HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Optimalisasi Penurunan Aloin

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Botani Aloe vera

Sampai sekarang ada sekitar 200 genus Aloe vera (lidah buaya) yang telah diidentifikasi, dan dari jumlah tersebut, tidak semua bisa dimanfaatkan manusia, karena sebagian varietas tanaman suku Liliaceae ini beracun. Dari identifikasi suku tersebut didapatkan hanya 4 spesies yang biasa digunakan, diantaranya Aloe vera barbadensis Miller, yang berasal dari Pulau Barbados, Amerika Tengah (Anonimus, 2000). Beberapa ahli menduga bahwa daerah asal tanaman Aloe vera adalah Afrika, kemudian menyebar ke Arab, India, Eropa, Asia Timur dan Asia Tenggara termasuk Indonesia (Walter et al.,2000). Aloe vera dikenal dengan berbagai nama, di Indonesia disebut tanaman lidah buaya, di Inggris disebut Crocodiles tongues, di Malaysia disebut jadam dan dibeberapa negara Eropa disebut Aloe vera (Sudarto,1998).

Tanaman Aloe vera dikenal sebagai tanaman xeroid yang mampu hidup di daerah kering, karena mampu menutup seluruh permukaan daunnya secara rapat untuk mencegah keluarnya cairan yang berharga. Jika daun Aloe vera terluka, secara cepat akan menutup luka kembali sehingga tidak terjadi penguapan cairan (Anonim, 1999).

Tanaman Aloe vera yang dibudidayakan di Indonesia adalah salah satu dari 200 genus Aloe. Spesies lainnya yaitu Aloe arborescen dan Aloe ferox. Habitat spesies ini memang di daerah kering, sehingga daunnya banyak mengandung air sebagai hasil adaptasi terhadap lingkungan. Namun tanaman Aloe vera juga dapat tumbuh di pegunungan. Tanaman Aloe vera diklasifikasikan sebagai berikut (Sudarto, 2000):
Divisi : Spermatophyta (tumbuhan biji)
Subdivisi : Angiospermae (tumbuhan berbiji tertutup)
Kelas : Monocotyledoneae
Bangsa : Liliflorae (liliales)
Suku : Liliaceae
Genus : Aloe
Spesies : Aloe vera
Varietas : Aloe vera barbadensis (Mill)

Daun Aloe vera memiliki ukuran ketinggian beragam, mulai dari beberapa sentimeter di atas permukaan tanah, sampai setinggi 20 meter. Morfologi Aloe vera memiliki daun tebal, berdaging, serta tersusun dalam bentuk roset (Sudarto, 2000). Setiap roset terdiri atas 10 – 20 daun dengan panjang mencapai 35 cm, lebar 7,5 cm dan sepanjang tepian muncul duri. Tandan bunga muncul di tengah-tengah roset dan berwarna merah atau kuning (Anonim, 1998; Anonimus, 2002b). Morfologi Aloe vera menurut Sudarto (2000) dan Anonimus (2002b) adalah sebagai berikut:

__ Batang
Tanaman Aloe vera berbatang pendek. Batangnya sendiri tidak kelihatan karena tertutup oleh daun-daun yang rapat dan sebagian terbenam di dalam tanah. Melalui batang ini akan muncul tunas-tunas yang selanjutnya menjadi anakan.
__ Daun
Daun tanaman Aloe vera berbentuk pita dengan helaian yang memanjang. Daunnya berdaging tebal, berwarna hijau keabu-abuan, bersifat sukulen (banyak mengandung air), dan banyak mengandung getah atau lendir (gel) yang dapat dimafaatkan sebagai bahan baku obat. Bentuk daun menyerupai pedang dengan ujung meruncing, permukaan daun dilapisi lilin, dengan duri lemas di pinggirnya. Panjang daun dapat mencapai 50 cm – 75 cm dengan berat 0,5 kg – 1 kg, daun melingkar rapat disekeliling batang berupa roset.
__ Bunga
Bunga tanaman Aloe vera berwarna kuning atau kemerahan berupa pita yang menggumpal, keluar dari ketiak daun. Bunga berukuran kecil, tersusun dalam rangkaian berbentuk tandan dan panjangnya bisa mencapai 1 meter.
__ Akar
Akar tanaman Aloe vera berupa akar serabut pendek dan berada di sekitar permukaan tanah. Panjang akar berkisar antara 50 cm – 100 cm.

1.2. Kandungan Nutrisi Aloe vera

Tanaman Aloe vera mempunyai nilai yang terletak pada daunnya. Pada daun tersebut banyak mengandung air yang merupakan ciri tanaman sukulen (Anonim, 1998) serta lendir (gel) (Santoso, 2000). Di dalam lendirnya sendiri terkandung berbagai zat mineral, vitamin, enzim. Komposisi nutrisi Aloe vera dapat dilihat pada Tabel 1. di bawah ini.

