HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Tesis Ekonomi: Retribusi Pelayanan Pasar Banget Ayu dan Peterongan Kota Semarang

Judul Tesis : Retribusi Pelayanan Pasar Banget Ayu dan Peterongan Kota Semarang

 

A. Latar Belakang

Dalam bidang keuangan daaerah, manajemen keuangan juga didasari pada semangat akuntabilitas dan transparansi manajerial yang efektif (Yuwono,2001:120). Undang-undang otonomi daerah mengamanatkan kewenangan kepada daerah dalam mengelola semua sumber keuangan, pendapatan dan pengeluaran daerah. Pengelolaan tersebut diharapkan dapat direalisasikan secara efektif dan efisien sehingga daerah memperoleh semua reveue yang dapat mencukupi pengeluaran daerah. Beberapa sumber keuangan daerah yang dapat dikelola oleh daerah adalah pajak dan retribusi daerah. Retribusi adalah pungutan daerah sebagai pembayaran atas jasa atau pemberian izin tertentu yang khusus disediakan dan atau diberikan oleh pemerintah daerah untuk kepentingan orang pribadi atau badan (Prokoso, 2005:92).

Pajak dan retribusi daerah mempunyai peranan yang sangat besar terhadap pelaksanaan otonomi daerah dan realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD). Prokoso (2005:1) menyebutkan bahwa pajak dan retribusi merupakan salah satu sumber pendapatan yang sangat potensial bagi suatu daerah. Hasil dari pungutan retribusi tersebut selanjutnya akan digunakan untuk kelangsungan kehidupan pemerintahan daerah yang bersangkutan, terutama untuk mendanai kegiatan-kegiatan yang berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana realisasi pencapaian target pungutan retribusi pasar Banget Ayu dan Peterongan Kota Semarang tahun 2003 sampai dengan 2005?
  2. Bagaimana pelaksanaan retribusi pasar Banget Ayu dan Peterongan Kota Semarang?
  3. Faktor-faktor apakah yang menjadi kendala pemungutan retribusi pasar Banget Ayu dan Peterongan Kota Semarang?

 

C. Landasan Teori

Keuangan Daerah

Salah satu kriteria penting untuk mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam mengatur dan mengurus rumah tangganya adalah kemampuan self supporting dalam bidang keuangan. Dengan perkataan lain, faktor keuangan merupakan faktor esensial dalam mengukur tingkat kemampuan daerah dalam melaksanakan otonominya. Keadaan keuangan daerahlah yang sangat menentukan corak, bentuk, serta kemungkinan – kemungkinan kegiatan yang akan dilakukan oleh Pemerintah Daerah. Sehubungan dengan pentingnya posisi keuangan ini, Pamudji (1980;61-62) menegaskan: Pemerintah daerah tidak akan dapat melaksanakan fungsinya dengan efektif dan efisien tanpa biaya yang cukup untuk memberikan pelayanan dan pembangunan. Dan keuangan inilah yang merupakan salah satu dasar kriteria untuk mengetahui secara nyata kemampuan daerah dalam mengurus rumah tangganya sendiri.

Pengertian Retribusi Daerah

Pajak dan retribusi merupakan alat bagi pemerintah untuk mencapai penerimaan baik yang bersifat langsung dan tidak langsung dari masyarakat, guna membiayai pengeluaran rutin serta pembangunan sosial dan ekonomi masyarakat (Prabowo,2002:1). Pengertian tersebut mengandung makna bahwa adanya retribusi dan pajak dimaksudkan sebagai dana pemerintah untuk membangun perekonomian masyarakat, atau dapat dikatakan bahwa retribusi merupakan upaya dari masyarakat yang diperuntukan bagi masyarakat pula.

 

Tingkat Pengenaan Retribusi

Penentuan dasar pengenaan retribusi atau objek retribusi terhadap potensi pendapatan daerah dilakukan dengan penilaian terhadap potensi pendapatan daerah. Menurut Davey (dalam Prakosa,2005:57) terdapat kriteria yang harus dipenuhi agar potensi pendapatan daerah dapat dikenai retribusi. Kriteria tersebut antara lain: kecukupan dan elastisitas, keadilan, kemampuan administratif, dan kesepakatan politis.

 

D. Metode Penelitian

Populasi dalam penelitian ini adalah petugas pemungutan retribusi pasar Banget Ayu dan Peterongan Kota Semarang dan sekaligus diambil sebagai sampel penelitian.

Metode pengumpulan data yang digunakan adalah metode dokumentasi, wawancara dan angket. Analisis data dilakukan dengan deskriptif kuantitatif.

 

E. Kesimpulan

  1. Realisasi perolehan pungutan retribusi pelayanan pasar di Peterongan berbeda secara signifikan dibandingkan perolehan di Pasar Banget Ayu. Rata-rata persentase perolehan retribusi tahun 2003 – 2005 di Peterongan sebesar 101,92% sedangkan di Banget Ayu sebesar 99,27%.
  2. Pelaksanaan pemungutan retribusi di Pasar Peterongan dilakukan dengan lebih baik dibandingkan dengan Pasar Banget Ayu. Hal ini dapat dilihat dari kesesuaian jadwal pemungutan, kesesuaian perolehan target dengan realisasi perolehan retribusi, serta ketercakupan seluruh objek retribusi yang dipungut.
  3. Kendala yang masih dihadapi oleh Pasar Peterongan dan Pasar Banget Ayu adalah kurang seimbangnya jumlah petugas dengan jumlah pedagang, masih terjadi kebocoran pelaporan pemasukan retrbusi oleh petugas pemungut, serta adanya keengganan pedagang untuk membayar dengan alasan fasilitas pasar yang kurang baik.

 

Contoh Tesis Ekonomi

  1. Retribusi Pelayanan Pasar Banget Ayu dan Peterongan Kota Semarang
  2. Evaluasi Pelaksanaan Pemungutan Pajak Pengambilan Dan Pengolahan
  3. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Ayam di Jawa Tengah Tahun 1986-2006
  4. Pengaruh Keberadaan Beteng Trade Center (BTC) dan Pusat Gosir Solo (PGS) terhadap Mobilitas Perdagangan
  5. Analisis Probabilitas Keberhasilan Program Bantuan Langsung Tunai Untuk Rumah Tangga Sasaran

Leave a Reply