HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com

Penelitian Deskriptif Kualitatif: Pengertian, Ciri, Langkah, dan Contoh Bab 3

Penelitian deskriptif kualitatif adalah penelitian yang menggambarkan suatu fenomena secara lengkap dan apa adanya, memakai bahasa yang tetap dekat dengan kata-kata informan, tanpa tafsir teoretis yang berat. Datanya berupa hasil wawancara, observasi, dan dokumen, bukan angka atau persentase. Pendekatan ini paling banyak dipakai dalam skripsi dan penelitian evaluasi program karena hasilnya langsung bisa dipahami dan dimanfaatkan.

Artikel ini bagian dari panduan Metode Penelitian Kualitatif. Di sini Anda akan menemukan bedanya dengan deskriptif kuantitatif (yang paling sering tertukar), langkah-langkahnya, contoh pengodean data, dan kerangka Bab 3 yang bisa langsung disesuaikan.

Pengertian Penelitian Deskriptif Kualitatif

Definisi klasik yang paling sering dikutip di Indonesia berasal dari Bogdan dan Taylor (1975): metodologi kualitatif adalah prosedur penelitian yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Dalam literatur internasional, pendekatan ini disebut qualitative description. Sandelowski (2000) menegaskan bahwa ia adalah desain yang sah dan berdiri sendiri, bukan versi “kurang lengkap” dari fenomenologi atau grounded theory. Tujuannya menyajikan ringkasan peristiwa yang menyeluruh dalam bahasa sehari-hari, dengan tafsir yang tidak jauh melampaui apa yang dikatakan informan.

Singkatnya: deskriptif kualitatif menjawab “apa yang terjadi, bagaimana, dan menurut siapa”, tanpa harus menemukan esensi pengalaman (seperti fenomenologi) atau membangun teori baru (seperti grounded theory).

Beda Deskriptif Kualitatif dan Deskriptif Kuantitatif

Keduanya sama-sama “menggambarkan”, sehingga sering tertukar. Perbedaannya ada pada data dan cara analisisnya.

Perbedaan penelitian deskriptif kualitatif dan deskriptif kuantitatif pada topik yang sama

Deskriptif kualitatif vs deskriptif kuantitatif. Satu topik (pelaksanaan posyandu) diteliti dua cara: kuesioner ? persentase, dan wawancara ? tema dengan kutipan.

Aspek Deskriptif kuantitatif Deskriptif kualitatif
Contoh judul Gambaran Tingkat Pengetahuan Kader tentang Pemantauan Tumbuh Kembang Balita Gambaran Pelaksanaan Pemantauan Tumbuh Kembang Balita di Posyandu X dari Sudut Pandang Kader
Sumber data Responden dalam jumlah banyak Informan yang dipilih dengan sengaja
Instrumen Kuesioner tertutup Pedoman wawancara dan observasi
Data Angka dan kategori jawaban Transkrip, catatan lapangan, dokumen
Analisis Frekuensi, persentase, rata-rata Pengodean, kategori, tema
Bentuk hasil “62% kader berpengetahuan baik” “Kader menimbang balita tepat waktu, tetapi kesulitan menjelaskan hasil KMS kepada ibu karena…”

Bila hasil penelitian Anda berupa tabel persentase, itu deskriptif kuantitatif dan dianalisis dengan statistik deskriptif. Perbedaan kedua pendekatan secara umum dibahas di [tautan: A1].

Ciri-Ciri Penelitian Deskriptif Kualitatif

  1. Dekat dengan data. Temuan ditulis dengan bahasa yang mudah dikenali kembali oleh informan.
  2. Tafsir rendah. Peneliti merangkum dan mengelompokkan, bukan mencari makna tersembunyi.
  3. Informan dipilih secara purposive. Mereka yang paling memahami fenomena yang diteliti.
  4. Data dari wawancara semi-terstruktur, sering dilengkapi observasi, dokumen, atau FGD.
  5. Analisis isi kualitatif atau analisis tematik sebagai teknik analisis yang paling umum.
  6. Hasil berupa ringkasan yang tertata, misalnya per aspek atau per tema, dengan kutipan sebagai bukti.

Ciri-ciri ini sejalan dengan temuan tinjauan sistematis Kim, Sefcik, dan Bradway (2017) atas studi-studi deskriptif kualitatif di bidang kesehatan, yang paling banyak memakai sampel purposive, wawancara semi-terstruktur, dan analisis isi kualitatif.

Kapan Deskriptif Kualitatif Tepat Dipakai?

  • Anda butuh gambaran lengkap tentang pelaksanaan suatu program, kebijakan, atau layanan.
  • Pertanyaannya praktis: apa yang terjadi, apa hambatannya, apa yang dibutuhkan.
  • Fenomenanya belum banyak diteliti dan Anda ingin memetakannya lebih dulu.
  • Hasilnya akan dipakai untuk perbaikan layanan atau sebagai dasar penyusunan instrumen kuantitatif.
  • Waktu dan pengalaman penelitian terbatas, seperti pada skripsi S1.

