HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Pengaruh Pemberian Astaxanthin terhadap Kadar Soluble FMS Like Tyrosine Kinase-1

Judul Skripsi :  Pengaruh Pemberian Astaxanthin terhadap Kadar Soluble FMS Like Tyrosine Kinase-1 pada Awal Plasentasi Kehamilan Risiko Preeklamsia

 

A. Latar Belakang

Salah satu teori yang menjelaskan etiologi preeklamsia adalah teori maladaptasi imun, yaitu adanya gangguan invasi trofoblas pada arteri spiralis uterus sehingga terjadi aktivasi abnormal sel limfoid desidua, yang selanjutnya menyebabkan peningkatan kadar spesies radikal bebas, neutrofil elastase dan sitokin, seperti tumor necrosis factor (TNF) dan interleukin-1 (IL-1) (Dekker, 1998). Dengan adanya peningkatan radikal bebas dan sitokin pada proses plasentasi kehamilan dengan risiko preeklamsia akan menyebabkan disfungsi endotel (endotheliosis) plasenta dan sistemik. Keadaan ini mengakibatkan stres oksidatif sehingga terjadi ketidakseimbangan antara faktor proangiogenik (Vascular Endothelial Growth Factor/VEGF, Placental Growth Factor/PlGF, Tissue Growth Factor ?-1/TGF?-1) dan faktor antiangiogenik (Soluble fms-like tyrosine kinase-1/sFlt-1 dan Soluble Endoglin/sEng) yang bersirkulasi pada saat sebelum preeklamsia (Karumanchi dkk, 2008).

Soluble fms-like tyrosine kinase-1 merupakan inhibitor endogen VEGF, yang akan meningkat sebelum onset preeklamsia (Lim dkk., 2008). Penggunaan antioksidan dilatarbelakangi oleh ketidakseimbangan oksidatif pada preeklamsia yang berhubungan erat dengan aktivitas sitokin, khususnya tumor necrosis factor (TNF) (Dekker, 1998). Antioksidan secara selektif menghambat pelepasan TNF karena dapat mengontrol status reduksi oksidasi dari glutation, yang merupakan modulator endogen dari produksi TNF (Concard, 2006). Pada preeklamsia, stress oksidatif yang dimanifestasikan melalui peroksidasi lipid berlangsung hebat karena berkurangnya antioksidan yang diperlukan, sehingga lipid peroksida dari plasenta tersebar secara sistemik melalui lipoprotein (Dekker, 1998).

 

B. Rumusan Masalah

Apakah astaxanthin 2 mg sebagai antioksidan yang diberikan pada ibu hamil dengan risiko preeklamsia sejak usia kehamilan 8 minggu sampai dengan usia kehamilan 20 minggu dapat menurunkan kadar sFlt-1?

 

C.  Tinjauan Pustaka Skripsi

Preeklamsia dan Faktor Risikonya

Preeklamsia menurut American College of Obstetricans and Gynecologist (ACOG) adalah hipertensi (tekanan darah sistolik ? 140 mmHg dan diastolik ? 90 mmHg) disertai proteinuria (? 30 mg/liter urin atau ? 300 mg/24 jam) yang didapatkkan setelah umur kehamilan 20 minggu (North, 1999). Penyebab preeklamsia belum sepenuhnya diketahui. Beberapa faktor yang dianggap berperan pada kejadian preeklamsia adalah gen, plasenta, respon imun, dan penyakit vaskular pada ibu. Faktor risiko yang paling kuat untuk preeklamsia adalah primiparitas dengan 75% kasus terjadi pada primigavida. Salah satu interpretasinya adalah bahwa ibu mempunyai memori imunologi untuk kehamilan pertamanya dan secara terminologi imunologi konvensional, kehamilan akan menginduksi toleransi pada kehamilan berikutnya. Belum ada penjelasan yang memuaskan mengapa kehamilan pertama berisiko preeklamsia dan mengapa kehamilan berikutnya secara umum normal. (Moffett, A., Hiby, S., 2007)

