HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Oda Nobunaga dan Penyatuan Jepang

ABSTRAK

Skripsi ini membahas tentang riwayat hidup Oda Nobunaga dan kebijakan-kebijakan yang diberlakukannya dalam usahanya untuk mempersatukan Jepang secara sistematis. Dalam skripsi ini juga membahas karakteristik pemerintahan Nobunaga dan mengkaji lebih dalam tentang kekejaman yang dilakukannya. Hasil penelitian ini menyimpulkan bahwa kebijakan-kebijakan Nobunaga mendukung usahanya dalam mempersatukan Jepang. Di samping itu, tindakan-tindakan yang dilakukan Nobunaga pada saat itu adalah hal yang wajar karena ia berada di zaman perang yang menuntutnya melakukan tindakan kejam.

Kata kunci: Oda Nobunaga, Sengoku Jidai, Azuchi-Momoyama, Ikk? Ikki, Enryakuji, Honn?ji,
rakuzai rakuichi.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Seorang sejarawan sekaligus ahli konfusianisme dan kebudayaan Asia, De Bary (2001: 433) mengemukakan bahwa pada akhir abad 15 sampai abad 16 terjadi perang saudara yang berlangsung selama kurang lebih seratus tahun di Jepang yang disebut dengan Sengoku Jidai1 yang dimulai sekitar tahun 1467. Berdasarkan buku yang ditulis oleh Keene, seorang peneliti Jepang (2003), klan yang berkuasa pada saat itu adalah klan Ashikaga, yang dipimpin oleh Ashikaga Yoshimasa (20 Januari 1436 – 27 Januari 1490) yang menjabat sebagai Seii Taish?gun2 ke-8 Kesh?gunan Muromachi3 (masa jabatan 1449-1473). Ia juga merupakan cucu dari sh?gun Muromachi ke-3, Ashikaga Yoshimitsu dan putra sh?gun4 ke-6, Ashikaga Yoshinori dengan selir bernama Hino Shigeko (putri dari Hino Shigemitsu). Ibu susunya bernama Imamairi no Tsubone yang kemudian ia jadikan selir. Yoshimasa memiliki adik kandung lain ayah yang bernama Ashikaga Yoshimi, dan kakak kandung lain ayah yang bernama Ashikaga Yoshikatsu. Selain itu, ia memiliki adik laki-laki lain ibu yang bernama Ashikaga Masatomo.

Setelah Ashikaga Yoshinori terbunuh oleh Akamatsu Mitsusuke dalam Pemberontakan Kakitsu tahun 1441. Kakak Yoshimasa yang bernama Ashikaga Yoshikatsu diangkat sebagai sh?gun ke-7. Namun pada tahun 1443, Yoshikatsu meninggal dunia di usia muda. Dengan pendamping seorang kanrei5 bernama Hatakeyama Mochikuni, Yoshimasa dicalonkan sebagai pejabat sh?gun sewaktu masih berusia 8 tahun. Setelah menjalani upacara kedewasaan (genbuku), Yoshimasa diangkat sebagai sh?gun ke-8 pada tahun 1449 (Frederic, sejarawan dan penulis 2005: 56).

Pada masa pemerintahannya, konflik internal sering terjadi di kalangan shugo daimy?6 akibat masalah suksesi jabatan kepala klan sehingga kesh?gunan dilanda kesulitan keuangan. Selain itu, kesh?gunan harus menghadapi gerakan petani yang disebut tsuchi-ikki (1333-1568) (Frederic 2005: 156). Pemerintahan sepenuhnya dipercayakan kepada istrinya yang bernama Hino Tomiko serta shugo daimy? berpengaruh seperti Hosokawa Katsumoto dan Yamana S?zen. Yoshimasa awalnya berusaha memecahkan permasalahan-permasalahan tersebut, namun ia tidak berdaya karena pada praktiknya, sh?gun Yoshimasa tidak memegang kekuasaan sama sekali.

