HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Jasa Pembuatan Tesis Tangerang 2016/2017

1. Potensi Ekonomi Daerah dalam Pengembangan UMKM Unggulan di Kota Tangerang

Abstrak

 

Pembangunan nasional merupakan usaha peningkatan kualitas manusia dan masyarakat Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, berlandaskan kemampuan nasional, dengan memanfaatkan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi serta memperhatikan tantangan perkembangan global. UMKM mempunyai peran penting dalam pembangunan ekonomi. karena tingkat penyerapan tenaga kerjanya yang relatif tinggi dan kebutuhan modal investasinya yang kecil, UMKM bisa dengan fleksibel menyesuaikan dan menjawab kondisi pasar yang terus berubah. Perkembangan jumlah UMKM yang meningkat belum diimbangi dengan perkembangan kualitas UMKM yang masih menghadapi permasalahan klasik yaitu rendahnya produktivitas.

Kajian ini diperlukan untuk menjawab permasalah-permasalahan

  • Jenis produk dan komoditas UMKM apakah yang potensial dan perlu untuk dikembangkan di Kota Tangerang?
  • Bagaimanakah tingkat penyerapan tenaga kerja UMKM di Kota Tangerang?
  • Bagaimanakah upaya-upaya yang harus dilakukan untuk mengembangkan jenis UMKM dan produk unggulan tersebut?

 

Metode yang digunakan untuk menjawab permasalahan dalam penelitian ini adalah Analisis Location Quotient (LQ), Analisis Deskriptif, dan Analisis SWOT. Hasil dari LQ diketahui bahwa di Kota Tangerang terdapat 4 sektor basis, yaitu industri pengolahan, listrik, gas dan air bersih, bangunan, dan sektor jasa. Kemudian penyerapan tenaga kerja sektor dominan berada dalam rentang usia 20-44 tahun. Kemudian dari hasil SWOT diketahui bahwa strategi yang bisa dilakukan adalah dengan memaksimalkan sumber daya yang ada, memperbaiki kualitas SDM, dan melakukan pemerataan pembangunan.

 

2. Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran terhadap Keputusan Pembelian Busana Muslim di Tangerang

Abstrak

Indonesia merupakan negara dengan penduduk Muslim terbanyak di dunia, pada tahun 2010 penganut Islam di Indonesia sekitar 205 juta jiwa atau sekitar 88,1 persen dari jumlah penduduk. Sejak kebangkitan Islam di seluruh dunia yang dimulai pada tahun 1970an busana muslim menjadi populer di Indonesia, hal tersebut membuat industri pakaian jadi yang di dalamnya termasuk busana muslim berkembang pesat, jauh di atas fashion konvensional (Euis Saedah, Juli 2012). Salah satu daerah di Indonesia yang mengalami perkembangan usaha di sektor industri maupun perdagangan busana muslim adalah Tangerang, karena letak demografinya dekat dengan Jakarta dan salah satunya didukung populasi penduduknya yang 88,3% muslim (BPS Propinsi Banten, 2011).

 

Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional dan dilakukan untuk menjawab tiga pertanyaan utama yaitu:

  • Mencari jawaban apakah strategi bauran pemasaran mempengaruhi pembelian busana muslim di Tangerang.
  • Untuk mengetahui faktor yang paling besar memberikan pengaruh sehingga orang membeli busanamuslim di Tangerang.

Subyek penelitian adalah para konsumen busanamuslim di Tangerang, Sampel data yang dipergunakan dalam penelitian ini diambil dari masyarakat pekerja kantor, pendidik, maupun ibu rumah tangga di Tangerang dengan cara menyebar kuesioner di Daerah KabupatenTangerang, Tangerangkota, dan Tangerang Selatan, dari tanggal 1 Oktober 2012 sampaidengan 5 Nopember 2012. Analisis hipotesis dilakukan dengan Structural Equation Modelling (SEM) dengan menggunakan software LISREL 8.70 Hasil analisis menunjukkan bahwa ada pengaruh strategi bauran pemasaranya itu variabelt empat (place) terhadap keputusan pembelian busana muslim di Tangerang yaitu dengan nilai-t = 2,16.

