HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Strategi Pemasaran Pariwisata Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang Tahun 2006-2007

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana rencana strategis yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang dalam mengembangkan dan memasarkan pariwisata Kota Semarang serta hasil yang telah dicapai dari rencana strategis yang telah dilakukan tersebut. Adapun manfaat dari penelitian ini yaitu dapat menambah pengalaman penulis lewat penelitian yang dilakukan serta dapat memberikan informasi kepada pihak yang memberikan perhatian terhadap dunia kepariwisataan dan perkembangannya.

Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Tehnik pengumpulan data dengan wawancara, studi dokumen, observasi dan kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rencana strategis yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang dalam memasarkan pariwisata Kota Semarang dapat meningkatkan kunjungan wisatawan yang datang ke Kota Semarang. Hal ini dapat dilihat dari daftar kunjungan wisatawan terutama tahun 2006 dan 2007 meningkat rata-rata 10% dari peningkatan jumlah kunjungan wisatawan tersebut telah tercapai target pengembangan yaitu meningkatan jumlah kunjungan wisatawan yaitu 10% pertahun. Cara-cara pemasaran yang dilakukan oleh Disparbud Kota Semarang dalam memasarkan pariwisata Kota Semarang dengan metode analisa produk, analisa pasar dan memberikan kebijakan harga serta melakukan promosi, dan mengikuti iven-iven pariwisata baik yang diselenggarakan nasional maupun internasional.

Kesimpulannya strategi pemasaran yang dilakukan oleh Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kota Semarang sudah menunjukkan hasil meskipun belum maksimal. Dilihat dari meningkatnya kunjungan wisatawan yang berkunjung ke kota Semarang telah tercapai target yaitu peningkatan kunjungan 10% pertahun.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Kebutuhan manusia ada berbagai macam, mulai dari kebutuhan akan sandang, pangan dan papan sampai lain pada kebutuhan seperti : pendidikan, kesehatan, keamanan bahkan rekreasi. Kebutuhan manusia akan rekreasi muncul sehubungan dengan kehidupan sehari-hari setiap manusia tidak terlepas dari kegiatan rutin yang dijalaninya baik dirumah atau ditempat lain. Kegiatan pada satu titik tertentu diwaktu tertentu akan menimbulkan kejenuhan, sehingga manusia akan berusaha untuk berhenti dari kegiatan-kegiatan rutinnya itu untuk mencari selingan untuk menghibur diri, memperoleh kesenangan dan kembali menyegarkan diri, salah satu caranya melalui rekreasi. Dalam rangka memenuhi kebutuhan manusia akan rekreasi maka berkembanglah apa yang disebut pariwisata di banyak Negara di dunia.

Di Indonesia pariwisata mulai menunjukkan perkembangannya yang signifikan pada tahun 1990-an. Pada waktu itu perdagangan sektor migas di dunia internasional kian merosot, padahal Indonesia mengandalkan sektor migas ini untuk pembiayaan pembangunan. Maka dicarilah alternatif lain diluar sektor non migas untuk pembiayaan pembangunan yaitu sektor pariwisata.

Ada beberapa alasan mengapa pariwisata dijadikan salah satu alternatif bagi peningkatan pendapatan negara untuk pembiayaan pembangunan seperti yang disebutkan oleh Bambang Indrayanto antara lain :
1. Pengembangan industri pariwisata di Indonesia mempunyai masa depan yang cerah, mengingat banyak potensi obyek wisata alam dan budaya yang menarik untuk dijual di pasaran internasional.
2. Dalam upaya pengembangan industry pariwisata tidak perlu mendatangkan mesin-mesin atau teknologi canggih lainnya sebagai penunjang. Di samping itu produksi wisata tidak perlu didistribusikan dengan alat angkut yang memerlukan pembiayaan untuk sarana serta prasarana transportasi dan komunikasi. Industri pariwisata hanya membutuhkan promosi untuk memperkenalkan kepada masyarakat luas daya tarik produk dan potensi apa yang terkandung di dalamnya.
3. Pengembangan sektor pariwisata Indonesia berdasarkan animo masyarakat di negara-negara maju di Eropa, AS, Jepang dan Australia yang memiliki ekonomi relatif tinggi serta amat ketat dalam memanfaatkan waktu luang. Tidak dapat disangkal bahwa makin menurun waktu kerja di Negara-negara tersebut semakin mungkin penduduknya memanfaatkan waktu luang untuk melakukan perjalanan wisata. Hal inilah yang mendorong meningkatnya jumlah wisatawan yang berkunjung di daerah-daerah tujuan wisata termasuk Indonesia.
4. Selain itu adanya perkembangan baru dikalangan penduduk negara-negara itu untuk melihat dari dekat hal-hal yang masih dianggap asli. Hal ini mungkin diperoleh dengan melakukan perjalanan ke negara-negara berkembang seperti Indonesia. Yang dianggap bahwa wilayahnya belum banyak terkena revolusi industri, keaneka ragaman corak budaya yang masih asli serta lingkungan alam yang belum banyak tersentuh tangan manusia. (Bambang Indrayanto; 2001, 1-3)

