HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Perilaku Konsumtif warga kota Moskow Pascakrisis Finansial tahun 1998

ABSTRAK

Penulisan ini membahas perilaku konsumtif warga kota Moskow pascakrisis finansial tahun 1998. Tujuan penulisan ini adalah mengetahui dan memahami perilaku konsumtif warga kota Moskow dan faktor apa saja yang membuat mereka berperilaku konsumtif. Setelah melakukan analisis penulisan faktor-faktor penyebab utama terjadinya perilaku konsumtif warga kota Moskow adalah kestabilan ekonomi yang menyebabkan turunnya harga konsumen dan juga naiknya rata-rata gaji warga Moskow. Selain itu juga ditemukan faktor-faktor lain yang menyebabkan perilaku konsumtif tersebut.

Kata-kata Kunci: Konsumerisme, Budaya, Identitas, Bangsa Rusia

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Siapakah Rusia? Apa itu kerusiaan? Pertanyaan-pertanyaan tersebut masih menjadi perdebatan. Pertanyaan tersebut merupakan sumber inspirasi bagi banyak penulis, seniman, musisi, politisi, kritikus, dan filsuf. Pertanyaan-pertanyaan tentang identitas ini terserap pada ekspresi budaya bangsa Rusia. Bangsa Rusia terdiri dari beragam suku dan akar budaya. Keragaman etnik ini meliputi suku-suku Slavia yang terbentuk di kota Khazarian di Kiev, dipimpin oleh Pangeran Varangian.1 Suku-suku Slavia tersebut membuat kesepakatan dengan Bizantium dalam harapan untuk mendapatkan perlindungan politik. Langkah ini membuat Rusia Kiev mendapatkan tempat di masyarakat Eropa.2Kesepakatan yang dibuat oleh Bangsa Rusia tersebut mencakup perdagangan, diplomasi, dan keamanan. Sebagai bagian dari kesepakatan diplomasi, Bizantium yang mengetahui bahwa bangsa Rusia sedang mencari agama baru, mengutus dua pendetanya, yaitu Cyril dan Methodius untuk menyebarkan agama Katolik di Rusia.3

Bangsa Rusia mengamati penyebaran luas dari kekuasaan Gereja Ortodoks Rusia dalam negaranya dan harta-harta bangsa Rusia yang mengalir ke Bizantium. Misalnya, pada tahun 1430-an, Bangsawan Besar Vasily sukses dalam mengubah peraturan dan metropolitan Moskow menjadi sekuler dibandingkan kekuatan patriarkal sebelumnya. Ia melakukannya secara de facto, tanpa meminta izin dari Konstantinopel dan Bizantium yang runtuh pada abad ke-15.4 Sejak saat itu, dua proses interkoneksi, dari westernisasi dan dari sekularisasi (pelepasan dari Konstantinopel dan kekuatan finansial Gereja), berkembang di Rusia.5 Dua identitas Rusia yang kuat terbentuk, yaitu nilai-nilai pro-Bizantium tua dan prinsip-prinsip pro-Eropa. Koeksistensi mereka telah dan masih menjadi perseteruan yang rumit dan dramatis.

Perpecahan dalam kesadaran sosial bangsa Rusia dapat dikurangi6, tetapi tidak dapat benar-benar dimatikan. Sebagai contoh dapat dilihat, dengan keberadaan dua ibukota Moskow, kota yang lebih pro-Bizantium, dan St. Petersburg, kota yang lebih pro-Eropa. Konflik konstan antara dua kota tersebut menjadi simbol dari dua pandangan dunia yang berbeda. Dua pandangan dunia tersebut terefleksikan dalam dua kubu dengan istilah Slavophil dan Zapadniki. Golongan Slavophil adalah golongan bersifat nasionalis yang menganggap Rusia lebih baik dari Eropa barat. Ideologi golongan Slavophil berorientasi pada ortodoksi. Menurut pandangan kaum Slavophil, semua perbedaan penting antara Rusia dengan Barat pada intinya berakar pada agama. Slavophil beranggapan bahwa gereja-gereja Barat telah dipengaruhi kebudayaan klasik yang tercemar dengan paham Rasionalisme. Katolik merupakan rasionalisme material, sedangkan Protestan merupakan rasionalisme dalam idealisme atau realisme dalam anarkisme.7

Golongan Zapadniki adalah golongan liberal yang pada umumnya mencontoh ide-ide dari Eropa. Zapadniki beranggapan bahwa ide-ide dari Eropa harus diadopsi apabila bangsa Rusia ingin maju. Golongan ini sangat mementingkan peranan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam kehidupan masyarakat serta menghargai hukum dan institusi pemerintah. Mereka memuja tokoh-tokoh pemikir besar masa Renaissance, filsuf-filsuf Perancis, dan pemikir Jerman abad ke-19 seperti Hegel dan Feuerbach.8