 

Sebagai kesimpulan, penelitian ini membuktikan bahwa ternyata tidak semua strategi bauran pemasaran (marketing mix) berpengaruh terhadap pembelian busana muslim di Tangerang, dari variabel strategi bauran-pemasaran 4-P tersebut ternyata hanya variabel tempat (place) saja yang mempunyai pengaruh terhadap keputusan pembelian busana muslim di Tangerang. Hal ini menunjukkan bahwa masih ada faktor lain selain strategi bauran pemasaran yang mempengaruhi konsumen terhadap pengambilan keputusan membeli busana muslim di Tangerang misalnya seperti faktor pemenuhan kebutuhan untuk berpenampilan syar’i (berbusana sesuai ketentuan agama) serta faktor psikologis (motif membeli bersifat emosional) dimana pembeli mempunyai keinginan tertentu dan baru akan membeli suatu produk apabila kepadanya disodorkan atau ditawarkan produk yang di jual tersebut dalam hal ini busana muslim.

 

3. Analisis Pelayanan Publik Bidang Perizinan (Studi Kasus di Pemerintah Kota Tangerang Selatan)

 

Abstrak

Pelayanan publik bidang perizinan menjadi masalah yang banyak mendapatkan keluhan dari masyarakat. Keluhan tersebut umumnya adalah menyangkut transparansi biaya dan lamanya waktu penyelesaian perizinan. Hal tersebut juga terjadi di Kota Tangerang Selatan. Banyak keluhan dari masyarakat khususnya pelaku usaha tentang pelayanan perizinan di Kota Tangerang Selatan yang dinilai berbelit-belit dan tidak pro-investasi. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui bagaimana Bagaimana pelaksanaan pelayanan publik bidang perizinan di Kota Tangerang Selatan, dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pelayanan publik bidang perizinan di Kota Tangerang Selatan.

 

Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dan metode yang dipakai adalah studi kasus. Informan dalam penelitian ini adalah penyelenggara pelayanan perizinan yaitu BP2T Tangerang Selatan dan para pelaku usaha. Pengumpulan data penelitian ini dilakukan dengan cara wawancara terstruktur, observasi, serta kajian terhadap dokumen terkait. Sedangkan analisis terhadap data yang terkumpul dalam penelitian ini dilaksanakan dengan metode triangulasi. Hasil penelitian memperlihatkan fakta bahwa pelayanan publik bidang perizinan di Tangerang Selatan masih belum sesuai harapan. Masih terjadi kesenjangan antara pelayanan yang seharusnya diterima pengguna jasa dengan pelayanan yang diberikan oleh pemkot. Kemudian ada beberapa faktor yang mempengaruhi pelayanan publik bidang perizinan di Kota Tangerang Selatan yaitu ketiadaan payung hukum yang jelas misalnya Izin Usaha Toko Modern, faktor koordinasi antara BP2T dengan SKPD lainnya. sistem dan mekanisme kerja yang belum mapan, serta masalah SDM yang masih memerlukan perbaikan. Berbagai kelemahan yang masih dijumpai dalam pelayanan perizinan oleh BP2T sudah berupaya diatasi dengan melakukan berbagai langkah terobosan dan inovasi, seperti pengadaan mobil layanan keliling, sertifikasi ISO untuk 5 layanan perizinan, serta optimalisasi layanan online.

 

4. Penataan Organisasi Perangkat Daerah Kota Tangerang Selatan

 

Abstrak

Organisasi perangkat daerah pada prinsipnya dibentuk untuk mengakomodasikan kewenangan yang dilaksanakan oleh Daerah. PP No. 41 tahun 2007 tentang Organisasi Perangkat Daerah mengisyaratkan pembentukan daerah disesuaikan dengan kemampuan, kebutuhan, dan beban kerja. Tujuan dibentuknya daerah Kota Tangerang Selatan sebagai otonom baru adalah untuk mengupayakan kesejahteraan masyarakat secara demokratis. Kerangka inilah yang dijadikan landasan bagi Pemerintah Kota Tangerang Selatan dalam menyusun organisasi perangkat daerah. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji sejauh mana penataan organisasi perangkat daerah Kota Tangerang Selatan mengacu pada PP No. 41 tahun 2007. Penataan perlu mengarah pada resizing dan reformulasi struktur kelembagaan daerah sesuai perumpunan urusan dalam kerangka fungsi pelayanan dasar dan pengembangan sektor unggulan. Perlu dilakukan peleburan, reformulasi, dan pengubahan kelembagaan daerah yang memiliki subyek dan obyek yang serumpun sehingga memenuhi kriteria dinas dan lembaga teknis daerah seperti yang diamanatkan oleh PP No. 41 tahun 2007.