Keadaan sulit menyebabkan Yoshimasa kehilangan semangat untuk memerintah. Ia tenggelam dalam pesta minuman keras, kesenian sarugaku, dan pembangunan rumah mewah untuk dirinya sendiri. Di tengah penduduk Ky?t? yang kekurangan pangan, Yoshimasa melakukan renovasi Hana no (Istana Bunga). Peringatan dari Kaisar Go-Hanazono juga tidak diindahkannya.

Pada tahun 1464, Yoshimasa menyatakan niatnya untuk pensiun. Namun karena tidak memiliki anak laki-laki yang bisa dijadikan putra pewaris, adik kandung Yoshimasa yang sudah menjadi biksu bernama Gijin diminta untuk melepaskan kebiksuannya dan kembali ke urusan dunia. Setelah mengubah kembali namanya menjadi Ashikaga Yoshimi, ia dijadikan putra angkat oleh Yoshimasa sebagai persiapan menjadi sh?gun berikutnya (Frederic 2005: 56). Secara tidak terduga, Tomiko melahirkan bayi laki-laki pada tahun 1465.

Anak tersebut nantinya dikenal sebagai Ashikaga Yoshihisa. Tomiko menginginkan Yoshihisa dijadikan pewaris jabatan sh?gun, tapi jabatan tersebut sudah terlanjur dijanjikan untuk adik iparnya, Ashikaga Yoshimi. Demi mewujudkan keinginannya, Tomiko bersekutu dengan Yamana S?zen. Di pihak yang berseberangan, Yoshimi bersekutu dengan Hosokawa Katsumoto. Yamana S?zen dan Hosokawa Katsumoto yang memiliki pengaruh besar dalam kesh?gunan sudah sejak lama bermusuhan, mereka terlibat didalam konflik antara klan Shiba dengan klan Hatakeyama mengenai suksesi kepala klan sejak tahun 1450-an (Hall (sejarawan), 1966). Akibatnya, hak menjadi pewaris jabatan sh?gun sekaligus kepala klan Ashikaga berikutnya diperebutkan antara kedua pihak tersebut. Hal inilah yang menjadi pemicu perang berskala besar yang disebut dengan Perang ?nin. Menurut sejarah di Universitas Harvard yang bernama Berry (1997) perang besar ini berkobar pada tahun 1467 serta merupakan konflik paling berdarah dalam sejarah pertengahan Jepang.

Walaupun negara dalam keadaan perang saudara, Yoshimasa tidak berbuat apa-apa untuk menghentikan peperangan. Minatnya hanya pada pesta minum-minum dan acara perkumpulan penyair renga7. Hubungan dengan istrinya juga semakin buruk. Yoshimasa memutuskan pindah dari kediaman resmi Hana no Gosho ke rumah Ogawa (Ogawa-tei). Setelah komandan Pasukan Barat (Yamana S?zen) dan komandan Pasukan Timur (Hosokawa Katsumoto) keduanya tewas, Yoshimasa pensiun secara resmi setelah mewariskan jabatan sh?gun kepada putra pewarisnya, Ashikaga Yoshihisa.

Walaupun perang ?nin sudah selesai, bukan berarti peperangan tidak terjadi lagi di seluruh wilayah Jepang. Jepang pada saat itu terbagi dalam wilayahwilayah kecil yang disebut dengan kuni (negara-negara kecil). Para daimy?8 pada saat itu saling berebut wilayah melalui peperangan. Sementara itu, pemerintahan pusat sudah tidak ada fungsinya lagi karena masing-masing wilayah diatur oleh daimy? yang berkuasa pada wilayah tersebut.

