Selama puluhan tahun, kinerja perusahaan diukur terutama dari angka keuangan seperti laba dan imbal hasil investasi. Masalahnya, angka keuangan hanya menceritakan masa lalu. Angka itu tidak menjelaskan apakah pelanggan makin puas, proses makin efisien, atau karyawan makin mampu. Balanced Scorecard (BSC) lahir untuk menjawab kekurangan itu. Artikel ini membahas teori BSC menurut para ahli, empat perspektifnya, contoh indikator, kritik terhadapnya, dan contoh tesis yang memakainya.
Asal-Usul dan Perkembangan Balanced Scorecard
BSC diperkenalkan oleh Robert S. Kaplan dan David P. Norton melalui artikel di Harvard Business Review tahun 1992. Gagasan ini lahir dari penelitian mereka bersama sejumlah perusahaan pada awal 1990-an. Sejak itu BSC berkembang dalam tiga tahap:

Pengertian Balanced Scorecard Menurut Para Ahli
- Kaplan dan Norton (1996a) memandang BSC sebagai kerangka yang menerjemahkan misi dan strategi organisasi ke dalam seperangkat ukuran kinerja yang menyeluruh. Ukuran itu tersusun dalam empat perspektif.
- Mulyadi (2001) menyebut BSC sebagai sistem manajemen strategis kontemporer. Rencana strategis yang dihasilkannya bersifat komprehensif, koheren, seimbang, dan terukur.
- Luis dan Biromo (2007) menekankan BSC sebagai alat manajemen kinerja yang membantu organisasi menerjemahkan visi dan strategi menjadi aksi. Caranya dengan memakai indikator keuangan dan nonkeuangan yang saling terhubung dalam hubungan sebab-akibat.
Kata “balanced” (seimbang) merujuk pada keseimbangan antara ukuran keuangan dan nonkeuangan, jangka pendek dan jangka panjang, serta ukuran hasil dan ukuran pendorongnya.
Empat Perspektif dan Contoh Indikatornya

