HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Metode Ilmiah: Pengertian, Kriteria, dan Langkah-Langkahnya

Setiap skripsi, tesis, dan disertasi pada dasarnya adalah laporan penerapan metode ilmiah. Bab pendahuluan merumuskan masalah, bab kajian pustaka menyusun kerangka berpikir dan hipotesis, bab metode menjelaskan cara pengujiannya, dan bab hasil menarik kesimpulan. Memahami metode ilmiah membantu Anda melihat mengapa urutan bab itu tidak bisa ditukar sembarangan.

Pengertian Metode Ilmiah

Suriasumantri menyebut metode ilmiah sebagai prosedur untuk mendapatkan pengetahuan yang disebut ilmu. Prosedur ini memadukan dua cara berpikir. Cara berpikir rasional menyusun penjelasan yang masuk akal dari teori yang sudah ada. Cara berpikir empiris menguji penjelasan itu dengan fakta. Gabungan keduanya ia sebut logico-hypothetico-verifikatif: logis dalam menyusun dugaan, lalu diverifikasi dengan data.

Cara Ilmiah dan Cara Nonilmiah Memperoleh Pengetahuan

Manusia tidak hanya memperoleh pengetahuan lewat penelitian. Filsuf Charles S. Peirce (1877) membedakan empat cara orang meyakini sesuatu. Tiga di antaranya nonilmiah:

Cara Penjelasan Contoh
Keteguhan (tenacity)

Percaya karena sudah lama diyakini

“Dari dulu memang begitu”

Otoritas

Percaya karena dikatakan tokoh atau lembaga yang dihormati

Mengikuti pendapat senior tanpa memeriksa datanya

A priori atau intuisi

Percaya karena terasa masuk akal

“Logikanya pasti begitu”

Metode ilmiah

Percaya setelah diuji dengan cara yang bisa diulang orang lain

Hipotesis diuji dengan data dan analisis yang dilaporkan

Nazir (1988) menambahkan cara nonilmiah lain yang sering dijumpai: penemuan kebetulan, akal sehat, coba-coba (trial and error), dan spekulasi. Cara-cara ini tidak selalu salah. Banyak penemuan besar berawal dari kebetulan. Namun hasilnya belum disebut ilmu sebelum diuji secara sistematis.

Enam Kriteria Metode Ilmiah

Nazir (1988) merumuskan kriteria yang harus dipenuhi agar sebuah prosedur disebut ilmiah:

  1. Berdasarkan fakta. Data yang dikumpulkan adalah fakta yang nyata, bukan khayalan atau dugaan.
  2. Bebas prasangka. Peneliti tidak membiarkan kepentingan atau perasaan pribadi memengaruhi kesimpulan.
  3. Menggunakan prinsip analisis. Fakta tidak hanya dikumpulkan, tetapi diuraikan sebab dan hubungannya.
  4. Menggunakan hipotesis. Ada dugaan yang memandu arah pengumpulan dan analisis data.
  5. Menggunakan ukuran objektif. Pengukuran bisa diperiksa dan diulang oleh orang lain dengan hasil yang sama.
  6. Menggunakan teknik kuantifikasi bila memungkinkan. Gejala diukur dengan angka agar perbedaan dan hubungan bisa dibandingkan dengan tepat. Pada penelitian kualitatif, kriteria ini digantikan oleh ketelitian deskripsi dan pengecekan keabsahan data.

Popper (1959) menambahkan satu syarat penting: sebuah pernyataan ilmiah harus dapat dibuktikan salah (falsifiable). Hipotesis “pelatihan meningkatkan kinerja” bisa diuji dan mungkin terbukti keliru. Sebaliknya, pernyataan yang selalu benar dalam keadaan apa pun tidak bisa diuji, sehingga bukan pernyataan ilmiah.

Langkah-Langkah Metode Ilmiah

Suriasumantri menguraikan metode ilmiah dalam lima langkah:

  1. Perumusan masalah. Pertanyaan tentang objek empiris yang batasnya jelas dan faktor-faktornya dapat dikenali.
  2. Penyusunan kerangka berpikir. Argumentasi yang menjelaskan hubungan antarfaktor, disusun dari teori dan hasil penelitian sebelumnya.
  3. Perumusan hipotesis. Jawaban sementara atas masalah, yang diturunkan dari kerangka berpikir.
  4. Pengujian hipotesis. Pengumpulan fakta untuk melihat apakah fakta mendukung hipotesis atau tidak.
  5. Penarikan kesimpulan. Penilaian apakah hipotesis diterima atau ditolak. Hipotesis yang diterima menjadi bagian dari pengetahuan ilmiah.

Padanannya dalam skripsi atau tesis: langkah 1 ada di Bab 1, langkah 2 dan 3 di Bab 2, langkah 4 di Bab 3 dan 4, serta langkah 5 di Bab 5. Bagan siklus kelima langkah ini ada di artikel pengertian karya ilmiah.

Deduksi dan Induksi: Roda Ilmu

Wallace (1971) menggambarkan hubungan teori dan data sebagai roda yang terus berputar.

Sisi kanan roda adalah deduksi: dari teori diturunkan hipotesis, lalu hipotesis diuji dengan observasi. Pola ini khas penelitian kuantitatif. Sisi kiri adalah induksi: dari observasi disusun generalisasi, lalu generalisasi dikembangkan menjadi teori. Pola ini khas penelitian kualitatif, misalnya grounded theory. Kedua sisi saling melengkapi, dan ilmu berkembang karena roda ini terus berputar.

Sikap Ilmiah

Metode ilmiah juga menuntut sikap tertentu dari penelitinya: rasa ingin tahu, jujur terhadap data (termasuk data yang tidak mendukung hipotesis), terbuka terhadap kritik, teliti, dan berani mengakui keterbatasan penelitian sendiri.

Pilihan pendekatan dan desain penelitian dibahas di artikel metodologi penelitian, sedangkan contoh penyusunan kerangka berpikir dan hipotesis ada di artikel kerangka konsep dan hipotesis. Butuh bantuan merumuskan masalah dan hipotesis? Lihat layanan konsultasi judul dan metode penelitian.

Referensi
  • Kerlinger, F. N., & Lee, H. B. (2000). Foundations of behavioral research (Edisi ke-4). Harcourt College Publishers.
  • Nazir, M. (1988). Metode penelitian. Ghalia Indonesia.
  • Peirce, C. S. (1877). The fixation of belief. Popular Science Monthly, 12, 1–15.
  • Popper, K. R. (1959). The logic of scientific discovery. Hutchinson.
  • Suriasumantri, J. S. Filsafat ilmu: Sebuah pengantar populer. Pustaka Sinar Harapan.
  • Wallace, W. L. (1971). The logic of science in sociology. Aldine.

Leave a Reply

error: