Ditinjau oleh: Wikan Tyas.
Evaluasi kebijakan publik adalah tahap penilaian terhadap kebijakan yang telah dijalankan, untuk mengetahui apakah hasilnya sesuai dengan yang direncanakan. Evaluasi menyoroti empat aspek: proses pembuatan kebijakan, proses implementasi, konsekuensi kebijakan, dan efektivitas dampaknya. Dunn membagi pendekatannya menjadi tiga — evaluasi semu, evaluasi formal, dan evaluasi keputusan teoretis — sementara Finsterbusch dan Motz menawarkan empat desain evaluasi dengan tingkat kekuatan berbeda. Artikel ini membahas keempatnya sebagai landasan teori untuk skripsi dan tesis.
Mengapa Evaluasi Kebijakan Diperlukan
Tidak semua program kebijakan publik mencapai hasil sesuai rencana. Kebijakan kerap gagal meraih maksud dan tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya — dan justru karena itulah evaluasi dibutuhkan.
Evaluasi memberi masukan, kritik, dan saran terhadap kebijakan yang dibuat, mulai dari tahap implementasi sampai dampak yang benar-benar terjadi di lapangan.
Evaluasi merupakan tahap kelima dalam siklus kebijakan menurut Dunn, berada setelah implementasi. Kedudukannya dalam siklus utuh dibahas di artikel teori kebijakan publik menurut para ahli, sedangkan tahap sebelumnya dibahas di artikel implementasi kebijakan publik.
Empat Aspek yang Dievaluasi
Evaluasi kebijakan bermaksud mengetahui empat aspek berikut:
- Proses pembuatan kebijakan
- Proses implementasi
- Konsekuensi kebijakan
- Efektivitas dampak kebijakan
Pembagian ini penting untuk menentukan fokus penelitian Anda:

Menentukan sejak awal apakah penelitian Anda mengevaluasi implementasi atau dampak akan menyelamatkan Anda dari kebingungan di Bab III. Keduanya menuntut data dan metode yang berbeda: evaluasi implementasi menyoroti proses pelaksanaan, evaluasi dampak menyoroti hasil yang dirasakan kelompok sasaran.
Nilai-Nilai dalam Evaluasi Kebijakan
Menurut Abidin, informasi yang dihasilkan dari evaluasi merupakan nilai (values) yang berkenaan dengan enam hal berikut.

Keenam nilai ini dapat langsung Anda jadikan indikator penelitian. Bila Anda mengevaluasi suatu program, tentukan nilai mana yang akan diukur — jangan mencantumkan keenamnya di Bab II lalu hanya membahas satu di Bab IV.
Perhatikan perbedaan efisiensi dan efektivitas, karena keduanya paling sering tertukar. Efisiensi memperhitungkan biaya; efektivitas tidak. Program yang efektif belum tentu efisien.
Fungsi Evaluasi Kebijakan
Menurut Agustino, evaluasi memiliki tiga fungsi:
- Memberi informasi yang valid dan dapat dipercaya mengenai kebijakan
- Memberi sumbangan pada klarifikasi dan kritik terhadap nilai-nilai yang mendasari pemilihan tujuan dan target
- Memberi sumbangan pada penerapan metode analisis kebijakan lainnya, seperti perumusan masalah dan rekomendasi kebijakan
Fungsi kedua sering luput dari perhatian mahasiswa. Evaluasi bukan sekadar menilai berhasil atau gagal, melainkan juga mempertanyakan apakah tujuan yang ditetapkan sejak awal memang sudah tepat.
Tiga Pendekatan Evaluasi Menurut Dunn
Dunn menyatakan ada beberapa pendekatan evaluasi kebijakan guna menghasilkan penilaian yang baik. Ketiganya sama-sama memakai metode deskriptif, tetapi berbeda pada asumsi dasarnya.
Evaluasi Semu (Pseudo Evaluation)
Menggunakan metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang valid mengenai hasil kebijakan, tanpa berusaha menanyakan manfaat atau nilai dari hasil tersebut.
Asumsi utamanya: ukuran tentang manfaat dan nilai merupakan sesuatu yang dapat terbukti dengan sendirinya.
Evaluasi Formal (Formal Evaluation)
Juga memakai metode deskriptif, dengan tujuan menghasilkan informasi yang valid dan terpercaya mengenai hasil kebijakan.
Asumsi utamanya: tujuan dan target yang diumumkan secara formal merupakan ukuran yang tepat dari manfaat atau nilai kebijakan.
Inilah pendekatan yang paling banyak dipakai mahasiswa, karena tolok ukurnya jelas — cukup membandingkan capaian dengan target resmi yang tertulis dalam dokumen kebijakan.
Evaluasi Keputusan Teoretis (Decision Theoretic Evaluation)
Memakai metode deskriptif untuk menghasilkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan mengenai hasil kebijakan, yang dinilai secara eksplisit oleh para pelaku kebijakan.
Berbeda dari evaluasi formal, pendekatan ini tidak menerima begitu saja tujuan resmi sebagai ukuran. Ia menggali tujuan yang tersembunyi maupun yang diperdebatkan antarpemangku kepentingan.
Tabel Perbandingan Ketiga Pendekatan

