HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Psikologi: Konflik Kehidupan Seorang Clubber

Judul Tesis : Konflik Kehidupan Seorang Clubber

 

Latar Belakang

Clubbing telah  menjadi  sebuah  bentuk  kesenangan  masyarakat  kota,  dan  kini telah menjadi budaya industri utama di Inggris (Lovatt, 1996, dalam Malbon, 1999).   Di   Indonesiapun   demikian.   Hasil   survey   (Max,   2002)   menunjukkan sebesar 40% remaja kota- kota besar di Indonesia suka melakukan aktivitas dugem (Badriah, 2005). Clubbing yang lebih diidentikkan dengan kehidupan di klub dan tempat  bersenang -senang  anak  muda  lainnya,  merupakan  dimensi  kehidupan dunia yang tergolong baru bagi Indonesia. Meskipun baru, budaya barat ini mulai menebarkan   pesona   dan   janji   kesenangan   (Parahita,   2008),   sehingga   pada  akhirnya  banyak  yang  terpesona  akan  janji  kesenangan  yang  disuguhkan  oleh  kehidupan malam tersebut.

Penyebaran  budaya  clubbing terlihat sangat cepat, dan kini telah melanda kalangan  menengah  di  Jakarta,  juga  kota -kota  besar  lain  di  Indonesia.  Hal  ini  ditandai  dengan  berdirinya  banyak  klub  baru.  Jumlah  klub  musik  di  Jakarta hampir  mencapai  30  buah  (Kuswardono,  2003). Di  Medan,  party dan clubbing, sudah  merupakan  santapan  sehari -hari,  dan  seks  serta  narkoba  merupakan  lem  pengerat  bagi  kehidupan  itu  (Putra, 2008).  Berdasarkan  hasil  observasi  peneliti, banyak klub- klub malam atau diskotik yang kini bertaburan di Medan, mulai dari yang  kelas  atas  dan  menengah,  seperti  Retro,  The  Song,  Selecta,  Jet  Plane,  M.  City, Soccer, Tobasa, dan lain -lain; sampai dengan klub -klub malam pinggir jalan yang  sebagian  besar  tidak  membuat  nama  pada  bangunannya,  seperti  yang terdapat di pasar III, jalan baru (ring road) daerah Sunggal, simpang halvetia, dan daerah  krakatau,  yang  hanya  memainkan  musik  dengan  bantuan  keyboard  atau  VCD (Video Compact Disc) player dan DVD (Digital Versatile Disc) player. Sebagai   dasar   dalam   menentukan   aktivitas   clubbing, Malbon   (1999) menarik  kesimpulan  bahwa  terdapat  lima  elemen  konstitutif  dari clubbing, yakni music, dancing, performance, crowds, dan communality.

 

Rumusan Masalah

  1. Bagaimana konflik yang dihadapi seorang clubber ?
  2. Tipe -tipe konflik apa yang dihadapi seorang clubber?
  3. Bagaimana seorang clubber menghadapi konflik di dalam kehidupannya?

 

Landasan Teori

Clubbing

Clubbing adalah  pengalaman  yang  sangat  spesial,  sangat  sulit  untuk  menggambarkannya.  Klub  menawarkan  pengalaman  sensori  secara  total.  Cahaya  lampu, musik yang keras dan berkelanjutan, alkohol, dan apapun yang digunakan untuk mendukung atmosfernya (Barry, 2005).

 

Konflik

konflik adalah keadaan dimana daya di dalam diri seseorang berlawanan arah dan hampir  sama  kekuatannya.  Kedudukan  psikologis  dari  konflik  muncul  ketika berada  di  bawah  tekanan  untuk  merespon  secara  simultan  dua  atau  lebih  daya  yang  tidak  sejalan.  Dalam  studi  psikologi,  konflik  biasanya  diklasifikasikan berdasarkan nilai positif atau negatif dari pilihan  Kurt Lewin (dalam Lindzey & Hall: 1985).

 

Metode Penelitian

Penelitian   ini menggunakan   pendekatan   kualitatif   dengan   menggunakan metode  wawancara  mendalam  dan  observasi  pada  saat  wawancara.  Partisipan penelitian berjumlah satu orang laki -laki. Hasil  penelitian  menunjukkan  part isipan  mengalami Konflik  antara  Daya- Daya  yang  Menimbulkan  Pergerakan,  yaitu Konflik  Menjauh -Menjauh,  Konflik  Mendekat -Menjauh, dan Konflik Mendekat-Menjauh Ganda; Konflik antara Daya yang  Menggerakkan  dan  Daya  yang  Menghambat;  serta  mengalami Konflik antara  Daya  yang  berasal  dari  Kebutuhan  Sendiri  dan  Daya  yang  Berasal  dari  Orang Lain.

 

Kesimpulan

  1. Konflik yang dialami  partisipan  sebagai  seorang clubber, pada  awalnya terjadi  ketika  rasa  ingin  tahu  dan  rasa  penasaran  partisipan  untuk  mencoba  clubbing masih dihadapkan dengan rasa penolakan di dalam dirinya.
  2. Konflik menjauh -menjauh  (avoidance-avoidance  conflict)  terjadi  ketika  partisipan  tidak  ingin  dicap  sebagai  orang  yang  kurang  pergaulan,  namun  tidak  ingin  juga  menjadi  salah  pergaulan;  serta  ketika  ia  tidak  ingin  lagi  menjalani  aktivitas -aktivitas clubbing nya,   namun   juga   tidak   ingin   dicap   munafik   dan sombong oleh teman- temannya.
  3. Partisipan memiliki berbagai cara dan sikap dalam menghadapi dan  menyelesaikan konflik -konfliknya. Dalam konflik menjauh – menjauh (avoidance-avoidance conflict), partisipan mengalami  kebimbangan  perilaku  dan

Contoh Tesis Psikologi

  1. Studi Kasus Masalah Belajar dari Lingkungan Budaya.
  2. Prestasi Belajar Siswa Materi Pokok Kelarutan dan Hasil Kali kelarutan di Tinjau dari Gaya Kognitif dan Nilai Kinerja di Laboratorium.
  3. Kesiapan Menikah pada Wanita Dewasa Madya yang bekerja.
  4. Konflik Kehidupan Seorang Clubber.
  5. Pengaruh Tayangan Edukatif terhadap Kreativitas Verbal pada Anak Usia Sekolah di SD Harapan III Medan.

 

Incoming search terms:

Leave a Reply