 

5. Analisis Keberlanjutan Pemanfaatan Situ Kedaung, Kecamatan Pamulang Kota Tangerang Selatan

 

Abstrak

Pemerintah Kota Tangerang Selatan menetapkan situ Kedaung sebagai salah satu program konservasi dan pemanfaatan situ, karena dari 9 situ yang ada 4 diantaranya sudah hilang atau beralih fungsi, dan 3 terancam hilang, salah satunya adalah situ Kedaung. Untuk itu perlu dikaji tingkat keberlanjutan pemanfaatan situ Kedaung sebagai kawasan konservasi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis indeks dan status keberlanjutan situ Kedaung dari 5 (lima) dimensi keberlanjutan, dengan menggunakan metode anlisis data Multi-Dimensional Scalling (MDS), dan hasilnya dinyatakan dalam bentuk indeks dan status keberlanjutan. Untuk mengetahui atribut yang sensitif dan berpengaruh terhadap indeks dan status keberlanjutan serta pengaruh galat (error) dilakukan analisis Laverage dan Montecarlo. Sedangkan untuk menyusun skenario peningkatan status keberlanjutan ke depan dilakukan analisis prospektif.

 

Hasil analisis menunjukkan bahwa dimensi ekologi berada pada status kurang berkelanjutan (37,32% ), dimensi ekonomi berada pada status kurang berkelanjutan (26,05%), dimensi sosial berada pada status kurang berkelanjutan (40,28%), dimensi teknologi berada pada status cukup berkelanjutan (57,20%), serta dimensi kelembagaan berada pada status kurang berkelanjutan (26,91%). Hasil analisis keberlanjutan untuk seluruh dimensi situ Kedaung termasuk dalam kategori atau status kurang berkelanjutan dengan nilai indeks keberlanjutan sebesar 35,29%.

 

Dari 37 atribut yang dianalisis ada 14 atribut yang perlu segera ditangani karena sensitif berpengaruh terhadap tingkat galat yang sangat kecil pada taraf kepercayaan yaitu 95% dari keragaman yang ada dalam keberlanjutan situ Kedaung. Berdasarkan analisis prospektif terdapat 5 atribut kritis yang harus dikelola agar keberlanjutannya terjamin. Kelima atribut tersebut meliputi: pencemaran perairan, ekowisata, konservasi, penghasilan masyarakat, dan lembaga pengawas lokal yang selanjutnya disebut dengan atribut kunci. Untuk meningkatkan status keberlanjutan ke depan (jangka menengah dan jangka panjang), ada 3 skenario yaitu:

  • Konservatif-Pesimistik (bertahan pada kondisi yang ada sambil mengadakan perbaikan seadanya);
  • Moderat-Optimistik (melakukan perbaikan tapi tidak maksimal) dan
  • Progresif-Optimistik (melakukan perbaikan secara menyeluruh dan terpadu).

 

4. Pengembangan Model Partisipasi Masyarakat dalam Pelayanan Kesehatan di Puskesmas Kota Tangerang Selatan

Abstrak

 

Pada penelitian ini akan dirumuskan model pelayanan kesehatan di Puskesmas yang berpihak kepada masyarakat. Tujuan khusus penelitian ini adalah pengembangan model partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Puskesmas. Model yang dikembangkan dapat menjadi wadah bagi partisipasi masyarakat di Kota Tangerang Selatan dalam rangka untuk mendapatkan pelayanan kesehatan yang adil dan berkualitas. Teknik pengumpulan data yang digunakan yaitu telaah dokumen, pengamatan lapangan, dan wawancara dengan para informan, yaitu meliputi aparatur pemerintah daerah (dinas kesehatan, kepala Puskesmas, dan petugas Puskesmas) Kota Tangerang Selatan, wakil kelompok/organisasi profesi/Lembaga Swadaya Masyarakat yang bergerak di bidang pelayanan publik, kader kesehatan, dan pengguna layanan Puskesmas.

