HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Skripsi Penerapan Teknik Pijat Effleurage Sebagai Upaya Penurunan Nyeri Persalinan

Judul Skripsi : Penerapan Teknik Pijat Effleurage Sebagai Upaya Penurunan Nyeri Persalinan Pada Ibu Inpartu Kala 1 Fase Aktif (di Polindes Kembangringgit Kec. Pungging Kab. Mojokerto)

 

A. Latar Belakang Masalah

Penatalaksanaan pada ibu inpartu kala 1 fase aktif dilakukan observasi dengan menggunakan lembar partograf, observasi tersebut meliputi detak jantung janin, kondisi air ketuban, penyusupan kepala janin, pembukaan dan pendataran servix, penurunan kepala janin, kontraksi uterus meliputi frekuensi serta lama kontraksi, tekanan darah, jumlah nadi, suhu tubuh, serta peneriksaan urine, sedangkan observasi intensitas nyeri belum di masukkan dalam standar operasional prosedur, juga masih banyak bidan yang belum mengetahui tentang penerapan teknik pijat Effleurage sebagai upaya penurunan nyeri persalinan pada ibu inpartu kala 1 fase aktif. Berdasarkan data yang di peroleh, Polindes Kembangringgit pada tahun 2010 tercatat 120 persalinan normal, 11 persalinan tindakan dan 8 persalinan dengan operasi (SC), sampai saat ini data tentang nyeri persalinan pada ibu inpartu kala 1 fase aktif belum diketahui

Berdasarkan permasalahan di atas dimana nyeri persalinan pada ibu inpartu kala 1 fase aktif bisa berdampak terhadap kelancaran proses persalinan , serta masih banyak bidan yang belum mengetahui tentang penerapan teknik pijat Effleurage sebagai upaya penurunan nyeri persalinan pada ibu inpartu kala 1 fase aktif, untuk itu peneliti merasa tertarik melakukan penelitian tentang penerapan teknik pijat Effleurage sebagai upaya penurunan nyeri persalinan pada ibu inpartu kala 1 fase aktif oleh bidan dan pendamping pasien di Polindes Kembangringgit Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimanakah teknik pijat Effleurage yang dilakukan oleh bidan?
  2. Bagaimana teknik pijat Effleurage yang dilakukan oleh pendamping pasien?
  3. Bagaimana evaluasi bidan koordinator tentang teknik pijat Effleurage yang dilakukan oleh bidan dan pendamping pasien terhadap penurunan nyeri persalinan?

 

C. Tinjauan Pustaka

Pengertian Effleurage

Effleurage (pijat ringan) adalah salah satu gerakan utama dalam pijat dan bisa di lakukan di bagian tubuh manapun. Effleurage menunjukkan awal dan akhir pijatan dan bisa di lakukan sebelum atau sesudah usapan dan memudahkan aliran gerakan satu ke gerakan yang lain. Telapak tangan harus selalu bersentuhan dengan tubuh, yang akan merasakan sebuah gerakan yang berkelanjutan ketika menerapkan tekanan ritmis dari atas ke bawah menuju titik awal dengan sentuhan ringan, mempertahankan irama tersebut dan menghindari gerakan gerakan kasar (Jordi , 2007 : 24)

 

Teknik pijat Effleurage

Teknik pijat Effleurage merupakan salah satu metode non farmakologis yang dilakukan untuk mengurangi nyeri persalinan pada ibu inpartu kala 1 fase aktif. pijatan berupa usapan lembut, lambat, dan panjang atau tidak terputus – putus. Bisa di lakukan dengan posisi pasien terlentang atau miring, teknik pijat ini menimbulkan efek relaksasi dan menciptakan perasaan nyaman.

 

Pengertian Nyeri

Nyeri merupakan kondisi berupa perasaan yang tidak menyenangkan, sifatnya sangat subjektif karena perasaan nyeri berbeda pada setiap orang dalam hal skala atau tingkatannya, dan hanya orang tersebutlah yang dapat menjelaskan atau mengevaluasi rasa nyeri yang dialami. Menurut (The International association for teh Study of Pain). Nyeri adalah pengalaman sensorik (fisik) dan emosional (psikologis) yang tidak menyenangkan dan di sertai oleh kerusakan jaringan secara potensial dan aktual.

 

Pengukuran Intensitas Nyeri

Menurut Perry dan Potter (1993), nyeri tidak dapat diukur, secara objektif misalnya dengan X-Ray atau tes darah. Namun tipe nyeri yang muncul dapat diramalkan berdasarkan tanda dan gejalanya. Kadang bidan hanya bisa mengkaji nyeri dengan berpatokan pada ucapan dan perilaku klien. Klien kadang diminta untuk menggambarkan nyeri yang dialaminya tersebut sebagai nyeri ringan, nyeri sedang, atau berat. Bagaimanapun makna dari istilah tersebut berbeda antara klien dan bidan. Tipe nyeri tersebut berbeda pada setiap waktu.

 

D. Metodelogi Penelitian

Deskriptip kualitatif dengan desain embedded case study teknik pengumpulan data digunakan wawancara mendalam, observasi dan dokumentasi, Informan pada penelitian ini adalah bidan di Polindes, dukun bayi, pasien, dan keluarga pasien yang ada di Wilayah Desa Kembangringgit Kecamatan Pungging Kabupaten Mojokerto.

Validitas data yang digunakan adalah trianggulasi.