Jepang yang pada saat itu sedang mengalami kekacauan dan perpecahan membutuhkan orang yang dapat mempersatukan Jepang. Di masa yang sulit itu kemudian lahirlah Oda Nobunaga, seorang pemuda dari marga Oda yang berasal dari provinsi Owari yang berambisi untuk menyatukan Jepang. Selain itu, di masa yang sama, hadir pula dua orang pemuda lainnya yang bernama Kinoshita Hideyoshi (Toyotomi Hideyoshi) dan juga Tokugawa Ieyasu yang berasal dari provinsi Imagawa. Dougill, seorang sejarawan (2006: 117) menggambarkan karakteristik ketiga tokoh ini dalam puisi berikut:

Photobucket Oda Nobunaga dan Penyatuan Jepang

Terjemahan:
Nobunaga berkata: “Burung, kalau kau tidak bernyanyi, aku akan membunuhmu.”
Hideyoshi berkata : “Burung, kalau kau tidak bernyanyi, aku akan membuat kau bernyanyi.”
Ieyasu berkata: “Burung, kalau kau tidak bernyanyi, aku akan menunggu sampai kau bernyanyi.”

Dari puisi diatas dapat kita simpulkan bahwa Oda Nobunaga terkenal dengan pemerintahannya yang otoriter dan kejam. Hall (1991) dalam bukunya yang berjudul The Cambridge History of Japan, Early Modern Japan menulis bahwa Oda Nobunaga?23 Juni 1534 – 21 Juni 1582) adalah seorang daimy? Jepang yang hidup dari Zaman Sengoku hingga Zaman Azuchi-Momoyama 9 . Ia adalah salah seorang daimy? yang memiliki ambisi besar untuk mempersatukan Jepang. Lahir sebagai pewaris Oda Nobuhide, Nobunaga harus bersaing memperebutkan hak menjadi kepala klan dengan adik kandungnya Oda Nobuyuki. Setelah menang dalam pertempuran melawan klan Imagawa dan klan Saito, Nobunaga membantu Ashikaga Yoshiaki, adik dari sh?gun Ashikaga Yoshiteru yang mati terbunuh pada tahun 1565.

Setelah Yoshiteru mati terbunuh, yang menggantikan posisinya adalah Ashikaga Yoshihide yang masih berusia dua tahun, Yoshihide hanya dijadikan boneka pemerintahan saja. Yoshiaki berniat untuk mengambil kedudukan Sh?gun untuk dirinya sendiri, ia kemudian berusaha untuk mencari pendukung, awalnya ia memohon kepada klan Takeda dan klan Uesugi untuk membantunya, akan tetapi kedua klan tersebut tidak memberikan jawaban atas surat yang ia kirimkan.

Menurut seorang sejarawan bernama Papinot (1948: 24), pada tahun 1566 ia pergi ke wilayah Echizen (sekarang prefektur Fukui) dimana disana ia mendapatkan dukungan dari Asakura Yoshikage yang berjanji akan membantunya. Akan tetapi setahun kemudian Yoshikage mengaku tidak sanggup membantu Yoshiaki sehingga ia kemudian meminta bantuan kepada Oda Nobunaga yang pada saat itu dengan antusias membantu Yoshiaki. Pada tahun 1568 Nobunaga masuk ke Ky?t? dengan membawa pasukan, dan mengusir klan Miyoshi dari kota (Hall 1990: 229). Dengan demikian Yoshiaki dilantik menjadi sh?gun Ashikaga yang ke-15.

Menurut Hall (1991: 42) Nobunaga menolak posisi kanrei yang ditawarkan oleh Yoshiaki, dan dengan demikian mulai memfokuskan kekuasaan seperti halnya seorang sh?gun. Dari hal ini, nampak jelas bahwa Nobunaga bermaksud menggunakan posisi sh?gun yang dimiliki Yoshiaki untuk penaklukan– penaklukan berikutnya. Yoshiaki yang sadar dimanfaatkan oleh Nobunaga berkorespondensi secara diam-diam dengan beberapa daimy?, untuk membentuk aliansi anti Nobunaga. Akan tetapi Nobunaga sadar dan kemudian menyingkirkan Yoshiaki sehingga kesh?gunan Ashikaga pun berakhir.

