HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Sistesis dan Karakterisasi Kompleks Trisodium

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Unsur-unsur transisi memiliki sub kulit d atau f yang terisi sebagian dan dapat berfungsi sebagai akseptor pasangan elektron bebas, karenanya unsur transisi memiliki kemampuan untuk membentuk kompleks dengan anion atau molekul netral. Tembaga dengan konfigurasi elektron 3d9 merupakan unsur transisi yang dapat mempunyai bilangan oksidasi +1 dan +2, tetapi tingkat oksidasi +2 lebih stabil daripada tingkat oksidasi yang lain, sehingga dalam pembentukan kompleks, tembaga banyak dijumpai dalam bentuk tembaga(II) (Lee; 1994 : 827).

Dalam tubuh manusia, tembaga dibutuhkan untuk sistem enzim oksidatif seperti enzim askorbat oksidase, sitokrom C oksidase, polifenol oksidase dan amino oksidase. Tembaga juga dibutuhkan manusia sebagai kompleks Cu-protein yang mempunyai fungsi dalam pembentukan hemoglobin, pembuluh darah dan myelin otak. (Palar; 1994 : 65). Kompleks tembaga(II) dengan asam amino sederhana memiliki peran penting dalam bidang pengobatan, diantaranya berguna sebagai obat luka bernanah, anti inflammatory maupun anti convulsant (Wagner and Baran; 2002 : 287).

Meskipun sangat dibutuhkan oleh tubuh, tembaga akan menjadi racun bila masuk dalam jumlah yang berlebihan. Efek utama yang timbul dari keracunan tembaga adalah terjadinya gangguan pernafasan dan rusaknya selaput lendir pada hidung. Keracunan tembaga secara kronis akan menimbulkan penyakit Wilson yang menyebabkan kerusakan pada otak, penurunan kerja ginjal dan penumpukan kadar tembaga dalam kornea mata (Palar; 1994 : 71).

Salah satu cara menangani kasus keracunan logam berat adalah dengan membentuk senyawa kompleks yang mudah larut, sehingga dapat diekskresikan melalui ginjal. Penisilamin merupakan turunan asam amino yang banyak digunakan dalam penyembuhan penyakit Wilson, mengandung atom donor N, S dan O yang dapat membentuk kompleks dengan Cu. Kompleks Cu-penisilamin mudah larut dalam air dan dapat diekskresikan melalui urin, sehingga dapat mengurangi kadar tembaga yang terakumulasi di hati (Tjay, T.H dan Rahardja, K.; 2002 : 316). Struktur kompleks Cupenisilamin yang terbentuk ditunjukkan oleh Gambar 1.

Gambar 1. Struktur Cu-penisilamin (Siswandono dan Bambang, S.; 1995 : 101). Glisin dan alanin yang strukturnya ditunjukkan oleh Gambar 2, termasuk turunan asam amino yang lazim terdapat dalam protein, dapat bersifat asam karena mengandung gugus karboksil (-COOH), dan juga dapat bersifat basa karena mengandung gugus amino (-NH2) (Lagowski; 1997 : 112). Glisin dan alanin mengandung atom donor N dan O yang mempunyai pasangan elektron bebas dan dapat dikoordinasikan pada tembaga(II), dalam berbagai kemungkinan geometri.

Gambar 2. (a) Struktur Glisin dan (b) Struktur Alanin (Lagowski; 1997 : 112). Penelitian tentang sintesis kompleks dengan ligan turunan asam amino telah banyak dilakukan, diantaranya Wagner and Baran (2002) melaporkan pembentukan kompleks Bis(L-methioninato)tembaga(II) dengan struktur oktahedral terdistorsi, ikatan terjadi antara Cu dengan dua buah metionin yang dihubungkan dengan suatu jembatan karboksilat. Kompleks cis-[PtCl2(gly)2] yang telah disintesis oleh Steinborn, Junicke and Heinemann (1997) menunjukkan struktur oktahedral terdistorsi, ikatan antara Pt dengan glisin terjadi melalui gugus N-H primer pada glisin. Mengingat pentingnya tembaga bagi tubuh dan kegunaan yang luas dari kompleks tembaga(II) dengan asam amino sederhana, maka penelitian tentang pembentukan kompleksnya terus dikembangkan. Dalam penelitian ini akan disintesis kompleks tembaga(II) dengan glisin dan alanin untuk mengetahui sifat dan karakteristik kompleks yang terbentuk.

Leave a Reply