HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Instrumen Pengukuran Kecemasan Ibu Hamil: HARS, STAI, dan PRAQ-R2

Ditinjau oleh: Wikan Tyas.

Instrumen pengukuran kecemasan ibu hamil yang paling banyak dipakai di Indonesia ada empat: HARS, STAI, PRAQ-R2, dan PASS. HARS dan STAI mengukur kecemasan umum, sedangkan PRAQ-R2 dan PASS dirancang khusus untuk konteks kehamilan. Pemilihan instrumen menentukan validitas seluruh penelitian Anda — instrumen yang tidak sejalan dengan definisi operasional akan membuat hasil penelitian tidak menjawab rumusan masalah. Artikel ini membandingkan keempatnya, menjelaskan kapan masing-masing tepat digunakan, dan menyoroti kekeliruan pemilihan yang sering terjadi.

Mengapa Pemilihan Instrumen Menentukan Kualitas Penelitian

Instrumen bukan sekadar alat pengumpul data. Instrumen adalah definisi operasional Anda dalam bentuk nyata. Apa pun yang Anda tulis di Bab I tentang “kecemasan”, yang benar-benar Anda ukur adalah apa yang ditanyakan instrumen Anda.

Konsekuensinya sering diabaikan. Jika judul penelitian Anda berbunyi “kecemasan ibu hamil menghadapi persalinan”, tetapi instrumennya mengukur gejala kecemasan umum seperti gangguan tidur dan keluhan pencernaan, maka ada jurang antara yang Anda klaim dan yang Anda ukur. Penguji yang teliti akan menemukan jurang ini, dan pertanyaannya sulit dijawab setelah data telanjur dikumpulkan.

Aturan sederhananya: baca dulu butir-butir instrumennya sebelum memilih. Jangan memilih instrumen hanya karena banyak dipakai penelitian sebelumnya.

PRAQ-R2: Instrumen Khusus Kehamilan

PRAQ-R2 adalah instrumen yang paling sesuai secara konseptual untuk penelitian kecemasan kehamilan, tetapi paling sering disalahpahami di Indonesia.

Riwayat Pengembangan

Instrumen ini melewati tiga tahap. Versi aslinya, PRAQ, terdiri dari 55 butir. Versi ringkasnya, PRAQ-R (Huizink dkk., 2004), disusun dengan mempertahankan butir-butir bermuatan faktor tertinggi dari lima subskala aslinya. Karena PRAQ-R hanya ditujukan bagi ibu yang baru pertama kali hamil, Huizink dan koleganya menerbitkan versi 10 butir yang dapat diterapkan pada semua ibu hamil tanpa memandang paritas, yang disebut PRAQ-R2.

Tiga Dimensi yang Diukur

PRAQ-R2 mengukur ketakutan terhadap proses melahirkan, kekhawatiran akan melahirkan anak dengan kecacatan fisik atau mental, dan kekhawatiran terhadap perubahan penampilan diri.

Perhatikan dimensi ketiga. Kekhawatiran terhadap perubahan penampilan tidak tersentuh sama sekali oleh HARS maupun STAI, padahal ini kekhawatiran yang nyata dan sering dialami ibu hamil. Inilah keunggulan konseptual PRAQ-R2.

Pengelompokan Butir dan Skoring

Sebuah skripsi di Indonesia mendokumentasikan pengelompokan butir sebagai berikut: ketakutan akan proses persalinan (butir 1, 2, dan 5), kekhawatiran cacat janin (butir 4, 8, 9, dan 10), serta kekhawatiran perubahan fisik (butir 3, 6, dan 7), dengan skor tiap butir 1 sampai 5; skor kurang dari 23 dikategorikan ringan, 23–36 sedang, dan 37 ke atas berat.

Kategori skor ini adalah konvensi yang dipakai penelitian tersebut, bukan ketentuan baku dari pengembang aslinya. Jika Anda memakainya, sitasi sumber yang Anda rujuk dan jangan menyajikannya seolah ketentuan resmi.

Reliabilitas

Nilai reliabilitasnya baik lintas negara. Pada sampel Jerman, Cronbach’s Alpha total mencapai 0,85 dengan subskala berkisar 0,77 hingga 0,90; pada sampel Finlandia, konsistensi internal total berkisar 0,82 hingga 0,85. Instrumen ini juga telah diadaptasi secara budaya dan digunakan di berbagai negara termasuk Prancis, Turki, dan Jerman.

Kesalahan Fatal: PRAQ-R Bukan PRAQ-R2

Bagian ini perlu Anda perhatikan sungguh-sungguh, karena kekeliruan ini bisa membuat sebagian data Anda tidak sah.