Blumberg, seorang sejarawan dan penulis (1995) menyatakan bahwa Toyotomi Hideyoshi (2 Februari 1536 – 18 September 1598) lahir sebagai anak petani di desa Nakamura, provinsi Owari (sebelah Barat Prefektur Aichi). Pada tahun 1554 Hideyoshi mulai bekerja sebagai bawahan kelas rendah untuk Oda Nobunaga di Istana Kiyosu. Hideyoshi bekerja dengan rajin dan berhasil menarik perhatian Oda Nobunaga yang terkesan dengan hasil pekerjaannya. Berkat prestasinya yang luar biasa, Hideyoshi menjadi sangat terkenal di kalangan pengikut Nobunaga. Menurut Yoshikawa, seorang novelis sejarah (1967) Nobunaga kabarnya suka menyebutnya dengan panggilan kesayangan si “monyet” atau “tikus botak,” karena penampilan Hideyoshi yang kurang tampan.

Berdasarkan buku yang ditulis oleh Blumberg (1995), pada tahun 1570 Hideyoshi menyelamatkan nyawa Oda Nobunaga didalam pertempuran Kanegasaki melawan klan Asakura dan klan Azai, dan peristiwa ini kemudian dikenal dengan sebutan Jalan Lolos Kanegasaki (kanegasaki nukiguchi). Atas jasa karena telah menyelamatkan nyawanya, Nobunaga memberi hadiah 30 keping emas kepada Hideyoshi yang juga berhasil selamat dalam pertempuran. Dalam sekejap Hideyoshi dikenal sebagai ksatria gagah berani. Azai Nagamasa tewas di tahun 1573 dan klannya musnah, Hideyoshi ditunjuk oleh Oda Nobunaga untuk memerintah provinsi ?mi (sekarang prefektur Shiga) yang menjadi teritori klan Azai. Hideyoshi menganggap perlu mengganti nama kastil Imahama yang selama ini menjadi markas bagi klan Azai menjadi Nagahama. Kemudian di provinsi ?mi, Hideyoshi merekrut sisa-sisa pasukan Azai berikut sejumlah ksatria muda seperti Ishida Mitsunari, Kat? Kiyomasa, dan Fukushima Masanori.

Pada tahun 1576, Nobunaga memerintahkan Hideyoshi untuk membantu kepala pasukan dari daerah Hokuriku bernama Shibata Katsuie yang sedang berusaha membasmi pasukan Uesugi Kenshin dari Echig? yang sekarang dikenal dengan nama Niigata. Hideyoshi berselisih paham soal strategi pertempuran dengan Katsuie sehingga Hideyoshi memutuskan untuk menarik pasukan dan pulang begitu saja tanpa izin Nobunaga. Pasukan Katsuie akhirnya berhasil ditaklukkan Uesugi Kenshin dalam peristiwa yang disebut Pertempuran Sungai Tetori. Nobunaga sangat marah kepada Hideyoshi tapi akhirnya karena mengingat jasa Hideyoshi, Nobunaga mau mengampuni Hideyoshi.

Setelah itu, Nobunaga memerintahkan Hideyoshi untuk menaklukkan daerah Ch?goku yang sekarang disebut dengan wilayah San’in-San’y? yang di dalamnya berisi beberapa Prefektur yaitu Hiroshima, Yamaguchi, Shimane, Tottori, dan Okayama. Pasukan maju sampai provinsi Harima, dibantu pasukan Akamatsu Norifusa, Bessho Nagaharu dan Kodera Masamoto. Pengikut Kodera Masamoto yang bernama Kodera Yoshitaka (dikenal juga sebagai Kuroda Yoshitaka) meminjamkan Istana Himeji kepada Hideyoshi sebagai markas invasi ke daerah Ch?goku.