Bila Anda ingin menggali esensi pengalaman, pilih fenomenologi [tautan: B1]. Bila fokusnya satu kasus yang jelas batasnya dengan banyak sumber data, pilih studi kasus [tautan: B2]. Bradshaw, Atkinson, dan Doody (2017) mengingatkan agar pilihan pendekatan selalu dijelaskan alasannya di Bab 3, bukan sekadar ditulis “deskriptif kualitatif”.

Langkah-Langkah Penelitian Deskriptif Kualitatif

  1. Tetapkan fokus. Pilih satu fenomena yang jelas, misalnya “pelaksanaan kelas ibu hamil di Puskesmas X”, bukan “pelayanan kesehatan ibu” secara umum.
  2. Rumuskan pertanyaan. Gunakan “bagaimana”: “Bagaimana pelaksanaan kelas ibu hamil di Puskesmas X?” dan “Apa saja hambatan yang dialami bidan dan peserta?”. Contoh lain ada di [tautan: A4].
  3. Tentukan informan. Pilih secara purposive dengan kriteria yang tertulis, lalu tetapkan siapa informan kunci, utama, dan pendukung [tautan: C5].
  4. Susun pedoman wawancara dan observasi. Turunkan dari fokus penelitian, bukan dari variabel.
  5. Kumpulkan data. Wawancara, observasi, dan dokumentasi. Mulai transkrip dan analisis sejak wawancara pertama.
  6. Analisis data. Kode, kelompokkan, dan susun ringkasannya per aspek atau per tema.
  7. Periksa keabsahan. Triangulasi sumber dan teknik, member checking, dan jejak audit [tautan: E1].
  8. Tulis laporan. Sajikan temuan per aspek dengan kutipan singkat, lalu bandingkan dengan teori dan penelitian terdahulu.

Teknik Pengumpulan Data

Teknik Fungsi dalam deskriptif kualitatif Contoh pada topik kelas ibu hamil
Wawancara semi-terstruktur Sumber data utama Wawancara dengan bidan koordinator dan 8 peserta
Observasi Memeriksa apakah yang dikatakan sesuai dengan yang dilakukan Mengikuti tiga sesi kelas
Dokumentasi Melengkapi dan mengecek data wawancara Daftar hadir, materi, laporan bulanan
FGD (opsional) Menangkap pandangan kelompok Satu diskusi dengan kader posyandu

Panduan menyusun pertanyaan wawancara ada di [tautan: C2], dan uraian tiap teknik di [tautan: C1].

Teknik Analisis Data

Tiga teknik yang paling sering dipakai dan diterima penguji:

  • Analisis isi kualitatif. Data dikode lalu dikelompokkan ke dalam kategori; kategori bisa disusun dari data atau dari aspek yang sudah ditetapkan di awal (Hsieh & Shannon, 2005) [tautan: B6].
  • Analisis tematik enam fase dari Braun dan Clarke (2006) [tautan: D2].
  • Model interaktif Miles, Huberman, dan Saldaña: kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan [tautan: D1].

Pilih satu dan sebutkan rujukannya di Bab 3. Hindari mencampur istilah dari beberapa model tanpa alasan.

Contoh Pengodean Sederhana

Contoh pengodean data wawancara dalam penelitian deskriptif kualitatif

Dari kutipan ke kategori. Tiga kutipan informan, kode singkat, lalu satu kategori

Contoh berikut ilustratif, dari topik kelas ibu hamil.

Kutipan informan Kode Kategori
“Kelasnya hari Selasa jam sembilan, saya kan kerja, jadi cuma bisa ikut sekali.” (Peserta 3) Jadwal bentrok dengan pekerjaan Hambatan waktu peserta
“Suami saya mau ikut, tapi pas jam kerja juga.” (Peserta 5) Suami tidak bisa hadir Hambatan waktu peserta
“Kami sudah usul pindah ke Sabtu, tapi bidannya cuma satu.” (Kader 1) Usulan jadwal akhir pekan terkendala tenaga Keterbatasan sumber daya

Dari kategori seperti ini, Bab 4 ditulis per aspek, misalnya “Hambatan pelaksanaan: waktu peserta dan keterbatasan tenaga”, dengan satu atau dua kutipan sebagai bukti, bukan seluruh transkrip. Teknik pengodean lebih lengkap ada di [tautan: D3].

Contoh Kerangka Bab 3 Deskriptif Kualitatif

Kerangka berikut bisa disesuaikan dengan pedoman kampus Anda. Kalimat contoh dicetak miring.

