HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Kebijakan Moneter: Dampak Fluktuasi Perekonomian Dunia trhdp Efektifitas Kebijakan

Judul Tesis : Analisis Dampak Fluktuasi Perekonomian Dunia terhadap Efektifitas Kebijakan Moneter

 

A. Latar Belakang

Pesatnya perkembangan ekonomi dunia dewasa ini berimplikasi pada eratnya hubungan satu negara dengan negara yang lain. Arus globalisasi ekonomi ditandai dengan semakin menipisnya batasan geografis dari kegiatan ekonomi secara nasional, regional dan semakin terintegrasi menjadi satu proses yang melibatkan banyak negara. Karakteristik perekonomian yang dianut suatu negara akan mempengaruhi prinsip perekonomian dan perdagangan negara tersebut. Indonesia yang menganut prinsip perekonomian terbuka kecil (small open economy) dan sistem nilai tukar yang mengambang bebas (floating exchange rate), tidak akan lepas dari prinsip perekonomian global dan prinsip liberalisasi perdagangan, dimana semakin besar transaksi perdagangan dan keuangan internasional akan berpengaruh pada besaran aliran dana dari luar negeri yang masuk (capital inflow) dan keluar (capital outflow). Aliran dana tersebut selanjutnya akan membawa implikasi pada indikator makroekonomi Indonesia yang antara lain jumlah uang beredar, suku bunga, serta nilai tukar yang pada akhirnya akan mempengaruhi inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Kejadian ekonomi yang terjadi secara global, baik secara langsung maupun tidak langsung, akan memberikan pengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Guncangan ekonomi yang berasal dari luar (external shock) yang disebabkan oleh perubahan penawaran agregat (supply shock) seperti meningkatnya harga minyak dunia serta perubahan permintaan agregat (demand shock) seperti siklus pengetatan kebijakan moneter global, keduanya akan dan berdampak pada stabilitas ekonomi makro Indonesia. Selain itu, guncangan ekonomi dari dalam negeri (internal shock) juga akan berdampak pada stabilitas ekonomimakro. Bahkan apabila terdapat guncangan penawaran yang memburuk (adverse supply shock) tanpa diimbangi oleh peningkatan permintaan agregat, akan menyebabkan suatu kondisi stagflasi. Oleh karena itu, untuk menjaga stabilitas perekonomian menjadi tidak mudah.

 

B. Perumusan Masalah

  1. Bagaimana dampak guncangan harga minyak dunia (WOP) terhadap perkembangan indikator makroekonomi (inflasi, GDP dan nilai tukar riil efektif);
  2. Bagaimana dampak guncangan siklus kebijakan moneter dunia (Fed Fund Rate) terhadap perkembangan indikator makroekonomi (inflasi, GDP dan nilai tukar riil efektif);
  3. Bagaimana respon suku bunga domestik (BI Rate) terhadap perkembangan indikator makroekonomi (inflasi, GDP dan nilai tukar riil efektif);

 

C. Tinjauan Pustaka Tesis

Kebijakan Moneter dalam Perekonomian Terbuka Kecil dengan Kurs

Mengambang Bebas Teori atau model Mundell-Fleming (1963) dapat dipergunakan untuk mengkaji suatu dampak kebijakan ekonomi (moneter) dalam penerapan sistem nilai tukar mengambang bebas. Asumsi penting dan cukup ekstrem dari model ini adalah adanya asumsi perekonomian terbuka kecil (small open economy) dan mobilitas modal sempurna antar negara (perfect capital mobility). Dengan asumsi ini maka berakibat tingkat bunga perekonomian (i) ditentukan oleh tingkat bunga internasional (i*)atau secara matematis dapat ditulis i = i *.

Dampak Kebijakan Moneter terhadap Harga dalam Rezim Nilai Tukar Mengambang Dampak

kebijakan moneter terhadap harga dapat dijelaskan oleh implikasinya terhadap permintaan agregat yang menunjukkan hubungan antara pendapatan (output) dan harga. Dalam jangka pendek seperti yang dijelaskan pada paragraf sebelumnya diasumsikan bahwa harga tetap. Kebijakan moneter ekspansif dalam jangka panjang akan berdampak lain dengan jangka pendek dikarenakan perubahan asumsi ini.