Faktor Antiangiogenik pada Plasenta Preeklamsia

Penelitian dilakukan dengan menggunakan chip microarray Affimetrix yang membandingkan antara plasenta preeklamsia dan plasenta normal. Para peneliti menemukan bahwa plasenta pada preeklamsia mengalami peningkatan ekspresi faktor antiangiogenik yaitu sFlt-1 dan mRNA ENG. Hasil penelitian ini juga dipastikan dengan nothern blotting dan immunostaining terhadap Eng. Pemeriksaan untuk sEng kemudian lebih dikembangkan dan ditemukan hubungan yang erat antara sEng dan sFlt-1 sesuai derajad keparahan penyakit. Para peneliti lalu menggunakan sEng dan sFlt-1 untuk menginduksi preeklamsia pada tikus hamil. Perlakuan tersebut menyebabkan perubahan tekanan darah, peningkatan enzim hati, dan proteinuria. Percobaan selanjutnya menunjukkan bahwa sEng dan sFlt-1 menghambat sinyal TGF?-1 pada sel endotel dan menghambat aktivasi TGF?-1 yang dimediasi oleh NOS (Luft, 2006).

 

Soluble Fms-like tyrosine kinase-1 (sFlt-1)

Soluble Fms-like tyrosine kinase-1 adalah protein anti-angiogenik sirkulasi yang beraksi dengan mengikat reseptor yang didominasi PlGF dan VEGF, sehingga mencegah interaksi PlGF dan VEGF dengan reseptor-reseptor permukaan sel endotelial dan menyebabkan disfungsi endotelial. Selama kehamilan normal terjadi kondisi proangiogenik, yaitu tingkat sFlt-1 adalah rendah sampai dengan akhir trimester kedua dan tingkat PlGF adalah tinggi. Pada saat usia kehamilan preeklamsia bertambah, tingkat sFlt-1 secara bertahap akan meningkat sehingga keseimbangan akan bergeser menjadi melemahkan PlGF. Peningkatan produksi sFlt-1 oleh plasenta preeklamtik menyebabkan konsentrasi PIGF dan VEGF bebas yang bersirkulasi menjadi rendah, karena terikat oleh sFlt-1. Hal ini menyebabkan proses angiogenesis plasenta terganggu. (Davidson dkk., 2004).

 

Astaxanthin

Astaxanthin adalah salah satu contoh evolusi. Secara normal, mikroalga yang berenang bebas di air kolam adalah hijau, tetapi pada saat air kolam mengering dan alga terpapar sinar matahari, alga mulai memproduksi astaxanthin berwarna merah terang dalam jumlah yang besar. Astaxanthin adalah antioksidan kuat yang melindungi alga dari radiasi sinar ultraviolet, membuat alga dapat bertahan hidup bahkan dalam kondisi paling sulit sekalipun. Ini terjadi karena fungsi astaxanthin adalah melindungi nukleus sel alga terhadap radikal bebas yang disebabkan radiasi sinar ultraviolet yang dapat merusak DNA dan sumber energi peroksidase.

 

D. Metode Penelitian

Penelitian the randomized control group pretest-postest design terhadap 30 ibu hamil 8 minggu dengan risiko preeklamsia yang terbagi secara acak menjadi dua kelompok, masing-masing 15 orang.

Kelompok perlakuan mendapatkan astaxanthin 2 mg/hari dan asam folat 1 mg/hari sampai dengan usia kehamilan 20 minggu, sedangkan kelompok kontrol hanya mendapatkan asam folat 1 mg/hari. Kedua kelompok diukur kadar sFlt-1 saat kehamilan 8 dan 20 minggu.

Uji homogenitas dilakukan dengan uji T tidak berpasangan, sedangkan kemaknaan perbedaan kadar sFlt-1 pada masing-masing kelompok ditentukan dengan uji Wilcoxon.

Penentuan hubungan antara pemberian astaxanthin 2 mg dan kadar sFlt-1 adalah dengan uji X2. Kekuaatan korelasinya diukur dengan uji korelasi Lambda.

 

E. Kesimpulan

Astaxanthin 2 mg sebagai antioksidan yang diberikan pada ibu hamil dengan risiko preeklamsia sejak usia kehamilan 8 minggu sampai dengan usia kehamilan 20 minggu dapat menurunkan kadar sFlt-1 (OR = 26, interval kepercayaan 95%: 3.686 – 183.418, dan koefisien korelasi = 0.643).

 

F. Saran

Penelitian multisenter yang melibatkan lebih banyak peserta penelitian dan sampai dengan persalinan diperlukan, agar dapat menerapkan hasil penelitian pada populasi ibu hamil dalam mencegah preeklamsia.

Leave a Reply