Pada tahun 1579 Hideyoshi berhasil menaklukkan daimy? Ukita Naoie penguasa provinsi Bizen dan provinsi Mimasaka (sekarang menjadi Okayama). Hideyoshi selanjutnya melakukan invasi ke provinsi Inaba (sekarang Tottori) untuk menyerang Istana Tottori yang dikuasai Yamana Toyokuni. Pada tahun 1580, Bessho Nagaharu penguasa Istana Miki dari provinsi Harima menyerah akibat kehabisan perbekalan setelah mengadakan pemberontakan selama 2 tahun melawan klan Oda. Yamana Akihiro penguasa provinsi Tamba (sekarang Hy?go) yang terkepung di dalam Istana Izushi akhirnya juga menyerah.

Pada tahun 1581, kelompok pengikut Yamana Toyokuni dari provinsi Inaba (sekarang bagian timur Prefektur Tottori) yang sedang diasingkan bergabung dengan pihak klan M?ri yang dipimpin Yoshinaga Tsuneie mengadakan pemberontakan dari Istana Tottori. Hideyoshi membeli semua bahan makanan dari daerah Tottori dan sekitarnya, serta memutuskan jalur perbekalan makanan ke dalam istana, sehingga Istana Tottori yang sedang terkepung kehabisan perbekalan dan jatuh tidak lama kemudian. Hideyoshi kemudian bertempur melawan M?ri Terumoto yang menguasai wilayah Ch?goku bagian Barat. Hideyoshi memiliki reputasi yang baik berkat strateginya menyulitkan perbekalan musuh sewaktu menaklukkan Istana Tottori dan Istana Miki, serta menyerang Istana Takamatsu dengan banjiran air dengan cara megarahkan air sungai kesana sewaktu menginvasi wilayah Ch?goku.

Hideyoshi sedang menyerang Istana Takamatsu dengan banjiran air pada waktu Oda Nobunaga dibunuh oleh Akechi Mitsuhide dalam Peristiwa Honn?ji di tahun 1582. Hideyoshi yang mendengar kabar kematian majikannya segera berdamai dengan pihak M?ri dengan syarat pemilik Istana Takamatsu yang bernama Shimizu Muneharu melakukan seppuku 10 . Hideyoshi lalu menarik kembali pasukannya ke Ky?t? secara besar-besaran. Peristiwa ini dikenal dengan Penarikan Pasukan dari Ch?goku (ch?goku ?gaeshi). Akechi Mitsuhide akhirnya berhasil dihabisi dalam Pertempuran Yamazaki (Blumberg, 1995).

Berdasarkan buku yang ditulis oleh Totman, dosen sejarah dari Universitas Yale (1983), Tokugawa Ieyasu (31 Januari 1543–1 Juni 1616, lahir dengan nama Matsudaira Takechiyo) lahir di istana Okazaki di provinsi Mikawa (Sekarang bagian timur prefektur Aichi). Ayahnya, Matsudaira Hirotada adalah seorang daimy? dan juga pemimpin klan Matsudaira yang memegang kekuasaan di provinsi Mikawa. Di sebelah Timur wilayahnya berbatasan dengan wilayah kekuasaan klan Imagawa, penguasa Suruga (sekarang Shizuoka), di sebelah Barat, berbatasan dengan wilayah kekuasaan klan Oda, penguasa Owari. Klan Matsudaira pada saat itu terpecah menjadi dua kubu, yaitu kubu pendukung klan Oda dan kubu pendukung klan Imagawa. Tokugawa Ieyasu yang berada di bawah tekanan kedua klan tersebut, harus menjadi sandera untuk keluarga Oda dan kemudian untuk keluarga Imagawa.

Ketika ayah Nobunaga, Nobuhide meninggal, Ieyasu menjadi tawanan keluarga Imagawa, ia kemudian menjadi salah satu sekutu dari klan Imagawa. Totman (1983) selanjutnya menulis bahwa pada tahun 1560, ketika klan Imagawa, yang dipimpin oleh Imagawa Yoshimasa menyerang wilayah Oda, yang dipimpin oleh Oda Nobunaga, yang kemudian dikenal dengan nama peperangan Okehazama, Ieyasu tidak ikut maju ke garis depan, pasukannya tetap berada di belakang, dan ketika Yoshimasa terbunuh di dalam pertempuran, ia segera mengadakan perjanjian dengan Oda Nobunaga, dan menjadi sekutu Klan Oda.