 

Pada tahun pertama, hasil penelitian yang diharapkan adalah diperolehnya gambaran tentang partisipasi masyarakat dalam penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Puskesmas, yaitu pada tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi penyelenggaraan layanan, serta mengetahui faktor-faktor yang mendukung dan menghambat tingkatan partisipasi masyarakat. Hasil temuan yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa partisipasi masyarakat dalam pelayanan penyelenggaraan pelayanan kesehatan di Puskesmas belum berjalan sebagaimana yang diharapkan. Hal ini ditandai dengan belum adanya maklumat pelayanan sebagai indikasi keikutsertaan masyarakat dalam penyelenggaraan layanan. Namun demikian, pada prakteknya secara parsial komponen-komponen yang merupakan bagian dari maklumat pelayanan sudah diaplikasikan. Komponen maklumat pelayanan ditandai dengan adanya standar pelayanan minimal, alur pelayanan, dan tersedianya kotak pengaduan dan nomor telepon untuk menampung keluhan, kritik, dan saran. Partisipasi masyarakat juga diwujudkan dengan melibatkan kader-kader kesehatan di tingkat RT dan kelurahan, meskipun masih berpusat pada layanan di luar gedung. Penelitian ini merekomendasikan untuk pengembangan lebih lanjut model partisipasi masyarakat dalam pelayanan kesehatan di Puskesmas Kota Tangerang Selatan.

 

5. Peran Teknologi Informasi Untuk Pemeliharaan Sumber Data Strategis Catatan Sipil Sebagai Langkah Awal Mewujudkan Daya Kompetitif Dalam Masyarakat Asean (Studi Kasus Pemeliharaan Catatan Sipil di Wilayah Tangerang Selatan)

 

Abstrak

Tahun 2015 merupakan tonggak bersejarah bagi masyarakat ASEAN. Pada tahun ini seluruh masyarakat ASEAN memiliki kebebasan berintregrasi dengan negara manapun di wilayah ASEAN, untuk kepentingan perdagangan, pendidikan, kesehatan dan sektor lainnya.

 

Untuk terlibat dalam masyarakat ASEAN tidaklah mudah, diperlukan kesiapan dari pemerintah pusat, dan daerah. Bagi pemerintahan daerah diperlukan kekokohan dari sisi hukum, perekonomian, maupun sumber daya manusianya. Dengan kesiapan pemerintahan daerah inilah Indonesia sebagai bagian dari masyarakat ASEAN dapat mendatangkan kemanfaatan bagi rakyat Indonesia sendiri, namun jika pemerintah daerah tidak siap, maka tenaga kerja asing akan membanjir di seluruh sektor ketagakerjaan di Indonesia. Salah satu upaya yang mendasar yang perlu dilakukan oleh pemerintah daerah adalah melindungi data kependudukan di wilayahnya. Melalui data kependudukan atau catatan sipil ini akan teridentifikasi jumlah tenaga kerja produktif, tidak produktif lagi, jumlah kelahiran dan jumlah penduduk yang migrasi.

 

Dengan data yang akurat maka pembinaan SDM yang dilakukan oleh pemerintah daerah akan lebih optimal. Sebagai wilayah pemekaran baru dari kabupaten Tangerang, Tangerang Selatan (Tangsel) perlu melakukan pembenahan di semua lini pemerintahannya. Salah satu unsur penting dalam mewujudkan kesejahteraan rakyat Tangsel adalah identifikasi jumlah penduduk dari hasil pemekaran daerah. Ditemukannya berbagai kasus pembangunan infrastruktur yang kurang tepat lokasinya, jumlah penduduk yang berbeda antara Badan Pusat Statistik ( BPS) – Tangsel dan dinas pendudukan setempat merupakan hambatan dalam upaya mensejahterakan rakyat Tangsel. Penelitian Peran Teknologi Informasi Untuk Pemeliharaan Sumber Data Strategis Catatan Sipil Sebagai Langkah Awal Mewujudkan Daya Kompetitif Dalam Masyarakat ASEAN (Studi Kasus Pemeliharaan Catatan Sipil di Wilayah Tangerang Selatan ) bertujuan mendeskripsikan kondisi catatan sipil di wilayah Tangsel pasca pemekaran serta peran teknologi untuk pemeliharaan sumber data strategis kependudukan berupa catatan sipil.

 

Penelitian kualitatif dengan pendekatan sistem ini melibatkan lima (5) kecamatan serta 2 (dua) kelurahan di wilayah Tangsel. Dari hasil interview dari informan, dokumen pendukung lain menunjukkan bahwa proses penyelesaiannya data kependudukan mempunyai rantai yang panjang, diperlukan 14 hari kerja bagi seseorang untuk menyelesaikan administrasi kependudukannya. Pemanfaatan teknologi informasi belum mampu meningkatkan/mempercepat proses administrasi kependudukan. Diperlukan komitmen dari seluruh jajaran pemerintahan di tingkat keluarahan,kecamatan, dinas kependudukan untuk memanfaatkan teknologi guna mempercepat proses pengurusan administrasi kependudukan, termasuk pemeliharaan data strategis catatan sipil masyarakat Tangerang Selatan.

