HP CS Kami 0852.25.88.77.47(WhatApp) email:IDTesis@gmail.com BBM:5E1D5370

Merumuskan Hipotesa Penelitian

  1.       DEFINISI HIPOTESA

Dalam Wikipedia disebutkan bahwa hipotesa merupakan jawaban sementara terhadap masalah yang masih bersifat praduga karena masih harus dibuktikan.

Terdapat banyak para ahli yang mendefinisikan hipotesis, antara lain sebagai berikut:

  • Trelease (1960) mendefinisikan hipotesa sebagai suatu keterangan sementara dari suatu fakta yang dapat diamati.
  • Kerlinger (1973) mengemukakan bahwa hipotesa adalah pernyataan yang bersifat dugaan mengenai hubungan antara dua atau lebih variabel.
  • Good & Scates (1954) mengemukakan bahwa hipotesis adalah suatu dugaan atau referensi (acuan) yang dirumuskan atau diterima untuk sementara yang dapat menerangkan fakta-fakta atau keadaan yang diamati dan digunakan sebagai petunjuk langkah-langkah penelitian selanjutnya.
  • Gay (1962) mengemukakan bahwa hipotesa adalah penjelasan tentatif tentang fenomena/ perilaku/ kejadian yang telah terjadi/ akan terjadi.
  • Bailey, hipotesis merupakan suatu proposisi yang telah dinyatakan dalam bentuk yang dapat diuji dan meramalkan suatu hubungan tertentu antara dua variabel.

Hipotesis dalam penelitian ilmiah, memiliki beberapa persyaratan antara lain:

  • Hipotesis merupakan hasil kontruksi dari berbagai gagasan yang dapat diterangkan berdasarkan teori atau hasil pengamatan tertentu.
  • Hipotesis dirumuskan dalam bentuk pernyataan dan bukan dalam bentuk pertanyaan.
  • Hipotesis dikaitkan dengan keadaan populasi, bukan hanya pada keadaan sampel yang diteliti.
  • Hipotesis setidaknya melibatkan 2 variabel.
  • Hipotesis harus dapat diuji.

Hipotesa selain memiliki persyaratan seperti tersebut di atas, hipotesa juga memiliki fungsi atau peran yang penting dalam suatu penelitian. Fungsi dari hipotesa tersebut antara lain:

  • Hipotesa menjadi pedoman penelitian dan pedoman dalam pemecahan suatu masalah
  • Hipotesa membantu dalam penentuan data yang harus dikumpulkan, dengan demikian hanya data-data yang relevan dengan penelitian yang dikumpulkan
  • Hipotesa dapat membantu dalam mengurangi kemungkinan munculnya kesalahan dalam pengumpulan data.
  • Hipotesa dapat dijadian pedoman dalam menggali informasi sehingga informasi tersebut dapat tersusun instrumen yang memadai

Dalam Nazir (1988: 183-184) disebutkan bahwa hipotesa dikatakan baik bila memiliki ciri-ciri seperti berikut:

–          Hipotesa harus menyatakan hubungan

Hal ini berarti dalam hipotesa tersebut terkandung dua atau lebih variabel yang dapat diukur atau secara potensial dapat diukur. Dalam hal ini berarti hipotesa dapat menspesifikasikan bagaimana variabel tersebut berhubungan.

–          Hipotesa harus sesuai dengan fakta

Artinya hipotesa sesuai dengan fakta, bukan berarti hipotesa baru diterima jika hubungan yang dinyatakannya harus cocok dengan fakta.

–    Hipotesa harus berhubungan dengan ilmu, serta sesuai dan tumbuh dengan ilmu pengetahuan

Bila hal ini tidak dipenuhi maka hipotesa buka lagi terkaan tetapi merupakan suatu pernyataan yang tidak berfungsi sama sekali.

–          Hipotesa harus dapat diuji

Hipotesa harus dapat diuji, baik dengan nalar dan kekuatan memberi alasan ataupun dengan menggunakan alat-alat statistika.

–          Hipotesa harus sederhana

Hipotesa harus dinyatakan dalam bentuk yang sederhana dan terbatas untuk mengurangi timbulnya kesalahpahaman pengertian. Semakin spesifik atau khas sebuah hipotesa dirumuskan, semakin kecil pula kemungkinan terdapat salah pengertian dan semakin kecil pula kemungkinan memasukkan hal yang tidak relevan ke dalam hipotesa.

–          Hipotesa harus bisa menerangkan fakta

Hipotesa juga harus dinyatakan dalam bentuk yang dapat menerangkan hubungan fakta-fata yang ada dan dapat dikaitkan dengan teknik pengujian yang dapat dikuasai.

3.       JENIS-JENIS HIPOTESA

Hipotesis dapat dibedakan menjadi dua yakni:

Hipotesis directional

Hipotesis directional disebut juga sebagai one tilled test hypothesis, merupakan hipotesis yang dapat menunjukkan arah jawaban dari hipotesis penelitiannya (Ha), apakah lebih besar (>) atau lebih kecil (<)

Hipotesis non directional

Hipotesis non directional atau two tailed test hypothesis, merupakan hipotesis yang tidak dapat menunjukkan arah jawaban atas hipotesis penelitiannya (Ha). Dalam hipotesis ini digunakan simbol “tidak sama dengan”. Simbol tersebut dapat berarti lebih besar atau bisa berarti lebih kecil. Oleh karena itu hipotesis ini disebut sebagai hipotesis tanpa arah (non directional).

Menurut Arikunto (2000) ditinjau dari operasi rumusannya, hipotesis dibedakan menjadi dua, yakni:

Hipotesis nol (H0), yakni hipotesis yang menyatakan tidak adanya hubungan antar variabel. Hipotesis alternatif (Ha), merupakan hipotesis yang menyatakan adanya hubungan antar variabel.

Lebih lanjut lagi, dinyatakan bahwa menurut ruang lingkupnya, hipotesis dibedakan menjadi dua macam, yakni:

Hipotesis mayor, merupakna hipotesis mengenai kaitan seluruh variabel dan seluruh subjek penelitian; dan hipotesis minor merupakan hipotesis mengenai kaitan sebagaian dari variabel, dengan kata lain pecahan dari hipotesis mayor.

Jenis hipotesis lainnya, adalah hipotesis dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

–          Hipotesis deskriptif

Hipotesis deskriptif merupakan dugaan tentang suatu variabel mandiri, dengan tidak membuat perbandingan atau hubungan.

Misalnya:

H0 = daya tahan lampu merek A sama dengan 700 jam.

Ha = daya tahan lampu merek A tidak sama dengan 700 jam.

–          Hipotesis komparatif

Hipotesis komparatif merupakan dugaan sementara yang membandingkan nilai dua variabel. Dalam hal ini dapat dikatakan bahwa variabel yang digunakan adalah sama yang berbeda hanya sampelnya.

Misalnya:

Hipotesis = terdapat perbedaan pemecahan masalah siswa dengan metode A dan pemecahan masalah siswa dengan metode B

–          Hipotesis asosiatif

Hipotesis asosiatif merupakan dugaan yang menyatakan hubungan antar dua variabel, yakni variabel terikat dan variabel bebas.

Misalnya:

Hipotesis = terdapat hubungan positif antara besarnya imbalan dengan motivasi kerja

 

Nazir (1988: 185-186) mengemukakan bahwa hipotesa dapat dibagi menjadi tiga bagian, yaitu:

–          Hipotesa hubungan dan perbedaan

Hipotesa tentang hubungan adalah pernyataan rekaan yang menyatakan tentang saling hubungan antara dua variabel atau lebih, yang mendasari teknik korelasi ataupun regresi.

Sebaliknya, hipotesa yang menyatakan perbedaan menyatakan adanya ketidaksamaan antar variabel tertentu disebabkan oleh adanya ketidaksamaan antar variabel tertentu disebabkan oleh adanya pengaruh variabel yang berbeda. Hipotesa ini mendasari teknik penelitian komparatif.

–          Hipotesa kerja dan hipotesa nul

Hipotesa nul, yang pada mulanya diperkenalkan oleh Fisher, diformulasikan untuk ditolak sesudah pengujian. Dalam hipotesa nul ini, selalu ada implikasi “tidak ada beda”. Perumusannya bisa dalam bentuk:

“tidak ada beda antara … dengan …”

Hipotesa nul biasanya diuji dengan menggunakan statistika, dan seperti telah dinyatakan di atas, hipotesa nul biasanya ditolak. Dengan menolak hipotesa nul, maka kita menerima hipotesa pasangan, yang disebut hipotesa alternatif.