Photobucket Optimalisasi Penurunan Aloin

Menurut Santoso (1999),terdapat dua jenis cairan pada daging Aloe vera yaitu :
__ Cairan I : berupa cairan bening seperti jeli, mengandung zat anti bakteri dan zat anti jamur yang dapat merangsang fibroblast atau sel-sel kulit yang berfungsi untuk menyembuhkan luka.
__ Cairan II : berupa cairan berwarna kuning, cairan ini mengandung aloin berasal dari lateks kulit luar, berasa pahit dan cukup baik untuk obat pencahar. Aloin merupakan obat pencahar, tetapi bagi ibu hamil dan menyusui kurang baik sebab bisa menimbulkan kram perut dan iritasi, baik pada saluran lambung maupun usus.

Daging Aloe vera mengandung lebih 20 mineral, yang seluruhnya penting bagi tubuh manusia. Tubuh manusia membutuhkan 22 asam amino untuk kesehatan, 8 diantaranya disebut essensial, karena tubuh manusia tidak dapat memproduksi mereka. Aloe vera mengandung 7 dari 8 asam amino essensial ini, dan 11 dari 14 asam amino sekunder. Disamping itu juga mengandung vitamin A, B1, B2, B6, B12, C dan E. Vitamin-vitamin tersebut tidak dapat diproduksi oleh tubuh dan beberapa diantaranya tidak dapat disimpan, jadi sangat dibutuhkan untuk dikonsumsi secara terus menerus (Anonimus,1999).

Menurut Atherton (1996), Anonimus (2002b) dan Anonimus (1999), Aloe vera mengandung lebih dari 75 bahanbahan yang terdiri dari kelompok-kelompok sebagai berikut:
__ Vitamin
Vitamin yang paling penting dalam Aloe vera adalah vitamin antioksidan C dan E serta beta karoten yang berfungsi sebagai prekursor vitamin A. Aloe vera merupakan salah satu dari tanaman di dunia yang mengandung vitamin B12 yang sangat berguna bagi vegetarian. Selain itu tanaman Aloe vera juga mengandung vitamin B1, B2, B3, B6 dan asam folat.
__ Mineral
Mineral yang terkandung dalam Aloe vera meliputi magnesium, mangan, seng, tembaga, krom, kalsium, natrium dan kalium.
__ Asam amino
Tubuh manusia membutuhkan 22 asam amino dan Aloe vera mengandung 18 dari 22 asam amino tersebut. Dai jumlah tersebut 7 diantaranya merupakan asam amino essensial yang tidak mampu diproduksi oleh tubuh dan 11 asam amino sekunder..
__ Gula
Aloe vera mengandung muco-polisakarida yang berfungsi dalam sistem kekebalan dan membantu dalam mencegah keracunan.
__ Enzim
Beberapa enzim terkandung dalam Aloe vera, diantaranya adalah lipase dan protease yang membantu memutus makanan dan membantu pencernaan.
__ Asam lemak
Asam lemak di dalam Aloe vera diketahui mempunyai kemampuan sebagai bahan anti inflammatory.
__ Lignin
Lignin pada Aloe vera mempunyai kemampuan sebagai bahan untuk menembus dan meresap dalam kulit serta menahan berkurangnya cairan pada permukaan kulit.
__ Saponin
Merupakan senyawa sabun (soapy) yang mempunyai kemampuan sebagai anti mikrobial terhadap bakteri, virus, fungi dan khamir.
__ Antrakuinon
Senyawa yang paling penting adalah aloin dan emodin, tetapi keduanya secara bersama mempunyai kemampuan sebagai pembunuh, dan diketahui mempunyai aksi sebagai anti bakteri dan aktivitas virusidal.

1.3. Senyawa Aloin

Aloe vera mempunyai kemampuan untuk menyembuhkan luka, karena mengandung saponin yang memiliki kemampuan sebagai pembersih dan antiseptik (Anonim, 1999) serta mengandung aloektin B yang merangsang sistem kekebalan (Peni, 1998). Aloe vera juga mempunyai kemampuan sebagai pencahar yang menghilangkan konstipasi (sembelit) karena memiliki kandungan aloin (Peni, 1998; Duryatmo, 1998). Senyawa yang tergolong dalam antrakuinon ini juga bisa digunakan untuk memperlancar pencernaan. Aloin secara komersial dikenal dengan nama barbaloin isomer A dengan berat molekul 418,39 g/mol dengan rumus molekul C21H22O9. Aloin merupakan turunan antron yang memiliki struktur bangun sebagai berikut (Anonimus, 2002a; Anonimus, 1996):
Photobucket Optimalisasi Penurunan Aloin
Gambar 1. Struktur bangun aloin