 

6. Implementasi Pembelajaran Tematik Terpadu di Sekolah Dasar Kota Tangerang Selatan

 

Abstrak

Penelitian ini bertujuan untuk melihat pemahaman guru SD di Kota Tangerang Selatan tentang pembelajaran tematik terpadu. Selanjutnya penelitian ini juga melihat dan mengevaluasi pelaksanaan pembelajaran tematik terpadu di Sekolah Dasar, khususnya di Kota Tangerang Selatan, serta mengetahui hambatan yang dihadapi guru dalam menerapkan pembelajaran tersebut dan bagaimana guru mengatasi hambatan yang ada tersebut. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif.

 

Data diperoleh melalui teknik observasi, wawancara, dan pengumpulan dokumen yang dilakukan selama kurang lebih dua bulan. Responden dalam penelitian ini adalah delapan orang guru kelas I dan IV Sekolah Dasar Kecamatan Pamulang, Kota Tangerang Selatan.

 

Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa para guru responden telah memahami pembelajaran tematik terpadu secara konsep atau teori yang didapatnya dari pelatihan. Namun secara penerapan, pemahaman mereka terhadap pembelajaran tematik terpadu masih kurang.

 

Implementasi pembelajaran tematik terpadu belum nampak dilaksanakan sebagaimana tuntutan dalam kurikulum 2013. Banyak hambatan yang dihadapi guru dalam implementasi pembelajaran tematik terpadu. Hambatan tersebut antara lain kurangnya pelatihan, jumlah buku yang tidak memadai, kurangnya sarana prasarana, masih adanya kelas paralel, dan banyaknya jumlah siswa di dalam kelas. Berdasarkan kesimpulan hasil dan pembahasan penelitian, disarankan agar pelatihan berkelanjut bagi guru perlu dilakukan.

7. Pola Adaptasi Masyarakat Betawi Sebagai Dampak Perubahan Okupsi Terhadap Pembentukan Kota Tangerang Selatan (Studi di Wilayah Kecamatan Pamulang, Tangerang selatan,propinsi Banten)

 

8. Strategi Pedagang Pasar Tradisional dalam Persaingan dengan Pasar Modern di Kota Tangerang Selatan, Banten

 

9. Efektifitas Penerapan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE) terhadap Perilaku Gizi Lansia Peserta Pos Pelayanan Terpadu (Posbindu) di Kota Tangerang Selatan

Abstrak

 

Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (2010) menyatakan bahwa pada tahun 2010diperkirakan usia harapan hidup penduduk Indonesia adalah 67,4 tahun dengan jumlah lansia mencapai 23,9 juta jiwa (9,77%) dan diperkirakan akan menjadi 28 juta lebih pada tahun 2020. Pada tahun 2050 jumlah lansia diperkirakan mencapai 71,6 juta jiwa.

 

Jumlah penduduk lansia yang semakin meningkat seperti data di atas tentunya membutuhkan penanganan khusus terutama kaitannya dengan kualitas hidup lansia agar tetap produktif dan mandiri. Penelitian ini bertujuan membuat suatu model intervensi promosi kesehatan khususnya tentang perilaku gizi dengan pendekatan metode Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktik/tindakan gizi pada lansia peserta posbindu di Tangerang Selatan dan mengukur efektifitasnya. Tujuan akhir diharapkan dapat diketahui efektivitas penerapan intervensi dengan metode KIE dalam peningkatan pengetahuan, sikap, dan praktek/tindakan gizi lansia peserta posbindu di wilayah kota Tangerang Selatan. Disain penelitian menggunakan metode pre-test and post-test untuk menilai dampak intervensi pada lansia di dua kecamatan yaitu Kecamatan Pamulang dan Ciputat Timur selama 10 bulan. Tahap kegiatan dalam penelitian ini meliputi:

  • perancangan intervensi KIE,
  • perancangan pengukuran dampak (tes),
  • pelaksanaan intervensi dan tes (penarikan sampel, pre-test, intervensi, dan post-test),
  • analisis model intervensi, dan
  • evaluasi serta perbaikan model intervensi. Masing-masing tahap kegiatan ini dilakukan untuk setiap komponen perilaku gizi (pengetahuan, sikap, dan praktik/tindakan gizi).

