HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Pemberian Zink Sulfat terhadap Konversi BTA pada Pasien TB Paru Pengobatan

Judul Skripsi : Pengaruh Pemberian Zink Sulfat terhadap Konversi BTA pada Pasien TB Paru Pengobatan Obat Anti Tuberkulosis Kategori I di Bp4 Madiun

 

A. Latar Belakang

Masalah defisiensi zink telah dikenal selama 40 tahun dan belum ada penyelesaian. Meskipun semua kejadian belum mendapat perhatian tetapi defisiensi zink menjadi masalah organisasi kesehatan dunia karena ditemukan growth retardation, peningkatan mudahnya terjadi infeksi ,ketidakseimbangan kognitif yang umumnya terjadi di negara berkembang dimana kekurangan nutrisi zink merata. Dan keadaan ini menjadi masalah yang prioritas utama (Prasad, 2003). Defisiensi zink yang dihubungkan dengan kejadian penyakit infeksi meliputi infeksi kulit, diare, pernafasan dan malaria (Robert, 2001) karena zink mempunyai pengaruh kuat pada inflamasi dan sistem imun dan terbukti mempunyai efek sebagai antioksidan (Winarsi, 2007).

Banyaknya zink yang diabsorbsi berkisar antara 15-40%. Absorbsi dipengaruhi oleh status zink tubuh. Bila lebih banyak zink yang dibutuhkan lebih banyak pula jumlah zink yang diabsorbsi. Begitu pula jenis makanan mempengaruhi absorbsi, ada yang menghambat dan ada yang membantu (Almatsier, 2001). Makanan yang dapat meningkatkan absorbsi zink berasal dari protein hewan. Pada negara yang pendapatan rendah, sumber makanan dari protein hewan sangat mahal dan tidak terjangkau dan rata-rata mengkonsumsi dari tumbuh-tumbuhan yang menghambat absorbsi zink. Keadaan ini yang menimbulkan di negara berkembang banyak terjadi defisiensi zink (Gibson, 2005, Solomon, 2001). Peran zink dalam sistem imun yang akan memberi dan menyuplai tubuh terhadap perbaikan dan penyembuhan.

B. Rumusan Masalah

Apakah pemberian ZnSO4 berpengaruh terhadap konversi BTA?

 

C. Tinjauan Pustaka Skripsi

Etiologi

Mycobacterium tuberculosis adalah parasit intraseluler fakultatif yang menimbulkan penyakit dengan pertumbuhan dalam sitoplasma makrofag, tetapi dapat juga berproliferasi dalam ruangan ekstraseluler dari jaringan yang terinfeksi (Shulman, 1998). Kuman berbentuk batang, non spora, obligat aerob, ukuran 0,5um-3um. Walaupun tidak mudah diwarnai, jika telah diwarnai kuman ini tahan penghilangan warna (dekolorisasi) oleh asam atau alkohol dan karena itu dinamakan basil tahan asam (BTA). Basil tahan asam terdiri dari lemak dan protein. Komponen lemak terdiri asam mikolat, asam lemak rantai panjang dan dinding sel lipid lainnya.

Zink

Zink yang biasanya juga disebut dengan seng digunakan untuk pertumbuhan dan perkembangan semua organisme telah mendapat perhatian yang cukup besar akhir-akhir ini (Klaus, 2003).

Hubungan Zink dengan Konversi Bta

Zat gizi terdiri dari karbohidrat, lemak, protein, vitamin dan mineral. Zink merupakan zat gizi dalam tubuh yang digolongkan sebagai mikronutrien meskipun dibutuhkan dalam jumlah yang kecil tetapi memiliki manfaat yang besar dan penting bagi tubuh. Zink digunakan untuk memperbaiki ketidakseimbangan sistem imun, mempercepat perbaikan jaringan, menormalisasi respon inflamasi dan sebagai antioksidan. Apabila kebutuhan zink dalam tubuh menurun maka mudah terjadi infeksi, defisiensi imun, penurunan ketajaman rasa (hypogeusia) sehingga berakibat penurunan daya tahan tubuh, penurunan berat badan, lambatnya perbaikan luka dan jaringan (Gibson, 2005). Hypogeusia pada defisiensi zink karena ketidakseimbangan taste, mekanismenya belum jelas. Zink merupakan cofactor alkaline phosphatase (enzim pada taste buds membrane dan juga komponen pada parotid saliva), protein penting untuk perkembangan serta pemeliharaan pada normal taste bud.

 

D. Metodelogi Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen dengan metode RCT (Randomized Controlled Trials).

Populasi sasaran adalah seluruh penderita BTA positif kategori I yang datang berobat ke BP4 Madiun. Sampel penelitian didapatkan 15 untuk kelompok perlakuan (OAT+ZnSO4) dan 15 untuk kelompok kontrol (OAT).

Kedua kelompok ini mendapat perlakuan selama 2 bulan.

Variabel yang diukur adalah BTA (+,-), berat badan (kg), gejala klinis, yang diukur sebelum dan sesudah perlakuan 2 minggu, 4 minggu, 6 minggu, 8 minggu. Data konversi BTA dianalisis dengan uji Chi Kuadrat, data berat badan dengan uji t dan data gejala klinis dengan uji Mann Whitney U, menggunakan statistik SPSS versi 16.0.

 

E. Kesimpulan

Penelitian ini menyimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian zink sulfat terhadap konversi BTA pada pasien TB paru pengobatan obat anti tuberkulosis kategori I.

 

Incoming search terms:

Leave a Reply