HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Strategi Pemasaran Desa Wisata

Kabupaten Bantul merupakan salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta yang berpenduduk agraris, karena sebagian besar penduduknya bermatapencaharian sebagai petani dan hampir 50% luas wilayah sebagai lahan pertanian. Lokasi Bantul yang berada dan berbatasan langsung dengan Kota Jogjakarta membuat kabupaten ini tidak bisa lepas dari semaraknya industri pariwisata kota Jogjakarta.

Pada awal perkembangan industri pariwisata di Jogjakarta, wisata bantul merupakan pendukung pariwisata mass tourism di Kota Jogjakarta yang sudah lebih dahulu berkembang. Pantai Parangtritis merupakan wajah mass tourism di Bantul yang paling tersohor pada saat itu. Namun seiring berjalannya waktu dan mulai di tinggalkanya mass tourism oleh wisatawan membuat Bantul yang tetap bertahan dengan tradisinya mulai menunjukan tajinya. Dalam beberapa tahun terakhir dengan keaslian tradisinya Bantul mulai memikat wisatawan yang mulai mencari alternatif tujuan wisata lain seperti wisata minat khusus. Sadar dengan peluang tersebut daerah-daerah di Bantul yang dulunya menjadi salah satu pendukung wisata kota Jogjakarta dengan produk-produk kerajinannya mulai memperluas jaringan dengan menjadikan kawasannya sebagai sentra kerajinan.

Dari data yang ada terdapat 17 kecamatan dan 75 desa di Kabupaten Bantul. Dari sekian banyak desa yang ada di Bantul, lebih dari 25% merupakan desa wisata dengan masing-masing keunggulan yang berbeda. Potensi yang berbeda beda di tiap desa wisata membuat desa wisata di Bantul semakin berkembang. Misalnya desa wisata Kebonagung yang berada di daerah Imogiri tidak hanya memiliki pemandangan yang menawan namun disana wisatawan bisa menikmati atraksi budaya yang diadakan di Bendung Tegal yang menjadi daya tarik utama. Selain desa yang berbasis pada alam, yang tidak kalah menarik adalah desa wisata yang berbasis budaya dan kerajinan seperti desa wisata Kasongan dengan gerabahnya, desa Krebet dengan kayu batiknya, Panggungharjo dengan mainan tradisionalnya dan desa-desa lainnya.

Dalam 3 tahun terakhir jumlah desa wisata di Bantul meningkat drastis hal tersebut dikarenakan tingkat kunjungan wisatawan yang cukup tinggi untuk mengunjugi desa wisata. Berikut statistik perkembangan desa wisata di DIY.

Kabupaten Tahun
2010 2011 2012
Bantul 15 22 27
Sleman 37 37 37
Kulon Progo 10 10 10
Gunung Kidul 9 17 17
Kota Yogyakarta NA 6 6

Dari data statistik kepariwisataan DIY tahun 2012 tersebut, diperoleh angka pertumbuhan desa wisata di Bantul yang sangat signifikan jika dibandingkan dengan kabupaten lain yang ada di DI Yogyakarta. Untuk menjaga eksistensi desa wisata di Bantul diperlukan program-program yang dinamis dari waktu ke waktu serta tetap melihat tren pasar yang selalu berkembang.

Perkembangan desa wisata yang signifikan tersebut tidak akan terjadi jika stakeholder dalam industri pariwisata tidak terus menerus memberikan dukungan. Dukungan tersebut misalnya dengan promosi, standarisasi produk, membangun jaringan antar desa dan aksesbilitas antar desa.

Dari beberapa dukungan tersebut yang kurang mendapatkan perhatian adalah membangun jaringan antar desa wisata. Kurang perhatiannya masalah jaringan tersebut membuat desa wisata tidak berkembang, padahal tidak sedikit pula desa yang memiliki potensi yang besar tetapi belum tergali secara optimal. Data terakhir menyebutkan dari 27 desa wisata hanya sekitar 6-10 yang tergarap secara optimal, mungkin dengan adanya penguatan jaringan antar desa wisata akan membuat desa yang belum tergarap secara optimal akan dapat menyusul perkembangan desa yang sudah maju terlebih dahulu. Jaringan tersebut tidak hanya pada komunikasi antar desa wisata akan tetapi jaringan wisata berkelanjutan. Jaringan wisata ini memungkinkan wisatawan mengunjungi desa wisata tidak hanya di satu desa saja.

Beberapa desa wisata di Bantul bisa dijadikan jaringan wisata berkelanjutan antara lain desa wisata Karangtengah, Kebonagung, Candran, Wukirsari, Giriloyo. Jarak desa yang tidak terlalu jauh dan potensi desa yang berbeda, pemandangan alam yang menarik membuat jaringan desa wisata sangat potensial untuk dijalankan.

Dalam menumbuhkan jaringan hal utama yang terpenting adalah sarana prasarana yang memadahi antar desa, selain tentunya komunikasi yang berjalan baik antar desa. Sarana-prasarana tersebut berupa akses jalan yang baik dan tentu saja didukung pemandangan alam dan transportasi yang bisa dijadikan atraksi tersendiri bagi wisatawan. Transportasi disini bisa berupa kendaraan tradisional yang ramah lingkungan seperti pedati ataupun dokar. Sistem transportasi tersebut jika dikelola dengan baik akan menambah value dari kawasan desa wisata tersebut.

Alat transportasi lain yang menjanjikan untuk di kembangkan adalah sepeda dengan pengembangan jalur sepeda antar desa wisata. Dalam beberapa tahun terakhir alat transportasi ini banyak di gunakan sebagai kebiasaan, gaya hidup, wisata, dan olahraga. Bersepeda selain menyehatkan juga sangat bersahabat dengan lingkungan, dan sangat ramah kepada budaya. Potensi jutaan orang penggemar sepeda yang mulai menjamur itu pun bisa termanfaatkan oleh adanya jaringan desa wisata ini.

Dengan pengelolaan yang professional pada jaringan desa wisata ini, khususnya pada pengembangan jalur sepeda antar desa wisata secara tidak langsung akan menambah destinasi atau pun aktifitas wisata baru selain potensi yang ada di tiap desa wisata tersebut. Tidak akan dipungkiri pula aktifitas tersebut bisa menambah penghasilan warga sekitar. Persiapan matang diperlukan untuk mewujudkan potensi yang belum tergali tersebut, misalnya dengan pemetaan dan pembuatan jalur/rute yang akan dilalui dengan berbagai kategori jalur yaitu jalur keluarga dan jalur sepeda gunung dengan jalur yang lebih menantang untuk mewakili tingkat kesulitan dan atraksi yang berbeda yang bisa dinikmati para penikmat sepeda. Selain itu bisa membuat area start dan finish yang dilengkapi dengan bengkel sederhana untuk melakukan pengecekan sepeda, rest area di titik-titik kumpul tiap desa, persewaan sepeda dan lain sebagainya.

Dari program jaringan desa wisata berkelanjutan ini diharapkan dapat tercapai kegiatan ekowisata baru yang menggabungkan kegemaran bersepeda dengan kearifan budaya local, meningkatkan kesejahteraan warga, meningkatkan jumlah kunjungan ke desa wisata, dan yang terpenting adalah budaya dan alam desa akan tetap terjaga kelestariannya.

Leave a Reply

Hallo ????

Ada yang bisa di bantu?
Powered by