 

10. Peran Teknologi Informasi Untuk Muwujudkan Akses Informasi yang Berkeadilan Sebagai Upaya Mengakselerasi Akses Keterjangkauan Informasi di Era Komunitas Asean (Studi Kasus Akses Informasi Masyarakat yang Berkeadilan di Tangerang Selatan )

Abstrak

 

Masyarakat ASEAN ditandai dengan pemanfaatan teknologi di semua lini. Konsep informasi yang berkeadilan akan mampu mewujudkan percepatan kesejahteraan. Dengan informasi yang cepat dan adil akan diperoleh data yang akurat selnajutnya data tersebut akan dimanfaatkan dalam setiap pengamnilan keputusan. Dengan terintegrasinya berbagai system informasi di tanah air maka masyarakat Indonesia kokoh sebagai bagian dari komunitas masyarakat ASEAN. Untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang tangguh, dari sisi daya saing diawali dari manajemen informasi yang ada di lingkup pemerintah daerah. Wilayah Tangerang Selatan (Tangsel) yang digunakan untuk mendeskripsikan akses informasi yang berkeadilan bagi masyarakat merupakan wilayah pemekaran sejak th 2008. Sebagai wilayah pemekaran pemerintahan Tangsel dituntut mampu mensejahterakan rakyatnya, dari sisi ekonomi,kesehatan, pendidikan maupun sisi informasi. Meskipun pemerintah sudah mengeluarkan UU Kearsipan No. 43 tahun 2009, maupun UU Keterbukaan Informasi Publik (KIP), keluhan masyarakat Tangsel adalah sulitnya memperoleh informasi yang layak sesuai kebutuhan mereka. Contoh konkretnya masih ribuan warga khususnya Tangerang Selatan yang belum merubah status Kartu Keluarga (KK) yang semula dalam lingkup kabupaten Tangerang menjadi Kota Tangerang Selatan.

 

Padahal informasi demikian sangat penting, dari status KK inilah digunakan untuk mengurus sekolah, mengurus kartu kesehatan, juga untuk pengurusan yang lain seperti ijin perdagangan, ijin mendidirkan perusahaan. Majunya teknologi mendorong masyarakat lebih cerdas, diantaranya masyarakat meminta transparansi dalam menjalankan pemerintahan. Penelitian “ Peran Teknologi Informasi Untuk Muwujudkan Akses Informasi Yang Berkeadilan Sebagai Upaya Mengakselerasi Akses Keterjangkauan Informasi di Era Komunitas ASEAN (Studi Kasus Akses Informasi Masyarakat di wilayah Tangerang Selatan ) bertujuan mengidentifikasi kondisi real akses informasi masyarakat Tangsel terhadap kebutuhan informasinya. Penelitian kualitatif ini melibatkan informan dari Pejabat Pengelola Informasi dan Dokumentasi (PPID), masyarakat yang mengajukan kebutuhan informasi di Pemda Tangsel. Dari hasil interview, studi dokumen serta survey di PPID menunjukkan bahwa informasi yang diperlukan oleh masyarakat belum terlayani dengan maksimal. Pemanfaatan teknologi belum dioptimalkan dengan pengintegrasian dari beberapa Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) di wilayah Tangsel yang dapat menjawab permintaan informasi masyarakat.Untuk mewujudkan informasi yang berkeadilan sebagai keharusan dalam mewujudkan kesejahteraan masyarakat Tangsel diperlukan pemanfaatan teknologi yang optimal, yang mampu mengintegrasikan semua SKPD di wilayah Tangsel. Dengan pemanfaatn teknologi inilah akses informasi yang berkeadilan dapat diwujudkan.

 

11. Pengarusutamaan Manajemen Berbasis Sekolah Pada Program Studi PGSD (MBS-PGSD) Universitas Terbuka

Abstrak

 

