HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Studi Pengaruh Penambahan NACL (PPM) dan Peningkatan Ph Larutan Terhadap Laju Korosi Baja Karbon Dari Bijih Besi Hematite Dan Bijih Besi Laterite

ABSTRAK

Baja dari sponge bijih besi laterite merupakan produk baja yang dihasilkan PT Krakatau Steel. Baja lembaran ini terbuat dari mineral laterite dengan kandungan Fe sekitar 50 %, Mg, dan Si berkisar pada besaran 20-25 %. Baja ini sudah diaplikasikan di roof (atap) Jembatan TekSas pengubung Fakultas Teknik dan Fakultas Sastra UI. Perilaku korosi baja lembaran dari sponge bijih besi laterite dan baja karbon pada larutan dengan penambahan NaCl sebesar 0 ppm, 100 ppm, 200 ppm, 300 ppm, dan 400 ppm serta larutan dengan pH 4, 5, dan 6 selama waktu perendaman 48 jam, 72 jam, 120 jam, dan 168 jam dilakukan dengan menggunakan pengujian weight loss berdasarkan pada standar ASTM G1-03 dan ASTM G31 – 72. Selain itu, penelitian ini juga menggunakan teknik analitik seperti pengujian Optical Spectroscopy untuk mengetahui komposisi unsur penyusun kedua baja dan Energy Dispersive X-ray Analysis (EDX) untuk memeriksa komposisi unsur dari produk korosi kedua baja tersebut.

Dari hasil penelitian terlihat bahwa semakin meningkatnya waktu perendaman (jam) maka laju korosi (mpy) untuk baja karbon dari bijih besi hematite dan bijih laterite masing-masing berkisar dari 3.5 mpy s/d 10 mpy dan 2.6 mpy s/d 4.2 mpy. Sedangkan dengan semakin meningkatnya penambahan NaCl (ppm) maka laju korosi (mpy) untuk masing-masing baja berkisar dari 3.5 s/d 4.1 mpy dan 2.9 mpy s/d 4.2 mpy serta dengan semakin meningkatnya pH larutan maka laju korosi (mpy) untuk masing-masing baja berkisar dari 14 mpy s/d 5 mpy dan 20 mpy s/d 5 mpy. Jadi, dengan semakin meningkatnya waktu perendaman (jam), konsentrasi NaCl (ppm), dan pH larutan maka ketahanan korosi dari baja laterite hampir sama dengan baja karbon biasa. Selain itu dalam penelitian ini juga diamati pengaruh penambahan NaCl (ppm) dan penurunan pH larutan terhadap degradasi kerusakan yang dihasilkan dari baja laterite dan baja karbon. Analisa dengan metode EDX menyatakan bahwa deposit yang terbentuk di permukaan kedua baja utamanya terdiri atas unsur Fe, O, C, Si, serta sedikit Ca pada baja laterite.

Kata kunci : Baja Laterite, Baja Karbon, NaCl, pH, Waktu

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. LATAR BELAKANG

Baja laterite merupakan baja karbon yang diproduksi dari bijih besi laterite. Penggunaan bijih laterite sebagai bahan mentah karena bersifat potensial dan banyak tersedia di Pulau Kalimantan. Bahan utama pembuatan baja karbon sebelumnya yaitu bijih besi hematite (Fe > 70 %) yang sumbernya terbatas sehingga Indonesia perlu mengimpor dari India, Swedia, dan Brazil. Laterite yang digunakan untuk pembuatan baja lembaran memiliki kandungan Fe sekitar 50 %, Mg, dan Si berkisar pada besaran 20-25 %. Bijih besi laterite terdiri atas red limonite (Fe > 50 %), yellow limonite (40 % < Fe < 50 %), dan saprielite / garnielite / serpentine (10 % < Fe 40 %) karena kandungan Fe-nya lebih besar dibandingkan jenis lainnya.

Baja laterite merupakan produk baru dari PT Krakatau Steel. Aplikasinya baru terbatas untuk atap jembatan Teksas penghubung Fakultas Teknik dan Fakultas Sastra UI. Baja lembaran yang dihasilkan memiliki perbedaan elemen paduan, perbedaan proses rolling, serta perbedaan kekerasan dan ketebalan. Baja lembaran sponge bijih besi laterite merupakan low alloy steel dengan sejumlah kecil komposisi paduan seperti kromium, aluminium, nikel, molybdenum, fosfor, tembaga, vanadium dan lain-lain. Menurut Hilman Hasyim [1] beberapa karakteristik penting dari baja laterite antara lain berat material yang umumnya lebih rendah dibandingkan baja konstruksi lainnya, weldabilitynya baik, ketangguhan baik, ketahanan korosi yang baik, serta biaya perawatan yang rendah (khusus untuk aplikasi material yang tidak diharuskan dipainting).

Namun, karena data aktual mengenai laju korosi terbatas atau bahkan belum ada maka diperlukan data sepeti weight loss untuk memprediksi lifetime material baja apabila diaplikasikan pada lingkungan tertentu. Selain itu, juga perlu diketahui tipe dan karakteristik karat yang terbentuk pada permukaan baja tersebut. Hal ini disebabkan karena biasanya ketahanan korosi berhubungan dengan sifat dari lapisan karatnya. Penggunaan garam NaCl bersifat sebagai media akselerator untuk mempercepat terjadinya proses korosi pada baja laterite. Hal tersebut disebabkan karena proses pengujian weight loss dilakukan dengan perendaman yang range waktunya sebentar sekitar 168 jam (7 hari). Sedangkan penggunakan media asam seperti HCl disebabkan karena penggunaan larutan asam dalam industri mengalami peningkatan.

Menurut Osaralube, dkk [2] besi dan baja kebanyakan digunakan pada fabrikasi material dan oil platform karena propertiesnya, harganya yang murah, mudah difabrikasi, dan strengthnya sangat tinggi. Kebanyakan media industri kaya akan elemen gas, asam anorganik, dan larutan asam dimana media tersebut dapat mempengaruhi logam korosi dan mekanismenya. Logam pada lingkungan biasanya terekspos pada lingkungan asam atau basa. Proses asam kebanyakan berperan penting dalam proses pickling, industrial cleaning, refinery cleaning, oil-well acidizing, dan descaling asam. Eksposure pada lingkungan asam dapat mempercepat laju korosi material karena media asam merupakan media yang paling korosif. Selain itu, eksposure pada media asam juga dapat memperkirakan failure yang terjadi pada material baja apabila diaplikasikan pada lingkungan tersebut.

Oleh karena itu, butuh untuk mempelajari perilaku korosi logam yang diekspos pada variasi lingkungan yang berbeda dimana hal ini berperan sebagai faktor penting dalam material selection dengan menentukan service life material.

Incoming search terms:

Leave a Reply