HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Pengaruh Pengalaman Auditor trhdp Pertimbangan Tingkat Materialitas dlm Proses Pengauditan

Judul Skripsi : Pengaruh Pengalaman Auditor terhadap Pertimbangan Tingkat Materialitas dalam Proses Pengauditan Laporan Keuangan Melalui Dimensi Profesionalisme (Studi Empiris pada Auditor BPK-RI Kantor Perwakilan Propinsi Jawa Tengah)

 

A. Latar Belakang

Pemeriksaan terhadap Laporan Keuangan Daerah dilaksanakan oleh auditor pemerintah yang bertugas di BPK atau Badan Pemeriksa Keuangan. Hal ini tertuang dalam UU No 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan dan Pengelolaan Keuangan Negara pasal 1 ayat (2) yang berbunyi ”Badan Pemeriksa Keuangan yang selanjutnya disebut BPK adalah Badan Pemeriksa Keuangan sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945, dan pada Bab II, pasal 2 disebutkan BPK melaksanakan pemeriksaan atas pengelolaan dan tanggung jawab keuangan negara.

Profesionalisme dan kualitas audit sebagai kemungkinan seorang auditor menemukan serta melaporkan pelanggaran pada sistem akuntansi kliennya. Kalau klien atau auditeenya adalah pemerintah, maka kualitas audit pada sektor publik pemerintah adalah kemungkinan seorang auditor menemukan serta melaporkan pelanggaran pada sistem akuntansi sektor publik pemerintah. Audit yang dilakukan pada sektor publik pemerintah berbeda dengan yang dilakukan pada sektor swasta. Latar belakang institusional dan hukum yang berbeda yang membedakan audit sektor publik pemerintah dengan audit sektor swasta, dimana audit sektor publik pemerintah mempunyai prosedur dan tanggung jawab yang berbeda serta peran yang lebih luas dibanding audit sektor swasta (Jones R. 1996; Rubin 1988)

 

B. Permasalahan Skripsi

1. Apakah terdapat pengaruh pengalaman auditor terhadap dimensi profesionalismenya berdasarkan:

  1. pengabdian pada profesi
  2. kewajiban sosial
  3. kemandirian
  4. keyakinan terhadap peraturan profesi
  5. hubungan dengan sesama profesi dalam proses pengauditan laporan keuangan?

2. Apakah terdapat pengaruh dimensi profesionalisme kerja auditor berdasarkan:

  1. pengabdian pada profesi
  2. kewajiban sosial
  3. kemandirian
  4. keyakinan terhadap peraturan profesi
  5. hubungan dengan sesama profesi terhadap tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan?

3. Apakah terdapat pengaruh pengalaman auditor diukur secara tidak langsung terhadap tingkat materialitas dalam proses pengauditan laporan keuangan melalui dimensi profesionalisme kerja auditor berdasarkan:

  1. pengabdian pada profesi
  2. kewajiban sosial
  3. kemandirian
  4. keyakinan terhadap peraturan profesi
  5. hubungan dengan sesama profesi?

 

C. Tinjauan Pustaka

Profesionalisme

Profesi dan profesionalisme dapat dibedakan secara konseptual. “Profesi merupakan jenis pekerjaan yang memenuhi beberapa kriteria, sedangkan profesionalisme merupakan suatu atribut individual yang penting tanpa melihat suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak” (Kalbers dan Fogarty, 1995: 72). Sebagai profesional, akuntan publik mengakui tanggung jawabnya terhadap masyarakat, terhadap klien, dan terhadap rekan seprofesi, termasuk untuk berperilaku yang terhormat, sekalipun ini merupakan pengorbanan pribadi.

Pengalaman

Menurut Jeffrey (dalam Herliansyah dan Ilyas, 2006), memperlihatkan bahwa seseorang dengan lebih banyak pengalaman dalam suatu bidang memiliki lebih banyak hal yang tersimpan dalam ingatannya dan dapat mengembangkan suatu pemahaman yang baik mengenai peristiwa-peristiwa. Menurut Butts (dalam Herliansyah dan Ilyas, 2006), mengungkapkan bahwa akuntan pemeriksa yang berpengalaman membuat judgment lebih baik dalam tugas-tugas profesional ketimbang akuntan pemeriksa yang belum berpengalaman. Hal ini dipertegas oleh Haynes et al (1998) yang menemukan bahwa pengalaman audit yang dipunyai auditor ikut berperan dalam menentukan pertimbangan yang diambil.

Materialitas

Materialitas adalah besarnya nilai yang dihilangkan atau salah saji informasi akuntansi, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, yang mungkin dapat mengakibatkan perubahan pengaruh terhadap pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi tersebut karena adanya penghilangan atau salah saji tersebut (Sukrisno, 1996: 100 dalam Wahyudi dan Mardiyah, 2006). Sedangkan menurut (Messier Jr, Glover, Prawitt, 2006: 134) menyebutkan materialitas (materiality) adalah besarnya informasi akuntansi yang apabila terjadi penghilangan atau salah saji, dilihat dari keadaan yang melingkupinya, mungkin dapat mengubah atau mempengaruhi pertimbangan orang yang meletakkan kepercayaan atas informasi tersebut.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian kausal dengan metode survei. Target populasi dalam penelitian ini adalah auditor pemerintah yang bekerja di BPK-RI Kantor Perwakilan Propinsi Jawa Tengah.

Sampel yang diambil adalah 67 orang. Teknik sampling yang digunakan adalah non probability sampling dengan metode judgment sampling.

Metode analisis yang digunakan adalah path analysis. Pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan Program AMOS versi 6 untuk menganalisa hubungan kausalitas dalam model struktural yang diusulkan.

 

E. Kesimpulan

1. Pengalaman auditor berpengaruh positif secara langsung terhadap dimensi profesionalisme berdasarkan Hall (1968), yang terdiri dari pengabdian pada profesi, kewajiban sosial, kemandirian, keyakinan terhadap peraturan profesi dan hubungan dengan sesama profesi. Hasil penelitian ini lebih kuat dari pada hasil penelitian yang dilakukan oleh Kalbers dan Forgarty (1995) dan Rahmawati (1997) yang menghasilkan pengalaman hanya berpengaruh signifikan pada satu dimensi profesionalisme yaitu hubungan dengan sesama profesi. Dengan demikian penelitian ini membuktikan bahwa semakin tinggi pengalaman auditor akan semakin tinggi pula tingkat profesionalismenya dalam menjalankan tugasnya mempertimbangkan tingkat materialitas pengauditan laporan keuangan, sehingga sangat penting bagi seorang auditor untuk meningkatkan pengalamannya. Menurut Jeffrey (dalam Herliansyah dan Ilyas, 2006), seseorang dengan lebih banyak pengalaman dalam suatu bidang memiliki lebih banyak hal yang tersimpan dalam ingatannya dan dapat mengembangkan suatu pemahaman yang baik mengenai peristiwa-peristiwa.

2. Dimensi profesionalisme yang memiliki pengaruh positif secara langsung terhadap tingkat materialitas adalah pengabdian pada profesi, kemandirian, keyakinan terhadap peraturan profesi dan hubungan dengan sesama profesi. Sedangkan kewajiban sosial tidak berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil penelitian ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wahyudi dan Mardiyah (2006) dan penelitian yang dilakukan oleh Yendrawati (2008) yang menghasilkan kesimpulan bahwa dimensi profesionalisme auditor berpengaruh terhadap pertimbangan tingkat materialitas. Artinya bahwa semakin tinggi profesionalisme seorang auditor maka akan semakin tepat mempertimbangkan tingkat materialitas dalam pengauditan laporan keuangan. Profesionalisme merupakan suatu atribut individual yang penting tanpa melihat suatu pekerjaan merupakan suatu profesi atau tidak (Kalbers dan Fogarty, 1995). Sedangkan menurut Messier, Jr., et. al (2006: 375) profesionalisme didefinisikan secara luas, mengacu pada perilaku, tujuan, atau kualitas yang membentuk karakter atau memberi ciri suatu profesi atau orang-orang profesional. Dengan demikian auditor pemerintah yang tingkat profesionalismenya tinggi akan semakin berkualitas dalam menjalankan tugasnya memeriksa laporan keuangan pemerintah.

3. Ada pengaruh pengalaman kerja auditor diukur secara tidak langsung terhadap tingkat materialistas dalam proses pengauditan laporan keuangan melalui dimensi profesionalisme. Jadi hasil penelitian ini membuktikan bahwa semakin berpengalaman seorang auditor dengan tingkat profesionalisme yang tinggi akan lebih tepat dalam mempertimbangkan tingkat materialitas. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan Mahmudi (2007: 33), bahwa pengauditan terhadap lembaga publik harus dilakukan oleh auditor yang telah berpengalaman, sehingga pengalaman lebih berpengaruh terhadap tingkat materialitas. Hasil ini juga didukung oleh Abdolmohammadi dan Wright (dalam Herliansyah dan Ilyas, 2006) yang menunjukkan bahwa auditor yang tidak bepengalaman mempunyai tingkat kesalahan yang lebih signifikan dibandingkan dengan auditor yang berpengalaman.

Leave a Reply