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan peningkatan kualitas Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di Sekolah Dasar (SD) Wilayah Kantor Cabang Pendidikan & Kebudayaan, Depok dan Tangerang Selatan. Selain itu berkontribusi terhadap perbaikan, implementasi, dan peningkatan kualitas pembelajaran berdasarkan konsep MBS dan membantu memberdayakan guru dalam memecahkan masalah di sekolah. Hasil ini menjadi masukan bagi pengembangan materi pada mata kuliah MBS di program S1 PGSD-UT. Penelitian bersifat deskriptif evaluatif yang bersifat eksploratif. Responden adalah kepala sekolah, guru, siswa dan orang tua dari setiap sekolah yang dijadikan objek penelitian. Tempat penelitian di delapan sekolah rintisan MBS di wilayah Cabang Dinas P&K Depok dan Tangerang Selatan yang masih kurang dan cukup berhasil dalam transparansi, kemandirian, kerjasama, akuntabilitas dan program yang berkelanjutan dalam program MBS. Sekolah tersebut adalah MI Darul Falah Depok, SDN Sukamaju 10 Cilodong Depok, SDN Sukamaju Cilodong Depok V, SDN 03 Rempoa Ciputat Tangerang Selatan, SDN Kedokan Cisauk Tangerang Selatan, SDN Sempora II Tangerang Selatan, MI Asy Syifa Pamulang Tangerang Selatan, dan SD Dharma Karya tangerang Serlatan berada di kategori sedang dan sangat sukses dengan nilai 66,7% -91,6%.

 

Sementara jika ditinjau dari latar belakang (konteks), input, proses dan juga output, maka disimpulkan bahwa kedelapan dari sekolah tersebut memiliki potensi yang cukup mendukung pelaksanaan MBS. Melalui pengarusutamaan manajemen berbasis sekolah pada program S1 PGSD UT (MBS-PGSD) dengan memperhatikan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan kurikulum 2013 yaitu menuntut sekolah untuk secara mandiri mengembangkan, melaksanakan, dan mengevaluasi kurikulum sekolahnya masing-masing serta menerapkan MBS dalam pengelolaan penddikan, untuk itu UT melakukan penyesuaian materi MBS di program S1 PGSD. Penyesuaian tersebut di antaranya adalah revisi bahan ajar yang berkaitan dengan pengembangan kurikulum di sekolah dan memasukkan mata kuliah MBS ke dalam struktur Kurikulum Program S1 PGSD-UT. Sementara kebutuhan pengembangan modul MBS yang telah dijadikan bahan acuan pembelajaran bagi mahasiswa dengan tujuan dapat menerapkan konsep MBS dikembangkan materi MBS pada modul dengan memperhatikan kebutuhan MBS di SD dan memantapkan konsep landasan filosofis MBS, otonomi penyelenggaraan pendidikan, kebijakan pemerintah untuk menjamin MBS, desentralisasi dan desentralisasi MBS pada tingkat pendidikan di sekolah dan implentasinya. Untuk itu secara umum implementasi MBS di sekolah dan peran Program S1 PGSD UT dalam pengembangan konsep MBS dapat terwujud baik jika adanya usaha sosialisasi konsep MBS yang jelas, identifikasi peran masing-masing pembangunan kelembagaan capacity building terprogram, kegiatan pelatihan diberbagai peran sekolah berkembang dan terpenuhi secara proporsional, proses pembelajaran, evaluasi dan kegiatan lainnya dapat dilakukan dengan perbaikan-perbaikan secara bertahap.

 

12. Lingkungan Fisik dan Kekayaan Mikroalga di Danau Universitas Terbuka, Tangerang Selatan

13. Evaluasi Proses Pembelajaran Bahasa Inggris di Sekolah Dasar di Tangerang, Banten

 

14. Motivasi Kerja dan Kualitas Pelayanan Aparatur Sipil Negara Sebagai Anteseden Kepuasan Masyarakat dalam Layanan Publik di Kecamatan Kota Tangerang Selatan

 

Abstrak

Kota Tangerang Selatan merupakan Daerah Otonom baru di Provinsi Banten yang berdiri berdasarkan Undang-Undang Nomor 51 Tahun 2008. Wilayah otonom baru di Provinsi Banten hasil pemekaran Kabupaten Tangerang ini memiliki 7 kecamatan. Berdasarkan hasil Sensus Penduduk tahun 2014 1.405.170 jiwa. Penduduk berjenis kelamin laki-laki sebesar 708.767 jiwa sedangkan perempuan 696.403 jiwa. Perhatian terhadap eksistensi pelayanan semakin berkembang seiring dengan munculnya berbagai masalah dalam pelayanan pemerintah kepada masyarakat, seperti pembuatan KTP, KK, akta, perizinan sampai pada penyediaan sarana dan prasarana umum dan sosial. Informasi yang ditemukan secara langsung dan melalui berbagai media massa (cetak dan elektronik) seringkali mengungkapkan berbagai kelemahan pelayanan pemerintah yang mencerminkan ketidakpuasan masyarakat terhadap pelayanan aparat. Tingkat kepuasan masyarakat terhadap pelayanan dari sektor publik masih cukup rendah hal ini dibuktikan dari beberapa penelitian empiris terhadap kualitas pelayanan di birokrasi pemerintahan daerah.

