Padi, cabai, dan bawang merah adalah komoditas yang paling cepat terasa dampaknya ketika panen gagal atau harga melonjak. Karena itu, penelitian agribisnis pangan dan hortikultura selalu relevan bagi petani, pedagang, dan pengambil kebijakan. Masalahnya juga berlapis: sayuran kehilangan sampai 62,8% hasil sebelum sampai ke konsumen (Mulyawanti & Suryana, 2024), sementara
Read more →Komoditas perkebunan menjadi andalan ekspor sekaligus sumber nafkah jutaan petani kecil, sehingga perubahan harga dunia atau aturan dagang langsung terasa sampai ke desa. Tekanan terbaru datang dari standar keberlanjutan, misalnya regulasi bebas deforestasi Uni Eropa yang menyasar kopi, kakao, dan sawit. Uni Eropa menyerap 36% ekspor kopi Indonesia, sehingga aturan
Read more →Peternakan dan perikanan memasok protein hewani yang permintaannya naik seiring pertumbuhan pendapatan dan program pangan pemerintah. Di sisi lain, peternak dan pembudidaya ikan menghadapi risiko penyakit, harga pakan, dan perubahan iklim. Kenaikan suhu 1°C dikaitkan dengan turunnya keuntungan budidaya ikan air tawar sebesar 0,69% (Indrawan dkk., 2023). Hampir seluruh judul
Read more →Pertanian berkelanjutan tidak lagi sekadar slogan, karena pembeli, pemerintah, dan pasar ekspor mulai menuntut bukti cara produksi yang ramah lingkungan. Petani juga harus bertahan di tengah perubahan iklim dan lahan sawah yang makin sempit. Penelitian di bidang ini membantu menjawab apakah praktik organik, GAP, atau pertanian cerdas iklim benar-benar menguntungkan
Read more →Ekonomi usahatani menjawab pertanyaan paling dasar dalam agribisnis: apakah usaha tani menguntungkan, efisien, dan cukup aman dari risiko. Pertanyaan ini tetap penting karena biaya input, harga hasil, dan cuaca terus berubah dari musim ke musim. Hasil penelitian di bidang ini dipakai petani untuk memilih komoditas, oleh bank untuk menilai kredit,
Read more →Harga yang diterima petani sering jauh di bawah harga yang dibayar konsumen, dan selisih itu ditentukan oleh panjang serta kekuatan rantai tata niaga. Karena itu, penelitian tata niaga, harga, dan perdagangan penting untuk menunjukkan di mata rantai mana nilai tambah dan risiko berpindah. Di Bengkulu, harga cabai di tingkat pedagang
Read more →Keputusan konsumen di pasar, supermarket, dan aplikasi belanja menentukan produk pertanian mana yang laku dan berapa harganya. Karena itu, penelitian perilaku konsumen dan pemasaran membantu petani, UMKM, dan perusahaan agribisnis membaca apa yang sebenarnya dicari pembeli. Topik ini makin penting ketika konsumen mulai peduli pada kesehatan, asal-usul produk, dan limbah
Read more →Teknologi baru, petani muda, dan kelembagaan yang kuat menentukan apakah pertanian Indonesia bisa naik kelas. Tantangannya nyata: minat generasi muda di bawah 25 tahun terhadap pertanian berada di bawah 10% (Sitanggang dkk., 2025). Di sisi lain, aplikasi digital, sistem pembayaran nontunai, dan koperasi model baru membuka cara kerja yang berbeda
Read more →Nilai tambah terbesar dalam agribisnis sering tercipta setelah panen, ketika hasil tani diolah, dikemas, dijual dengan merek, atau dijadikan atraksi wisata. Karena itu, penelitian agroindustri, agrowisata, dan manajemen perusahaan penting untuk memahami cara usaha pertanian tumbuh dari skala rumah tangga menjadi bisnis yang tertata. Pengolahan juga menjadi cara mengurangi susut
Read more →Kebijakan pertanian menentukan harga pupuk, akses kredit, sampai siapa yang menerima bantuan, sehingga dampaknya langsung terasa pada pendapatan petani. Perubahan kebijakan juga sering terjadi lebih cepat daripada penelitian yang mengevaluasinya. Contohnya, pencabutan alokasi pupuk bersubsidi untuk komoditas hortikultura menurunkan produksi kentang sampai 31,78% (Setyaningrum dkk., 2025). Rumpun ini dalam daftar
Read more →Banyak tesis agribisnis tidak dibedakan oleh komoditasnya, tetapi oleh cara penelitiannya: membandingkan dua kelompok atau dua kondisi. Perbandingan petani organik dan konvensional, mitra dan nonmitra, atau sebelum dan saat pandemi membantu pembaca melihat apakah suatu praktik atau kejadian benar-benar membuat perbedaan. Pandemi COVID-19 sendiri menjadi guncangan yang menguji ketahanan usahatani,
Read more →Penelitian agribisnis menjawab pertanyaan yang langsung terasa di meja makan dan di dompet petani: berapa biaya produksi, ke mana hasil panen dijual, dan siapa yang menikmati selisih harganya. Pertanyaan itu makin mendesak karena sistem pangan Indonesia masih boros. Kehilangan pascapanen sayuran mencapai 62,8% dan buah 45,5% (Mulyawanti & Suryana, 2024).
Read more →



