HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Motivasi Penderita TB Paru Berobat Rutin

Contoh Tesis– Hubungan Tingkat Pendidikan, Pengetahuan Dan Jarak Rumah  Dengan Motivasi Penderita TB Paru Berobat Rutin  Di Rumah Sakit Paru Dungus Madiun

Berobat Rutin Motivasi Penderita TB Paru Berobat RutinA.  Latar Belakang

Diperkirakan sekitar 135 kasus per 100.000 penduduk dunia telah terinfeksi oleh Mycobacterium tuberculosis. Pada tahun 2010, diperkirakan ada 8,8 juta pasien TB baru dan 1,6 juta kematian akibat TB di seluruh dunia. Diperkirakan 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB di dunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Penyakit Tuberculosis (TBC) merupakan salah satu penyakit menular yang tersebar di seluruh dunia dan menjadi masalah kesehatan masyarakat, karena angka morbiditas dan mortalitas yang tinggi, maka sejak tahun 1993 WHO telah mencanangkan TBC sebagai kedaruratan global (global emergency), (WHO, 2008).

Berdasarkan data Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKRT) tahun 1995, TBC merupakan penyebab kematian ketiga terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan penyakit saluran pernafasan, dan merupakan nomor satu terbesar dalam penyakit kelompok infeksi. Di Indonesia, TB merupakan masalah utama kesehatan masyarakat. Jumlah pasien TB di Indonesia merupakan ke-3 terbanyak di dunia setelah India dan Cina dengan jumlah pasien sekitar 10% dari total jumlah pasien TB di dunia.  Hasil survei prevalensi tahun 2004, setiap tahun di Indonesia terdapat 245.000 penderita baru dengan jumlah TBC menular dengan Basil Tahan Asam Positif (BTA +) sejumlah 107.000 kasus, dan kematian yang disebabkan TBC sekitar 46.000 kasus. TBC menyerang sebagian besar kelompok usia produktif, ekonomi lemah, dan pendidikan rendah. Penderita TBC terus meningkat oleh karena setiap satu penderita TBC BTA positif akan menularkan 10-15 orang lain setiap tahunnya, sehingga perlu adanya upaya penanggulangan secara optimal, terpadu dan menyeluruh, (WHO, 2008).

B.   Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat dirumuskan masalah penelitian sebagai berikut :

  1. Apakah ada hubungan tingkat pendidikan dengan motivasi penderita TB paru berobat rutin di Rumah Sakit Paru Dungus Madiun?
  2. Apakah ada hubungan pengetahuan dengan motivasi penderita TB paru  berobat rutin di Rumah Sakit Paru Dungus Madiun?
  3. Apakah ada hubungan jarak rumah dengan motivasi penderita TB paru berobat rutin di Rumah Sakit Paru Dungus Madiun?
  4. Apakah ada hubungan tingkat pendidikan, pengetahuan dan jarak rumah dengan motivasi penderita TB paru  berobat rutin di Rumah Sakit Paru Dungus Madiun?

C.  Hasil Penelitian

Tingkat pendidikan dengan motivasi penderita TB berobat rutin menghasilkan korelasi sebesar 0,119 dengan angka signifikan 0,210; (2) hubungan pengetahuan dengan motivasi penderita TB berobat rutin menghasilkan korelasi korelasi sebesar 0,404 dengan angka signifikan 0,002; (3) hubungan jarak rumah dengan motivasi penderita TB berobat rutin menghasilkan korelasi sebesar 0,102 dengan angka signifikan 0,245; dan (4) hasil analisis melalui uji anova tentang hubungan tingkat pendidikan, pengetahuan dan jarak rumah dengan motivasi penderita TB berobat rutin menggunakan uji F memperlihatkan nilai F hitung sebesar 3,827 dengan nilai kebermaknaan sebesar 0,016, dan F tabel sebesar 2, 80;  nilai F hitung lebih besar dari F tabel dengan nilai signifikan lebih kecil dari ? = 0.05 .

D.  Saran 

  1. Tingkat pendidikan berpengaruh dengan penyerapan atau penerimaan pengetahuan untuk itu dokter atau petugas kesehatan hendaknya sangat perlu memperhatikan tingkat pendidikan pasien pada saat memberikan penyuluhan kesehatan dalam hal pemakaian bahasa, media serta yang lebih penting lagi adalah lebih meluangkan waktu yang banyak bagi pasien dengan tingkat pendidikan semakin rendah.
  2. Semakin tinggi pengetahuan pasien tentang penyakitnya maka semakin tinggi pula motivasinya untuk berobat rutin sesuai dengan ketentuan program DOTS, untuk itu maka kegiatan penyuluhan perlu di intensifkan. Penyuluhan dengan  Focus group Discussion  (FGD) atau pembentukan Paguyuban Penderita TB mungkin perlu dipertimbangkan, karena menurut penelitian cara itu menunjukkan hasil yang lebih baik untuk meningkatkan pengetahuan pasien sehingga akan meningkatkan motivasi untuk berobat rutin.
  3. Bagi pasien yang jauh jaraknya dengan rumah sakit perlu dipertimbangkan dilakukan kunjungan rumah (Home visite) dalam rangka pelacakan kasus penderita mangkir, untuk itu perlu mengusulkan kepada penentu kebijakan perlunya dialokasikan anggaran untuk  kegiatan tersebut mengingat jarak rumah akan berdampak bagi motivasi pasien untuk berobat rutin atau perlu dilakukan penekanan penentuan pilihan pada saat terdiagnosa TB akan berobat di RS Paru atau kembali ke Puskesmas terdekat dengan penjelasan yang bisa diterima oleh pasien.
  4. Tingkat pendidikan, pengetahuan dan jarak rumah merupakan variabel yang perlu diperhatikan karena berimplikasi pada motivasi pasien untuk berobat rutin, untuk itu ketiga variabel tersebut sangat perlu dipertimbangkan dalam menjalankan program pengobatan TB, dengan begitu goal program TB nasional yaitu angka kesebuhan (sucses rate) 85% akan bisa tercapai khususnya pada program TB di Rumah Sakit Paru Dungus Madiun.
Incoming search terms:

Leave a Reply