Hipotesa kerja, dilain pihak, mempunyai rumusan dengan implikasi alternatif di dalamnya. Hipotesa kerja biasanya dirumuskan dengan:

“jika … maka …”

Hipotesa kerja biasanya diuji untuk diterima. Hipotesa kerja biasanya dirumuskan oleh peneliti ilmu sosial dalam desain yang non eksperimental.

–          Hipotesa common sense dan ideal

Hipotesa acapkali menyatakan terkaan tentang dalil dan pemikiran bersahaja dan common sense (akal sehat). Hipotesa ini biasanya menyatakan hubungan keseragaman kegiatan terapan.

Contoh:

Hipotesa sederhana tentang produksi dan status kepemilikan tanah,

Hipotesa mengenai hubungan tenaga kerja dengan luas garapan,

Hipotesa tentang hubungan antara dosis pemupukan dengan daya tahan terhdap insekta,

Hipotesa hubungan antara kegiatan dalam industri,

Dan sebagainya.

Sebaliknya, hipotesa yang menyatakan hubungan yang kompleks dinamakan hipotesa jenis ideal. Hipotesa ini bertujuan untuk menguji adanya hubungan logis antara keseragaman pengamalam empiris. Hipotesa ideal adalah peningkatan dari hipotesa analisis.

 

4.       MENGGALI DAN MERUMUSKAN HIPOTESA

Nazir (1988: 187) mengemukakan bahwa terdapat beberapa hal yang harus dilakukan oleh peneliti dalam menggali suatu hipotesis, antara lain adalah:

  • Mempunyai banyak informasi tentang masalah yang ingin dipecahkan dengan jalan banyak membaca literatur-literaut yang ada hubungannya dengan penelitian yang sedang dilaksanakan
  • Mempunyai kemampuan untuk memeriksa keterangan tentang tempat-tempat, objek-objek serta hal-hal yang berhubungan satu sama lain dalam fenomena yang sedang diselidiki
  • Mempunyai kemampuan untuk menghubungkan suatu keadaan dengan keadaan yang lain yang sesuai dengan kerangka teori ilmu dan bidang yang bersangkutan
  • Goode dan Hatt (1952) dalam Nazir (1988: 187) mengemukakan bahwa terdapat beberapa sumber untuk menggali informasi, yakni:
  • Kebudayaan di mana ilmu tersebut di bentuk
  • Ilmu itu sendiri yang menghasilkan teori dan teori memberi arah kepada penelitian
  • Analogi juga merupakan sumber hipotesa, pengamatan terhadap jagad raya yang serupa atau pengamatan yang serupa pada ilmu lain, merupakan sumber hipotesa yang baik. Mengamati respon berat hewan terhadap makanan, memberikan analogi tentang adanya respon tanaman terhadap zat hara. Darinya dapat dirumuskan hubungan antara tumbua dengan zat hara dalam tanah
  • Reaksi individu dan pengalaman. Reaksi individu terhadap sesuatu, ataupun pengalaman-pengalaman sebagai suatu konsekuensi dari suatu fenomena dapat merupakan sumber hipotesa. Reaksi tanaman terhadap pestisida, reaksi ayam terhadap suntikan suatu obat dapat merupakan sumber hipotesa.
  • Lebih lanjut lagi Nazir (1988: 190-191) mengemukakan bahwa terdapat beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam merumuskan hipotesa, yakni:
  • Hipotesa harus dirumuskan secara jelas dan padat serta spesifik
  • Hipotesa sebaiknya dinyatakan dalam kalimat deklaratif atau pernyataan
  • Hipotesa sebaiknya menyatakan hubungan antar dua atau lebih variabel yang dapat diukur
  • Hipotesa hendaknya dapat diuji
  • Hipotesa sebaiknya mempunyai kerangka teori

Untuk lebih jelas dalam pemahaman tentang hipotesa, maka di bawah ini terdapat contoh judul penelitian, tujuan penelitian, dan hipotesa.