Keempat perspektif disusun sebagai rantai sebab-akibat. Karyawan yang lebih terampil memperbaiki proses, proses yang lebih baik memuaskan pelanggan, dan pelanggan yang puas meningkatkan kinerja keuangan.
Empat Proses Manajemen dalam BSC
Kaplan dan Norton (1996b) menjelaskan bahwa BSC bekerja melalui empat proses:
- Menerjemahkan visi. Visi dan strategi dijabarkan menjadi sasaran dan ukuran yang disepakati pimpinan.
- Mengomunikasikan dan mengaitkan. Sasaran strategis dikomunikasikan ke seluruh unit dan dikaitkan dengan target unit serta individu.
- Merencanakan bisnis. Inisiatif strategis dan anggaran diselaraskan dengan sasaran BSC.
- Umpan balik dan pembelajaran. Hasil dipantau secara berkala untuk menguji dan memperbaiki strategi.
Balanced Scorecard di Sektor Publik dan Organisasi Nirlaba
Kaplan (2001) menjelaskan bahwa pada organisasi nirlaba dan pemerintah, perspektif keuangan tidak berada di puncak. Puncaknya adalah misi, misalnya kualitas layanan kepada masyarakat. Keuangan diperlakukan sebagai sumber daya yang mendukung misi, bukan tujuan akhir. Di Indonesia, BSC dipakai oleh sejumlah instansi pemerintah, rumah sakit, BUMD seperti PDAM, perguruan tinggi, dan yayasan pendidikan, seperti terlihat dari contoh tesis di bawah.
Kritik terhadap Balanced Scorecard
Penguji tesis sering menanyakan kelemahan teori yang dipakai. Beberapa kritik penting:
- Hubungan sebab-akibat dipertanyakan. Nørreklit (2000) berpendapat bahwa hubungan antarperspektif BSC lebih bersifat logis daripada sebab-akibat yang teruji. Selain itu, jeda waktu antara perbaikan nonkeuangan dan hasil keuangan tidak diperhitungkan.
- Penerapan yang mekanis. Banyak organisasi memakai BSC sebatas daftar indikator, tanpa peta strategi dan tanpa mengaitkannya dengan anggaran.
- Celah penelitian. Tinjauan Hoque (2014) atas dua puluh tahun penelitian BSC menunjukkan masih terbukanya peluang penelitian, terutama tentang proses penerapan dan dampaknya di sektor publik.
Menyebut kritik ini di bab teori dan menjelaskan cara penelitian Anda menyikapinya akan memperkuat argumen tesis.
Cara Memakai Balanced Scorecard dalam Tesis
- Tentukan desain. Kebanyakan tesis BSC berupa studi kasus pada satu organisasi, dengan pendekatan kualitatif, kuantitatif deskriptif, atau gabungan.
- Petakan visi, misi, dan sasaran strategis organisasi sebelum memilih indikator.
- Kumpulkan data per perspektif. Perspektif keuangan memakai laporan keuangan tiga tahun atau lebih. Perspektif pelanggan dan karyawan memakai kuesioner kepuasan. Perspektif proses internal memakai data operasional atau wawancara.
- Beri bobot dan skor. Bila perspektif dinilai tidak sama penting, bobotnya bisa ditentukan dengan Analytic Hierarchy Process (Saaty, 1980). Setiap indikator lalu diberi skor menurut kriteria baik, cukup, atau kurang.
- Susun peta strategi dan rekomendasi yang menghubungkan temuan antarperspektif.
Contoh Judul Tesis tentang Balanced Scorecard
- Analisis Penerapan Balanced Scorecard sebagai Alat Ukur Penilaian Kinerja pada Dinas Pendapatan, Pengelolaan Keuangan, dan Aset Kabupaten Sidoarjo. Instansi pemerintah daerah; kualitatif dengan data sekunder.
- Analisis Kinerja Perusahaan dengan Metode Balanced Scorecard pada Kusuma Sahid Prince Hotel Surakarta. Perhotelan; kualitatif deskriptif, data 2011–2013.
- Evaluasi atas Penerapan Balanced Scorecard pada Inspektorat Jenderal Kementerian Keuangan. Instansi pusat; wawancara dan telaah dokumen.
- Analisis Kinerja dengan Pendekatan Balanced Scorecard pada PDAM Kabupaten Semarang. BUMD; laporan keuangan 2006–2008 dan kuesioner karyawan.
- Penerapan Balanced Scorecard sebagai Salah Satu Tolok Ukur dalam Pengukuran Kinerja Tahun 2013 (Studi Kasus pada Rumah Sakit X). Rumah sakit; deskriptif, dokumentasi dan wawancara.
- Analisis Balanced Scorecard sebagai Alat Pengukuran Kinerja pada PT Semen Bosowa Maros. Manufaktur; kuesioner pelanggan dan karyawan serta rasio keuangan.
- Analisis Kinerja Perusahaan dengan Pendekatan Balanced Scorecard (Studi Kasus pada PT Jansen Indonesia). Industri mebel; 100 karyawan dan 31 pelanggan sebagai responden.
- Analisis Kinerja Komprehensif dengan Pendekatan Balanced Scorecard pada Perusahaan Perdagangan Besar (Studi Kasus pada PT Transmarco). Perdagangan; rasio per perspektif 2008–2010.
- Studi tentang Manajemen Strategik Berbasis Balanced Scorecard di Yayasan Al Kautsar Lampung. Organisasi nirlaba; kualitatif studi kasus, menghasilkan peta strategi.
- Analisis Pengukuran Kinerja Perusahaan dengan Konsep Balanced Scorecard (Studi Kasus PT Wijaya Karya). BUMN konstruksi; kuesioner dan studi literatur.
Pola yang terlihat: hampir semua contoh berupa studi kasus satu organisasi. Peluang yang masih terbuka antara lain perbandingan antarorganisasi sejenis, pengujian hubungan sebab-akibat antarperspektif secara statistik, dan evaluasi BSC setelah transformasi digital.
Bacaan terkait: 20 grand teori dalam penelitian pemasaran, judul tesis akuntansi manajemen UGM, judul tesis akuntansi sektor publik UGM, dan teori Analisis SWOT.
Referensi
- Hoque, Z. (2014). 20 years of studies on the balanced scorecard: Trends, accomplishments, gaps and opportunities for future research. The British Accounting Review, 46(1), 33–59.
- Kaplan, R. S. (2001). Strategic performance measurement and management in nonprofit organizations. Nonprofit Management and Leadership, 11(3), 353–370.
- Kaplan, R. S., & Norton, D. P. (1992). The balanced scorecard: Measures that drive performance. Harvard Business Review, 70(1), 71–79.
- Kaplan, R. S., & Norton, D. P. (1996a). The balanced scorecard: Translating strategy into action. Harvard Business School Press.
- Kaplan, R. S., & Norton, D. P. (1996b). Using the balanced scorecard as a strategic management system. Harvard Business Review, 74(1), 75–85.
- Kaplan, R. S., & Norton, D. P. (2004). Strategy maps: Converting intangible assets into tangible outcomes. Harvard Business School Press.
- Luis, S., & Biromo, P. A. (2007). Step by step in cascading balanced scorecard to functional scorecards. Gramedia Pustaka Utama.
- Mulyadi. (2001). Balanced scorecard: Alat manajemen kontemporer untuk pelipatganda kinerja keuangan perusahaan. Salemba Empat.
- Nørreklit, H. (2000). The balance on the balanced scorecard: A critical analysis of some of its assumptions. Management Accounting Research, 11(1), 65–88.
- Saaty, T. L. (1980). The analytic hierarchy process. McGraw-Hill.






Leave a Reply