 

Beranjak dari pemikiran tersebut dan berdasarkan pengamatan awal dilapangan, bahwa motivasi kerja aparat pemerintah turut berperan dalam mewujudkan kualitas pelayanan publik di tingkat Kecamatan Kota Tangerang Selatan. Dari fenomena tersebut penulis tertarik untuk meneliti dan menganalisis lebih lanjut dampak motivasi kerja dan kualitas pelayanan aparat terhadap kepuasan masyarakat di tingkat Kecamatan Kota Tangerang Selatan. Metode pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah nonprobability sampling. Untuk keperluan analisis secara kuantitatif, penentuan skor untuk setiap item kuesioner digunakan skala Likert. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan SEM dengan bantuan software LISREL 8.7.

 

Hasil penelitian menunjukan bahwa motivasi aparatur sipil pegawai kecamatan di wilayah Tangerang Selatan mempengaruhi kualitas pelayanan. Motivasi aparatur sipil pegawai kecamatan di wilayah Tangerang Selatan tidak mempengaruhi kepuasan masyarakat. Hal ini disebabkan karena lingkungan kerja yang kurang kondusif dan peran pimpinan dalam penyelesaian tugas pelayanan. Dalam hal kualitas pelayanan aparatur sipil pegawai mempengaruhi kepuasan masyarakat di kecamatan di wilayah Tangerang Selatan.

 

15. Peningkatan Keterlibatan Orang tua dalam Mendidik Anak Usia Dini melalui Pendampingan “Parenting Class” (Pengembangan Model di TK Tangerang Selatan)

 

Abstrak

Pendidikan anak usia dini yang berlangsung di Taman Kanak-kanak memerlukan kerja sama yang bagus antara orang tua (terutama ibu) dengan para guru di TK. Namun, kondisi di lapangan yang terjadi kadang justru sebaliknya. Beberapa masalah muncul dalam pola interaksi antara guru-anak-orang tua. Pada studi pendahuluan ke salah satu TK di Tangerang, ditemukan bahwa 3 orang tua dari 53 orang tua anak TK tersebut mendesak guru untuk memberikan pekerjaan rumah calistung pada anak-anak mereka. Guru yang paham bahwa pembelajaran membaca untuk anak usia dini tidak dapat dipaksakan, menjadi dilematis. Masalah yang lain adalah adanya 12 orang tua dari 67 orang tua yang menurut para guru kurang berupaya melanjutkan kebiasaan baik yang telah diajarkan di sekolah untuk tetap terus dipertahankan dan dipantau selama di rumah. Pada akhir pekan atau pasca libur panjang, jumlah anak yang perlu beradaptasi ulang dengan kebiasaan-kebiasaan baik di TK, bertambah banyak. Masalah-masalah demikian, berdasar wawancara dengan guru–guru TK di Tangerang Selatan, juga terjadi di TK-TK yang lain.

 

Sementara itu, sebagian besar anak diantar sendiri oleh orang tuanya dan mereka menunggui anaknya hingga pulang sekolah karena waktu belajar anaknya tak terlalu lama. Kesempatan ini dapat dimanfaatkan untuk diadakan parenting class dengan mendatangkan narasumber yang sesuai dengan kebutuhan mereka. Parenting class dilaksanakan secara berkala dan di antara satu pertemuan ke pertemuan berikutnya dapat diberikan lembar evaluasi diri kepada para orang tua murid terkait dengan pola pengasuhan orang tua di rumah. Meskipun pertemuan orang tua yang diadakan pihak TK selama ini sudah dilaksanakan, tetapi pelaksanaannya masih belum optimal. Penelitian ini berusaha membuat model yang dapat direkomendasikan untuk pelaksanaan parenting class di TK-TK yang ada di Tangerang Selatan.

 

Penelitian ini menggunakan pendekatan pengembangan (research and development), dan penelitian ini merupakan tahun kedua dari dua tahun masa penelitian. Penelitian dilakukan di TK Al-Hikmah Tangerang Selatan, pada tahun ajaran 2014/2015.

Incoming search terms:

Leave a Reply

Alamat IDTesis Surabaya

Jl Gayungan VIII No 3, Surabaya (Carefour A Yani maju 100 m, ambil kiri ke arah Polsek Gayungan/Telkom Injoko)