Sejak itu grafik kunjungan wisatawan pada awal hingga pertengahan dekade 1990-an, datanya terus menunjukkan peningkatan secara signifikan dari tahun ke tahun. Tetapi kondisi itu berubah ketika tahun 2001 dan 2002 pariwisata Indonesia hancur karena adanya bom yang menghancurkan jantung pariwisata Indonesia, Bali. Akibat kejadian itu terjadi pembatalan perjalanan wisata ke Bali dari agen wisata di seluruh dunia, dan bermungulannya “travel warning” dari berbagi negara yang melarang warganya berkunjung ke Indonesia. Akibatnya kunjungan wisata nasional di tahun 2002 dinyatakan gagal mencapai target. Setelah terjadi kehancuran yang berakibat fatal maka dunia pariwisata mulai bangkit dan berkembang kembali para pelaku wisata mulai bergairah kembali untuk memperbaiki citra indonesia di mata dunia dengan gencar mempromosikan dengan berbagai cara baik mengadakan event-event, mengikuti seminar tentang pariwisata baik di dalam maupun diluar negeri. Sebagai konsekuensi kebijakan otonomi daerah maka daerah dituntut untuk menggali dan memanfaatkan segala potensi sumber daya ekonomi yang dimiliki secara optimal dalam rangka menjamin keberlangsungan pembangunan di daerah, baik potensi sumber daya alam, sumber daya manusia maupun potensi
ekonomi lainnya.

Kota Semarang memiliki banyak potensi yang sudah berkembang maupun yang bisa di kembangkan dan faktor penunjang bagi perkembangannya. Potensi wisata tersebut di antaranya: Pantai Marina, Masjid Agung Jawa Tengah, Museum Ronggo Warsito Klenteng Sam Poo Kong dan masih banyak obyek wisata lain yang masih dalam taraf pengembangan. Faktor-faktor penunjangnya antara lain meliputi: Bandara Ahmad Yani, jasa penginapan dan restoran, sarana transportasi jalur lintas yang strategis yang menghubungkan kota-kota besar di Jawa; Jakarta Bandung, Yogjakarta dan Surabaya, serta sarana komunikasi yang memadai.

Pengembangan terhadap sector ini telah menyumbangkan sejumlah penambahan bagi pendapatan daerah. Sumbangannya masih minim dibanding sektor-sektor lain seperti industri pengelolaan dan perdagangan, sehingga perlu usaha pengembangan yang lebih intensif. Perkembangan lingkungan yang cepat yang memunculkan hambatanhambatan yang tak terduga dan tantangan-tantangan besar di bidang pariwisata, seperti krisis moneter, pergolakan politik, teror bom, SARS, globalisasi serta adanya bencana alam yang tak terduga semakin menuntut penanganan yang serius dari pemerintah daerah bersama dengan masyarakat dan para pelaku wisata yang ada.

Selama ini pengelolaan pariwisata oleh pemerintah daerah kota Semarang berada di bawah wewenang Dinas Pariwisata dan Kebudayaan. Dinas ini merupakan pihak yang bertanggungjawab terhadap perencanaan, pengembangan, serta peraturan dan mengadakan pembinaan terhadap industri kepariwisataan di daerah secara menyeluruh. Di dalam menjalankan tugasnya dinas ini memandang perlu adanya rencana strategis yang handal untuk menghadapi perubahan yang terjadi di dunia pariwisata dan pemasaran serta peningkatan kunjungan wisatawan baik domestik maupun wisatawan asing ke kota Semarang.

Kota Semarang dikenal sebagai kota untuk transit oleh wisatawan dalam melakukan kunjungan wisata ke daerah-daerah lain di Jawa dan Bali. Dalam hal ini dinas pariwisata kota Semarang ingin menjadikan kota Semarang sebagai kota tujuan utama wisatawan dan bukan hanya sekedar kota untuk transit atau singgah sementara bagi wisatawan. Diparta kota Semarang optimis dengan adanya pengembangan dan pemasaran secara besar-besaran dapat meningkatkan kunjungan wisatawan ke Obyek wisata di wilayah kota semarang. Berkaitan dengan hal ini perlu dikaji lebih jauh strategi yang dipakai dinas pariwisata dan kebudayaan kota Semarang dalam memasarkan pariwisata di kota Semarang dalam rangka meningkatkan kunjungan wisatawan ke kota Semarang.

Dari uraian permasalahan singkat di atas maka penulis ingin meneliti lebih lanjut permasalahan mengenai hal diatas dan penulis mengambil judul: ”STRATEGI PEMASARAN PARIWISATA DINAS PARIWISATA DAN KEBUYAAN KOTA SEMARANG (TAHUN 2006-2007)”

Incoming search terms:

Leave a Reply