Empat Jenis Desain Evaluasi
Menurut Finsterbusch dan Motz, terdapat empat jenis desain evaluasi. Keempatnya berbeda pada dua hal: ada tidaknya pengukuran sebelum program, dan ada tidaknya kelompok pembanding.
Single Program After-Only
Desain paling lemah. Kelompok sasaran hanya diukur setelah menerima program, tanpa pembanding.
Kelemahannya: tidak diketahui baik tidaknya program terhadap kelompok sasaran, dan tidak diketahui pula kondisi kelompok sasaran sebelum menerima program.
Single Program Before-After
Kelompok sasaran diukur sebelum dan sesudah menerima program.
Dapat mengetahui keadaan kelompok sasaran sebelum menerima program, tetapi belum dapat memastikan bahwa perubahan itu benar-benar berasal dari program — karena tidak ada pembanding.
Comparative After-Only
Membandingkan kelompok sasaran dengan kelompok bukan sasaran, tetapi hanya diukur setelah program berjalan.
Kelemahannya: efek program terhadap kelompok sasaran tidak dapat dipastikan, karena kondisi awal kedua kelompok tidak diketahui.
Comparative Before-After
Desain terkuat. Merupakan gabungan ketiga desain sebelumnya — ada pengukuran sebelum dan sesudah, sekaligus ada kelompok pembanding.
Dengan desain ini, kelemahan ketiga desain sebelumnya dapat diatasi.
Tabel Perbandingan Keempat Desain

Saran praktis: bila sumber daya Anda memungkinkan, pilih comparative before-after. Bila tidak, pilih desain yang paling mendekati dan nyatakan keterbatasannya secara terbuka di bagian pembahasan. Penguji akan menghargai kesadaran metodologis semacam ini.
Cara Memakai Teori Ini di Bab II
Susun dengan urutan berikut:
- Pengertian evaluasi kebijakan
- Kedudukan evaluasi dalam siklus kebijakan
- Aspek yang dievaluasi — tentukan apakah implementasi atau dampak
- Nilai yang akan diukur menurut Abidin — pilih yang relevan, jangan semua
- Pendekatan evaluasi yang dipakai menurut Dunn beserta alasannya
- Desain evaluasi yang dipilih menurut Finsterbusch dan Motz
Poin ketiga, kelima, dan keenam paling sering terlewat. Menyebut “penelitian ini merupakan evaluasi kebijakan” tanpa menyebutkan aspek, pendekatan, dan desainnya adalah temuan yang hampir pasti ditanyakan penguji.
Setelah kerangka teori tersusun, terjemahkan menjadi bagan kerangka konsep — panduannya di artikel kerangka konsep dan hipotesis penelitian.
Kesalahan yang Sering Terjadi
- Menyamakan efisiensi dengan efektivitas. Efisiensi memperhitungkan biaya; efektivitas tidak.
- Mencantumkan keenam nilai Abidin di Bab II tetapi hanya mengukur satu di Bab IV.
- Tidak menyebutkan pendekatan evaluasi yang dipakai.
- Memakai desain paling lemah tanpa menyatakan keterbatasannya.
- Mengevaluasi kebijakan yang baru berjalan — evaluasi dampak menuntut waktu yang cukup agar hasilnya terlihat.
- Menyamakan evaluasi dengan monitoring. Monitoring berjalan selama pelaksanaan; evaluasi menilai setelahnya.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apa beda evaluasi implementasi dan evaluasi dampak? Evaluasi implementasi menyoroti proses pelaksanaan kebijakan; evaluasi dampak menyoroti hasil yang dirasakan kelompok sasaran.
Pendekatan mana yang paling mudah untuk skripsi? Evaluasi formal, karena tolok ukurnya jelas — cukup membandingkan capaian dengan target resmi dalam dokumen kebijakan.
Apakah evaluasi kebijakan harus kuantitatif? Tidak. Banyak penelitian evaluasi bersifat kualitatif, terutama yang memakai pendekatan keputusan teoretis.
Berapa lama kebijakan harus berjalan sebelum bisa dievaluasi? Tidak ada ketentuan baku, tetapi evaluasi dampak menuntut waktu yang cukup agar hasilnya terlihat. Untuk kebijakan yang baru berjalan, evaluasi implementasi lebih tepat.
Apakah bisa memakai lebih dari satu pendekatan? Bisa untuk tesis dan disertasi, asalkan Anda menjelaskan alasan penggabungannya. Untuk skripsi, satu pendekatan sudah memadai.
Penutup
Evaluasi perlu dilakukan karena tidak semua kebijakan dapat diimplementasikan sesuai rencana — bahkan ada kebijakan yang sama sekali tidak berjalan. Dengan evaluasi, kebijakan dapat memperoleh masukan, kritik, dan saran mulai dari tahap implementasi sampai dampaknya.
Yang menentukan mutu penelitian evaluasi Anda bukan banyaknya teori yang dikutip, melainkan ketegasan memilih: aspek mana yang dievaluasi, nilai mana yang diukur, pendekatan mana yang dipakai, dan desain mana yang dipilih. Keempat pilihan itu harus konsisten satu sama lain.
Contoh judul penelitian bertema evaluasi kebijakan tersedia di daftar judul tesis studi kebijakan UGM dan daftar judul tesis administrasi publik UGM.
Bila Anda memerlukan pendampingan menyusun kerangka evaluasi atau menentukan desain penelitian, layanan bimbingan penulisan IDTESIS siap membantu.
Daftar Rujukan
- Dunn, William N. Pengantar Analisis Kebijakan Publik. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
- Agustino, Leo (2006). Dasar-Dasar Kebijakan Publik. Bandung: Alfabeta, hlm. 189.
- Abidin, Said Zainal. Kebijakan Publik. Jakarta: Salemba Humanika.
- Finsterbusch, Kurt, & Motz, Annabelle Bender. Social Research for Policy Decisions.
- Nugroho, Riant (Dwidjowijoto). Kebijakan Publik: Formulasi, Implementasi, dan Evaluasi. Jakarta: Elex Media Komputindo.
Incoming search terms:
- teori evaluasi kebijakan










Leave a Reply