PRAQ-R dan PRAQ-R2 bukan instrumen yang sama. PRAQ-R tidak dirancang untuk ibu yang sudah pernah melahirkan, karena salah satu butirnya tidak relevan bagi mereka. PRAQ-R2 lahir justru untuk mengatasi hal ini — satu butir dirumuskan ulang menjadi “saya cemas menghadapi persalinan” agar dapat dipakai tanpa memandang paritas.

Artinya: jika responden Anda mencakup multigravida dan Anda memakai PRAQ-R (bukan R2), satu butir menjadi tidak valid bagi sebagian responden. Skor totalnya menjadi tidak sebanding antarkelompok.

Masalahnya, banyak tulisan di Indonesia menyebut kedua nama ini secara bergantian seolah sinonim. Salah satu publikasi bahkan menulis kepanjangan “Pregnancy Related Anxiety Questionnaire Revised” tetapi menyingkatnya “PRAQ-R2” — dua hal yang berbeda digabungkan dalam satu kalimat.

Cara memastikannya: periksa butir yang menanyakan pengalaman melahirkan. Jika berbunyi seperti “saya takut karena belum pernah melahirkan”, itu PRAQ-R. Jika berbunyi “saya cemas menghadapi persalinan”, itu PRAQ-R2.

Catatan sitasi: artikel PRAQ-R2 terbit daring pada 2015 dan dalam bentuk cetak pada 2016. Rujukan resminya adalah Huizink dkk. (2016), Archives of Women’s Mental Health, 19(1), 125–132. Anda akan menemukan kedua tahun beredar di berbagai tulisan.

PASS Versi Indonesia: Pilihan yang Jarang Diketahui

Ini temuan yang mungkin paling berguna dalam artikel ini, dan hampir tidak pernah disebut dalam panduan skripsi.

The Perinatal Anxiety Screening Scale (PASS) sudah memiliki versi Indonesia yang diuji validitas dan reliabilitasnya secara khusus pada ibu hamil Indonesia. Pengujian dilakukan terhadap 83 ibu hamil trimester III di Kabupaten Banyumas. Setiap butir PASS menunjukkan hubungan signifikan dengan skor total dengan koefisien korelasi 0,412 sampai 0,793, dan PASS berkorelasi dengan skor total DASS beserta subskala depresi, kecemasan, dan stresnya.

Mengapa ini penting? Karena inilah satu-satunya dari keempat instrumen yang punya studi validasi berbahasa Indonesia yang dilakukan langsung pada populasi ibu hamil Indonesia, dengan uji validitas internal maupun eksternal serta reliabilitas internal dan test-retest.

Jika Anda mencari unsur kebaruan sekaligus dasar metodologis yang kuat, PASS versi Indonesia layak dipertimbangkan serius. Sangat sedikit skripsi yang memakainya, sehingga celahnya masih terbuka lebar.

HARS dan STAI: Ringkasan Singkat

HARS adalah instrumen paling populer di Indonesia karena mudah diperoleh dan banyak rujukan pembandingnya. Sifatnya mengukur kecemasan umum, bukan kecemasan khas kehamilan.

Satu catatan penting yang jarang dibahas: sebuah studi validasi HARS pada ibu hamil di Kabupaten Pamekasan menemukan bahwa instrumen baru dinyatakan valid dan reliabel pada pengujian ketiga, setelah 10 pertanyaan diganti tanpa menghapus pertanyaan. Temuan ini menunjukkan HARS dalam bentuk aslinya tidak selalu langsung cocok untuk populasi ibu hamil Indonesia. Uji validitas ulang di lokasi penelitian Anda bukan formalitas.

Pembahasan lengkap termasuk 14 kelompok gejala dan cara skoringnya ada di artikel kuesioner HARS.

STAI tepat dipakai bila kerangka teori Anda memang memakai Spielberger, karena instrumen dan teorinya berasal dari sumber yang sama. Namun instrumen ini berlisensi berbayar, dan memuat butir-butir berskor terbalik yang wajib diperhatikan saat pengolahan data. Kedua hal ini dibahas tuntas di artikel teori kecemasan Spielberger.

Tabel Perbandingan Keempat Instrumen

Cara Memilih Instrumen untuk Penelitian Anda

Sesuaikan dengan definisi operasional. Jika yang Anda teliti adalah kecemasan menghadapi persalinan secara spesifik, instrumen kecemasan umum tidak tepat. Jika yang Anda teliti adalah tingkat kecemasan secara menyeluruh, HARS memadai.

Pertimbangkan paritas responden. Jika populasi Anda mencakup multigravida, PRAQ-R2 wajib dipilih ketimbang PRAQ-R.

Pertimbangkan waktu dan tenaga. PRAQ-R2 hanya 10 butir sehingga pengisiannya cepat — keunggulan nyata bila Anda mengumpulkan data di poli KIA yang sibuk. STAI dengan 40 butir jauh lebih menuntut kesabaran responden.