 

E. Kesimpulan

1. Penerapan teknik pijat Effleurage oleh bidan di Polindes

Pengetahuan dari ke tiga pasien inpartu kala 1 fase aktif tentang nyeri persalinan sangat beragam, mulai dari istilah ”loro sewu dadi siji” yang menggambarkan betapa hebatnya nyeri persalinan, kemudian ada istilah ”kapok lombok” yang mengandung arti memberi motifasi, bahwasannya sehebat apapun nyeri persalinan tersebut, ternyata masih banyak wanita yang melahirkan lebih dari satu. Dari ketiga pasien yang akan melahirkan semua di observasi dengan menggunakan lembar partograf dan semua pasien dalam keadaan normal sedangkan respon nyeri pasien di observasi menggunakan skala numerik dan skala wajah, dua diantara ketiga pasien merasakan nyeri ”sangat berat” dan yang satu merasakan ”nyeri sedang” cara mereka mengatasi rasa nyeri persalinan juga sangat bervariasi dan cenderung tidak ada dalam teori kebidanan, hal ini bisa di maklumi karena ternyata bidan belum pernah memberikan pengetahuan tentang cara mengendalikan nyeri persalinan. Ketika bidan menerapkan teknik pijat Effleurage dengan cara menggunakan dua tangan yaitu pemijatan dimulai dari perut bagian bawah lalu ke fundus uteri dengan gerakan secara melingkar dan terus menerus selama rahim berkontraksi, ketiga pasien bisa menerima karena pada dasarnya dua diantara ketiga pasien tersebut setiap bulan sudah melakukan ”oyok” (pijat ringan) pada dukun bayi dengan maksud untuk menata posisi bayi, dan pasien merasakan nyaman setelah di ”oyok” (pijat ringan), sehingga pijat Effleurage dirasakan hampir sama dengan ”oyok” dan pasien bisa menerima, merasa lebih nyaman dan bisa mengendalikan rasa nyeri, dalam keadaan nyeri yang terkendali diharapkan pasien bisa lebih kooperatif saat bidan memimpin persalinan.

2. Penerapan teknik pijat Effleurage oleh pendamping pasien

Dari pendamping pasien yaitu dua orang ibu dan dua orang suami dari pasien. tiga diantaranya mempunyai pengetahuan tentang nyeri persalinan yaitu di pandang dari sudut agama di anggap sebagai takdir dari Tuhan, dan berdasar pengalaman mereka nyeri persalinan juga disebabkan karena jumlah kehamilan ganjil yang disebut ”medeking” juga di pengaruhi oleh jenis kelamin bayi, anak laki laki lebih nyeri dibanding anak perempuan, pengetahuan dari pendamping pasien tersebut masih belum di temukan dalam teori kebidanan. secara logika mereka belum mengerti tentang penyebab nyeri persalinan tapi ada satu pendamping pasien yang mengatakan bahwa nyeri persalinan secara logika disebabkan adanya tekanan dari dalam rahim untuk mengeluarkan isi rahim, pengetahuan ini dia dapatkan dari membaca majalah ayah bunda, sedangkan untuk mengatasi nyeri persalinan, pengetahuan mereka masih berorientasi pada sosial budaya yaitu dengan cara minta maaf pada suami dan orang tua serta minta air pada Kyai bahkan ada yang disuruh minum air bekas basuhan kaki ibunya yang semuanya secara rasional belum ada dalam teori kebidanan. Tentang penerapan teknik pijat Effleurage oleh pendamping pasien sebenarnya hal tersebut sudah di lakukan terutama oleh dukun bayi yang di sebut ”oyok” tapi mereka belum tahu secara pasti teknik pijat yang benar serta efektifitasnya terhadap penurunan nyeri persalinan, dan menerapnya kepada pasien sangat mudahserta bisa dikerjakan oleh siapapun atas petunjuk dari bidan.

3. Evaluasi teknik pijat Effleurage yang di lakukan oleh bidan dan pendamping pasien terhadap penurunan nyeri persalinan Dari tindakan penerapan teknik pijat Effleurage pada ibu inpartu kala 1 fase aktif yang di lakukan oleh bidan dan pendamping pasien menunjukkan bahwa hasil pengamatan dari ketiga pasien ibu inpartu kala 1 fase aktif adalah

  1. Pasien Ny. Ja dari ”nyeri berat” menurun ke ”nyeri sedang”
  2. Pasien Ny. Ri dari nyeri ”sangat berat” menurun ke ”nyeri berat”
  3. Pasien Ny. Ik ada pada nyeri sedang dari awal rasa nyeri muncul sampai bayi lahir, hal ini karena suami sudah aktif melakukan pijat ringan secara dini sehingga nyeri bisa terkendali

Dapat disimpulkan bahwa teknik pijat Effleurage pada ketiga pasien tersebut belum mampu menghilangkan nyeri yang di rasakan oleh ibu yang akan melahirkan dan tidak bisa merubah karakteristik nyeri tapi efektif dalam menurunkan nyeri persalinan, sehingga sangat baik apabila pengamatan nyeri persalinan dimasukkan dalam standar operasional prosedur (SOP) dan penerapan teknik pijat Effleurage bisa dijadikan acuan dalam menurunkan nyeri persalinan. diharapkan dengan penurunan nyeri tersebut pasien bisa kooperatif dengan instruksi bidan saat memimpin persalinan.

Incoming search terms:

Leave a Reply