NO

JUDUL PENELITIAN

TUJUAN PENELITIAN

HIPOTESA

1 Efektivitas VCD Sebagai Media Pembelajaran IPS Kelas IV Di MI Tsamrotul Huda 1 Jatirogo Kec. Bonang Kab. Demak 2005/2006 –        Untuk mengetahui pengaruh VCD Pembelajaran terhadap pencapaian prestasi belajar siswa pada mata pelajaran IPS Kelas IV Di MI Tsamrotul Huda 1 Jatirogo Kec. Bonang Kab. Demak 2005/2006 Ada perbedaan hasil belajar pembelajaran IPS kelas IV MI Tsamrotul Huda I Jatirogo Kec. Bonang Kab. Demak antara siklus I ke siklus II dan antara siklus II ke siklus III
2 Pengaruh peran LKMD terhadap efektivitas pelaksanaan dana pembangunan desa –        Untuk mengetahui apakah ada hubungan antara partisipasi masyarakat dan dukungan LKMD dengan efektivitas pelaksanaan DPD-        Sebagai masukan bagi lembaga pemerintahan desa dalam menggerakkan dan mendorong partisipasi masyarakat untuk berperan dalam pembangunanbagi lembaga pemerintahan desa dalam menggerakkan dan mendorong partisipasi masyarakat untuk berperan dalam pembangunan Semakin tinggi peran Lembaga Ketahanan Masyarakat Desa yang didukung partisipasi masyarakat maka akan semakin tinggi efektivitas pelaksanaan Dana Pembangunan Desa (DPD)
3 Pengaruh Persepsi Kelompok Swadaya Masyarakat (Ksm) Dan Penilaian Kinerja Badan Keswadayaan MasyarakaT (BKM) Terhadap Keberhasilan Proyek Penanggulangan Kemiskinan Di Perkotaan (P2KP) –         Untuk mengkaji kerja sama antar anggota KSM-         Untuk mengkaji antar anggota   BKM-        Untuk mengkaji kinerja KSM, BKM dan P2KP Semakin kuat tingkat  persepsi Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) dan dan adanya Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) yang komprehensif maka akan menunjang keberhasilan pelaksanaan Program Penanggulangan Kemiskinan Perkotaan (P2KP) semakin tinggi
4 Pengaruh Imbalan Bagi Hasil, Jumlah Kantor Cabang Dan Suku Bunga Terhadap Simpanan Masyarakat Pada Bank Muamalat Indonesia Periode Tahun 2001.1–2006.4 –          Menganalisis apakah imbalan bagi hasil berpengaruh terhadap simpanan masyarakat pada Bank Muamalat Indonesia.

–          Menganalisis apakah jumlah kantor cabang berpengaruh terhadap simpanan masyarakat pada Bank Muamalat Indonesia.

 

 

 

–          Menganalisis apakah tingkat suku bunga bank konvensional berpengaruh terhadap simpanan masyarakat pada Bank Muamalat Indonesia.

–          Diduga imbalan bagi hasil dapat berpengaruh positif dan signifikan terhadap simpanan masyarakat pada Bank Muamalat Indonesia Periode tahun 2001.1-2006.4-          Diduga jumlah kantor cabang berpengaruh positif dan signifikan terhadap simpanan masyarakat pada Bank Muamalat Indonesia periode tahun 2001.1-2006.4-          Diduga tingkat suku bunga bank konvensional berpengaruh negatif terhadap simpanan masyarakat pada Bank Muamalat Indonesia periode tahun 2001.1-2006.4

 

Hipotesa dapat dinyatakan dalam berbagai bentuk, seperti contoh di bawah ini:

Hipotesis Penelitian Hipotesis Operasional Hipotesis Statistik
Ada hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja pegawai PT. X Ho : tidak terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja pegawai PT. XHa : terdapat hubungan antara gaya kepemimpinan dengan kinerja pegawai PT. X Apabila kinerja pegawai PT. X diasumsikan dengan kenaikan pemasukan perusahaan sebesar 25%,  makaHo : µ = 0.25H1 : µ ? 0.25

 

Untuk mendapatkan informasi lebih lengkap tentang produk kami silahkan klik link berikut : Jasa Pembuatan Tesis Jasa Pembuatan Skripsi Jasa Olah Data

 

Atau menghubungi nomor kontak berikut 0852.2588.7747 (AS) atau BBM :5E1D5370 email IDTesis@gmail.com

 

Incoming search terms:

Leave a Reply

×
Hallo ????

Ada yang bisa di bantu?