Aloin banyak terdapat pada lapisan yang berwarna kuning, yang terletak diantara kulit dan daging daun, namun juga ditemukan pada daging daun Aloe vera dalam jumlah kecil. Aloin murni merupakan kristal berwarna kuning (Duryatmo, 1998), dengan melting point (titik leleh) sekitar 148 – 149_C (Anonimus, 2002b). Menurut Danhoff (2000), aloin merupakan rantai karbon perisiklik dengan ikatan vaskular. Aloin mengandung molekul glukosa yang terikat pada cincin utama bensen. Jika glukosa dalam cincin bensen CH2OH diputuskan, maka akan terbentuk aloe emodin yang akan berwarna coklat sampai hitam tergantung pada konsentrasinya (Danhoff, 2000).

Aloin adalah turunan dari hidroksibensen yang merupakan hasil metabolisme sekunder di dalam tanaman (Anonimus, 1996). Aloin merupakan senyawa fenolik dan memiliki gugus glikosida yang tersusun dalam rantai karbon hidroksibensen. Keduanya tersusun sebagai gugus fungsional yang mudah terlepas bila bereaksi dengan unsur atau senyawa pelepas elektron (elektron donor). Glikosida diketahui dapat menyebabkan toksik (racun) dan dapat digunakan untuk obat-obatan (Weller et al., 2000), terutama untuk obat pencahar. Kandungan aloin dalam gel Aloe vera menurut Park et al (1998) sebesar 1.14 _ 0.38 mg/g, sedangkan penelitian-penelitian lain menyebutkan kandungan aloin dalam Aloe vera sebesar 18 – 25% (Anonim, 1997); 25 – 40% (Wichtl, 1994) dan 10 – 30% (Gileve, 2002). Melihat manfaat aloin sebagai obat pencahar tersebut, maka dalam dunia farmasi Aloe vera mempunyai peranan yang sangat penting karena kandungan aloinnya.

Berbeda dengan dunia farmasi, dalam dunia pangan aloin, yang merupakan senyawa fenolik dalam pengolahannya harus diminimalkan. Menurut Lifeplusproduct (2000) dalam bahan pangan, kandungan aloin harus di bawah 10 ppm. Konsentrasi aloin dalam jumlah besar dapat menimbulkan efek samping iritasi pada selaput lendir dan menyebabkan terhambatnya reabsorbsi air dan elektrolit (Wichtl, 1994). Selain itu menurut Santoso (2000), kandungan aloin yang cukup tinggi mengakibatkan kram perut dan iritasi baik pada saluran lambung maupun usus.

1.4. Teknologi Pengolahan Aloe vera

Dalam memanfaatkan tanaman Aloe vera sebagai bahan makanan atau minuman harus diperhatikan mengenai unsur kimia yang terkandung didalamnya. Perlakuan dalam proses persiapan maupun pengolahan sedikit banyak akan mempengaruhi kandungan kimianya. Menurut Park et a. (1998), aloin merupakan unsur utama yang harus dihilangkan dalam pengolahan karena merupakan syarat mutu produk Aloe vera. Beberapa metode pengolahan Aloe vera untuk menghilangkan aloin telah banyak dilakukan seperti distillation, freeze dried, heat process (Winters & Yang, 1996), dan cold processed (Danhoff, 2000). Dalam evolusi pengolahan gel Aloe vera, prosedur hand filleting telah dikembangkan untuk menghilangkan aloin (Danhoff, 2000). Berbagai penelitian untuk menurunkan kandungan aloin telah banyak dikembangkan dan metode yang paling efektif adalah whole leaf, tetapi metode ini telah dipatenkan oleh sebuah perusahaan di Amerika (Lifeplusproduct, 2000) sehingga tidak bisa ditiru. Metode whole leaf merupakan metode selektif dengan menggunakan filtrasi dan absorbsi arang aktif, sehingga mampu menurunkan kandungan aloin sampai 1 ppm dengan 1,38% total solid (Danhoff, 2000). Beberapa metode preparasi yang telah dikembangkan untuk menurunkan aloin ditunjukkan pada Tabel 2.

Tabel 2. Metode preparasi untuk menurunkan aloin
Photobucket Optimalisasi Penurunan Aloin
Sumber : Danhoff (2000)

Selain berbagai teknik pengolahan di atas, pengolahan secara tradisional terhadap gel Aloe vera telah banyak dilakukan. Metode tradisional yang dilakukan adalah dengan perebusan menggunakan tawas. Tawas ini mengandung unsur kalsium dalam bentuk ion Ca2+, dan sesuai dengan sifat kimia aloin yang memiliki gugus fungsional bermuatan positif dan dapat diganti oleh unsur atau senyawa lain yang memiliki elektronegativitas lebih rendah, maka penggunaan tawas yang memiliki 2 elektron dari ion Ca sangat efektif untuk menurunkan aloin. Namun penggunaan tawas selain mampu menghilangkan aloin dalam gel Aloe vera juga berbahaya menghilangkan kandungan vitamin E didalamnya. Keberadaan gugus fungsional bermuatan positif pada vitamin E dapat digantikan oleh ion Ca2+ dari tawas yang memiliki elektronegativitas lebih rendah.