Inflation Targeting Framework

Dalam melakukan kebijakan moneter umumnya otoritas moneter menentukan suatu nominal anchor sebagai sasaran akhir yang ingin dicapai. Pada awalnya sasaran kebijakan moneter lebih difokuskan pada nilai tukar dan jumlah uang beredar. Namun seiring dengan adanya resiko kesinambungan nilai tukar tetap dan mulai melemahnya korelasi antara variabel agregat moneter dengan variabel riil seperti tingkat harga dan output maka sasaran seperti ini mulai ditinggalkan oleh banyak otoritas moneter di beberapa negara. Globalisasi perekonomian dunia, inovasi produk-produk keuangan, sekuritisasi aset serta decoupling antara sektor keuangan dan sektor riil merupakan faktor yang melatar belakangi melemahnya hubungan besaran moneter tersebut.

 

D. Metode Penelitian

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data time series bulana selama kurun waktu 2004:12 – 2009:12.

Model yang dipergunakan dalam penelitian ini adalah Struktural VAR (SVAR) yang merupakan pengembangan dari model VAR.

Dalam penelitian ini digunakan data time series bulanan dari beberapa variabel moneter dan riil.

 

E. Kesimpulan

  1. Berdasarkan hasil analisis IRF, respon variabel guncangan dunia yang berasal dari peningkatan harga minyak dunia (LNWOP), pada saat mencapai nilai maksimum, memiliki pengaruh yang lebih besar terhadap ketiga variabel makroekonomi Indonesia (output, inflasi dan nilai tukar efektif riil) jika dibandingkan dengan variabel suku bunga dunia (FFR).Variabel nilai tukar riil efektif (REER) memiliki kecepatan respon yang tercepat (pada periode pertama) dan terbesar dalam merespon guncangan harga minyak dunia diantara output dan inflasi. Hal ini mengindikasikan bahwa dampak kedua guncangan tersebut terhadap variabel makroekonomi Indonesia direpresentasikan melalui nilai tukar (exchange rate channel).
  2. Respon suku bunga domestik (BIR) yang diterjemahkan sebagai stance kebijakan moneter Bank Indonesia menunjukan bahwa guncangan variabel domestik terutama inflasi (dibandingkan output dan nilai tukar) direspon dengan peningkatan tingkat suku bunga (kebijakan moneter kontraktif). Sedangkan representasi pengaruh variabel dunia/eksternal terutama yang menyebabkan adanya respon terhadap suku bunga domestik adalah variabel suku bunga dunia (FFR), Dengan kata lain, stance kebijakan moneter Bank Indonesia mengacu pada siklus kebijakan moneter dunia. Hal ini menunjukan kebijakan moneter yang diterapkan akan menyesuaikan dengan tingkat bunga dunia (i*) atau sesuai dengan asumsi Teori Mundell-Fleming.
  3. Kebijakan moneter yang ditempuh Bank Indonesia selama periode observasi melalui suku bunga sebagai sasaran operasional cukup efektif untuk mempengaruhi tingkat harga dan memperkuat nilai tukar (terlebih peningkatan harga minyak dunia dan krisis ekonomi 2008). Efektifitas pengendalian tingkat harga memerlukan jeda waktu tertentu dan tergantung pada kondisi stabilitas perekonomian dan tekanan terhadap harga, baik dari sisi permintaan maupun penawaran. Efektifnya suku bunga dalam memperkuat nilai tukar memberikan indikasi adanya mobilitas kapital yang signifikan (capital inflow) dan bekerjanya mekanisme transmisi melalui jalur nilai tukar.

 

Contoh Tesis Efektifitas Kebijakan

  1. Analisis Dampak Fluktuasi Perekonomian Dunia terhadap Efektifitas Kebijakan Moneter

Leave a Reply