Menurut Totman (1983), Ieyasu dan tentaranya terus menjadi pendukung setia Oda Nobunaga, ia membantu usaha Oda Nobunaga untuk menguasai Ky?t? pada tahun 1568. Pada tahun 1571, Klan Takeda yang pada saat itu dikepalai oleh Takeda Shingen, bersekutu dengan klan H?j? dan menyerang wilayah Ieyasu di T?t?mi (sekarang bagian barat prefektur Shizuoka). Ieyasu kemudian meminta bantuan kepada Oda Nobunaga, Nobunaga kemudian mengirimkan tentaranya yang berjumlah 3000 orang, peperangan ini dikenal dengan nama perang Mikatagahara, dan pada peperangan ini Ieyasu mengalami kekalahan. Akan tetapi satu tahun kemudian Takeda Shingen meninggal dan posisinya digantikan oleh anaknya, Takeda Katsuyori yang tidak memiliki kemampuan sehebat ayahnya. Pada tahun 1582, tentara Oda-Tokugawa berhasil mengalahkan klan Takeda dalam perang Temmokuzan di provinsi Kai (sekarang Yamanashi) dan Takeda Katsuyori melakukan seppuku (Totman, 1983).

Ketika Oda Nobunaga mati terbunuh, Ieyasu sedang berada di Osaka, jauh dari wilayah kekuasaannya. Ia kemudian kembali ke Mikawa sambil berusaha menghindari pasukan Mitsuhide yang sedang mencarinya. Ketika sampai di Mikawa, ia mengumpulkan pasukan dan kemudian berniat untuk membalaskan kematian Oda Nobunaga dengan membunuh Akechi Mitsuhide, akan tetapi niatnya tidak tercapai karena Akechi Mitsuhide sudah terlebih dahulu dikalahkan oleh Toyotomi Hideyoshi pada pertempuran Yamazaki.

Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, dan Tokugawa Ieyasu merupakan tiga tokoh yang memiliki visi yang sama, yaitu untuk mempersatukan Jepang, dalam skripsi ini penulis akan mencoba menjelaskan penguasaan Jepang yang dilakukan oleh Oda Nobunaga sejak ia menjabat sebagai daimy? di Provinsi Owari sampai kematiannya di kuil Honn?ji. Nobunaga dikenal dengan kebijakan yang dianggap kontroversial seperti penolakan kekuasaan oleh klan yang sudah mapan, dan pengangkatan pengikut dari keluarga yang asal-usul keturunannya tidak jelas. Nobunaga berhasil memenangkan banyak pertempuran di zaman Sengoku berkat penggunaan senjata api model baru. Selain itu, ia ditakuti akibat tindakannya yang sering dinilai kejam, seperti perintah membakar semua penentang yang terkepung di kuil Enryakuji, sehingga Nobunaga mendapat julukan raja iblis.

Menurut penulis Oda Nobunaga merupakan tokoh yang revolusioner. Ia menghancurkan sistem dalam masyarakat Jepang yang sudah berlangsung selama beratus-ratus tahun. Tindakannya mendukung masuknya misionaris Kristen menyebabkan masuknya teknologi Barat ke dalam Jepang khususnya dalam bidang militer dengan masuknya senapan, hal inilah yang menjadi dasar rekor Oda Nobunaga yang tidak pernah kalah dalam peperangan. Oda Nobunaga yang pada awalnya hanya merupakan daimy? yang diremehkan dan disebut “si bodoh” di kemudian hari berhasil menyatukan sebagian besar wilayah Jepang dan juga mengeluarkan kebijakan-kebijakan yang kemudian menjadi landasan bagi sistem masyarakat modern di Jepang. Hal inilah yang menjadi alasan penulis memilih tokoh ini sebagai topik skripsi.

Incoming search terms:

Leave a Reply