Pada tahun 1840-an—1850-an, golongan zapadniki berusaha untuk menggabungkan kesadaran individual masing-masing sehingga merefleksikan dan menyebabkan perpisahan sifat dasar dari masyarakat Rusia. Hal ini disebabkan surat filosofis dari Peter Chaadaev yang berisi tentang penggambaran Rusia yang tidak berkembang dan negara yang tidak memiliki budaya nasional. Identitas nasional Rusia menjadi dua bagian besar yaitu, melihat ke belakang seperti pro- Bizantium, masa lalu Ortodoks Yunani dan melihat ke depan pada masa depan sekuler pro-Barat. Rasio spesifik antara masing-masing “masa sekarang” yang khusus selalu bervariasi. Mencari sebuah jawaban sederhana merupakan sesuatu yang sia-sia. Kontroversi ini bukan merupakan “dilema sentral dari identitas Rusia,”9 tetapi sebuah dualitas yang harus diakui. Manifestasi dari dualitas tersebut dapat dilacak baik dari epos masa lalu dan masa depan.

Pada tahun 1960-an yang merupakan sebuah periode dari reformasi liberal dan penerimaan terhadap Barat yang merupakan pencairan dari sistem sebelumnya. Pencairan tersebut datang setelah kebutuhan sejarah untuk bangsa Rusia dan hanya melayani untuk mengasah perbedaan internal abadi dalam Rusia.10 Periode ini diikuti oleh campuran rumit dari reaksi, pencapaian sosialekonomi, peperangan, dan krisis yang mengarahkan Rusia pada periode reaksioner yang berakhir pada pertengahan abad setelahnya—yang juga diikuti oleh pencairan yang baru. Ada satu hal yang pasti bahwa pembuktian yang luas tentang nasionalisme dan doktrin-doktrin, seperti doktrin reaksioner, radikal imperial, radikal interetnik, moderat, liberal, sipil, konstruktif, destruktif, pascakomunis, dan lain-lain, merupakan sebuah isu dalam kehidupan Rusia.11 sebagaimana yang dapat dilihat pada masa Uni Soviet.

Pada masa Uni Soviet paham komunis dan sosialis menjadi ideologi partai. Ideologi tersebut berusaha ditanamkan ke dalam jiwa setiap masyarakat Rusia pada masa itu melalui berbagai macam cara. Masyarakat Rusia kurang memiliki kebebasan dalam berekspresi karena pengawasan pemerintah terhadap segala bentuk kegiatan, sistem ekonomi komando yang dijalankan pemerintahan Uni Soviet mematikan budaya konsumerisme karena dianggap sebagai unsur ekonomi kapitalisme barat. Kelas menengah dan kaum pedagang ditekan oleh pemerintah dan dibatasi aktivitas perekonomiannya. Kolhoz-kolhoz didirikan untuk menyuplai kebutuhan hidup masyarakat pada masa komunis. Pendirian kolhoz ini mematikan kelas menengah dan pedagang karena sistem ekonomi dipegang sepenuhnya oleh badan ini. Kolhoz diberikan hak dalam memonopoli kegiatan ekonomi masyarakat. Pilihan-pilihan barang yang bisa dikonsumsi terbatas dan hanya tersedia di toko-toko pemerintah.12

Pasca runtuhnya Uni Soviet, sistem perekonomian komando pun ikut runtuh sehingga kelangkaan barang konsumsi terjadi di seluruh Uni Soviet. Pasokan barang dari kolhoz-kolhoz terhenti dan barang-barang konsumsi banyak terbuang. Kebutuhan masyarakat pada masa ini dipenuhi oleh pasar gelap yang menjual barang secara barter.

Budaya konsumerisme yang akhir-akhir ini merebak di Rusia diakibatkan oleh privatisasi yang dilakukan oleh pemerintah pada musim panas tahun 1990.13 Berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan tentang identitas dan budaya konsumerisme yang sedang merebak, menurut penulis, hubungan antara pencarian identitas bangsa Rusia dengan budaya konsumerisme merupakan tema yang menarik untuk dikaji. Selain itu, belum adanya pembahasan tentang budaya konsumerisme dalam tingkat skripsi dalam jurusan Rusia menarik perhatian penulis.

Nilai kebudayaan tradisional dari masyarakat merosot akibat pengaruh politik, komersialisasi kebudayaan, dan dampak dari media massa. Misalnya, masyarakat semakin tertarik dengan hiburan televisi yang melunturkan ‘tradisi’ mereka dan juga mereka lebih tertarik untuk menghabiskan uang mereka untuk berbelanja barang. Pada survei yang diterbitkan oleh Global Pulse pada Januari 2008, sebanyak 37% masyarakat Rusia lebih memilih untuk berbelanja barang setiap minggunya, atau bahkan lebih sering, dan 48% dari masyarakat tersebut adalah remaja.14 Dalam survei yang Mintel lakukan, pertumbuhan belanja konsumer Rusia tertinggi dibandingkan dengan negara Eropa Timur lainnya, yaitu sebanyak 106,9 Euro dalam jangka waktu 2002-2006.15 Dari hasil survey tersebut dapat disimpulkan bahwa di Rusia konsumen meningkat, penulis melihat peningkatan tersebut menuntun masyarakat Rusia pada umumnya dan warga Moskow pada khususnya menuju konsumerisme.

Leave a Reply