Periksa status lisensi. Hanya STAI yang mensyaratkan izin formal berbayar di antara keempatnya.

Periksa ketersediaan versi Indonesia yang tervalidasi. Ini pembeda terbesar. PASS unggul di sini, sedangkan PRAQ-R2 masih menyisakan tanda tanya.

Perlu kejujuran di titik ini: sebuah publikasi Indonesia menyatakan PRAQ-R2 memiliki validitas dan reliabilitas tinggi lintas budaya termasuk adaptasi dalam bahasa Indonesia. Namun penelusuran tidak menemukan studi validasi PRAQ-R2 berbahasa Indonesia yang berdiri sendiri sebagaimana yang tersedia untuk PASS. Yang ada adalah penelitian-penelitian yang memakai PRAQ-R2 dan melakukan uji validitas terhadap sampelnya sendiri. Perbedaan ini penting: memakai instrumen lalu mengujinya pada sampel sendiri tidak sama dengan tersedianya studi validasi lintas budaya yang formal.

Kesimpulan praktisnya: apa pun instrumen yang Anda pilih, lakukan uji validitas dan reliabilitas pada sampel Anda sendiri, dan laporkan hasilnya di Bab III. Jangan hanya mengutip nilai reliabilitas dari penelitian orang lain.

Prosedur Uji Validitas dan Reliabilitas

Langkah minimal yang perlu Anda tempuh:

  1. Uji coba pada responden di luar sampel penelitian. Umumnya 20–30 responden dengan karakteristik serupa.
  2. Uji validitas butir. Bandingkan koefisien korelasi tiap butir dengan nilai r tabel sesuai derajat bebas dan taraf signifikansi Anda. Butir dinyatakan valid bila melampaui r tabel.
  3. Uji reliabilitas. Hitung Cronbach’s Alpha. Nilai di atas 0,6 umumnya dianggap memadai, meski banyak penelitian kesehatan menetapkan ambang lebih tinggi.
  4. Tindak lanjuti butir yang gugur. Perbaiki redaksinya atau keluarkan dari analisis, dan laporkan tindakan tersebut secara terbuka.
  5. Laporkan seluruh angkanya di Bab III, bukan hanya menyatakan “instrumen sudah valid dan reliabel”.

Contoh perhitungan derajat bebas: pada uji coba dengan 57 responden dan taraf signifikansi 5%, derajat bebasnya 55 sehingga r tabelnya 0,266 — setiap butir harus melampaui nilai ini agar dinyatakan valid.

Penutup

Tidak ada instrumen yang unggul secara mutlak. HARS menang pada kemudahan dan ketersediaan rujukan, STAI menang pada kesesuaian teoretis bila Anda memakai Spielberger, PRAQ-R2 menang pada ketepatan konsep untuk kehamilan, dan PASS menang pada ketersediaan validasi berbahasa Indonesia.

Yang menentukan bukan instrumen mana yang paling canggih, melainkan apakah instrumen Anda benar-benar mengukur apa yang Anda klaim diukur dalam rumusan masalah. Konsistensi antara judul, definisi operasional, instrumen, dan uji statistik adalah rangkaian yang paling sering putus — dan paling sering ditanyakan penguji.

Pembahasan menyeluruh mulai dari teori hingga desain penelitian tersedia di panduan penelitian kecemasan ibu hamil. Setelah instrumen ditentukan, langkah berikutnya adalah memilih uji statistik yang sesuai dengan skala datanya, yang dibahas di artikel uji chi square untuk penelitian kesehatan.


Daftar Rujukan

  1. Huizink, A. C., Delforterie, M. J., Scheinin, N. M., Tolvanen, M., Karlsson, L., & Karlsson, H. (2016). Adaption of pregnancy anxiety questionnaire–revised for all pregnant women regardless of parity: PRAQ-R2. Archives of Women’s Mental Health, 19(1), 125–132.
  2. Huizink, A. C., dkk. (2004). Pregnancy-Related Anxieties Questionnaire–Revised (PRAQ-R).
  3. Mudra, S., dkk. Psychometric properties of the German version of the PRAQ-R2 in the third trimester of pregnancy.
  4. The Perinatal Anxiety Screening Scale Versi Indonesia: Studi Instrumen Kecemasan pada Kehamilan. Jurnal Sains Kebidanan, Poltekkes Semarang.
  5. Noviandry, H. (2023). Uji Validitas dan Reliabilitas Skala HARS pada Ibu Hamil di Era Pandemi Covid-19. Professional Health Journal, 4(2), 222–235.
  6. Psychometric evaluation of the PRAQ-R2 for Chinese pregnant women. Midwifery.