HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Psikologi: Gambaran Learned Helplessness pd Supir Angkutan

Judul Tesis : Gambaran Learned Helplessness pada Supir Angkutan di Kota Medan Ditinjau dari Explanatory Style

 

Latar Belakang

Transportasi yang sangat dibutuhkan oleh masyarakat secara umum adalah transportasi jalan. Transportasi jalan merupakan salah satu moda transportasi nasional yang diselenggarakan berdasarkan asas kepentingan umum, maksudnya bahwa penyelenggaraan lalu lintas dan angkutan jalan harus lebih mengutamakan kepentingan pelayanan umum bagi masyarakat luas (Undang-undang Lalu Lintas No 14 Tahun 1992 Pasal 2).Hal tersebut tidak sesuai dengan fakta yang dihadapi di lapangan. Para supir menunjukkan masalah dalam perilaku berlalu lintas yang tidak hanya menyebabkan kerusakan properti, tetapi juga mengakibatkan penderitaan bagi orang lain. Data ini diambil dari sebuah media cetak yang menyatakan sebuah tulisan yang mengankat masalah lalu lintas yang menampilkan masalah perilaku berlalu lintas yang ditunjukkan oleh kendaraan umum sebagai pelakunya (Murniati, 1995).

Masalah pelanggaran lalu lintas yang dilakukan oleh sopir metromini pada umumnya adalah perilaku ugal-ugalan. Jayapuspito (dalam Muniarti, 1995), mantan Kepala Akademi LLAJR (Lalu Lintas dan Angkutan Jalan Raya), menyatakan bahwa perilaku ugal-ugalan ini termasuk: menjalankan kendaraan dengan kecepatan tinggi dan saling mendahului, menurunkan penumpang dan dipindahkan ke metromini lainnya, tidak mau mengangkat pelajar, menjejalkan penumpang meskipun telah penuh, menurunkan penumpang sambil berjalan, seenaknya saja berhenti tanpa mempedulikan keadaan lalu lintas sekelilingnya, tidak sampai tujuan, dan memutar balik di perjalanan. Hal serupa juga dikemukakan oleh Muluk (1995) dalam penelitiannya pada sopir metromini. Muluk menambahkan, perilaku ugal-ugalan lainnya seperti mengemudikan kendaraan bukan di jalurnya dan menginjak rem dengan mendadak. Hal tersebutlah yang membuat sopir metromini sering sekali menjadi sasaran tudingan sebagai sumber penyebab kecelakaan lalu lintas (Murniati, 1995). Prawasti (1995) juga menambahkan bahwa masalah perilaku berlalu lintas tidak hanya merupakan adanya ketidakberesan pada faktor internal (pengendara metromini), tetapi juga pada faktor eksternal (sistem pengelolaan metromini, sistem penegakan hukum).

 

Rumusan Masalah

“Bagaimana gambaran learned helplessness pada supir angkutan umum di kota Medan ditinjau dari explanatory style?”

 

Landasan Teori

Explanatory Style

Menurut Ormrod pada tahun 1999 (dalam Bol, Hacker, & Allen, 2005) adalah cara bagaiman individu menginterpretasikan kejadian yang dialaminya sehari-hari dan konsekuensinya.

 

Supir Angkutan Umum

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, supir adalah pengemudi mobil. Sementara angkutan adalah barang-barang (orang-orang, dan sebagainya) yang diangkut. Kendaraan umum adalah setiap kendaraan bermotor yang disediakan untuk dipergunakan oleh umum dengan di pungut bayaran (Undang Undang Lalu Lintas No.14 Tahun 1992)

Gambaran Learned Helplessness

pada Sopir Angkutan Umum di Kota Medan kondisi transportasi di Indonesia khususnya di kota Medan, tidak sejalan dengan apa yang diharapkan. Murniati (1995) menyatakan bahwa pada dasarnya supir angkutan umum dituntut untuk menjamin keselamatan banyak orang namun dilain pihak imbalan yang diberikan baik dalam bentuk materi (pendapatan) dan non materil (pujian dan penghargaan) sangatlah tidak memadai. Selain itu adanya sistem angkutan umum yang tidak efisien seperti pengajuan izin trayek, sistem peraturan, pembagian jalur yang tumpang tindih sehingga membuat tingkat kompetisi yang tinggi antar sesama supir angkutan umum. Terlebih adanya setoran yang mereka bayarkan pada pihak pemilik angkutan. Kondisi ini diperparah dengan tidak adanya hak supir untuk menaikkan ongkos angkutan per penumpang karena hal inidi kontrol oleh pemerintah.

 

Metode Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran learned helplessness pada supir angkutan di kota Medan ditinjau dari explanatory style. Alat ukur yang digunakan adalah skala Explanatory Style yang disusun berdasarkan tiga dimensi (pervasiveness, permanence, dan personalization) yang diungkap oleh Abramson (1978). Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah incidental sampling. Sampel berjumlah 103 supir angkutan umum di kota Medan.

 

Kesimpulan

  1. Pada dimensi pervasiveness, supir angkutan umum lebih banyak berada pada kategori global.
  2. Pada dimensi permanence, supir angkutan umum lebih banyak berada pada kategori unstable.
  3. Pada dimensi personalization, supir angkutan umum lebih banyak berada pada kategori external.

 

Contoh Tesis Psikologi

  1. Gambaran Learned Helplessness pada Supir Angkutan di Kota Medan Ditinjau dari Explanatory Style.
  2. Gambaran Perilaku Merokok pada Remaja Laki-Laki.
  3. Gambaran Sikap Orang Tua Terhadap Sekolah Alam.
  4. Hubungan Antara Body Image dan Perilaku Diet pada Remaja.
  5. Hubungan antara Gaya Hidup Brand Minded dengan Kecenderungan Perilaku Konsumtif pada Remaja Puteri.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Leave a Reply