HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Perbaikan Kualitas Sliver Combing Pada Proses Combing dengan Six Sigma

Perbaikan Kualitas Sliver Combing Pada Proses Combing Menggunakan Metode Six Sigma Dmaic (Studi Kasus : PT. Adetex Spinning Unit I)

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Dalam era industrialisasi yang semakin kompetitif, setiap perusahaan berharap dapat memenangkan persaingan. Upaya perusahaan dalam menghadapi situasi ini adalah berusaha bertahan dengan tetap memberikan kepuasan kepada pelanggan karena keunggulan suatu produk diukur dari tingkat kepuasan pelanggan itu sendiri. Segala sesuatu yang mampu memenuhi keinginan atau kebutuhan pelanggan (meeting the needs of customer) adalah salah satu definisi kualitas (Gasperz,2005). Kualitas menggambarkan karakteristik langsung dari suatu produk seperti performansi, kehandalan, mudah dalam penggunaan, estetika dan sebagainya. Oleh karena itu, dalam membuat suatu produk perusahaan harus mengetahui karakteristik produk yang diinginkan pelanggan. Produk yang dapat memenuhi karakteristik pelanggan akan dapat bertahan dalam persaingan industri. Sandang merupakan salah satu kebutuhan pokok manusia, sehingga keberadaan perusahaan tekstil sangat dibutuhkan. Meskipun keberadaan perusahaan tekstil sangat dibutuhkan, kualitas produk harus tetap diperhatikan agar perusahaan dapat bertahan dalam kondisi persaingan ini. Sandang atau biasa disebut sebagai pakaian diproses oleh beberapa unit perusahaan tekstil. Untuk mendapatkan pakaian yang berkualitas tinggi, setiap unit perusahaan tekstil harus menghasilkan produk yang berkualitas tinggi juga.

Kualitas pakaian ditentukan pertama kali pada unit pemintalan atau spinning. Dalam unit pemintalan ini, harus didapatkan benang yang berkualitas tinggi karena benang merupakan input untuk unit selanjutnya sehingga pada akhirnya pakaian yang dihasilkan berkualitas tinggi. PT. ADETEX merupakan salah satu perusahaan tekstil unit spinning/pemintalan dengan produk akhir benang dalam bentuk cone. Adapun jenis benang yang dihasilkan PT. ADETEX Spinning Unit I adalah TC 45S, CVC ITS dan CVC Micro. Sebelum menjadi benang dalam bentuk cone, bahan baku benang yaitu kapas akan melalui beberapa tahapan proses. Proses pembuatan benang terdiri dari empat operasi, yaitu: operasi I (proses blowing), operasi II (proses drawing), operasi III (proses ring spinning) dan operasi IV (proses winding). Salah satu tahapan proses pada operasi II atau proses drawing adalah proses combing. Proses combing bertujuan menghilangkan serat-serat pendek, meluruskan dan mensejajarkan serat-serat panjang serta menghilangkan nep. Untuk mendapatkan benang yang bermutu tinggi, sesudah mengalami proses pada mesin carding, terlebih dahulu diproses pada mesin combing dimana serat yang pendek dipisahkan dengan jalan penyisiran ( Enie dan Karmayu, 1987). Benang yang dibuat melalui proses combing mempunyai keunggulan yaitu frekuensi patah benang dalam proses pemintalan lebih sedikit, persentase kerataan lebih tinggi dan kekuatan benang lebih besar.

