HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Pengaruh Model Pembelajaran GI dan STAD terhadap Prestasi Belajar Matematika

Judul Skripsi : Pengaruh Model Pembelajaran Cooperative Tipe Group Investigation (Gi) dan STAD terhadap Prestasi Belajar Matematika Ditinjau dari Kemandirian Belajar Siswa

 

A. Latar Belakang Masalah

Mata pelajaran Matematika perlu diberikan kepada semua peserta didik mulai dari tingkat sekolah dasar untuk membekali peserta didik dengan kemampuan berpikir logis, analitis, sistematis, kritis, dan kreatif, serta kemampuan bekerjasama. Kompetensi tersebut diperlukan agar peserta didik dapat memiliki kemampuan memperoleh, mengelola, dan memanfaatkan informasi untuk bertahan hidup pada keadaan yang selalu berubah, tidak pasti, dan kompetitif.

Masalah yang dihadapi dalam pembelajaran matematika di Indonesia adalah penguasaan mata pelajaran matematika yang masih sangat kurang. Rendahnya penguasaan matematika oleh para siswa Indonesia tercermin dalam rendahnya prestasi siswa Indonesia baik di tingkat internasional maupul di tingkat nasional. Prestasi siswa Indonesia di tingkat internasional masih tertinggal di bandingkan dengan negara-negara lain. Berdasarkan ranking TIMSS 2007, Indonesia menempati rangking ke 36 dari 48 negara yang berpartisipasi dalam kompetisi matematika. Sedangkan untuk rangking PISA 2006, Indonesia menempati rangking 52 dari 57 negara.

 

B. Rumusan Masalah

  1. Apakah prestasi belajar geometri siswa dengan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran group investigation lebih baik dibandingkan dengan prestasi belajar siswa dengan model pembelajaran STAD?
  2. Apakah prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemandirian belajar tinggi lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemandirian belajar sedang maupun rendah, sedangkan prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemandirian belajar sedang apakah lebih baik daripada prestasi belajar matematika siswa yang mempunyai kemandirian belajar rendah?
  3. Apakah terdapat interaksi antara model pembelajaran cooperative dengan kemandirian belajar siswa terhadap prestasi belajar geometri pokok bahasan bangun ruang sisi datar siswa SMP/MTs di Kota Surakarta?

 

C. Kajian Pustaka Skripsi 

Pengertian Prestasi Belajar

Dalam proses belajar mengajar prestasi belajar merupakan cerminan capaian tingkat penguasaaan materi oleh siswa yang diperoleh dari proses pengukuran. Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia (2001:895), prestasi belajar adalah penguasaan pengetahuan atau ketrampilan yang dikembangkan oleh mata pelajaran, lazimnya ditunjukkan dengan nilai tes atau angka nilai yang diberikan oleh guru. Pendapat lain disampaikan Winkel (1996:482), prestasi belajar yang diberikan oleh siswa, berdasarkan kemampuan internal yang diperolehnya sesuai dengan tujuan instruksional, menampakkan hasil belajar. Dari beberapa pendapat tentang prestasi belajar, maka dapat disimpulkan bahwa prestasi belajar adalah hasil belajar yang dicapai oleh siswa dalam proses belajar mengajar yang ditunjukkan dengan angka nilai tes yang diberikan oleh guru.

 

Pembelajaran Cooperative

Menurut Slavin, belajar cooperative (cooperative learning) adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya empat sampai enam orang, dengan struktur kelompok heterogen. Sunal & Hans (dalam Hariyanto, 2000: 18) mengatakan bahwa model cooperative learning yaitu suatu cara atau pendekatan atau serangkaian strategi yang khusus dirancang untuk memberi dorongan kepada peserta didik agar bekerja sama selama berlangsungnya proses pembelajaran.

 

Student Team Achievement Divisions (STAD)

STAD merupakan salah satu model pembelajaran cooperative yang paling sederhana. STAD terdiri dari lima komponen utama yaitu presentasi kelas, tim, kuis, skor kemajuan individual dan rekognisi tim.

