tidak terkontrol, macam-macam mania, psikosa megapolis dan penykit jiwa lainnya. (Kartini Kartono & Jenni Andari, 2000 : 208-209)

Kondisi kota yang diliputi berbagai ketegangan mental seperi itu menyebabkan banyak penduduk kota yang tidak dapat berfikir jernih khususnya di kalangan marginal, sehingga mereka menggunakan cara-cara yang menyimpang untuk menyelesaikan permasalahan hidup. Hal ini merupakan dampak dari urbanisasi yang kompleks, sebagaimana diungkapkan oleh Robert H. Lauer (2001:456) bahwa “Urbanisasi sering pula dikaitkan dengan terciptanya perilaku menyimpang dan keterasingan dikalangan warga urban”. Akan halnya pengamen bukanlah merupakan suatu fenomena yang asing lagi. Hampir ada di semua pelosok negeri khususnya di kota-kota besar seperti Surakarta. Pengamen di kota Solo tidak hanya penduduk asli Solo tetapi juga pendatang dari daerah-daerah sekitar Solo seperti Sukoharjo, Karanganyar, Klaten, Boyolali dan Sragen. Selain dari daerah-daerah sekitar Solo juga dari daerah-daerah lain yang tidak terdeteksi. Mereka adalah bagian dari orang pinggiran yang mencari nafkah dengan bermain musik dan bernyanyi di jalanan. Timbulnya mengamen selain disebabkan oleh kurangnya kesempatan kerja yang tidak mempersyaratkan pendidikan dan tidak punya ketrampilan khusus juga disebabkan oleh mentalitas kerja yang rendah. Kehidupan jalanan merupakan kehidupan yang keras dan penuh persaingan. Untuk mempertahankan hidup, mereka harus bersaing dengan sesama pengamen maupun orang jalanan lainnya yang berbeda “profesi”. Dengan kehidupan yang seperti itu ditambah tuntutan hidup yang terus meningkat menjadikan beban mental yang berat bagi mereka. Sehingga untuk memenuhi kebutuhan hidup kadang-kadang mereka melakukan perbuatan yang menyimpang dari norma-norma yang ada seperti bersikap kasar, berkata kotor, mabukmabukan, melakukan seks bebas, pencandu dan pengedar narkoba, sering melakukan perkelahian dengan sesama pengamen untuk memperebutkan wilayah mengamen, dan sebagainya.

Perilaku menyimpang pada pengamen disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya faktor keluarga dan faktor ingkungan. Keluarga merupakan unit sosial terkecil yang memberikan pondasi primer bagi perkembangan watak seseorang yang akan mempengaruhi tingkah lakunya hingga dewasa. Seseorang yang dibesarkan dalam keluarga yang retak atau tidak setabil cenderug memiliki potensi yang besar untuk berperilaku menyimpang. Karena proses internalisasi nilai dan norma tidak tidak sempurna, sehingga anak tidak dapat membedakan dengan jelas mengenai baik/buruk dan benar/salah. Selain itu keluarga yang tidak stabil menyebabkan anak tertekan dan merasa tidak nyaman tinggal dirumah. Dengan demikian anak akan jauh dari rumah dan akan mudah terkena pengaruh buruk dari luar. Faktor lingkungan, baik lingkungan sosial maupun lingkungan pergaulan yang buruk juga memberikan andil yang cukup besar pada pembentukan perilaku menyimpang seseorang. Orang yang tinggal dilingkungan tidak baik misalnya dilingkungan yang masyarakatnya suka mabuk-mabukan, berjudi dan sebagainya akan mudah terpengaruh perbuatan tersebut. Begitu pula jika seseorang bergaul dengan orang-orang yang tidak baik akan cenderung mengikuti tingkah laku temannya.

Selain faktor-faktor di atas perilaku menyimpang juga dapat disebabkan karena rendahnya tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan seseorang sangat berpengaruh dalam kehidupan sehari-hari, baik itu dalam pekerjaan maupun tingkah laku sosial. Karena dengan pendidikan dapat ditanamkan nilai-nilai kehidupan yang akan berpengaruh pada pembentukan kepribadian.
Permasalahan pendidikan sebagian besar dialami oleh orang-orang miskin, dan orang-orang marjinal seperti pengamen karena biaya pendidikan tidaklah murah. Banyak dari mereka yang putus sekolah bahkan tidak sekolah sama sekali. Karena selain biaya yang mahal biasanya anak-anak usia sekolah sudah dituntut oleh orang tuanya untuk bekerja membantu perekonomian keluarga. Karena pendidikan yang rendah mereka mempunyai cara berpikir yang pendek. Untuk memenuhi kebutuhan hidupnya mereka acapkali menggunakan jalan pintas dengan tidak mengindahkan norma-norma yang ada bahkan banyak yang menggunakan jalan kekerasan.

Leave a Reply