Input proses combing adalah serat alami (kapas) yang mempunyai karakteristik panjang tidak rata dan sebagian besar mengandung serat pendek. Melalui proses combing serat-serat yang pendek dipisahkan dari serat-serat panjang. Adapun output proses combing adalah sliver combing yang merupakan kumpulan serat panjang. Sliver combing merupakan input bagi proses pembuatan benang berikutnya yaitu proses mixing. Pada proses mixing, sliver combing akan digabung dengan sliver dari polyester yaitu sliver pre drawing frame 2 dengan perbandingan tertentu misalnya untuk pembuatan benang TC45 perbandingan sliver combing dan sliver pre drawing frame 2 adalah 35% dan 65%. Jika perbandingannya tidak sesuai aturan, maka benang yang dihasilkan sulit dipasarkan karena nomer benang tidak sesuai pesanan. Berdasarkan keterangan kepala produksi PT. ADETEX, keluhan customer benang terbanyak adalah nomer benang tidak sesuai pesanan yaitu hampir 50% dan benang mudah putus pada saat penarikan yaitu 30%. Kesalahan nomer benang disebabkan oleh kesalahan komposisi bahan antara polyester (sliver pre drawing frame 2) dan kapas alami (sliver combing) yang masuk dalam proses mixing atau pencampuran. Sedangkan benang mudah putus disebabkan banyaknya serat pendek yang terkandung dalam benang. Hal ini disebabkan kurang sempurnanya proses combing dalam penyisiran dan pemisahan serat panjang dan serat pendek.

Berdasarkan pengamatan pada PT. ADETEX, pada bulan Februari-Maret 2006 hampir 50% sliver combing tidak memenuhi target berat yang ditetapkan sehingga proses combing harus diulang sedangkan untuk sliver pre drawing frame 2 sebanyak 45%. Selain itu, sliver combing mempunyai variasi yang cukup tinggi yaitu di atas 1,5% (berdasarkan keterangan dari kepala shift) dan sliver pre drawing frame 2 mempunyai variasi di bawah 1% (hampir di seluruh proses). Oleh karena itu, proses combing memberikan kontribusi lebih besar daripada proses pre drawing frame 2 dalam kegagalan nomer benang yang dihasilkan. Waktu siklus proses combing yang lama yaitu 2,5 sampai 3 jam sehingga pengulangan proses akan mengakibatkan kerugian waktu bagi perusahaan. Selain itu, pengulangan proses combing menyebabkan kerugian material karena serat alami yang dibutuhkan lebih banyak. Banyaknya kebutuhan serat alami menyebabkan peningkatan biaya produksi perusahaan untuk pembelian bahan baku dimana harga serat alami lebih mahal daripada polyester. Oleh karena itu, perlu dilakukan perbaikan kualitas pada sliver combing untuk meminimasi kerugian perusahaan, meningkatkan produktivitas proses combing dan meningkatkan kualitas benang sebagai produk akhir.

Salah satu metodologi peningkatan kualitas yang banyak diterapkan pada industri maju (General Electric, Allied Signed Counters, Bombardier, Asea Brown Boveri dan Lockheed Martin ) adalah Six Sigma. Six Sigma merupakan konsep perbaikan inovatif yang pertama kali dikenalkan oleh Motorola. Six Sigma adalah sistem yang komprehensif dan fleksibel untuk mencapai, mempertahankan dan memaksimalkan sukses bisnis. Six Sigma secara unik dikendalikan oleh pemahaman yang kuat terhadap kebutuhan pelanggan, penggunaan disiplin terhadap fakta, data, analisis statistik dan perhatian cermat untuk mengelola, memperbaiki proses bisnis (Cavanagh dkk, 2000).

Six Sigma mempunyai dua metodologi yaitu DMAIC (Define-Measure- Analyze-Improve-Control) dan DFSS (Design For Six Sigma). DMAIC merupakan metodologi Six Sigma yang bertujuan memperbaiki proses atau produk yang sudah berlangsung di perusahaan agar kualitas yang dihasilkan sesuai spesifikasi . Kelebihan metodologi DMAIC adalah fokus terhadap keinginan pelanggan dan peningkatan yang terus menerus dalam memperbaiki kualitas dan dapat juga digunakan untuk mendesain proses/produk atau mendesain ulang proses/ produk. Sedangkan DFSS digunakan untuk mendesain atau mendesain ulang produk atau proses baru dalam suatu perusahaan. Perbaikan kualitas menggunakan metodologi Six Sigma DMAIC pada PT.ADETEX diharapkan dapat meningkatkan kualitas benang pada umumnya dan meningkatkan kualitas sliver combing pada khususnya, dengan target kecacatan pada sliver combing mendekati 3,4 defect per satu juta peluang defect.

Incoming search terms:

Leave a Reply