 

Model Pembelajaran Group Investigation (GI)

Model pembelajaran ini dikembangkan oleh Sharan & Sharan pada tahun 1970. Model ini merupakan pendekatan yang paling kompleks dan paling sulit diterapkan, bila dibandingkan dengan STAD dan Jigsaw. Siswa dilibatkan dalam perencanaan baik pada topik yang akan dipelajari dan cara-cara untuk memulai investigasi mereka. Hal ini memerlukan norma-norma dan struktur kelas yang lebih canggih bila dibandingkan dengan penggunaan pendekatan lain. Pendekatan ini juga menuntut bahwa siswa diajarkan komunikasi dan keterampilan-keterampilan proses kelompok sebelum mereka menggunakan strategi ini (Killen, 1998: 99).

 

Pembelajaran Geometri

Geometri merupakan salah satu komponen penting dalam kurikulum matematika sekolah. Pengetahuan tentang hubungan, dan pemahaman secara mendalam tentang bangun geometris serta sifat-sifatnya, berguna dalam berbagai situasi dan berkaitan dengan topik-topik matematika dan pelajaran lain di sekolah. Studi tentang geometri dapat membantu anak merepresentasikan kemampuannya dan mencapai pandangan tertentu tentang dunianya. Penguasaan model-model geometrik serta sifat-sifatnya dapat memberikan suatu perspektif bagi siswa, sehingga ia dapat menganalisis dan memecahkan masalah yang terkait dengan bangun-bangun geometri.

 

D. Metode Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen semu.

Penelitian dilaksanakan pada bulan Januari 2010 sampai Juni 2010 dengan populasi siswa kelas VIII SMP Di Surakarta. Sampel penelitian ini diperoleh dengan gabungan Stratified Random Sampling dan Cluster Random Sampling.

Sampel dalam penelitian ini adalah siswa SMP Negeri 9, SMP Negeri 16, SMP Negeri 24.

Pengumpulan datanya dilakukan dengan metode dokumentasi, metode tes, dan metode angket. Validitas instrumen tes menggunakan validitas isi, reliabilitas tes digunakan uji KR-20, derajat kesukaran butir soal, daya beda butir soal. Validitas instrumen angket menggunakan validitas konstruk, konsistensi internal, reliabilitas angket digunakan rumus alpha.

Analisis data menggunakan analisis variansi (Anava).

 

E. Kesimpulan

1. Terdapat pengaruh model pembelajaran terhadap prestasi belajar matematika materi Bangun Ruang Sisi Datar. Pada siswa-siswa yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran cooperative tipe GI lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan siswa-siswa yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran cooperative tipe STAD.

2. Terdapat pengaruh kemandirian belajar terhadap prestasi belajar matematika materi Bangun Ruang Sisi Datar. Pada mereka yang mempunyai kemandirian belajar tinggi lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan mereka yang mempunyai kemandirian belajar sedang maupun yang mempunyai kemandirian belajar rendah, dan mereka yang mempunyai sedang sama prestasi belajarnya dibandingkan dengan mereka yang mempunyai kemandirian belajar rendah.

3. Tidak terdapat interaksi antara model pembelajaran cooperative dengan kemandirian belajar siswa terhadap prestasi belajar geometri pokok bahasan bangun ruang sisi datar siswa SMP/MTs di Kota Surakarta. Sehingga baik pada model pembelajaran cooperative tipe STAD maupun tipe GI, mereka yang mempunyai kemandirian belajar tinggi lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan mereka yang mempunyai kemandirian belajar sedang, dan mereka yang mempunyai kemandirian belajar sedang sama prestasi belajarnya dengan mereka yang mempunyai kemandirian belajar rendah, sedangkan pada kategori tingkat kemandirian belajar tinggi, mereka yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran cooperative tipe GI lebih baik prestasi belajarnya dibandingkan dengan mereka yang diberi pembelajaran dengan model pembelajaran cooperative tipe STAD. Tidak demikian halnya, pada kategori tingkat kemandirian belajar sedang maupun tingkat kemandirian belajar rendah, pemberian pembelajaran dengan model pembelajaran cooperative tipe STAD maupun tipe GI tidak menyebabkan perbedaan prestasi belajar.

Leave a Reply