HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Pemanfaatan Lumpur Instalasi Pengolahan Air (IPA) Jurug Perusahaan Daerah Air Minum Kota Surakarta Sebagai Media Tanaman Puring (Codiaeum Variegatum)

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Instalasi Pengolahan Air (IPA) merupakan salah satu infrastruktur yang berhubungan langsung dengan pertumbuhan penduduk kota. Di daerah perkotaan Indonesia, rumah tangga merupakan pemakai air bersih terbesar yaitu sekitar 68% total produksi air diserap oleh rumah tangga (Djayadinigrat, 1993). Air bersih sebagai kebutuhan dasar (basic need) perkotaan diproduksi dari IPA, dilain pihak proses produksi diiringi dengan timbulnya lumpur (sludge) sebagai produk sampingan (by-product) pengolahan air. Demikian juga dengan kota Surakarta, laju pertumbuhan penduduk mengakibatkan bertambahnya kebutuhan air bersih. IPA Jurug saat ini merupakan IPA yang melayani kebutuhan air bersih di kota Surakarta. Air baku IPA Jurug diperoleh dari sungai Bengawan Solo dengan demikian IPA ini digolongkan dalam tipe pengolahan air permukaan.

Dalam proses pengolahan air sungai menjadi air bersih di IPA Jurug menggunakan bahan koagulan aluminium sulfat, hal ini dikarenakan aluminium sulfat harganya relatif lebih ekonomis dibandingkan dengan bahan koagulan lainya dan juga aluminium sulfat mudah didapatkan dipasaran. Sebagai produk sampingan dari pengolahan air sungai menjadi air minum di IPA, biasanya dihasilkan lumpur endapan yang seringkali dibuang dan tidak dimanfaatkan kembali. Pembuangan lumpur endapan ke sungai seringkali menimbulkan masalah karena akan mengakibatkan akumulasi di perairan dibagian hilir sungai (termasuk akumulasi aluminium). Lewat proses rantai makanan, aluminium yang berbahaya tersebut dapat berpindah lewat hewan air sampai ke manusia kembali. Dan apabila aluminium tersebut berakumulasi di tubuh manusia akan menimbulkan gangguan kesehatan. Asas keempat lingkungan yaitu asas penjenuhan menjelaskan bahwa kemampuan lingkungan habitat untuk menyokong suatu materi ada batasnya, kemampuan untuk menyokong pencemar ada batsanya (Setyono, 2008). Oleh sebab itu perlu dilakukan proses produksi bersih oleh PDAM Kota Surakarta , agar tidak menghasilkan hasil samping limbah, misalnya dengan menjalankan salah satu dari prinsip 3 R (Recycle, Reused, Recovery). Sehingga dapat diambil kesimpulan bahwa lumpur PDAM Kota Surakarta (dari Instalasi IPA Jurug) dapat dimanfaatkan kembali misalkan sebagai alternatif media tanaman hias.

Saat ini, banyak orang menyukai gemar berburu dan merawat tanaman hias. Tanaman hias selain berfungsi sebagai elemen penghias ruangan (interior) ataupun pelengkap taman, juga dapat menjadi sumber penghasilan yang menguntungkan. Usaha tani tanaman hias semakin berkembang dengan pesat karena komoditas ini memiliki prospek yang baik. Permintaan pasar akan tanaman hias cenderung meningkat dari waktu ke waktu sejalan dengan pertambahan jumlah penduduk, perluasan pemukiman, meningkatnya pendapatan, dan kesadaran masyarakat akan pentingnya lingkungan hidup yang nyaman.

Salah satu jenis tanaman hias yang kini banyak digemari adalah Puring, tanaman hias yang dahulu dipandang sebelah mata. Puring dikenal sebagai tanaman yang mudah tumbuh pada berbagai media. Tampilan fisik daunpun beragam. Peminat Puring adalah masyarakat dari berbagai tingkat ekonomi yang berbeda, karena selain memiliki variasi bentuk dan warna daun, puring juga memiliki variasi harga yang dapat dijangkau. Cara budidaya puring dapat dilakukan baik secara vegetatif ataupun generatif. Masing-masing cara perbanyakan ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Perbanyakan vegetatif biasanya dilakukan dengan setek. Keunggulan cara ini adalah menghasilkan anakan yang sesuai dengan sifat induknya. Cara memperbanyak menggunakan biji (generatif) membutuhkan waktu relafif lama, disamping itu tidak semua spesies atau kultivar mampu menghasilkan bunga dan biji untuk bahan perbanyakan. Kelebihan perbanyakan secara generatif dapat menghasilkan anakan yang berbeda dari induknya, sehingga dapat diperoleh varietas-varietas baru yang memiliki daun yang lebih baik.

Kualitas daun dan tanaman sangat menentukan harga puring. Untuk mendapatkan tanaman dengan kualitas yang baik diperlukan perawatan yang tepat. Setiap jenis tanaman memerlukan media tanam yang berbeda-beda, demikian pula dengan puring. Komposisi media yang dipakai harus mampu menyediakan unsur hara yang dibutuhkan bagi tanaman. Media tanam yang subur dan porous sangat baik untuk pertumbuhan puring karena tanaman ini sangat peka terhadap kelebihan air. Pemberian air yang berlebihan tanpa didukung dengan media yang porous dapat mengakibatkan busuk pada batang.

Pemupukan adalah salah satu cara yang dapat dilakukan untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Jenis, jumlah, dan cara pengaplikasian pupuk yang tepat pada tanaman akan menentukan tingkat keefektifannya. Jenis pupuk yang biasa digunakan untuk tanaman hias adalah pupuk daun atau kompos. Pemakaian pupuk daun memiliki kelebihan diantaranya lebih mudah dan cepat diserap oleh tanaman. Pemakaian pupuk, media dan perawatan yang tepat akan menghasilkan tanaman puring yang berkualitas baik.

Incoming search terms:

Agar artikel ini bisa bermanfaat bagi orang banyak dalam komunitas anda… bantu saya untuk menginfomasikannya pada teman-teman anda di Facebook , Twitter, atau Email.

Jika Bermanfaat Berbagilah...

Leave a Reply

Alamat :

IDTESIS SURABAYA

Jl Gayungan VIII No 3, Surabaya (Carefour A Yani maju 100 m, ambil kiri ke arah Polsek Gayungan/Telkom Injoko)

HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) & BBM : 5E1D5370

Email
Print