Treatment yang dilakukan selama ini bertujuan untuk menghilangkan lendir, karena secara fisiologis dalam lendir tersebut mengandung aloin yang bersifat racun dan berbahaya bagi tubuh, karena dapat menimbulkan iritasi pada usus halus maupun saluran pencernaan (Duncan, 2000; Atherton, 1997). Namun praktek penghilangan aloin tersebut juga mengakibatkan hilangnya kandungan lain yang bermanfaat bagi tubuh, karena gel yang mengandung senyawa yang menguntungkan seperti mineral, asam-asam amino dan enzim juga ikut hilang. Salah satu kandungan yang berguna yang terbuang adalah vitamin E. Bangun kimia vitamin E disajikan dalam Gambar 2. di bawah ini.

Photobucket Optimalisasi Penurunan Aloin

Teknologi diurnal vakum ~ pressure merupakan teknologi yang mengaplikasikan tekanan dan vakum secara bergantian. Tekanan (pressure) merupakan gas yang menekan (force) sehingga terjadi tumbukan dengan suatu permukaan bahan (Toledo, 1997). Tekanan diekspresikan sebagai atmosfer (atm) atau dalam cmHg. Tekanan dalam berbagai pengolahan dideskripsikan sebagai teknologi untuk memisahkan senyawa dalam bentuk cairan dari bahan-bahan padat. Sehingga aplikasi pressure dapat untuk menghilangkan aloin karena sifat fisis pressure yang mampu memisahkan fase cairan dari padatan.

Vakum didemonstrasikan sebagai teknologi untuk memisahkan fraksi yang mempunyai perbedaan karakteristik fisik. Teknologi vakum merupakan teknologi yang menyebabkan gel menjadi mengembang (ekspand) pada permukaan gel yang berpori, dimana secara fisik menghisap udara sehingga dapat mencegah terjadinya kerusakan bahan pangan akibat oksidasi (Brat et al., 2001).

Tabel 3. menunjukkan aplikasi teknologi vakum dan tekanan yang diterapkan
dalam pengolahan pangan.

Photobucket Optimalisasi Penurunan Aloin

Dengan sifat-sifat fisik vakum dan pressure tersebut, maka teknologi ini dapat diaplikasikan sebagai teknologi baru yang berguna dalam dunia pangan. Aplikasi teknologi vakum ~ pressure dalam pengolahan daging Aloe vera akan melepas secara fisik aloin yang bersifat toksik dan harus diminimalkan, namun tanpa merusak vitamin E didalamnya. Penelitian ini akan menghubungkan penggunaan teknologi diurnal vakum ~ pressure dengan diurnal pressure ~ vakum yang dihubungkan dengan pelepasan senyawa aloin tanpa merusak vitamin E pada Aloe vera. Karena pelepasan aloin merupakan peristiwa kimia maka besarnya tekanan serta kombinasi waktu proses akan berpengaruh pada pelepasan aloin. Peristiwa fisik yang terjadi pada pelepasan aloin tidak berhubungan dengan peristiwa kimia, sehingga penurunan vitamin E terjadi bukan karena rusak melainkan karena terlepas. Akibatnya penerapan teknologi ini akan menurunkan kandungan senyawa aloin tanpa merusak vitamin E di dalam gel Aloe vera. Berangkat dari teknologi vakum dan pressure maka diperlukan pengujian pada daun Aloe vera dengan kombinasi tekanan dan waktu proses, guna mendapatkan daging buah yang memiliki kandungan vitamin E yang tetap tinggi namun tidak mengandung racun aloin.

Untuk mendapatkan daftar lengkap contoh skripsi pertanian lengkap / tesis pertanian lengkap, dalam format PDF, Ms Word, dan Hardcopy, silahkan memilih salah satu link yang tersedia berikut :

Contoh Tesis

Contoh Skripsi

 

Incoming search terms:
1 Comment
  1. makasih buat b’bagi ilmu’y. Sbener’y udah coba cari2 ttg aloin tp trnyata susah bgt dpt info aloin. kalau blh nanya,, aloin itu kan tmasuk salah satu jenis antioksidan, terus kalau harus dihilangkan berarti produk olahan lidah buaya yg udah ga ada aloin’y sm aja udah ilang kandungan antioksidannya ya? terimakasih.

Leave a Reply