  1. Jenis dan pendekatan penelitian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain deskriptif kualitatif (Sandelowski, 2000), karena tujuannya menggambarkan pelaksanaan kelas ibu hamil secara menyeluruh dari sudut pandang pelaksana dan peserta.
  2. Lokasi dan waktu penelitian, beserta alasan pemilihan lokasi.
  3. Informan penelitian. Kriteria, teknik pemilihan, peran tiap informan, dan cara menentukan jumlahnya. Jumlah informan ditentukan berdasarkan kejenuhan data, yaitu ketika wawancara tambahan tidak lagi memunculkan informasi baru [tautan: C6].
  4. Teknik pengumpulan data: wawancara, observasi, dokumentasi.
  5. Instrumen penelitian. Instrumen utama adalah peneliti sendiri, dibantu pedoman wawancara, pedoman observasi, dan alat perekam.
  6. Teknik analisis data, dengan menyebut satu model dan rujukannya.
  7. Keabsahan data: teknik yang dipakai untuk kredibilitas, transferabilitas, dependabilitas, dan konfirmabilitas (Lincoln & Guba, 1985) [tautan: E1] [tautan: E2].
  8. Etika penelitian: persetujuan informan, penyamaran identitas, penyimpanan rekaman [tautan: E3].

Panduan lengkap menulis Bab 3 kualitatif ada di [tautan: E4].

Kesalahan yang Sering Terjadi

  1. Menyebut deskriptif kualitatif, tetapi datanya kuesioner tertutup dan hasilnya persentase. Ini deskriptif kuantitatif.
  2. Memakai istilah populasi, sampel, dan rumus. Gunakan informan dan jelaskan kejenuhan data.
  3. Tidak menyebut rujukan desain. Cukup satu kalimat dengan rujukan seperti Sandelowski (2000) agar penguji tahu pilihan ini disengaja.
  4. Bab 4 berisi salinan transkrip per informan. Susun per aspek atau per tema, bukan per orang.
  5. Tafsir yang melampaui data. Bila sebuah kesimpulan tidak bisa ditunjukkan kutipannya, kemungkinan itu opini peneliti.

Pertanyaan yang Sering Diajukan

Apakah deskriptif kualitatif dianggap “kurang ilmiah” dibanding fenomenologi?

Tidak. Deskriptif kualitatif adalah desain yang sah dengan tujuan berbeda, yaitu menggambarkan, bukan menafsirkan secara mendalam. Yang dinilai penguji adalah kecocokan desain dengan pertanyaan penelitian dan ketelitian pelaksanaannya.

Berapa jumlah informan untuk penelitian deskriptif kualitatif?

Tidak ada angka baku. Untuk kelompok informan yang relatif seragam, kejenuhan data sering tercapai pada sekitar 9–17 wawancara (Hennink & Kaiser, 2022). Jelaskan kriteria dan bukti kejenuhan di Bab 3 [tautan: C6].

Apakah perlu teori di Bab 2?

Perlu sebagai bekal dan bahan pembahasan. Teori juga bisa membantu menyusun aspek-aspek dalam pedoman wawancara, misalnya aspek input, proses, dan output pada evaluasi program.

Bolehkah hanya memakai wawancara tanpa observasi?

Boleh, tetapi kredibilitas temuan akan lebih kuat bila wawancara dicek dengan observasi atau dokumen. Bila hanya wawancara, lakukan triangulasi sumber dengan mewawancarai informan dari posisi yang berbeda.

Apakah deskriptif kualitatif cocok untuk tesis S2?

Cocok, terutama untuk evaluasi program dan kebijakan. Untuk tesis, pertajam analisisnya dan kaitkan temuan dengan teori secara lebih kuat di bagian pembahasan.


Butuh teman diskusi untuk menyusun Bab 3 atau pedoman wawancara? Tim IDTesis dapat mendampingi Anda memeriksa kecocokan desain, menyusun pertanyaan wawancara, dan mengecek alur analisis, sementara keputusan dan tulisan tetap milik Anda. Hubungi WhatsApp 0852-2588-7747.

Daftar Pustaka

Bogdan, R., & Taylor, S. J. (1975). Introduction to qualitative research methods: A phenomenological approach to the social sciences. Wiley.

Bradshaw, C., Atkinson, S., & Doody, O. (2017). Employing a qualitative description approach in health care research. Global Qualitative Nursing Research, 4.

Braun, V., & Clarke, V. (2006). Using thematic analysis in psychology. Qualitative Research in Psychology, 3(2), 77–101.

Hennink, M., & Kaiser, B. N. (2022). Sample sizes for saturation in qualitative research: A systematic review of empirical tests. Social Science & Medicine, 292, 114523.

Hsieh, H.-F., & Shannon, S. E. (2005). Three approaches to qualitative content analysis. Qualitative Health Research, 15(9), 1277–1288.

Kim, H., Sefcik, J. S., & Bradway, C. (2017). Characteristics of qualitative descriptive studies: A systematic review. Research in Nursing & Health, 40(1), 23–42.

Lincoln, Y. S., & Guba, E. G. (1985). Naturalistic inquiry. SAGE.

Sandelowski, M. (2000). Whatever happened to qualitative description? Research in Nursing & Health, 23(4), 334–340.

Leave a Reply

error: